”Sudahkah Kita Benar-Benar Membela Alquran?”

Vicky Nurul
Karya Vicky Nurul Kategori Renungan
dipublikasikan 18 November 2016
”Sudahkah Kita Benar-Benar Membela Alquran?”

      Hampir dua pekan lebih–selain masalah kemenangan Donald Trump– masalah penistaan agama oleh salah seorang calon gubernur DKI Jakarta, Basuki Cahaya Purnama atau Ahok tak kunjung usai. Rasanya sudah seperti musim hujan tahun ini yang tak kunjung reda. Hampir di seluruh media massa, media elektronik, dan media sosial semua ribut “ngurusi” masalah Ahok.

       Semua orang yang mengaku Islam ingin turut berkomentar terkait masalah penistaan Alquran oleh Ahok ini, mulai dari pejabat tinggi pemerintahan, artis-artis ibu kota, hingga ibu-ibu rumah tangga yang sibuk menyusui. Karena katanya, kalau hari gini gak ikut komentar takut dianggap apatis atau gak ‘kekinian’. Bahkan, mungkin kucing-kucing piaraan yang gak kenal Ahok pun ikut ‘ribut’. Pasalnya si pemilik kucing lupa kasih makan gegara sibuk ngurusi Ahok. ^_^

       Beberapa waktu yang lalu, Alquran sebagai media komunikasi antara hamba dengan Tuhannya yang sudah dijamin kebenarannya itu tiba-tiba dijadikan bahan orasi kampanye Ahok dengan pemilihan bahasa tidak tepat sehingga menimbulkan multitafsir. Bahkan, orasi tersebut dianggap menistakan Alquran.

       Dengan adanya permasalahan tersebut wajar jika masyarakat Indonesia yang mayoritas umat Islam tidak terima hingga kemudian membela Alquran. Fenomena ini kurang lebih sama halnya ketika seorang anak membela ibu yang amat ia cintai dihina oleh orang asing. Karena bagi anak tersebut, ibu adalah sosok yang telah memberikan kasih sayang tulus dan petuah-petuah bermanfaat bagi si anak.

       Singkat cerita, mereka yang mengaku membela Alquran berbondong-bondong melakukan aksi damai menuntut agar Ahok yang dianggap meremehkan Alquran itu diganjar sesuai dengan hukum yang berlaku. Sebagian mereka yang tak bisa hadir dalam aksi tersebut turut mendoakan agar aksi berjalan lancar tanpa ada tindak anarki dan korban kekerasan, tetapi yang sangat disayangkan adalah sebagian lagi justru berceloteh urakan melalui status di berbagai akun media sosial.

       Kemudian yang menjadi pertanyaan besar di sini, benarkah kita sebagai umat Islam telah benar-benar membela Alquran dengan niatan lillahi ta’ala? Wallahua’lam bi showab. Hanya Allah dan tiap masing-masing dari kita yang tahu. Hanya saja hati saya menjadi ragu setelah melihat beberapa pihak yang mengaku membela Alquran menggunakan momen ini untuk sekedar mencari sensasi. Ada pula yang menebar permusuhan di kalangan umat Islam itu sendiri yaitu dengan cara menjelek-jelekkan pihak yang memiliki perbedaan pendapat dalam menilai kasus ini.  Saya berpikir, apakah cara-cara tersebut sungguh murni berniat membela Alquran? Ataukah ada kepentingan di balik pembelaan ini?Atau mungkin kita hanya ingin ikut-ikutan dan ‘baper’ dengan berita-berita yang beredar.

       Menurut hemat saya, mereka yang membela Alquran dengan niat lillahi ta’ala adalah mereka yang melakukan aksi damai dengan cara yang baik. Artinya, mereka tidak memprovokasi untuk melakukan tindakan anarki, mereka meminta penegak hukum dan pemerintah menegakkan keadilan dengan cara sopan, dan mereka tidak memperburuk keadaan dengan cara menjelek-jelekkan pihak lain sehingga menyulut pertikaian. Alhamdulillah, saya rasa aksi damai 4 November 2016 kemarin berjalan damai meski ada segelintir manusia yang tidak bersikap damai karena mengedepankan nafsu amarahnya. (Abaikan mereka-mereka di belakang itu yang tidak damai ^_^)

       Lantas siapa yang membela Alquran dengan tidak sungguh-sungguh? Saya tidak akan menuding ataupun men-judge siapa yang sungguh-sungguh dan tidak sungguh-sungguh membela Alquran. Karena sejatinya yang mengetahui niat dan isi hati manusia adalah Allah. Tetapi, di sini saya mengajak diri saya pribadi dan kita semua khususnya umat Islam untuk merenung sejenak. Introspeksi diri atau bermuhasabah menghadapi masalah ini.

       Pasca pemberitaan adanya penstaan Alquran oleh Ahok banyak sekali celotehan-celotehan berbentuk status facebook, tweeter, dan Blackbery Masanger yang tidak pantas diucapkan oleh seorang yang mengaku muslim. Beberapa komentar pedas dan status urakan yang saling hujat dengan dalih membela Alquran bertebaran di berbagai akun media sosial.

       Mereka marah-marah dengan bahasa yang tidak pantas diucapkan, seperti menghewan-hewankan tersangka atau pihak yang tidak disukai. Dalam istilah Jawanya biasa disebut misuh. Bahkan, sebagian lain mengecam hingga ke ranah rasis seperti misalnya menyebut istilah Cina. Terakhir muncul “meme-meme” provokatif yang semakin memperpanas hati dan pikiran.

       Astagfirullahaladzim... Saking marahnya mereka lupa kalau di media sosial itu pembaca dan pengikutnya tidak hanya orang-orang yang sepikiran, seideologi, seagama, seetnis, dan seusia dengannya. Tanpa sadar celotehan yang bisa dibilang amoral itu berubah menjadi energi-energi negatif yang memengaruhi pembacanya dari berbagai kalangan termasuk anak-anak. Gelombang energi negatif yang banyak tersebut kemudian mampu memprovokasi pembacanya untuk menebar kebencian. Perbuatan-perbuatan demikian sama sekali tidak mencerminkan jiwa-jiwa Qurani. Bahkan Rosulullah selalu mencontohkan agar berperilaku lemah lembut dan bertutur kata baik.

       Lebih jauh lagi status-status demikian menjadi bumbu-bumbu perpecahan bagi umat Islam dan perpecahan bangsa yang muktikultur ini. Tentu saja kondisi ini membuat mereka yang tidak suka akan persatuan tertawa kegirangan melihat umat Islam dan masyarakat bangsa ini saling serang.

       Mengapa kemudian niat membela Alquran ini jadi berbuntut panjang dan memicu munculnya konflik-konflik lain? Seakan-akan masalah Ahok yang satu itu sudah seperti akar pohon yang bercabang tanpa ujung. Lantas apa yang salah dengan pembelaan ini?Jawabannya adalah kembali ketindakan kita dalam membela Alquran itu sendiri.

       Apakah kita termasuk mereka yang membela karena Allah dengan cara-cara yang diajarkannya melalui Alquran itu sendiri atau justru kita membela Alquran dengan cara yang dilaknat oleh Alquran. Mungkin saja di antara kita yang berorasi berapi-api penuh emosi ini tidak benar-benar menjadikan Alquran sebagai sahabat sejatinya. Karena bisa jadi selama ini Alquran hanya sebatas pajangan pemanis ruangan suapaya tampak agamis. Atau mungkin juga di antara kita yang membara saat nyetatus membela Alquran justru sudah lupa kapan terakhir membacanya.

       Sebenarnya terkait masalah Ahok yang dianggap menistakan Alquran ini kita sebagai umat Islam tidak perlu terlalu nggumun atau kaget karena pada dasarnya Ahok memang tidak mengimani Alquran sehingga tentu saja ia dengan mudah mengatakan hal yang tidak diketahuinya tentang ayat Alquran.

       Dalam Alquran itu sendiri Allah telah berfirman “…Katakanlah: Alquran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Alquran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh. (Q.S Fussilat:44)

       Dengan demikian, untuk masalah penistaan Alquran oleh Ahok ini hendaknya kita lebih bijak dalam menyikapinya. Jangan sampai masalah ini justru dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah ukhuwah islamiyah dan NKRI. Alangkah baiknya masalah Ahok ini kita percayakan kepada para penegak hukum yang saat ini sedang berusaha menyelesaikan perkaranya. Selebihnya, Allah lebih mengetahui ganjaran yang setimpal atas perbuatan hamba-hambaNya. Marilah kita sebagai pembela Alquran saling menebar kebaikan baik di dunia nyata maupun dunia maya agar seluruh penghuni semesta tahu jikalau Islam itu rahmatan lil alamin.

-Klaten, 17 November 2016-

 

  • view 385