CERITA LAMA

WAW WAW
Karya WAW WAW Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Agustus 2017
CERITA LAMA

 Ada suatu cerita dan cerita itu adalah penggalan cerita lama. Cerita lama yang jawabnya akan kutanyakan, padamu! Salahkah jalanku menempuh hidup panjang sebagai respek ke depan?

Begitu banyaknya dalam lisan hatiku, aku tidak paham membacanya. Kekuatan di muka hatiku masih terus mengapung dan terombang-ambing. Terkadang salah kaprah menafsirkannya.

Halnya, suatu saat aku jalan-jalan. Aku kenal keramaian diseputaran teriakan mata. Salam-salaman berjabat tangan, tapi aku tak paham derap perubahan yang menggelora dan menggema. Perubahan-perubahan sendi kehidupan bernyanyi tepukan hambar di pening telingaku.

Ini malam kita sebut terang. Lihat mata ini terbuka menatap gelap. Konon, aku sendiri tak mengerti untuk mempersoalkannya dalam pengambilan sikap.

Setelah aku lalui dalam penginderaan panjang, aku merangkak bergabung jalan-jalan dalam hening langkah. Dan komunitas ini aku bilang keramaian pasar malam, terasa sebelah mata. Aku bingung, ke mana mataku yang sebelah, ke mana?

Lekuk-lekuknya masih jelas melekuk di bilah mata. Dan sebagainya, pemikiran aku matangkan untukku memandang lebih.

Dan berdirilah aku ke samping, ke samping bergeser sepuluh jariku dari pusat membangun lautan hijau. Maunya sok membuka mata, tapi mataku tak siap terbuka. Aku tertekan dan aku terbakar. Jubahku diantaranya ikut terbakar.

Baik…

Baiklah, derap langkah awal yang membungkus. Pemandangan alam…

Darahku pada prinsipnya tidak sedang tinggi, apalagi terkesan rendah. Sesungguhnya yang aku perlukan adalah mengingat diriku sendiri yang tersendat. Makanya, aku perlu kembalikan di atas bergulirnya waktu. Aku kembalikan dengan berlari secepatnya atas segala aku temui dan ketahui.

Baik…

Di atas ambang-ambang sebagian rasa gerahku, aku bertengger di atas pohon. Kebersamaan seperti kawanan burung-burung putih berkicau dan bernyanyi, sementara yang lain menyapa dan berpikir sejurus lamanya.

Sering kali aku menoleh dan menengok ke bawah. Menyaksikan potongan dmei potongan tajam. Ke samping pula aku perhatikan, ke atas pula aku siap berbeda.

Aku cari dan aku tarik pengakuan-pengakuan dari diriku yang harus aku temukan. Selamanya aku harus mampu merembuknya dengan melebur arah melintang di atas permainan egois dan emosi, di mana aku ingin memasuki sisi baik dengan segala kekurangan aku.

Di ujung sana, agung tegal melintas mega biru. Nyaris lurus meruncing tanpa celah. Nyaris tanpa cacat dalam jarak pandangku. Dan aku lihat kokohnya pula menjulang di balik pandanganku yang terbatas oleh awan menyembul dari balik kawah.

Tinggi bukan? Kokoh dan kuat serta gagah, bukan? Nyaris tanpa celah, bukan? Apalagi aku telah di sini, berdiri dalam kerumunan sosok tegarnya Mahameru. Ada ayat-ayat yang mengandung perhatianku untuk tetap dan lelap berlama-lama berdiri memandang dengan wajah hangat.

Penuh rasa haru menebar seakan ingin memeluk. Lalu bercerita akan apa yang aku lakukan dikemudian, pasti sebagai penjabat sikapku. Pengambilan wajah sempurna nyaris tanpa celah.

Rindu…dengan senyum kelabu penuh rasa haru mendekap. Penuh rasa haru menatap, penuh rasa haru dengar gelegar halilintarmu getarkan ujung buluh rambutku.

Tak habisnya aku melirik dan membuka kenyataan sebuah mimpi. Segala pengapian yang terbakar, tersentak ingin dapati sosoknya…Mahameru meyakinkan kedatanganku ingin kembali.

Baik…

Bukannya perilaku kutujukan terlalu afeksi, bukan kutak peduli bentangan hijau nyaris tanpa daun di sebelah lereng timur sana. Sendi utama di ujung sarafku yang melepaskan keterjebakkanku.

Melintas ke bawah, sawah dengan kuncinya seperti kukesan di dinding saja. Di sini, dalam menggebu sekalipun,aku bisa memandang garis cakrawala tanpa menyimpang jauh dari keterikatanku.

Itulah…sehingga aku putuskan untuk perfeck pada Mahameru. Aku ambil sikap tanpa paksa, mengamati ketegaran tanpa kata.

Baik…

Sebenarnya aku datang kemari dari jauh. Jauh sekali dari tempat yang terasing. Aku berkata padamu Mahameru, aku datang kemari sendiri untuk mendengarkan kesaksian butamu. Kebutaanmu adalah perpanjangan tangan membuka butanya hatiku yang aku terror ketakutan sendiri, mungkin sebagian dari bimbang dalam memilih.

Aku dan aku bisa bilang semuanya beda. Hanya satu kesamaan kita, kita berdir di sini bukan semata kemauan kita, kita adalah kuasa-Nya di atas segalanya.

Dari situlah aku berangkat, aku ingin bertukar pandangan. Pandanganku sempit, sedangkan caramu menjulang tinggi kan punya nilai lebih tatapan sepi bicara kata perkata. Dan kau selama ini ternilai mudah untuk terbuka, bicaranya jujur.

Itulah aku…aku yang terbakar pesona.

Baik…

Dan kau pasti tahu, bagaimana medan sulit kutempuh. Dan inilah sebagian hasrat dalam tantangan hidup. Gabung bersamamu, Mahameru, dalam mengarungi hidup penuh haling rintang, tak luput kumpulan uji dan coba.

Aku tahu, engkau pasti bisa menjadi teman baikku. Aku puls paham, ada jurang antara semak dan belukarmu. Bilamana aku kurang memahami sifatmu, bisa-bisa aku tersesat oleh sikap diam kerap kau ambil.

Baik…

Dan belantaramu tak tanggung-tanggung memancing gelagat imani dalam jiwa. Belum lagi badai gunung tak urung kerap kali menggelintirkan, juga menjinjing kaki-kaki lemah menganggapai puncakmu. Tapi aku tahu, dibalik sebagian yang aku sebutkan tadi, kau adalah sosok punya sikap. Dan sikap itu akan kupelajari darimu…Mahameru.

Baik…

Dan sebagian unek-unekku telah kubisikkan jari-jari tiap waktuku. Kupastikan takkan tertinggal tapak demi tapak. Aku tak peduli jauhnya mencapai puncakmu dari rumahku.

Asal tahu, aku sedang tak bicara soal hasratku yang kelewat besar. Hasratku tak bisa menghilang dan terus usai begitu saja sampai terwujud satu keabadian.

Dan dengan segala kemungkinan, kubangun tenda digundukan tanahmu. Kutunggu datangnya esok pagi seornag diri untuk memantapkan jawabnya. Seperti hasratku yang abadi, pula bukan jawaban sesaat aku pinta.

Baik…

Keabadian sebagian telah kuwujudkan malam ini. Kugulung gulungan, kutarik matras dalam kabut gunung menggerai sekujur tubuhku merinding. Beku, aku tergulung menghunus sum sum tulangku sendiri. Tapi aku tak apa-apa, ini adalah sebagian petualangan dari keabadian hidup.

Biarkan diriku terbakar dingin…biarkan. Aku memasang pemanas atas ranting-ranting kering berserakan. Kubakar dan kupanggang diantaranya sebuah kehangatan diri dalam tubuh. Lepas dari itu semua, tempat sembunyi sementara dari ganasnya alam sekitar dengan matanya mengincar aku sebagai mangsa.

Wahai Mahameru, sebelum kita bagi cerita hingga esok pagi, kupastikan aku takkan tertidur. Sementara menunggu, aku jemput seduan kopi buatanku, sementara aku merenung sementara. Sementara menatap bintang-bintang di langit, juga sabit di langit-langit.

Menyaksikan pula lolongan anjing serigala loncat dari dahan ke dahan – barang kali. Begitupula mereka yang terbang dengan sayap dalam damai tanpa rantai ikatan. Ada alam kebebasan yang tak ingin satu bersedih…dan harus kukatakan tentang apa yang kulakukan.

Baik…

…apa yang kulakukan berlari ke sini melepaskan mimpiku yang tersimpan. Dan bukannya aku bersedih, apalagi membuat sedih dan melukai perasaan seseorang, karena aku sendiri yang berkeinginan melepas diriku sendiri, juga ingin menyimpan ibaku sendiri di atas jalanku sendiri. Aku buat keputusan itu untuk focus sendiri dalam menyendiri seorang diri. Cobalah pahami dengan nurani!

Baik…

Sebentar aku didihkan airku dulu. Aku tunggu dan aku tunggu sambil terus melangkah ke depan. Aku tuangkan dan aku sedu dengan penuh keteraturan. Suatu rasa kesegaran menimbun saat aku harus tetap terjaga dan teratur.

Enake rek…dengan terpaksa aku sendiri yang meminmnya, karena yang kutahu Mahameru tak pernah mempersoalkan kopiku. Yang kumau dari diriku sebuah pengertian dalam arti luas, seluas samudera pandangmu penuh perhatian.

Baik…

Sembari aku mengatur nafas, mari kita awali dengan berbicara. Atur sedemikian rupa sehingga mataku bertahan untuk tetap berjaga.

Sepi? Tidak jawabku. Di sini full kesaksian bisu. Masih mungkin banyak lagi untuk aku tetap tenang dan selalu tenang. Suasana tak terpejam, suasana nilai moral dan spiritual daripada panasnya keduniawian belaka.

Baik…

Yaaa…suatu cerita di hari lalu. Bukannya aku seorang pemelihara cerita-cerita lalu, dan bukannya pula pecinta kenangan lalu. Aku seorang penjelajah dimensi waktu perwaktu. Aku siap menjelajah dimensi waktu dimanapun aku berada untuk uraiakan makna, walaupun harus sendiri dan sunyi seperti sekarang ini.

Itulah, maju. Maju dan tak ingin mundur. Terbang ke awing-awang mencari damai.

Yaa…aku tahu, mungkin bicaraku mulai agak kacau. Begitulah -bela diri- sekiranya nafas mulai susah diundang. Rasa kantuk menggerogoti kepekaan mata, mulai bekerja pada bicaraku.

Satu tegukan lagi, biar aku rasa tetap melek. Esok bakalan lari, akupun esok harus sudah hadir kembali di rumah.

Lagi, izinkan aku meneguk lagi. Ndah terasa sudah dingin di mulut. Cepatlah hanyut bersimpuh dalam dinginnya Mahameru.

Emosi, itulah yang tergali ketika ini. Pengambilan sikap, ketenangan sepi dalam misteri. Perasaan menyentuh saat berteduh di gundukan pencakar langit.

Tekanan, yaaa, tekanan. Di sini dingin sekali. Tunggu sebentar, lembut malam mengharuskan aku berkerudung selimut. Jaketku tak cukup memangku datangnya kembali lembah senyap.

Semangat! Beranikan diri hadapi. Kutanya gigiku yang bergemelutuk, apakah jawabnya? Semangat.

Seratus jurus lagi/seribu jurus lagi? Lihat, dengar dan rasakan, aku masih bertahan…terus bertahan dan akan bertahan. Dengarlah, aku kemari untuk mencari ketenangan sepi!

Baik…

Aku pasung di sini, lingkar bintang bergerak di garis cakrawala sana. Lihat gemerlipnya, rangkaikan untukku!

Indah, bersahaja, menebar aroma senyum. Wangi, kerling matanya membisikkan tempat sebagian kita.

Bintang di kecil di atas sana, oleh mataku. Bintang yang besar di pandangan bilik kalbuku.

Cobalah tunjuk satu bintang di atas sana, bungkus dan tujukanlah padaku! Bintang yang berpijar, tentunya. Berpijar, menguntai dalam hadirnya. Terpukau aku menatap, seolah aku mengenal dia.

Yaa, dia dapatkan hatiku. Turun, bilas sinarnya sentuh aku. Damai kurasakan.

Baik…

Dingin…jam segini, masih segini dinginnya. Ketahuilah, musik telah berganti, dan matahari telah setombak selebihnya meninggalkan bayangan. Dinginnya, masih enggak kentara, untunglah aku masih punya nilai lebih untuk bertahan dan mempertahankan diri.

Sebungkus mie instan, pengganjal perut agar hangat. You bagaimana?

Beginilah (bela diri) aku yang dalam pengembaraan. Aku mengembara ingin menggapai pendakian panjang. Lika-liku yang tertulis dan tertuju.

Enak tenan, terdengar suaranya (sruput) sela kopi panas coba mendominasi. Pokoke, selang kemudian tinggallah tertinggal bungkus yang kosong dengan sisa sampahnya.

Kurang…aku ingin lebih, gambaran yang aku alami, tidak hari ini saja, dalam keseharianku. Sebelum kita melangkah jauh, ada baiknya aku mandi dulu. Di sana aku, aku dan kau akan lebih leluasa berdiam diri untuk menyampaikan sikap bicara. Tentu kita akan lebih merasa dekat, dekat dengan alam. Dengan begitu perasaanku akan tetap diantara sejuk dan segarnya alam Mahameru.

Tanpa harus menunggu lagi, aku turun. Aku bergegas ke mana terdengar riak, riaknya air bermain diantara sela batu dan bebaruan tertata.

Adalah aku nunggang di derasnya. Bening, dingin telapak kakiku menyentuh permukaan. Nggak tanggung-tanggung menunggangi simpul saraf, membuka aku kembali untuk segera kembali.

Adalah entah benar/tidak, aku mengurungkan langkah. Aku duduk di atas bebatuan dengan terus lepas membuka riaknya.

Tak pikir-pikir, lajunya terus meninggalkan aku takkan pernah kembali. Tekanannyaa slalu memaksa ke mana-mana dan diteruskan sampai akhirnya berputar mengikuti perputaran.

Sementara untuk mencari kesenangan, aku cari-cari percik air dalam loncatan bunga airnya. Kubaca, hanya dengan keteguhan diri kita terwakili, begitu katanya dengan senyum.

One agains, aku celupkan. Sontak, serta merta aku tarik langkahku. Dinginnya bukan main, hingga kepalaku kehilangan kelenjar keberanian. Mungkin ini saat tepat untuk berpikir, berpikir mengambil telaah diri. Sudah sejak dua hari lalu aku gagal mandi (dalam ketakutan).

Baik…

Aku  tak ingat betul kapan aku memulainya. Terjebaklah aku ke hal-hal terlupakan maknawinya. Mutlak, pandangan mataku masih dihadapkan ke beningnya air mengalir dihadapan. Bening…aku tak bisa bercerita banyak hal dengan mumpumi yang tercampur.

Aku merenung, kucoba Tanya, bagaimana coba melakukannya? Sementara di lain sisi, aku tak ingin membeli atau berharap dia menjual untuk aku. Rasanya aku dan kemampuanku aku menguji dan dengan sendirinya akan pergi begitu semuanya terbilang.

Entahlah, berapapun tambalah aku odirfikasi, tak satupun terbilang. Tak ada jumlah pasti, angka atau huruf yang menyebutkan. Tak ada kalimat atau ungkapan lugas.

 

Baik…

Kondusif…emosi dan naluriku, bening air mengendalikan perasaan dna emosiku. Pemandangan biru dan pemandangan hijau. Nanjauh dari sana menjulang tinggi, Mahameru aku sebutkan.

Alunan riak bening di telingaku, sebuah sikap tentunya. Sebuah penderian teguh. Penempatan diri. Pernah dengar rupa bunga? Ada yang merah, juga ada yang putih. Ada yang mawar, ada yang namanya melati. Mawar dan melati semuanya indah.

Bukan mawar atau melati yang aku pertanyakan, namun keberadaan bunga di hatiku. Adalah mendekap isi hatiku dan marilah kita lanjutkan cerita hari esok.

Baik…

Bunga, bunga yang harum semuanya indah. Tak terbilang itu bunga di taman, pula di tepi jalan. Begitulah bunga-bunga diseputaran tempatku berada.

Camkan...! aku bukanlah pecinta bunga, aku juga tak hendak berperan ganda pemetik wangi bunga.

Bunga yang tak pernah layu, bunga yang selalu wangi dan hidup. Bunga yang pernah aku bawa turun wanginya, kupinjam matanya. Bunga?

Aku ingat betul, di sudut batu itu aku pernah temukan. Kenapa? Itulah ali kembali ke sini, ke Mahameru untuk menapaki jejak tapak tilas. Wanginya!

Memang kala itu, bersama dengan bintang berpijar, juga untaian bulan purnama. Pelangi.

Sekarang, di suatu pagi lepas. Sekarnag, gandengan tangan tersenyum merekah. Rasanya, rasanya tak pernah lepas sedetil selama aku masih dideri waktu memandang.

 Dengarkan, dia ada di sebelah kananku!

Di mana? Di mana?

Tertunduk aku, wanginya tak lekang. Kuntumnya tak pernah layu. Sungai terus mengalirkan airnya, waktupun beralih. Di mana?

Katakan?

Lama, andaikan aku bisa memandanya kembali…sekarang. Memandang sekali lagi, luruh untuk aku beranjak. Batinku menyisir sudah.

Apa perlu aku ceritakan? Kehidupanku yang lepas, mataku yang meneropong. Ahh…pedasnya kecap di lidah, tipisnya bibirku.

Memang, lampu-lampu yang menanjakan. Derap malam merajai malamku, siangku yang tersembunyi. Kukenali setiap sudut, aku sadar, aku tak kenali jejak kakiku di bawah langit. Yaa, aku tak selak.

Seperti aku bilang, mawar, melati, pula anggrek bulan aku lihat dengan mata dan kepalaku. Sisi luar yang terlihat mungkin mengangguk, tapi jika boleh aku sombang, aku tak pernah memajangnya setinggi dinding di dada kiri.

Dengarlah, rabalah jala sukmaku!

Baik…

Barengan sahabat, sekaligus teman satu hati (Mahameru), tinggallah sejenak dalam jeritan telingaku. Tinggalkan sejenak relung hatimu, hadirkan jiwamu. Mari kita duduk bersama, dan aku akan bercerita seperti yang kau minta. Aku akan meminta diriku memintalkan lusinan benang kusut, selama itu mungkin, aku akan membuatnya mungkin (dalam sebatas kemampuanku, dalam batas kehendak-Nya).

Baik…

Waktu yang menjawabnya…aku akan dan semoga telah pulangkan segalanya.

Mahameru yang membawaku berlari, Mahameru pula membawaku berteduh dari panas dan hujan.

Mahameru, melihat dan menyapa. Sikap diamnya, dan lentera serta telingaku menangkap. Sikap tutur kata untuk dimengerti.

Luapan sepenuh hati. Wangi surgawi, sebening air abadi basahi halamanku. Wajah yang sumringah tak tersentuh congkak dunia.Segaris wajah yang kau tanahkan, aku ingin pupuk bersama.

Baik…

Aku kemari untuk minta izin dan restumu. Aku punya keinginan, dan aku akan buktikan, aku tidak sedang omong kosong…tidak omong kosong.

Mimpi-mimpi yang tersabut sutra ungu, aku akan sigap suatu hari. Sigp dengan poros lintang hatiku. Bola mata ini saksi, aku punya jiwa akan beraksi.

Memikul beban bumi dengan segala isinya, aku seoran diri sedang tak memaksakan diri. Memberikan kepekaan nurani, itulah aku akan gapai.

Sementara aku angkat tangan, sementara teriring desiran hasrat nafasku.

Aku yakin, waktu kan melembutnya jalannya, cukup sudah kan menahan langkahku yang tertinggal, kenangan bakal menebarkan pesona.

Aku harus pergi sekarang, dunia yang akan datang bakal menyambutku. Dan dengan membawa mimpi-mimpi itu, aku akan jaga…aku akan jaga, karena aku telah berseru pada diri sendiri.

 

  • view 27