Cerpen Pasir 3 Warna di Desa puntaru

Wahida koilang
Karya Wahida koilang Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Januari 2018
Cerpen Pasir 3 Warna di Desa puntaru

PASIR TIGA WARNA

DI PUNTARU

 

Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan yang bernama kerajaan “Kaila Wallang” terletak di puntaru yang sekarang sudah ditutupi atau digenangi oleh air laut rajanya bernama Mai Wallang.

Keinginan Raja untuk beristri lagi sebab ia mendengar ada seeorang Putri yang cantik, yaitu Putri Raja dari kerajaan Sambawa, lalu sang Raja mengutus beberapa tokoh adat kerajaan untuk ke Sambawa seraya meminang Putri Raja.

 

“Hai pengawal! Aku perintahkan kalian pergi ke kerajaan Sambawa beritahukan kepada Raja Sambawa bahwa aku akan segera melamar sang Putri.”

“Siap Baginda Raja,” jawab pengawal.

            Sesampai di kerajaan Sambawa, pengawal langsung memberitahukan kepada Raja Sambawa bahwa Raja Mai Wallang akan segera meminang sang Putri. Raja Sambawa menerima pinangan dari raja Mai Wallang dan langsung menyerahkan putrinya bernama Bumanema kepada para delegasi dari kerajaan Mai Wallang, setelah memenuhi beberapa persyaratan adat yang sudah disepakati kedua belah pihak, sesuai tradisi adat yang berlaku pada waktu itu, apabila seorang Putri Raja keluar kawin maka harus di dampingi oleh seorang perempuan sebagai dayang-dayang atau budak. Karena itu raja menyerahkan seorang perempuan bernama Kallang Buri untuk menjadi dayang-dayang dari Bunanema. Sambil menyerahkan.

 

“Hai Kallang Buri! Aku perintahkan untuk mendampingi putri pergi ke kerajaan Kaila Wallang.”

“Siap baginda raja, Dengan senang hati Kallang Buri menerima tawaran dari sang raja.”

Kemudian para delegasi dari kerajaan Mai Wallang membawa putri raja Bunanema bersama Kallang Buri ke kerajaan Kaila Wallang. Sementara dalam perjalanan mengarungi lautan, terjadi pertengkaran mulut antara Bunanema dan Kallang Buri, karena Kallang Buri mengakui dirinya sebagai putri raja, pada saat merapat ke pelabuhan. Kallang Buri menolak Bunanema jatuh kelaut kemudian Kallang Buri memakai pakaian putri kerajaan dan menempatkan diriya sebagai Bunanema.

Rombongan kerajaan langsung membawa Kallang Buri ke istana raja Mai Wallang,          sementara itu Bunanema berusaha menyelamatkan dirinya kedarat dan menyembunyikan dirinya diatas sebatang pohon asam dekat mata air, yang bernama Opualia. Kallang Buri disambut hangat oleh kerajaan bersama masyarakat dan diadakan kenduri besar-besaran dengan upacara adat lego-lego.

Sementara upacara adat berlangsung seorang permaisuru raja, yaitu Ibunda raja Kaila Wallang yang bernama Tunia Kau, pergi mengambil air untuk mandi di mata air Opualia, sementara sang permaisuri sedang menimba air Bunanema menampakan dirinya dan     menyatakan bahwa Ia adalah Bunanema putri raja dan sementara yang berada di istna itu bukan putri raja melainkan dayang yang bernama Kallang Buri.

 

“Akulah putri yang sebenarnya, Sedangkan yang berada di kerajaan itu adalah dayang,” Kata Bunanema.

“Bukannya yang berada di istana itulah putri raja ?” tanya Ibunda raja.

“Tidak, di istana itu adalah dayang Kallang Buri yang nyamar sebagai Diriku ” jawab Bunanema.

 

Bunanema dibawah ke istana raja dan duduk di tingkat tujuh dalam mahligai (kabi). Pada waktu menjelang siang Bunanema turun dan masuk dalam barisan lego-lego di bagian kiri, sedangkan Kallang Buri melepaskan ikatan rambutnya, maka bau busuk memenuhi ruangan lego-lego kemudian Bunanema melepaskan ikatan rambutnya juga maka tercium aroma harum semerbak memenuhi ruangan lego-lego.

Pada saat matahari terbit terjadilah pertengkaran hebat antara Bunanema dan Kallang Buri yang masing-masing mengakui dirinya sebagai putri raja, dan mau menjadi permaisuri raja          Mai Wallang, pertengkaran di akhiri dengan perang tanding, Bunanema memegang alat tenun kain (tiang) dan duduk di atas lesung, sedangkan Kallang Buri yang mengaku dirinya putri raja ia memegang klewang dan duduk di atas moko.

Giliran pertama diberikan kerpada Kallang Buri untuk membelah atau memotong Bunanema. Ayunan kesatu, dua, dan tiga tidak berhasil malahan klewang yang dipakainya patah, kemudian giliran Bunanema untuk membelah atau memotong Kallang Buri, hanya dengan sekali ayunan kayu tenun Kallang Buri bersama moko yang didudukinya langsung terbelah menjadi dua bagian dan semua isi perutnya keluar.

Kemudian Bunanema menikah dengan raja Mai Wallang dan perkawinan mereka di karuni seorang putra yang bernama Wenni Kalla. Pada waktu anak ini menjelang kanak-kanakan, ia mencari belalang. Pada saat itu, ada seekor belalang yang hinggap di dahan sebatang pohon terong, yang kebetulan tumbuh di atas kuburan Kallang Buri. Wenni Kalla    langsung memanah belalang itu. Sebab Belalang itu mencaci maki ayah dan ibunya.

 

Kemudian Weni Kalla melaporkan kejadian tersebut kepada ayah dan ibunya,mereka langsung menuju ketempat kuburan dari Kallang Buri. Setelah tiba di kuburan Kallang Buri, Weni Kalla memanah belalang tersebut lagi dan ternyata kali ini bidikan Weni Kalla tidak meleset dan langsung mengenai belalang tersebut. Namun belalang tersebut masih memaki ayah dan ibunya lagi,

mendengar itu sang ibu (Bunanema) mengambil busur dan panah milik Weni Kalla dan mematahkannya sehingga Weni Kalla langsung menangis dan tidak bisa dibujuk. Ibunya menawarkan segala macam makanan         tetapi semuanya dtolak. Akhirnya “ibunya menawarkan botok dan tawaran itu diterima oleh Weni Kalla.

Sementara ibunya menumbuk botok,sesuatu terjadi dikerajaan Kailla Wallang dimana air laut pun naik dan menenggelamkan kerajaan Kailla Wallang beserta isinya sampai sekarang ini. Ibu Weni Kalla yaitu Bunanema yang sementara menumbuk botok berubah menjadi batu dan sampai hari ini masih ada di dasar laut pantai puntaru. Mahligai dan tiangnya yang 12 batang juga masih ada sampai hari ini, botok yang ditumbuk oleh ibu Weni Kalla berubah menjadi pasir tiga warna yang unik yaitu berwarna putih bening,kuning emas,dan hitam mengkilat yang hanya terdapat di Pantar Barat Puntaru Desa Tude suku Tibe.

 

  • view 27