Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 22 Agustus 2017   00:29 WIB
DIUJUNG SEPI

‘Kematian’…kesepiankah dikau yang sendirian di sini? Dipayungi payung anyaman bamboo, berteduh di bawah pohon dengan beratapkan langit. Sekali lagi aku Tanya, kedinginankah kau yang terterobos air-air tanah menjelajah sekujur tubuhmu? Dari ubun-ubun melintang melindas ujung kuku.

Adakah teman bicara? Merasakah terpenjara dalam ruang sempit disinari kegelapan tanpa batas?

Sekitarmu, berapa ruang bebas dikau punya? Tidak takutkah engkau dengan jutaan serangga-serangga pengerat hendak menggerogoti tubuhmu? Cukupkah!

Kesombongan mengemuka. Dengan sinis aku menjemur bibir dalam senyum. Sorot mata tajam mengiri, kebekuan matahari, ketiadaan bulan, pula kata bicara tak lagi terdengar.

Heee…aku Bantu dari sini dengan mengumumkannya. Adakah terlintas gurat sisi dahimu yang mengerut lagi? Ceritakan padaku yang bakal terulang, pula terlahir agar aku dapat tanamkan? Tell me!

Semudah menebar angin, semudah pula terampas bakal belenggu jala-jala dihadapan…dari sini aku dukung bereforia mencari keramaian untuk merengkuh nasihat terbaik.

Ah…bukan tentang lagu baru bersyair tentang masa lalu. Ceritaku yang telah terjadi, pamerkan remuk irama telah berlalu. Tunjukkan sikap setuju, di atas ketidakmampuan mengubah angkara terangkat dalam senjata.

Ah…resah di dada, dera di batin membuka hariku-hari ini. Siksa di jiwa, bawa prasangkaku pantek dalam keraguan terhapus. Angkat kepala dan palingkan muka derap langkah terjalin.

Siapa bilang segalanya berhenti dan terhenti diam? Pernahkah terdengar pada sampiran jiwa jika mungkin, bahwa santun kata tak dapat menjelaskan sepenggal persepenggal dengan lembut sapanya? Bahwa selamanya itu tak ada, dan selamanya patut diukir hanya sebagai keabadian – aku dalam terdiam memikirkannya, dalam ketermenungan mencoba untuk tak sendiri.

Dan di sinilah itu, aku menemuinya, pula menemukannya…sisi keabadian yang terpenggal, sisi yang membangkitkan kisahku ternyata hanya sebatas kertas tertulisi, basah oleh air, dan robek karena tanganku sendiri salah menempatkannya.

Jujur saja, sejujurnya bukan kedatanganku kali pertama. Sejatinya pula, kedatanganku bukan untuk pergi, aku belum berkeinginan, apalagi berkehendak menghentikan separuh putaran bumi masih tersisa.

Hai semua saja dengarkan, tahanlah putaran bumi jika kau memang mampu. Ceritakan, dan aku akan dengarkan hingga terbelah batu-batuan keras dengan tinggi sombong suaramu! Tapi sayang, setelah hari ini aku tak percaya dengan ragumu kau mampu merobohkan rumput-rumput bergoyang dengan sekali sentuh…

Itulah kenapa aku di sini…terima kasih, thanks a lot of. Aku melangkah pergi mulai hari itu dengan tanpa topeng. Yaaa, aku buang sudah jauh-jauh, aku tinggal dan kuburkan di sini. Di sini, sebelah mataku memandang, di antara jubah panjang aku tanggalkan satu persatu…di sini api merah padam, bergantilah api biru.

“ThankS”

Betul aku tahu dan betul-betul aku paham, sekeranjang mawar dan bunga tabur! Bohong belaka, hanya akan menambah siksa di batinmu “myfriend”. Mengertilah dan aku akan coba memahami apa yang menjadi bagian ketidaksempurnaanku mataku jelang dan terjemahkan.

Syair untuk aku tancapkan nyanyian-nyanyian kidung untuk menyelaraskan dengan petikan gitar? Atau makanan dan minuman beserta kemenyan pengobral setan? Atau awan turun dari langit, pula lampu kota di malam hari?

“Yang berakhir telah kembali, yang terindah susun kembali kepergiannya”

***

 

“Sebelum matahari bertambah tinggi, lalu bertambah rendah”

“Tataplah ke depan”…entah apalagi harus kuucapkan dari bibirku yang kering. Tatapan bagaimana pula mesti aku lempar, atau bagaimana aku harus menyatukan kembali langkah terseret?

Bagaimana menyalakan lilin kembali tanpa api menaungi sedangkan aku mulai mengerti, aku pernah diruangan pekat cahya hitam!

Apa? Mengerutkan dahi bakal muluskah? Atau kau yang mondar-mandir dengan kaki dan tangan tak teratur lantas mengerti?

Harusnya tak terjadi dan tak boleh terjadi. Aku nggak ngapa-ngapain, aku pula nggak melakukan apa-apa, tapi kenapa? Jawab wahai jiwa-jiwa yang tenang!

Hari ini aku datang ke tempatmu mengadu, kenapa hanya dentingan jam yang kau beri? Aku butuh tak sekedar nyanyian di kuping! Apa yang kau beri hanya menambah cepatnya waktu pergi dan meninggalkan aku. Ketahuilah, aku butuh kekuasaan untuk merubah yang aku mau, you know?

Aku merasa terinjak – salah, aku diinjaknya. Dia mengobrak abrik kepalan tanganku selama ini terjaga, yaa…dia menandai tubuhku dengan lukisan tato tertulis atas namanya.

Oke, aku kalah dan aku terima kekalahanku dan aku pergi.

***

Itulah kenapa aku kemari – AKU ULANG SEKALI LAGI – selanjutnya kau harus jawab pertanyaanku…harus jawab dengan tulus dan jujur, tidak kan halnya orang-orang di sekelilingku yang senantiasa berbohong. Jawab dengan nurani, jawab dengan jiwamu yang tenang. Jawab sikap batin, dan aku akan balas jawab dengan air mata.

Dan kau telah menjawabnya, dan aku telah merapikannya mulai hari ini…dengan janji, dengan pula langkah kaki, dan gerakku kujanjikan lebih teratur dan bermakna. Aku janji!

Thanks wahai jiwa-jiwa yang tenang!!!

 

 

Karya : WAW WAW