Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 16 Januari 2018   15:22 WIB
naskah drama pasir 3 warna

 

NAMA                        : WAHIDA KOILANG

KELAS                       : C/ SEMESTER VII

TUGAS                       : MENULIS NASKAH DRAMA

JUDUL DRAMA       : PASIR TIGA WARNA DI DESA PUNTARU (ALOR)

 

 

 

 

( Suatu siang. Raja memangil pengawal untuk pergi ke kerajaan Sambawa untuk melamar sang Putrei yang bernama Bunanema)

 

Raja (Kailla Wallang)             : Hai pengawal! Aku perintahkan kalian pergi ke kerajaan Sambawa beritahukan kepada Raja Sambawa bahwa aku akan segera melamar sang Putri.

Pengawal                                            : Siap Baginda Raja.

 

( Sesampai di kerajaan Sambawa, pengawal langsung memberitahukan kepada Raja Sambawa bahwa Raja Mai Wallang akan segera meminang sang Putri )

                                     

Pengawal                     : Ampun baginda Raja, ampun beribu-ribu ampun.

Raja Sambawa                        : Ada apa gerangan, sehingga kalian datang kemari

Pengawal                     : Kami diperintahkan oleh raja Kailla Wallang, untuk melamar sang Putri baginda Raja

Raja Sambawa                        : Baik. Tetapi ada satu syarat

Pengawal                     : Apa syarat itu baginda Raja?

Raja Sambawa                        : Dengan ketentuan tradisi yang kami anut, apabila ada yang melamar putri kami maka harus ada dayang yang mendampinginya.

Pengawal                     : Syarat itu kami terima baginda Raja

Raja Sambawa                        : Baik (raja Sambawa setuju dengan lamaran raja Kailla Wallang)

 

 

( Raja Sambawa memanggil dayang Kallang Buri )

 

Raja                             : Kallang Buri! Aku perintahkan untuk mendampingi putri pergi ke kerajaan Kaila Wallang.

Kallang Buri               : Siap baginda raja, Dengan senang hati Kallang Buri menerima tawaran dari sang raja.

 

( Raja kemudian memutuskan Kallang Buri mendampingi Putri untuk pergi ke kerajaan Kailla Wallang. Dalam perjalanan terjadi pertengkaran mulut antara Bunanema dan Kallang Buri )

 

Kallang Buri                : Aku yang akan menggantikanmu menjadi sang Putri dan akandan akan menikah dengan sang raja Kailla Wallang

Bunannema (putri)      : Bagaimana mungkin Kallang Buri, kamu bisa mengingkari sang

Putrimu sendiri

Kallang Buri                : Hahhahaha (ketawa). Iya, aku akan mengakui bahwa kalau dirikulah

sang Putri dari kerajaan Sambawa. (bruaaaaa) , Kallang Buri mendorong sang Putri jatuh kedalam air laut.

 

( Ibunda raja Kaila Wallang yang bernama Tunia Kau, pergi mengambil air untuk mandi di mata air Opualia, Bunanema menampakan dirinya dan          menyatakan bahwa Ia adalah Putri yang sebenarnya )

 

Ibunda raja                  : Siapa dirimu? (dalam keadaan kaget)

Bunanema                   : Akulah yang sebenarnya Bunanema, (sang Putri), sementara yang ada di kerajaan itu adalah Kallang Buri “(dayang).

Ibunda raja                  : Mana mungkin dirimu putri raja, sedang putri raja sedang berada dikerajaan

Bunanema                   : Tidak, yang berda di istana adalah Kallang Buri yang nyamar sebagai diriku” (putri raja).

Ibunda raja                  : Baik, kalau begitu ayo kita ke istana sekarang.

 

 

( Kemudian Bunanema menikah dengan raja Mai Wallang dan perkawinan mereka di karuni seorang putra yang bernama Wenni Kalla. Pada waktu anak ini menjelang kanak-kanakan, ia mencari belalang. Pada saat itu, ada seekor belalang yang hinggap di dahan sebatang pohon terong, yang kebetulan tumbuh di atas kuburan Kallang Buri. Wenni Kalla langsung memanah belalang itu. Sebab Belalang itu mencaci maki ayah dan ibunya) .

 

Kallang Burri              : Dasar orang tuamu pecundang, (dengan nada mengejek)

Wenni Kalla                : Siapa dirimu! Berani mengatai orang tuaku seperti itu, (marah)

Kallang Buri                : Hahahahaa (ketawa) akulah Kallang Buri, yang seharusnya menikah dengan baginda Raja, bukan ibumu!” (nada lantang, penuh kecewa)

Wenni Kalla                : Tidak!!! (sambil teriak dan menangis)

Kallang Buri               : Hahahahahahaa” (ketawa)

 

( Wenni Kalla melaporkan kejadian tersebut kepada ayah dan ibunya, mereka langsung menuju ketempat kuburan dari Kallang Buri).

Wenni Kallah             : Dasar belalang terkutuk (marah. Sambil memanah Kallang Buri)

Kallang Buri                : Seribu kali kamu memanah ku, tidak akan bisa menembus tubuhku wahai Wenni Kalla

Wenni Kalla                :    Terus dan terus memanah Kallang Buri (ternyata kali ini bidikan Wenni Kalla tidak meleset dan langsung mengenai belalang tersebut) , namun belalang tersebut masih saja memaki ayah dan ibunya lagi

 

( Bunanema mengambil busur dan panah milik Wenni Kalla dan mematahkannya sehingga Wenni Kalla langsung menangis dan tidak bisa dibujuk. Ibunya menawarkan segalah macam makanan tetapi semuanya ditolak )

 

Wenni Kalla                   : Tidak, tidak, tidak! sambil teriak, kenapa ibu harus mematahkan panahku! (menangis)

Ibu (Bunanema)             : Sudalah, cukup Wenni Kalla

Wenni Kalla                   : Hahaaaaaaaaa!!!” (tetap saja menangis)

Ibu (Bunanema)             : Diam sudah nak,” (berusaha membujuk Wenni Kalla)         

Wenni Kalla                   : Tidak! (tetap saja menangis)

Kemudian sang ibu (Bunanema) menawarkan botok dan tawaran itu diterima oleh Wenni Kalla.

 

Bunanema                            : Tok tok tok tok (suara botok yang sedang ditumbuk)

Wenni Kalla                         : Hahahahahaa (tertawa)

Bunanema                             : Took took took (suara botok semakin keras di tumbuknya)

 

( Sementara ibunya menumbuk botok (alu) sesuatu terjadi di kerajaaan Kailla Wallang, dimana air laut pun naik dan menenggelamkan kerajaan Kailla Wallang beserta isinya sampai sekarang ini. Ibu Wenni Kalla yang sedang menumbuk botok (alu) berubah menjadi batu dan sampai ini masih ada di dasar laut pantai puntaru. Mahligai dan tiangnya yang 12 batang juga masih ada sampai saat ini, botok yang ditumbuk oleh ibu Wenni Kalla berubah menjadi pasir tiga warna yang unik yaitu berwarna putih bening, kuning emas, dan hitam mengkilat ).

 

 

Karya : Wahida koilang