DEAR MY SON...(STEP 2)

WAW WAW
Karya WAW WAW Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Maret 2017
DEAR MY SON...(STEP 2)

 

DEAR MY SON…

Ooo tak terasa waktu berlalu. Dan kita masih di sini.

Seseret putih kemerahan perlahan tapi pasti sebentar lagi menyumbul dari ufuk timur sana. Mari melanjutkan perjalanan jauh ini. Ingat my son, sesungguhnya kita merugi.

Dan dari pada yang dulu hingga hari ini kawah ijen masih ada di sini. Masih berada pada sumbunya, tidak ada yang berubah sekalipun kau coba menghalau laju angin. Kaki-kakinya langitnya masih menjulang tinggi. Tangan-tangan bumi senantiasa mencengkeram kuat  karena sudah menjadi sabda alam.

Terakhir sebelum kita pulang nanti dan sesuai kesepakatan sebelum berangkat, kamu pulang harus menyetir. Tidak ada kata tidak. Papa duduk di kiri. Papa sudah cukup bertahan, segera dirimu yang pastikan pandangan.

Titik pesan buat kakak perempuanmu yang Cantik, untuk pinjam catatan kaki langit kawah ijen ini. Untuk lukis suara alam hatinya dengan tangan-tangan ijen yang dari dulu mencengkeram kuat ke pusat bumi…mengcengkeram tanpa berpaling ke tanah merah di barat sana.

Yang pasti semua berjalan pada sepenggal zona waktu yang tidak sama dalam berbicara. Dan semua tidaklah sama cepatnya ataupun sama terlihatnya. Saat malam datang bersimpuh diantara permadani langit dan tanah basah, saat  itulah yang dapat menjawab pertanyaan kata hatimu.

Dan itulah jawaban hakiki untuk menepis keraguan bilamana datangnya hendak membunuh kesabaran.

Dan buatmu my son…Papa memilih tinggal di sini. Di tepinya Ijen ini adalah langkah tepat melalui detik yang tersisa. Di sini sambil terus berharap dan berkeyakinan. Tempat ini Papa pilih karena pastikan bunga itu lahir di sini, pasti suatu ketika dia akan pulang kembali ke tanah kelahirannya… di sini – di Kawah Ijen. Saat itulah barangkali kembali waktu Papa. Sekali lagi, Barangkali…

Berangkatlah kamu dengan mimpi idealisme. Ingat satu hal, semua tercipta dari mimpi. Jangan biarkan impianmu menunggu terlalu lama. Jangan kau ulangi yang terjadi pada diri Papa. Papa bukanlah terlambat dalam menggapai mimpi, tetapi papa gagal mempercepat langkah mengejar zona waktu yang telah ditetapkan

Maka dari itu, saat subuh berkumandang ambil langkah seribu. Biarpun matahari belum Nampak, mulailah menapaki setapak berbatu dengan mata hati.

Sekali  lagi tinggalkan Papa, Papa sudah tahu jalan pulang. Hanya saja sebagai pembeda, Papa tidak akan pernah tahu lagi masihkah pintu itu dapat dibuka. Masih kah dapat dibuka setelah kunci pernah terpatahkan. Hanya Dia yang tahu dengan rencana indahNya…

“Papa menangis!”

Tidak…Papa tidak menangis My Son. Papa tidak pernah sakit, maka Papa tidaklah menangis. Papa hanya ingin sekedar menyaksikan…sekedar memastikan kau telah memulai langkah dan meninggalkan kabut ijen. Karena impianmu ada di “JAKARTA” DAN “JEMPUTLAH”… sedangkan sekali lagi rumah Papa adalah di sini…menunggu datangnya Pagi.

“PERGILAH (SEKARANG DAN SELAMANYA)”

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • view 119