BAYANGAN

WAW WAW
Karya WAW WAW Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 07 Agustus 2017
BAYANGAN

UNTUKMU-SEORANG “DALAM BAYANGAN

YOGYAKARTA

Kenapa? Adalah titik tolak dari tancapan mata hatiku yang tak kunjung padam. Kenapa pula? Arah yang telah terukir dan mengukir bersama mengendap keras, adalah bagian kelunakan dan kelembutan hati yang tersentuh…lepas dari bayang-bayang embun pagi melunakkan segalanya.

Sore ini aku berjalan dalam patrem sebuah rencana. Dan dalam rencana yang tak aku tanya-tanya, tercetak sudah suatu harapan, dan serta dalam harapan tak sekedar tuangan mimpi…aku letakkan selayang pandang.

Visi dan misi/apa saja adalah aku perbantukan dalam sirkulasi yang panjang dan mungkin takkan menemukan pantai lautan untuk menepi. Bagiku lautan takkan cukup aku kitari hanya dalam putaran jari. Tetapi, melalui putaran jari aku pastikan dapat pindah dari satu titik air ke titik air yang jernih.

Rileks saja aku membawa pagi mekar semerbak. Langkah pertama aku buat kepastian sebelum spontan memastikan langkah berikutnya. Aku ambil sepatuku, aku gebrak dalam irisan separtan setapak demi setapak mengelembana di tatapan tak terputus.

Dari sana aku bangkit dan berdiri. Menyisir lorong waktu, juga lorong masa. Mengikat tubuh ini agar tidak terhempas angin dan kabur ke sana serta ke mari. Justru aku berkoar, mengikat angin-angin liar kepada tubuhku dan menjinakkan dalam satu kerlingan mata berbinar.

Laksana cahaya yang mengumpul dan menggumpal jadi satu, seterang mentari aku letakkan harapan dipundak. Secerah bulan aku padukan dengan mata yang mengepak pendar sinarnya. Dan dalam iringan lagu “Tina bubuk”…ternyiang selalu di telingaku, bahwa aku tak pernah sendiri (sekalipun dalam tidur yang kelelahan).

****

Penutupan? Jangan, karena itu hanya akan membuat aku sentimen dan tertekan. Pembukaan? Aku kira jua bukan…terlalu lesu.

Aku terjemahkan tanpa aku baca, apa itu mungkin? Sebaliknya aku baca tanpa aku terjemahkan bukanlah hal muskil. Tapi, mana yang mempunyai nilai lebih?

Yaa…aku kita aku dan kau sama, tapi seberapa dalam dialek bahasakan menjadi bahasa hati….hati takkan dapat dipaksakan, bilamana terjadi hanyalah akan menjadikannya menjerit lara.

Sementara aku duduk, sementara itu aku menyilakan kaki di atas tanah yang lembut. Kutimang debu dalam perapian, coba aku duakan dengan yang lain dan tentu saja aku gabungkan dalam seikat kelambu pertanyaan demi pertanyaan berkecamuk.

Soal waktu bukan keharusan mengiyakan aku selekasnya menjawab. Seperti aku bilang, jawaban kata suci dan jernih, tak ada kontaminasi apalagi paksaan. Sekali kau ingkar, berarti kau telah mengiyakan satu bagian hidupmu yang berseteru.

Di sisi tempat yang lain, aku coba asingkan diri…aku tak membandingkan dengan dengan pengasingan yang lain. Tetapi, aku sekedar menerjemahkan keterjepitanku/kelapangan. Mana sesungguhnya yang ada untuk aku pilah dan pilih, dikemukakan dan diambil bagiannya yang dapat menyegarkan lidah mulai kelu termakan kemarau panjang.

Sekali lagi untuk memastikan, aku tak terseret arus…aku seka keringat dan air yang mematai. Aku basuh dengan tetesan embun yang menyisakan diri untukku di fajar ini.

Aku bicarakan padanya pelan dan lembut, apa sih gerangan terjadi? Apa pula yang telah menjadikannya demikian hebat hingga aku harus menyediakan waktu untuk aku tak menutup mata?

Tolong sampaikan padaku esok pada kemudian!!!

***

 

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Tina, kepriben kabare alias bagaimana? Maaf aku lancang menandatangani lembar HVS kosong (semula) dengan tanda tangan beratas nama.

Sampeyan tahu kenapa? Aku tak hendak berpantun ria/berceloteh camar dengan lagu-lagu romantis, tetapi aku menyanterakan hati dengan pemantik ada padamu melalui tuangan bahasa tulis.

Aku berpulang pada jembatan awal, aku gantungkan bermacam dan berbagai tali pengait agar jawabnya aku ke seberang. Karena itulah aku perkenalkan diriku dengan bahasa “save my self”, kenapa pula?

Pertanyaan yang muncul datang dan silih berganti dari jawaban menoreh di bah. Jujur saja, aku takkan melankoliskan bahasaku, yang terbentuk adalah dari refleksi mengena dan terbaca jala sukma bergetar.

HVS? Kisah dan kasih, sukses atau gagal, aku telah mengawalinya hari ini. Angin yang mengalir, menjual hampir seluruh raganya untuk terhembus buat engkau. Harum melati terkirim, mengubah pandanganku aku tak sendiri menatap pabrikan-pabrikan yang menganggar di pelupuk mata.

Besuk aku berjanji, dengan senyum kuperdengarkan lagu lewat burung camar. Janji seseorang….untuk seseorang.

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

****

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Seperti janjiku, setelah satu minggu (kurang-lebih) aku menghilang (bukan hitungan), selama itulah aku coba memepatkan diri pada bagian yang benar. Aku kembali memuncak dalam seribu satu keyakinan lebih pasti, tampak jelas di mataku bukan?

Pasti…kulorengkan sudah pelangi itu di atas kepalaku sebagai symbol kegagahanku yang sungguh-sungguh…sebagai simbol aku datang dengan satu warna telah aku biaskan dalam indah lembayung merah kuning dan hijau.

Oya…apa sekiranya aku tidak salah dan kurang piker? Kalau aku yang menjawab, aku kan jawab dalam kalimat positif. Tentu kan terasa tidak objektif bila aku yang menjawabnya.

Lepas, berkenaan dengan hadirnya caraka kedua ini, sudilah kiranya kita duduk dan menatap berpasangan bola mata….berdua dan hanya berdua, setelah itu?

Setangkup harapan aku hamparkan sudah dalam padang rumput hijau. Selama menanti, aku siram dan aku tabur siraman yang baru agar tetap segar.

Kutunggu bila kau tak berbohong, kunyalakan lilin malam harinya, pula di atas meja tulisku nanti bahwasanya aku tak sendiri di sini. Dan segelas air putih refleksi anggur dari Perancis untuk kita telah dalam hangat berdua…kan terasa mesra dan indah bukan?

Untukku…layangkan senyummu bila kita berpapasan dan tergerak, karena setahuku hati yang bersentuhan tidaklah selalu harus dilalui dengan sentuhan tangan…aku berharap!

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

****

“Kae sing tak maksudke, Ji!”

Dia…aku definisikan atas sosok seseorang. Tiga puluh detik kemudian dia menyelinap hilang dari hiasan bilasan kita berdua, juga mereka-mereka dengan tuntasnya membagi pandangan. Siapakah dia orangnya tak tertarik merebahkan diri sejenak dari kesemerawutan lalu lalang, kecuali dia tak sepaham denganku.

Jejak langkah berbelok, pandangan mata tertutup, pula lidah kelu menyertakan aku yang semestinya tak ada.

…dua semester sudah hampir lewat. Lisan di mataku hanya terbayang jelang tidur, membekas dalam perbedaan dikala lengkap hati tak mampu menepis.

Aku hidup, sedikit-banyak aku kenal kehidupan pribadiku, tentang yang aku sukai, pula kurang sepaham.

Jelang siang aku duduk dengan banyak pasang mata mengembang…banyak cerita dan banyak lagi bersama.

Sejanak lamanya aku tak bergeming, membius dan kemudian membakar selusin amarah. Membedakan daftar-daftar telah terdata, mana itu amarah yang mewujud dalam emosiku, mana pula itu langit biru dengan haru birunya hari dalam titian kalbu.

****

Melihat dan memandang, dosakah itu? Aku buka jendela dan sibak tirai kelambu yang menyelimuti dingin tubuhku. Aku cuat kembali kegairahanku yang sempat mencengkeram dalam kejatuhan lihat sebelah mata.

Sayang, pikirku pertama. Sayang sekali aku harus mengakhiri pandangan bintang di berlalunya malam tak…tak satupun tersisa untukku.

Suara atas hari, aku mengalunkan langkah konstan…perlahan aku percepat. Langkah seribu berpacu mencoba adu cepat dengan ringannya debu dan kebisingan membesat telinga.

Sepantasnya mendatar, mengecat kesenyian dengan keramaian sekelilingku. Aku….aku simpan dalam rahasia, di mana tersimpan catatan yang hikmat.

****

Enaknya ngapain? Suntuk aku di kamar sendirian, sepi sunyi dan sendiri. Anak-anak pada ngelayap dalam tidur, sementara buaianku di ni-na bubukkan wajah lembut nansayu. “Tina”…begitulah anak-anak membedakannya.

Karena kopikah pula? Bukan suatu alasan untuk ambil ancang-ancang lari.

Perkarakah ini? Di atas meja haruskah aku telanjangi? Tapi apasih sebenarnya mengganggu permanaku dalam berpikir? Amat sangat menyirat dalam jerit keparaham merobek telinga mendengar.

Sumuk…lagu-lagu mengalir legit menyisir sepi hatiku. Penjelalatan lentera-lentera mati mencari sisa lampu menyala.

Mengisahkan, teriringi pergi bersama, rasakah hangatnya jiwa….syair lebih dari kata menggendong telingaku…terekam sudah dalam deru nafasku mengejar.

Jam satu lebih lewat…kelewatan betul aku dalam kekosongan, mengambang dalam buih tersapu ombak. Suara raungan malam yang menggelepar mengiringi penyantera-penyantera yang membahana seantero kamar teracak. Aku harus bagaimana?

Sementara harus bagaimana, aku tunjuki selongsongan roket menempel di tembok. Aku tendang gambar-gambar yang memanggilku seolah membisikkan ‘bangunlah’ dan hempaskan kematian perassan.

Jauh dari berpikir, aku memasok halusinasi merayap kesunyian dan kesenyapan tercabut. Jauh…sekali ke relung hati.

****

Teriring…aku terpejam dengan sendiri. Aku tak ingat lagi saat alam mimpi menindihku dalam rebahan yang hangat.

Esok harinya, aku terbangun dalam letupan-letupan kecil yang canggung. Aku merasa bermimpi, tapi mimpi apa dan yang bagaimana ingatanku di pasung langit-langit kamar. Jelas aku mimpi!

Sembari aku mengingat, jala terpasang adalah improvisasi makna fajar membangkitkan kehidupan pagi ini…luar biasa menghibur dalam kemantapan tersaji.

****

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

Melewatkan hari…mengikiskan waktu. Yang kumengerti dan aku tahu, takkan mungkin sepenggal dan sebelah dalam mengikat yang jauh.

Langit coba hilangkan emosi yang menghanyutkan. Langit pula usung kelambu-kelambu basah menjadi kering. Dan dalam langit pula batas awan menaungi hilangnnya hari dalam seminggu.

Tina…terkadang aku tak tahu atas yang aku tahu, aku tak ketahui apa yang tak kuketahui. Tapi dalam berdua dengan ombak, aku bias belajar bagaimana hisap kokohnya karang terjal.

Tina…berdua hati yang melangit takkan terjadi bila hati beku. Cobalah sedikit cairkan, dan kan kucari cawan untuk menampungnya agar tak tumpah. Senyumlah, tujuh kuntum bungapun kan iri memandangmu…ketahuilah mawar yang merah dan melati yang putih, tapi tahukah sejuta hati ini luruh rontok ke tanah.

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

Sorry, telepon di kost berdering. Adalah aku yang ada, adalah aku yang seharusnya wujudkan kesadaran. Kali lain…!

Wassalamu ‘alaikum Wr. Wb.

****

Dan ternyata memang untuk aku…aku harus pergi dan berlari menyisir sirip-sirip daun meruncing. Awalnya sih membuat aku runcing juga, dimana aku harus meninggalkan kesibukkanku mengasah kedalaman jiwa sedang belajar menyelam dan menyelaminya.

Aku bergegas juga. Turun menuruni anak tangga, pasang sabuk agar tidak terbang dan motorku menuju ke arah mata angin yang memanggil dalam nada selanya.

Selang tak lama kemudian, aku sampai ke mana yang memanggil kepekaanku. Dan selang tak lama kemudian, aku kembali melesat, melesat terbawa alam bawah sadarku terbakar pantulan remang-remang begitu menggoda.

Ke mana aku pergi dan kepada siapa, aku takkan pernah menjawabnya serentak…ini tentang langkahku yang berat. Ini pula tentang jarak yang belum sampai pada tujuan. Dalam tarikan angan di sini, batas kesah aku cari takkan pernah menjauh…mungkin pula mendekat. Sempurnalah dalam tiap kepingannya…ini cerita tentang sahabatku.

****

Menenteng tas…mengenakan sepasang sepatu dan kembali berlindung di balik topi hitam…berkilah hari terlalu panas.

Sayup rimba ada dalam terdengar suaraku. Merajanya dan menerjangnya dengar kehendak mata. Lebih dari sejam lalu diam dalam kebohongan hembuskan hasrat Tanya mengikir ketebalan.

Langkah terhenti, tapi kehidupan terus berjalan. Dari berlari menjadi merangkak, selusinan gudang hendak memuntahkan gadanya kepanasan…terlalu sesak untuk ditahan perihnya.

Aku telah menjalankan peranku hari ini dengan baik…tak ada tekanan membatasi aku sebagai kesadaran yang lama dan menuai.

Jika aku tapak tilas ke belakang prosesinya, aku lebih indah menyebutnya sebagai harapan dan cita-cita terekam hidup-hidup…bersenyawa menjadi satu pandanganya seribu liku kosong.

Berjalan ke belakang ada baiknya sekali tempo menengok ke belakang. Aku kira eksistensi ada dan terjalin dari berlembar-lembar terserak, itulah jalinan kehangatan kasih terpancar disaat dahaga.

Indahnya…menerawang ke awang-awang bersama bulan takkan terpisahkan lagi. Purnama menawarkan wajah sempurna, yang terpeluk adalah jiwa yang sempurna.

****

SEMARANG

Aku tarik banyak salam dan kasih menyemarakkan teras malamku. Aku selenggarakan dalam kehangatan secangkir kopi hitam…hangat terasa manisnya.

Andaikata ada kata duduk di tepi pantai dan memandang ombak, tentu aku kan bermain di derunya air.

Sementara…dan ternyata tidak. Aku tenggelam dalam melodi aku lakonkan sendiri sekian hari ini. Sekian hari ini membawa bersama getar dawai kupingku.

Tak apalah, yang kukenang dalam pencarian yang terang. Mencari ketentraman berbalutkan ekspresi jiwa mempesona, takkan ada sonar emosi mengemuka.

Makin malam, kian bercahaya. Hati ini membara bersatu curahan kegelisahan kutangkap atas bergesernya pundi-pundi gumpalan angin di sekelilingku. Nimbus, Columbus mengangkasa di langit, tapi lihatlah warna hatiku yang mengangkasa…kau kan berseru melihatnya secerah pelangi.

Makin malam, kian bercahaya…adalah seteguk yang terakhir menyisakan ampas dan bola mataku berekspresi seolah inilah jawaban terjaring kala mata yang berbicara.

Ada saat berjumpa dengan matahari…keterpejamanku bakal mengemasnya rapi, lantas aku tak perlu lagi sembunyikan di lemari kamar.

****

Ternyata terlalu mendayu-dayu…gagah pagar telah terpasung. Angkuh menahan tiap lirikan pasang mata. Terjalin sudah gemerlapnya benang sutera coba balik menyilaukan.

Siapa yang takkan terpana? Tanyakan mencari landasan bukti pembelaan. Jangankan mereka, semutpun kan memandang ke atas dan berteriak…”Andai aku juga manusia”. Betapa sombongnya aku!

Atas nama catatanku, kemitraan langit jingga dan berkas cahayanya telah menembus awan langit. Tanyakan padanya bila ‘kau’ ragu?

Untunglah aku telah mencatat semuanya…semua pernah membelah isi hati. Bila tak percaya, boleh pinjam dariku…dengan satu sarat, tatap mataku dan biarkan mata kita yang bicara. Tahan nafas, dan setetes yang terkirim adalah salam darinya.

****

Mata ini aku tarik…belaian sampai ke jantung aku plat jadi satu bagian lidah….lidah yang menjulur aku tarik jua.

Tak ada waktu lagi, suasana merajut waktu. Biarlah jalan pikiran terbuang dan terjalin. Koran-koran bertebaran berserakan di lantai, aku berjalan bersama dengan tetesan darah belum kunjung pudar warnanya.

Membedah langit dalam pekat diam takkan pernah cukup. Mengguyur tubuh dengan air, serasa makin dingin dan menggigil. Nilai bakal mengukur kesahajaanku terkejut dalam gelisah.

Mungkin aku takkan punya alasan menarik kemungkinannya. Tapi saat eksedus-eksedus debu jalanan memberikan kesimpang-siuran, aku kan mencoba mengendus masuk. Dan dengan denyut nadi pelan aku membisikkan kata “kita tak pernah sendiri”. Saat itulah dengan berasa lembut, kutiup debu jalanan aku tawarkan agar tak bersemayam di matanya yang bening.

…Sudahlah…

****

KESEDERHANAAN

Kesederhaan kan renggangkan waktu. Kukejar arah mata angin yang terus terisi asa. Menyatu kulewati batasku dengan rintihan yang tertunduk jerit suara tengah jalan.

Tak kusesali…berbaur perih berlalu saat kutangkap lengkuas tak berwarna di serambi kulitku yang hitam…aku kira itulah tawaran yang terbeli untuk aku.

Waktuku tak inign aku habiskan dengan melamun dan sesali diri. Kutarik roda jalanan, berpacu mencari-cari tangga terpatah untuk aku janjikan jalan mungkin mengantarkan ke arah lebih baik.

Kupajang penglihatan malam di sini, geger-geger siang aku partisipasi sudah menjadi dua bagian. Bukannya aku kebirikan, melainkan sebatas aku bagi kedalamannya.

Lain kali di lain hari akan kubukan taksiran yang telah mengakar…nanti setelah aku temukan kebiru memendam hati-hati mati…setelah aku gali dan gantung sebagai pembanding aku tak pernah mati hanya karena satu daftar menertawakanku dalam telanjang dada.

****

Walaupun lambat, dunia terus berputar. Selama itu, bukankah angin tetap dan terus berhembus?

Semua tahu dan tak terkecuali aku yang ingin tahu, merenda impian tak cukup diilusikan dalam berlari. Merekah sebuah impian terpendam misalnya, sukupkah memandang fantasi bintang di taman langit?

Duduk, lalu berdiri dan melangkah. Tiada salahnya awan sebagai jejakan bermandikan keringanan pengantar menunjukkan sela terbuka.

Berpijak dari satu tempat ke tempat yang lain, ketertembusan hati biarlah menjadi pemandangan tak terlihat mata kasat. Aku sayangi dan tetaplah aku memilikinya…selama itulah aku telah memiliki hatinya walaupun tidak pernah memegang perasaannya.

Selamanya aku merindukan senyum….

Mataku kan tetap terpilih dengan tajam. Merekatnya menjadi monitoring telah mengaplikasi jiwa yang hidup…sikap tegas untuk tak pernah mati.

****

AKU PUNYA CERITA, MAUKAH MENDENGARKAN?

Jujur pada diri sendiri…aku tak ingkar, karena aku mengakuinya.

Yang membuat aku bahagia, cinta itu sendiri. Yang membuat aku bertahan, cinta itu pula…cinta dalam kesederhanaan.

****

Menerima kemenangan itu biasa, tetapi menerima kekalahan lebih biasa. Realita tak dapat dipungkiri, kenyataan akumulasi mimpi-mimpi sesungguhnya terjalin dalam satu tali.

Oke deh, reaksiku yang logis membenarkan diri…menguatkan diri.

Sebentar…aku luruskan dulu, sesungguhnya ngak ada yang menang/kalah, itu jaminan garansi.

Jangan lupa, kita tak berjalan sendiri. Kalau ada yang merasa dia sanggup berjalan sendirian, kontak aku, aku ingin berkenalan dan berguru padanya. Apa sebabnya?

Anggap saja penemuan baru. Aku berangkat bersama yang lain sebagai pijakan awal, daripula nanti aku ingin mengakiri dengan yang lain.

Sembari aku memutar kaset, mari aku perdengarkan dendang terwujud dalam pilihan serpihan surat ungu.

Ketika itu…jalan-jalan sudah menjadi kebiasaanku. Seandainya aku seekor burung, tentunya aku akan hinggap di ranting-ranting untuk mengekorkan sayapku yang lelah. Dalam bait ini, aku kan menyebutnya dalam harmonisasi lagu tersusun syair dan irama.

Selepas itu tentu kepakan sayapku kembali…tak sendirilah, kan kucari teman…aku merasa diriku bukanlah seorang suka mencari dalam ketiadaan. Berikutnya dan berikutnya hingga aku tersadar hari ini mungkin barulah awal pemepatan untuk hari esok. Dan saat itu aku kan termenung meniup sehelai sayapku yang patah…mengertikan betapa dalam arti tangis daripada senyuman semu di bibir merah.

Catatanku yang lain…catatan perjalanan waktu yang menggores, entah itu berupa garis-garis atau yang menyerupainya…sudah lama rupanya terjadi dalam keberpalingan. Agaknya butuh waktu lebih seperti dulu dan sekarang.

Ingat satu hal, bukan penyesalan aku hadapi, tapi perasaan yang lebih…lebih dan lebih. Tetapi aku takkan pernah bilang, ini jalan yang aku pilih dan aku tempuh.

Ini dulu pilihan aku ambil sebagai ilham dari surga.

 

 

  • view 228