Allah Telah Menyempurnakanku; Melalui Kamu, Imamku.

Michelle Warhoollll
Karya Michelle Warhoollll Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Februari 2016
Allah Telah Menyempurnakanku; Melalui Kamu, Imamku.

11 April, 2010

?Qobiltu Nikahaha wa Tazwijaha alal Mahril Madzkuur wa Radhiitu bihi, Wallahu Waliyut Taufiq?

?Sah..sah...? seru para saksi setelah mas Bram selesai mengucapkan ijab qabul kami pagi itu.

Mas Bram dengan mantab melafalkan qabul pernikahan kami pagi itu meskipun tidak dapat dipungkiri terdapat getaran suara yang cukup kentara diantara kegugupan yang melandanya.

?Alhamdulillah.? Ucap mas Bram sembari mengulurkan tangannya.

?Seperti janjimu 3 bulan yang lalu mas.? jawabku

Kusongsong tangan tersebut dan seketika kucium punggung tangannya secara takdhim, seperti halnya aku mencium tangan kedua orang tuaku. Mas Bram, sosok pria yang baru aku kenal 3 bulan lalu, kini telah resmi menjadi suamiku. Sejak pertama kenal, dia sudah ucapkan sebuah janji. Dia akan menikahiku 3 bulan lagi. Subhanallah, begitu besar anugerah dari Allah setelah 27 tahun penantianku.

***

23 juli, 2010

Aku mulai merasakan kondisi yang berbeda pada diriku. Hari ?ini aku merasa sangat pusing, lemas, dan mengalami mual yang sangat hebat. Entah kenapa.

Seharian aku tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Aku hanya bisa terbaring, dan sesekali mendudukkan diri untuk melonggarkan otot yang tegang karena tertidur seharian. Dan sudah dipastikan mas Bram dengan setia selalu berada di sampingku. Ditinggalkan semua hal yang menjadi urusannya. Baginya, akulah urusan yang pertama dan utama dalam kehidupannya. Dengan telaten mas Bram mengurusi semua kebutuhanku. Disuapinya mulutku aku merengek untuk makan. Bahkan, mas Bram tanpa segan memijit badanku yang pegal akibat berbaring seharian di tempat tidur. Sesekali dia melontarkan canda dan rayuan, yang membuatku sejenak terlepas dari rasa sakit yang sedang kudera.

?Ya Allah, Maha Suci Engkau, telah engkau berikan hamba seorang suami yang begitu mencintai hamba. Jadikan beliau imam hamba untuk menuju surgamu?

***

30 Juli, 2010

Dipeluknya aku dengan begitu erat oleh Mas Bram. Seolah tidak rela dia untuk sebentar saja memberikanku kesempatan untuk bernafas bebas. Mas Bram, Mas Bram. Masih sama ternyata seperti pertama kali kau pelauk aku malam itu. Malam dimana pertama kalinya aku engkau peluk. Pelukan mesra seorang suami kepada istrinya.

Dilepasnya pelukanku, dan matanya yang tajam menatapku dengan penuh kegembiaraan yang tersirat pada lelehan airmata yang terbentuk disudut kelopak. Kulihat matanya. Sama. Ya, mata itu adalah mata yang sama dengan mata yang dia perlihatkan ketika aku menerima pinangannya dimalam 17 Ramadhan. 5 bulan yang lalu.

?Aku masih tidak percaya, Subhanallah? ucap mas Bram disela tangis gembiranya.

Air mataku tak kuasa kutahan. Akupun menangis. Bukan bersedih, tapi tangis bahagia. Dan seketika mas Bram memelukku kembali. Kali ini lebih erat. Dan dalam peluknya, kudengar tiada henti dia ucapkan rasa syukur kepada Allah.

Dokter bilang aku hamil.

***

20 Februari, 2011

Aku tidak bisa merasakan apapun. Yang aku ingat, hanya suara sirine yang samar-samar terdengar oleh telingaku. Dan juga, sekelebat bayangan yang sangat aku kenal. Mas Bram. Dia menangis. Aku hanya bisa melihat dia menangis. Hanya wajahnya yang bisa aku lihat. Aku tidak bisa memperhatikan siapapun yang ada didekatku. Hanya bayangan mas Bram saja yang tertangkap. Entahlah, mungkin karena kondisiku. Mataku berkunang-kunang, badanku berat, dan kurasakan seluruh tubuhku menjadi bebal. Mungkin penglihatanku ini terjadi karena kontak batin yang begitu kuat diantara kami berdua. Mungkin.

Kulihat wajah mas Bram terlihat menjauh. aku memasuki ruangan dan mas Bram hanya bisa menungguiku diluar. Dalam ketidaksadaranku, aku merasa sendiri. Entah, dengan ketiadaan mas Bram, aku merasa sendiri meskipun saat ini aku lebih banyak berada dalam alam bawah sadarku.

?Ya Allah, lindungi istri hamba.? Kudengar dari batinku, suara mas Bram mendoakanku.

Tapi tetap saja aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi kepadaku

***

27 Februari, 2011

Aku diperbolehkan pulang oleh dokter dengan syarat harus melakukan kontrol setiap 3 hari sekali. Seminggu aku di rumah sakit, tidak pernah sedikitpun ada dari keluargaku yang membahas tentang penyakitku ini. Tidak ayah, ibu, ataupun mas Bram. Tidak pernah terucap sedikitpun kalimat yang menyinggung tentang penyakitku ini. Setiap kali aku bertanya, selalu dialihkan pertanyaan itu dengan jawaban lain. Ah, mungkin ini hanya penyakit biasa.

Mas Bram menjadi berbeda. Setelah pulang dari rumah sakit, aku melihat perbedaan yang begitu kentara dari mas Bram. Dia kini menjadi semakin sering menjagaku. Dari 24 jam sehari, selama 21 jam dia berada di sampingku. Tidak seperti biasanya, terlihat kekalutan yang jelas di air mukanya. Aku takut untuk bertanya. Ah, mungkin ini hanya perasaanku.

***

7 April, 2011

Aku kembali ke rumah sakit. Aku tiba-tiba pingsan pagi tadi ketika akan mengantarkan mas Bram ke depan rumah. Kulihat disampingku, ada seorang bayi perempuan. Cantik, putih. Hidungnya mirip aku, sedangkan matanya.... mirip sekali dengan mas Bram. Ya, aku paham sekali dengan bentuk matanya. Mata yang meneduhkan, begitu kataku setiap kali aku menggoda mas Bram.

Aneh, aku tidak melihat adanya kebahagiaan diantara mereka. Kulihat ada ayah, ibu dan kedua mertuaku. Mereka menangis. Dan kulihat ibuku hampir roboh, karena berdiri sembari dipapah oleh kedua adikku. Dari sorot wajah mereka, sama sekali tidak kulihat kebahagiaan. Bahkan, aku kaget ketika mas Bram bersimpuh disamping tempat tidurku. Dia menangis sejadi-jadinya. Dia menangis keras, dan sesekali menyebut Asma Allah. Beristighfar, dan kadang kembali menyebut Asma Allah.

Ingin rasanya kupeluk mas Bram saat itu. Aku kemudian mencoba untuk duduk. Mencoba menyentuh kepala mas Bram. Dan ketika aku terduduk. Kulihat ada seorang wanita yang tertidur penuh dengan kedamaian. Wajahnya terang, seolah tersinari oleh sesuatu yang indah. Cahaya surga mungkin. Kulihat sebanyak 30 sosok berjubah putih bersih dan bercahaya berada di belakang perempuan itu. Salah seorang dari mereka kemudian mendekatiku dan berkata. ?Dia adalah perempuan yang Syahid?. Dan aku seketika itu tersadar. Aku sedang memandang tubuhku sendiri.

Allah.....

  • view 340