???

WAW WAW
Karya WAW WAW Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Mei 2017
???

 

…U N TU K   D I C I N T A I ,  A K U  H A R U S  M E N  C I N T A I…

 

BOGOR (Agustus 2002)…Setelah aku lalui hari yang kemarin.

Ah…hampir waktu aku buntuti diriku sendiri. Aku pergi tak tinggalkan siapa-siapa dan aku tak hendak meninggalkan jejak pula tuk ditelusuri mata-mata yang tak pernah terbuka.

Melempar boomerang kas suku Aborigin  dengan setengah telinga mendengar, degup jantungku tak bias lepas bahwasanya serasa memataiku yang hidup…memaksa memaksilkan keganjilan-keganjilan yang mungkin mata telanjang tak pernah meluangkan lirikan.

Meskipun aku telah jauh, yang mengapung sama halnya meneteskan keringat yang terjejal panasnya jalan pertama…dan salah satu yang pertama terkesan dalam lelehan fatamorgana ketermenungan.

****

Angin mengalir sebagaimana air…nada harmoni melanjutkan jiwaku.

Aku mengepal dan sepuluh jarikupun terkepal. Lewat kepalan putih siang, aku berkhayal tentang diriku yang sekian waktu tak ada di tempat aku yang dulu.

Mereka rencana apa aku buat dengan apa aku jumpai. Saat itulah sinar malam merenggut sebentar bait pantun isinya mendentingkan dawai-dawai gitar ingin aku panggil dengan jeritan terakhir.

****

Arrasemen sempat mengalir sendiri, nada nada harmonis aku harapkan tak pernah membuat aku berpaling…nada yang akan harmonisasikan…belakangan sebelumnya dengan langit yang baru untuk aku pandangi. Tapi ketahuan juga mengalirnya juga sama mengalirnya menembus dadaku yang tak cukup aku ratakan dengan jaket.

Pertama aku lihat dari yang kemarin, tampang kusutku menjerit dalam kemalangan. Aku yang mengarah mencari arah dalam tak kejeraan, seakan tiba-tiba terpental begitu aku berminta jari dari tangan kanannya.

Ironis memang, bahkan bahu tanganku tak sempat mengelak..sama tajamnya dan sama dahsyatnya membelah ujung demi ujung rambutku di sekujur tubuh. Aku kira aku ini siapanya, sedangkan aku sendiri tak sempat mengira siapakah dia yang sesungguhnya…kesungguhanku belum tuntas untuk mengentaskan pada kesungguhan terakhir.

****

Aku dan temanku yang lain…dan juga mentari yang meninggi tak bias mengelabuhi sekaligus dikelabui.

Dan akupun menutup mata pertamaku dengan sapu tangan buah tangan dari-Nya. Akan aku buka untuk selanjutnya selepas kami tiba ditempat berlanggam hijau daun-daun akan lebatnya nafas kehidupan yang menyebutkan lampu merah di nafas kota ini…sepanjang hari.

****

memangkas daun…memangkas kenaikan di rambut kepala. Memilir payungan hati,meneteskan embun kesejukan dari dahaga hati menjadi kebasahan melapisi dengan lilinya.

Itulah yang dapat kami lakukan untuk mempercantik penampilan yang mulai mengusut dan mengerang karena keras. Kami harus ambil ketegasan disaat hujan sesungguhnya tak pernah turun dan keturunannya takkan pernah kami kehendaki. Betapa itu terjalin, basah air bakalan membanjiri telapak-telapak yang biasanya tersiram rata.

Kami takkan pernah mengharapkan, tapi bilamana terjadi kami takkan pernah ingkar.

****

Waktu yang lalu dengan waktu sekarang tentulah takkan pernah sama, begitupula waktu sekarang akan memuji yang akan datang.

Kami melewati lampion-lampion malam berwajah besi, merintih dan saling mengepul. Mereka menawarkan diri di atas lapangan yang hitam dan keras. Saling menunjukkan kebisaannnya diantara orang-orang yang membiasakan diri bergumul dengan keramaian dan kepadatan, tak terkecuali kami di waktu sekarang ini terjebak dalam hiruk dan pikuknya.

Adapun perbincangan sempat kami lagukan, adalah joke-joke ringan dan selingan-selingan di tengah dahi-dahi mengerut dan lebarnya batuk-batuk licin oleh sengatan. Besar kemungkinan mereka melangkah dengan langkah ganda dalam mengulas panas dan pekatnya lentera jingga.

****

Lama kami harus bergumul dengan ludah, lama kami menyisir dan menyusup diantara seberang jalanan. Laju sepeda kumbang jangan harap temui, tapi kumbang-kumbang akan ada di tempatmya tersendiri menuju kebun di mana aku akan merebahkan tubuhku yang lelah dan bersimpuh dengan sejuta harapan.

Hatiku yang gelisah dan jalanan yang tak kunjung sepi. Satu-satu jatuh kepangkuan, aku tenggelam sudah dalam dekapan yang semusim ini mencapai langkahku yang jauh. Kini, aku merasa semua bukan milikku, tetapi milik semua yang mekar bersama bergantinya matahari.

****

Mendesah gelisah…untuk sekian waktu terjalin aku lalui dengan memandang. Hamparan kesejukan melirih ke hati yang menyesuaikan. Dan persesuaian terbagi pada bayangan berjalan dengan kaki dan tangannya di sebelahku yang tak dapat kubohongi telah mengambil posisiku.

Padaku saat itu aku tak bisa berpaling. Sedan mewah melintas, wanita bertumbuh ramping menggeliat dari mataku yang berpendar dari duduk di atas bahu jalanan.

Hiruk pikuk lewat tengah hari sudah, panas kian redup dan merendah menyantera jutaan sandera dipangkuan kedua sangka penjaga kali. Mataku yang tak bisa lepas untuk terus memandang kosong, hatiku yang nyeri menyaksikan kedewasaanku yang kekanak-kanakkan layaknya kehilangan masa kanak-kanak.

****

Wuuzzz…sekali tiupan daun-daun kering pada luruh…dan selalu jatuh ke tanah. Apakah aku juga akan luruh begitu saja setelah angin menyapa wajahku?

Sebentar! Aku bukanlah daun-daun kering yang aku pernah sebutkan. Aku adalah anak manusia, yang kini bermain di dunia. Aku telah terlahir, berarti aku harus berdiri dan berjalan.

Diam…berarti tak selesai, tetapi mungkin akan merambah dan terus menambah tanpa rentang akumulasi yang pasti…bias yang terdampar di permukaan tanah kering beserta daun kering yang selalu jatuh ke tanah.

****

kusut mukaku yang mongering, kubasuh dengan air tangan menempel pada telapak. Aku lakukan selama itu mungkin…kemungkinan akan tetap terjaga.

Mulai dari BMW hingga bebek merah warnanya, mulai dari sanalah aku bersandar tanpa bahu yang menyangga. Ketersedian tanganku, aku jawarakan sebagai penopang seluruh tubuh ini. Terbuat sedemikian rupa membelakangi, berindikasi dengan bersetubuh dengan penah yang membanjiri.

Sementara aku beristirahat, sementara pula aku terus memperpanjang hari. Dengan bertengger dalam daftar pencarian yang mengawasi, aku memanjat setiap kisah angan yang melangsir menyelusup saling salip dan saling mendahului untuk jadi terdepan.

****

Aku tak kesulitan untuk masuk, sekaligus beradaptasi. Keadaan penuh gelisah mengitari, melingkari dan mengukuri sapaan tiap restu tiap aku jelang tidur dan jelang aku terbangun…tak terkecuali dalam waktuku jelang hari.

Aku dan enam rekanku yang hilang saling hening, tak saling berbincang. Tapi, bahasa mata kami berbicara dan berbincang kekuasaan dan kesempurnaan hati yang tak mungkin berlalu begitu saja tanpa meninggalkan tanpa jejak selintas langkah-langkah sepatu dengan hentakkannya di belokan kuda-kuda besi yang menggelepar.

Dan takkan hilang pula dari ingatanku, kenapa aku berselimut…dan titip selimut di kota ini? Kenapa pula aku tidak pilih-pilih kota lain? Atau kenapa aku tak pilih kota yang selama ini menjanjikan satu bahasa dalam realita kemajemukan pikiranku?

Karena itulah aku di sini, mencari dan berusaha mencari seribu hati yang kosong untuk aku susupi hatiku yang penuh.

****

Satu kata…aku telah kembali berjalan. Aku tak ingin hancurkan rasa di hatiku…karena yang aku jalani sebuah realita penuh pengharapan.

Aku melanjutkan pemikiranku meniti hutan jemara yang terjal dan penuh duri. Panas tak lagi aku pedulikan, karena aku telah mengaplikasikannya dalam nafas kesejukan yang membawa aku menyentuh rimbun padang rumput sabana.

Aku teriaki semua, aku bisiki dengan lembut setelah semua mendengar. Kubalut jejakku nista barusan mengoyak, aku benamkan dan aku gantikan. Aku tak pedulikan, karena aku hanya ingin lupakan dan dapat temukan penantianku yang selama ini agaknya menelan biru lautan asin.

****

Sampai…yang terlintas dipikiranku pertama kali, adalah keunggulanku meneruskan budnaran-bundaran hampir dekati lingkaran. Ada keengganan menyeruak dalam versi livenya…dan itu semua tak dapat aku pungkiri, aku tak berdiri hanya dengan kedua kakiku, tapi masih ada jangkar-jangkar lain membantuku untuk tak secepatnya tersudut dalam keterombang-ambingan.

Maksudku, terlalu pendek dan cupit pikiranku untuk bicara ijo di mata, untuk diceritain…waktuku yang memang tak banyak.

Dan proses aku artikan alami ini, tak bisa aku baca apalagi nilai dengan kesempurnaan…akupun terduduk terpekur bertopang dagu di atas batu kali bertulang serpihan-serpihan benang-benang membuatnya kusut…tak terkecuali membelanjakan analisaku yang buta dan pekat.

****

Lama…aku tiup gelombang udaraku…aku biarkan pecah menjadi jentik-jentik air.

Aku tak memandangi siapapun, begitupula hiruk pikuk kemacetan tak aku persesuaikan dengan jejak serta abstraksiku majemuk.

Aku duduk dan mencoba berdiri. Aku mengepal bukan berarti marah, aku pula tak sedang memikirkan yang tersisa di kantongku…seberapa tebalkan itu!

Terkadang aku juga sempat mengengarnya…aku heran…jutaan bahkan jutaan kali mengiang-ngiang.

Tak tahulah…aku buta, aku tak dapat membaca tulisan pernah aku tulis sendiri…seperti seakan tulisan yang hilang…menyakitkan dan…aku tak tahu siapakan merubahnya.

****

Aku masuk juga…dan akupun tersenyum menghadirkan proses barusan aku tanam. Dan maka dari itu, aku perdengarkan puisiku melalui bingkai yang aku pasang sejajar dengan bukit barisan. Betapa itu terlihat menghijau dari kejauhan dan terlihat rapi pula seluas biru memandang.

Aku buat sajak itu sedemikian indahnya dan aku dedikasikan pada yang berjalan menggandengku dengan penuh persahabatan.

****

Begitu dekat dan begitu akrabnya. Kami duduk menghadapi telaga yang bening. Ikan-ikan…entah apa itu namamya, bermain dengan riaknya air, tak terkecuali aku mengepak-kepakkan kaki meminta kesejukan hati yang dingin dari si penghuni telaga ramah pada kami.

Bersandar di atas rerumputan, berbantalkan keikhlasan. Aku rasakan seakan menyusuri pantai, bahkan sempat aku berpikir ‘dia’ ada di sebelahku sekarang…dan aku merasa tak lagi sedang pandangi langit, tetapi mendapatinya memayungi langkah dan laguku.

Mereka pada bicara tentang rencana esok, aku masih melihat dan membicarakan ikan-ikan di telaga. Aku rilek dengan membebaskan diri berekspresi…tentu saja untuk tak sekedar berkhayal dalam bayangan sempit, tetapi untuk berterima kasih aku telah memegang tali hijau dan kekang kearifan yang memberiku sejuta nafas melingkar pasti.

****

Satu langkah di belakang…is oke. Aku dapat lari dari pelangi melalui atap-atap langit. Dan ketika itu aku dapati merpati hati yang pergi meninggalkan keinginan.

Seperti air yang mengalir…seperti angin yang tak pernah diam. Seperti daun-adun hijau, seperti daun-daun kering yang luruh ke tanah. Seperti memandang langit tak bertepi…seperti laut yang hendak menumpahkan bahnya. Dan seperti aku yang tak boleh kehilangan daratanku ke manapun aku meninggikan awang-awang di langit tujuh melalui tangga-tangga pohon.

Perasaan haus dan lapar aku kian ajar, tak terkecuali. Perasaan bingung adakalanya gambaran kengerian untuk melangkah karena sikap ragu yang diambil, sedangkan aku tak dapat menyimpulkan apa-apa sebelum ujung simpunya aku temukan…untuk aku tarik dalam kepasrahan.

Aku takkan pernah katakana sampai kapan, tapi aku hanya mengisyaratkan takkan pernah berakhir bagi insane yang pernah melihat dengan mata hatinya…aku hanya bisa bilang dalam bahasa aku persempit seorang.

Yaaa…satu jam lepas dan pantas berlalu tanpa berkesan. Pantas, aku bilang pantas selintas lalu meliputkan dalam ketidakpastian. Aku meluncur di sungai-sungai yang kering keronta dan gersang.

Yang jelas, aku mengikuti ke mana kelopak-kelopak bunga mengembang aku datangi…yang jelas aku sedang mencium star bunga merah di pelupuk mataku. Yang jelas, aku mungkin takkan pernah memeluknya…karena ‘dia’ tak mau menghadirkan dirinya di hdapanku, kecuali aku yang hanya sanggup menghadirkannya dalam ruang mimpiku.

Lelah…aku terbaring di tanah lapang bersemian karpet hijau. Teramat hijau dan karena kebersihannya, aku tak segan-segan meminta cerita keelokan surga untuk menidurkan urat dan sarafku yang…di satu sisi menegang, dan di sisi lain mengendor.

Aku tak peduli jika harus tertidur sampai besuk pagi, tapi aku akan sangat peduli bila ada yang membawaku menembus batas dimensi lain…karena di hatiku berdiam hati yang tak pernah aku pahami.

Aku…yang hadirku dan aku persembahkan, tetapi bukan berarti aku semnbahkan atas seluruh hidupku. Yang aku lakukan adalah memanggil dan memohon kerja samanya agar aku rasakan sejuta hembus angin yang redakan sejuta amarah dalam hati.

Sementara aku mencoba mendekap, aku lepas gada-gada ungu. Tapi…bukan berarti buyarkan karang-karang di kolam tempat ikan bermain dan menyelam…yang menepi dan kembali ke tengah serta menepi kembali dan kembali ke tengah…begitu seterusnya memadukan lagu-lagu merdu bersunggingkan senyuman.

Dan kuceritakan pada mereka tentang harapan dan angan-anganku. Dan aku katakan pula pada mereka, aku ingin dapat bebas lepas dan senantiasa bahagia. Dan merekapun menerbangkan senyumnya melalui racikan memercik ke wajah…melalui kicaunya yang mengendus di telinga.

Seperti aku bilang, aku bilangkan pada lukisan alam.

Serigala? Aku kira tak diizinkan menghuni tempat ini. Aku kira bila ada serigala, serigala itu adalah kita sendiri yang bakalan memangsa kita jua.

Lantas…aku pejamkan mata, begitulah caraku memanggil kepingan hati yang hilang…ngabur. Memandang langit bilangan terluas untuk menghitung kepingan terpenjar karena angin tak bisa membaca. Dan aku terus mencoba untuk meredam cahaya, aku masih ingin dan menginginkan semburat lentera.

“Ayo…!”

Mengikuti/diikuti? Aku tak memilih. Aku beranjak dan segera menjejakkan pada alam terang. Kontinyu bergulir dan berguling seiring mata-mata yang melihat dan melirik dengan tatapan panahnya.

Aku tak akan bicara tentang ketajaman anak panah menembus ulu hati, tapi aku hanya kan mengikrarkan dalam bentuk syair ketika ada sepasang mata yang aku pandangi ternyata menurut pandanganku…aku…(aku diam dan terus berjalan menuju tempatku).

Bangunan apa itu? Tanyaku. Aku bertanya-tanya meneruskan gundukan tanah yang terus membumbung. Aku bertanya-tanya pula mempersiapkan kengerianku yang tak kunjung reda menatap padang hijau sebagai tempatku berbaring selanjutnya.

Siapakah itu gerangan? Belum…belum aku selesaikan panjatan jatah sendi kakiku…aku dibangunkan sekelebat alias sesosok tubuh dalam keremangan yang terjaga di dimensi, aku menyaksikannya dengan samar.

Apakah dia seperti yang aku kenal? Sembari aku lepaskan rompiku, aku kerahkan kacamata hatiku yang berdebar di dada kiri. Entah itu benar/tidak, kebohongan yang aku ada-adakan seandainya aku mengelak hanya kan mengubur aku hidup-hidup…yang pasti sampai sejauh ini aku belum bisa mencari nama-nama yang lain, selain itu namamu dan hanya namamu.

Mengertikah engkau?

Aku tak berkeming sesaat lamanya. Dan sesaat itu aku terus memperhatikan bayangan di balik tirai putih yang bergerak. Aku gerakkan getarku mengikuti ke mana hingga arahnya ditelan rimbun pepohonan.

Perasaanku yang begitu yakin dia adalah dia, keyakinanku menggaung bak macan di hutan…ketikanya aku perhatikan sekali lagi wajah penuh kasih seornag sahabat baru aku kenal di kota ini. Aku lihat dari matanya seorang gadis suci dalam gandengannya dan sekali lagi itu adalah dia yang selama ini tersenyum padaku…membuat aku tersenyum.

Mengertilah, aku tak dapat pahami semestinya. Semestinya dari itu, aku bergerak mengikuti rimbun semak menunggu lewatnya berikut hingga aku dapat memastikan wajahnya yang barusan melintas dengah cahyanya yang kemilau.

Satu lagi membuat aku begitu yakin, ketika itu pada hari yang lalu, bahwa ‘dia’ akan ada rencana mengunjungi kota ini yang aku dengar atas bulan lalu…atas lisannya di lisanku…sekarang?

****

Sungguh, aku jalan hingga saat ini, siapa bilang aku tidur? Boleh berkompromi! Bilang saja malam ini juga aku ingin bertemu dan ngobrol tentang apa saja…apa saja yang bisa membuat kita bahagia.

Jarak buat sebagian orang mungkin bukan segalanya. Aku yang ingin semua orang tahu, dari malam hingga malam lagi menyisakan bibir yang berbincang, sehingga dalam terbang rendah sekalipun seperti halnya kelelaar tak menabrak pembatas jalan. Aku merasa inilah inspirasi hidup bakalan menerbang angan dan kehendak mengikat cita dan harapan saat aku pulang pagi nanti dan ke pagi berikutnya.

Satu katu ingin aku ikat jauh-jauh hari, aku punya matahari tentu saja, kan kuterbitkan setiap waktuku. Aku tak peduli entah itu siang/malam, entah itu pula di dasar laut/di atap langit…matahariku jualah menyinari dan mengitari kepekatan yang menjelma karena gelap.

****

…dan terkadang untuk suatu pembuktian, aku harus tidur sementara. Tetapi dalam tidurku aku tak pernah diam, aku terus mencari dan mencari serta menemukan jalan menuju mimpi-mimpiku yang lain. Karena itu, besok saat aku bangun tepat pada harinya…jauh persiapan sebelum terbitnya pagi…

 

Satu kata…

Hari ini aku pergi mungkin dengan terbawa angin, tetapi pada saatnya kelak aku pula kembali dengan tunggangan angin.

Ketika pula hujan telah reda, lihatlah langit membuka luas…lapang.

Dan pada harinya nanti aku akan kembali…kembali dengan membawa selangkah tanah berkalimat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 54