BERCERMINLAH!!!

WAW WAW
Karya WAW WAW Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 Agustus 2017
BERCERMINLAH!!!

 BERCERMINLAH!!!

 

Seseorang pernah berkata padaku ‘bercerminlah pada sosok yang polos!’

“Sosok yang polos?…Siapakah dia?” Lama aku mencari, dalam semalam dan dalam sesiang aku menjarahkan buah budiku keseberang. Barangkali pikirku ada di sana, ada dalam katalog buku-buku best seler atau buku-buku kurang laku atau bahkan gagal di pasaran. Barangkali, namanya juga usaha!

“Begitu hebatkah dia hingga seorang yang telah berpengalaman makan asam gunung dan garam di laut menyarankan agar aku berguru padanya?” tanyaku seorang diri.

“Sempurnakah dia?” seseorang tersebut menjawab “tidak…tidaklah demikian!”.

“Tinggi/tua, berkumis/berjenggot/orang terkenalkah dia?” sekali lagi dengan singkat dan sigap dijawab “semua orang mengenalnya…tidak putih/hitam!”

Kemudian dia…”Pergilah…bawalah mimpi telah kau bangunkan. Ukir kisah tentang hari darisanalah segala dan segenap hari dimulai. Dari setianyalah tiap karya cipta diukur dan diabadikan dalam balutan!” begitu seseorang yang kukenal tersebut titip pesan.

Kepada siapa aku harus mencari dan bertanya?ketahuilah, sekelilingku hanya orang-orang yang malas dan lelah memandang, juga asal memandang. Di sekelilingku hanya ada kumpulan orang-orang yan gmenyimpan jutaan kecewanya, lebih parah lagi mengumbar rintihan dan berat di tangan!

Dan aku pergi, aku bertanya pada apa yang aku lihat, bertanya pada apa yang aku saksikan, dan mencoba membuat sketsa apa yang aku dengar dan rasakan dalam lukisan sederhana.

Dan tidak sampai di sana, aku juga tanya orang-orang (namanya/sebutannya yang demikian disebutkan), aku juga surfing di internet. Lewat dunia maya, dengan bantuan seach engine…sekali lagi, siapa tahu dapat menjawab rasa keingintahuanku.

Dua jam, terkadang tiga jam di perpus. Seperempat jam atau setengah jam sekali berlayar mencari-cari situs, klik sekali lagi – dan lagi….aku mencoba!

Satu minggu sudah aku merasa belum menemukan jawabnya. Lantas aku kembali ke tempatku yang semula. Bertanya pada orang yang sama. Mengetuk rumahnya, dan sekali lagi disajikan air putih dan pohong goreng…sama dengan kemarin, tetapi beda gelas dan piringnya.

Kenapa ada gelas dan piring yang aku ingat? Nanti akan sama-sama tahu jawabnya. Karena jangankan gelas dan piring, aku ingat pula baju dan warna sarung dikenakan orang tersebut. Lantas apakah semua orang demikian? Tentu tidak, tentu tidak setajam pusaran otak kiriku, pula mungkin ada yang lebih tajam dari aku.

Dan kemudian aku disuruh pulang, seminggu kemudian baru boleh kembali. Kembali, kembali apabila belum menemukan jawaban. Tetapi jangan kembali bila menemukan apa yang dicari (‘hidup terus berjalan’), lebih dari itu masukkan dalam bilik kalbu untuk terangi sudut gelap hati.

Aku nurut aja tanpa bisa bilang apa-apa, aku pula tak hendak berlama-lama menunggu datang gelap – mumpung masih terang – sama dengan si empu orang tersebut ucapkan di telingaku.

Dan seketika itu juga aku pergi, ke pantai…menyusuri pantai. Ada pasir tentu saja, ada nyiur melambai di terpa sepoi. Dan di sana aku duduk sendiri menyaksikan dari kejauhan keramaian kota Jakarta. Kelap-kelip yang berganti, baik warna, baik pula sorotnya yang tak sama tajam, tak sama pula menyilaukan.

Dan karena aku tak merasa dingin, aku lepaskan jaket penyamak tubuhku. Aku gunakan sebagai bantal untuk merebahkan kepalaku. Sembari bergumul dengan pasir, aku tatap langit kebetulan cerah membawa derap kaki kedekatan dengan bintang.

Lama aku tak berkedip. Aku pikir lebih terang dan aku saksikan pula tidak menyilaukan. Makin lama aku tatap, jelas dia tersenyum padaku dengan kerlingan sepasang matanya masing-masing, persis gambar di sudut tembok luar rumahku (kemarin sore aku hapus, ganggu pemandangan)…sama jenakanya dengan bibir merekah merah.

Dua hari berlalu, berikutnya hari ke-tiga dan seminggu…aku balik ke tempat si empu tersebut. Dan si empu tersebut datang dengan apa yang aku sebutkan tempo hari. Dan menyuruhku pulang kembali setelah segelas kopi dan sepiring pohong goreng disajikan. Adakah yang salah? Pikirku dalam perjalanan pulang.

“Adakah yang salah?” aku berteriak keras-keras dari baliknya kelambu menutup mulutku (aku tak mau didengar orang lain).

****

“Tepat, hanya saja langkahmu belum teratur!”

Hanya itu yang dikatakan si empu pada kali berikutnya aku datang mendatanginya. Dan seperti biasa, dia menyuruhku pulang kembali sebelum hari petang dan menjadi gelap.

Aku beranikan untuk bertanya sebelum langkah terakhir meninggalkan halaman berpagar bamboo beranyam tangan “Kyai/orang pinter?”

Dan waktu itu pula ada yang lain dari sikapnya, si empu tidak memaksakan aku lagi untuk menghabiskan sepiring pohongnya, tetapi dia menyodorkan sebungkus keresek hitam untuk aku bawa dan habiskan…dikemudian!

****

“Kenapa aku menulis yang tersebut di atas?”

****

Jauh sebelum seperti sekarang ini, jauh sebelum aku dikenal kamu dan tentu saja aku mencoba memasukkan kehidupanku pada kalian (untuk kesenangan kalian…mungkin) – pada sisi kehidupanku yang lain – ketika itu tiap pagi aku awali langkah dengan tabuhan gendering – seperti hendak perang – mengerutkan dahi bagi yang mendengar seruku.

Mau tahu tidak si empu tersebut di atas? Tapi aku takkan mau mengatakan siapa dia (pada kesempatan ini), lain daripada itu aku akan mengenang – sorry bukan mengenang – mengingat sebuah nama yang mengenalkan aku, dimana tak hanya nisbah-nisbah belaka, adalah melainkan jalan untuk dipilih dan ditempuh. Dan jalan tersebut hanyalah melalui si empu tersebut paling mungkin mengena ke seberang.

 

  • view 18