Ayah dan Kata Kyai Sobirin

Vicky Nurul
Karya Vicky Nurul Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 15 November 2016
Ayah dan Kata Kyai Sobirin

 

Namaku Panji, remaja berusia 16 tahun. Aku baru saja terdaftar sebagai santri di Pesantren Kyai Sobirin yang terletak di pedalaman Kota Ponorogo. Pesantren Kyai Sobirin tidak terlalu besar, jauh dari kota, dan lokasinya sedikit terpencil. Kalau ingin ke sana kalian harus melewati sederetan hutan jati dan sungai berbatu. Dari kejauhan kalian dapat menikmati deretan gunung yang tak terlalu tinggi berwarna hijau kebiru-biruan. Benar-benar tenang dan damai. Suasana yang pas untuk menikmati manisnya ilmu dan mendekatkan diri kepada Gusti Allah. Mungkin, itulah alasan logis Kyai Sobirin mendirikan pesantren di tempat yang jauh dari ingar bingar kehidupan dunia.

Sementara itu, aku memilih pesantren Kyai Sobirin untuk melanjutkan studi sekolah menengah atasku karena sebuah alasan klise dan sepele. Ya, aku sangat mengagumi Kyai Sobirin seperti fans mengidolakan artis pujaannya. Perkenalanku dengan Kyai Sobirin hanya berlangsung melalui dunia maya. Aku sering mendengar ceramah Kyai Sobirin dari youtube yang diputar teman sebangkuku waktu SMP.

Aku terpukau dengan setiap kata yang keluar dari bibir Kyai Sobirin. Bibirnya tampak selalu basah dengan kalimat tasbih, tahmid, takbir, dan solawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Bagiku setiap kata yang terucap dari bibir Kyai Sobirin begitu indah seperti mutiara, bijaksana bak syair para pujangga, dan menggetarkan hati karena mengandung ayat-ayat Allah, Rabb sekalian alam.

Sebegitu hebat Kyai Sobirin di mataku ternyata begitu lemah di mata ayahku. Ayahku adalah seorang wakil rakyat yang berkantor di ibu kota. Mungkin tanpa harus aku jelaskan panjang lebar, kalian akan mengerti kalau ayahku ini adalah orang yang bergelimang harta dan sering tidur saat rapat. Ah, sudahlah tak perlu kuperpanjang cerita tentang ayahku. Kata Kyai Sobirin, kita tidak boleh membuka aib saudara sesama muslim. Apalagi orang itu adalah ayah kandungku sendiri.

Sejak awal aku nyantri di pesantren Kyai Sobirin, ayahku tak pernah setuju. Ia selalu menutupi identitas sekolahku, katanya malu dengan teman-temannya sesama elite politik. Pernah suatu malam yang temaram, sehari sebelum keberangkatanku ke pesantren untuk pertama kalinya, aku mendengar percakapan singkat ayah dengan teman sesama elite politiknya di teras depan rumah.

“Putra pertamamu jadi nerusin sekolah di mana, Bang?”,

“Emm, di…di Jawa Timur. Ia memilih ikut neneknya sekolah di Surabaya,” jawab ayah gugup sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Padahal aku tak pernah punya keluarga dekat apalagi nenek di Jawa Timur.

“Kalau anakku baru saja diterima di Harvard University, Amerika Serikat. Bangga sekali aku ini Bang sama dia.”

“Haha, kalau jadi kamu aku juga akan bangga. Semoga saja setelah anakku lulus dari international school di Surabaya, dia bisa mengikuti jejak anakmu.” 

“Amiin,” jawab mereka hampir bersamaan.

Mendengar jawaban ayah, aku serasa ingin menjatuhkan gelas berisi kopi  yang kubawa. Aku merasa kecewa dengan kebohongan ayah. Kekecewaanku pada ayah tak berhenti sampai di situ saja. Setelah aku resmi nyantri, ayah selalu saja mengecilkan wibawa Kyai Sobirin yang cukup membuatku berkali-kali mengelus dada.

Pernah suatu hari saat ayah menjengukku di pesantren dan melewati kediaman Kyai Sobirin yang sederhana. Ayah berbisik kepadaku, “Panji, kamu bikin ayah malu saja! Sekolah kok di pesantren yang kyainya hidup seadanya begitu. Lihat tu rumahnya, biasa banget. Untuk hidupnya sendiri saja kelihatan tak terjamin. Bagaimana dia bisa menjamin pendidikan murid-muridnya? Harusnya kamu sekolah di international school seperti anak teman-teman ayah.”

“Tapi ayah, Kyai Sobirin tidak serendah yang ayah pikir. Kyai Sobirin hidup seadanya bukan karena beliau miskin, tapi karena beliau itu sederhana. Kata Kyai Sobirin, selama kita tak pernah berhenti berdoa dan berusaha, Allah akan menjamin kehidupan kita. Apalagi Kyai Sobirin itu berjuang menegakkan agama Allah. Ayah tidak perlu khawatir!” Kataku dengan mata berkaca-kaca tidak terima Kyai Sobirin dihina serendah itu.

“Kamu selalu saja membela Kyai Sobirin dan pesantrennya itu. Jelas-jelas di pesantren kamu jadi kuper dan gaptek. Bawa gadget gak boleh, lihat TV gak pernah. Bagaimana kamu bisa maju? Mana bisa sekolah di pesantren jadi pejabat negara, apalagi memajukan negara? Mentok-mentoknya kamu cuma jadi guru ngaji. Gajinya sedikit. Masa depan suram.”

“Kalau tidak ada gadget dan TV Panji masih bisa baca majalah dan surat kabar. Lagipula di pesantren juga ada internet, hanya saja waktunya dibatasi. Kata Kyai Sobirin, untuk membangun sebuah negara kita tidak melulu harus jadi orang besar, yah. Lagian Panji juga tidak ingin jadi pejabat, Panji ingin jadi kyai seperti Kyai Sobirin. Suatu hari nanti Panji ingin kata-kata Panji dapat menginspirasi banyak orang untuk memajukan negara.”

                                                            ***

Hari ini hari jumat minggu keempat bulan Desember. Tandanya lima bulan sudah aku menjadi santri Kyai Sobirin. Dari hari ke hari semakin banyak ilmu dan kata-kata bijak Kyai Sobirin yang kuserap. Kata-kata Kyai Sobirin pun menjelma menjadi candu sehingga membuatku ketagihan.

Aku tak pernah absen mendengarkan ceramah beliau saat pengajian subuh, saat mengajar di kelas, dan saat-saat tak terduga. Semua kutulis, kurekam dengan baik dalam ingatan, dan kupraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, saat berbicara aku senang mengutip kata-kata Kyai Sobirin, apalagi saat berbicara dengan ayah. Kadang aku merasa menjadi Kyai Sobirin kecil yang mendakwahi seorang anggota dewan.

Pagi-pagi buta, ba’da solat subuh dan mendengarkan ceramah kyai Sobirin aku mendapat kabar kalau pukul 12.00 siang ayah tiba di pesantren. Kedatangan ayah siang itu disambut oleh gema azan dhuhur dari masjid yang berdiri tegak di samping kediaman Kyai Sobirin. Aku pun terpaksa menunda berbincang-bincang dengan ayah.

“Ayah sudah azan, Panji izin ke masjid dulu ya. Atau ayah mau ikut berjamaah di masjid bareng Panji?”

“Sudah sana kamu solat duluan, ayah tunggu di sini nanti solatnya gampang”, jawab ayah sedikit membentak.

“Ayah, kata Kyai Sobirin, kita harus solat tepat waktu, karena solat tepat waktu akan mendatangkan ketentraman dan ketenangan hidup”, sindirku sambil tersenyum dan berlari kecil meninggalkan ayah yang sedang duduk di bawah pohon sawo hijau di halaman depan masjid.

Selepas solat dhuhur aku kembali menemui ayah. Dari jauh aku melihat ayah tampak memperhatikan sosok Kyai Sobirin yang baru keluar dari pintu masjid dan berjalan tepat di depannya. Aku melihat Kyai Sobirin melemparkan senyuman ke arah ayah, tapi ayah membalasnya dengan muka masam. Saat aku datang, ayah langsung menghujaniku dengan sejumlah pertanyaan yang sudah kuduga sebelumnya.

“Panji…Panji, kakek-kakek yang barusan lewat itu Kyai Sobirin ya? Yang pakai jubah putih itu lho. Yang kepalanya tertutup surban hitam, terus jenggotnya panjang,” tanya ayah penuh selidik.

“Iya, beliau itu Kyai Sobirin. Kapan-kapan ayah dengar deh ceramahnya. Menyejukkan sekali.”

“Panji, sepertinya dugaan ayah kali ini benar.”

“Dugaan apa sih yah?”

“Kamu harus segera pindah dari sini Panji!” Kali ini nada ayah sungguh-sungguh.

“Ayah, sebenarnya ada apa? Kenapa Panji harus pindah? Panji sudah kerasan di sini.”

“Ayah menduga Kyai Sobirin itu adalah bagian dari teroris yang akhir-akhir ini santer di media massa. Liat saja dandanannya!” ungkap ayah penuh kekhawatiran hingga tampak kerutan di dahinya yang tak lagi muda.

“Astagfirullah ayah! Ayah sudah su’udzan. Kata Kyai Sobirin, su’udzan itu mempersempit cara pandang seseorang dan cenderung mengarah pada fitnah.”

“Panji, dengarkan ayah! Ini adalah bukti. Bukti kalau Kyai Sobirin sudah  mencuci otakmu. Sedikit-sedikit kamu bilang kata Kyai Sobirin…Kata kyai Sobirin lagi. Berapa kali kamu mengatakan itu kepada ayah? “

“Ayah, kata Kyai Sobirin salah satu syarat menuntut ilmu adalah hormat terhadap gurunya. Makanya Panji selalu mendengar dan mengikuti perkataan Kyai Sobirin. Lagi pula apa yang dikatakan Kyai Sobirin itu sebuah kebenaran karena bersumber dari Alquran, hadis, dan hatinya yang bersih.” jawabku penuh pembelaan.

“Satu lagi ayah, kata Kyai Sobirin kita tidak boleh menilai seseorang hanya dari kulitnya saja. Ayah belum mengenal siapa beliau, tetapi ayah sudah bisa mengatakan beliau teroris. Dalam ceramahnya, Kyai Sobirin pernah berkata kalau ia tidak pernah menyetujui tindakan para teroris yang jelas-jelas dilarang oleh syariat agama Islam. Ayah harus meminta maaf kepada beliau karena ayah telah su’udzan.”

            Entahlah, aku benar-benar tidak paham dengan segala pikiran dan tuduhan ayah kepada Kyai Sobirin. Menurutku ayah tidak punya dasar jelas untuk membenci Kyai Sobirin dan pesantren ini. Mungkin, itu hanya ketakutan ayah yang berlebihan. Takut kalau aku ketinggalan jaman. Takut kalau aku tidak bisa jadi pejabat negara seperti ayah.

“Panji..Panji…”dari kejauhan sayup-sayup terdengar suara serak Dani, teman sekamarku memanggil-manggil namaku. Dani yang bertubuh tambun itu berlari ke arahku dan ayah. Ia berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah agar kembali normal dan mencoba menjelaskan sesuatu hal penting kepadaku.

“Panji ada kabar penting. Kita disuruh nguras kamar mandi sekarang. Kata kyai, qobla Ashar harus selesai,” terang dani sambil menyeka peluh yang bercucuran di dahinya.

“Oh, ya kamu duluan saja nanti aku susul sebentar lagi.”

Perdebatanku dengan ayah membuatku lupa kalau hari ini aku merasa sangat sial. Di saat aku ingin menunjukkan kepada ayah kalau Kyai Sobirin dan pesantren ini sangat luar biasa, aku justru sedang mendapat hukuman karena kelalaianku sendiri.

“Ah pasti setelah mengetahui hukuman ini ayah semakin yakin untuk membawaku pergi dari pesantren ini,”gumamku dalam hati penuh penyesalan.

“Panji, sekarang jelaskan pada ayah kenapa kyai tua itu menyuruhmu menguras kamar mandi?”

“Sebenarnya kemarin siang Panji melanggar peraturan pesantren. Waktu solat subuh Panji ketiduran, Panji tidak ikut solat jamaah di masjid.”

“Gara-gara tidak ke masjid kamu dapat hukuman nguras kamar mandi. Seorang anak anggota dewan di suruh nguras kamar mandi? Dipikirnya kamu itu babu apa ya? Ayah bayar biaya pesantren mahal-mahal supaya kamu jadi orang sukses dan menjadi pejabat negara, bukan jadi babu. Keterlaluan! Ayah akan bikin perhitungan dengan kyai tua itu.” Kemarahan ayah meledak-ledak, matanya merah, uratnya yang hijau di sekitar leher menegang seakan mau putus.

“Ayah tidak perlu emosi berlebihan seperti ini. Kata Kyai Sobirin, hukuman di pesantren ini adalah pendidikan.”

“Jangan sebut-sebut nama kyai itu lagi. Ayah muak dengan kata-katanya yang terus kau ulang-ulang. Ayah gak mau tahu, pokoknya nanti malam kamu pulang ikut ayah dan keluar dari pesantren ini”

            Kata-kata ayah bagai petir menyambar ranting-ranting pohon kering di siang bolong yang terik. Kakiku mendadak lemas diiringi detak jantung berdegup tak beraturan. Aku hanya tak ingin kehilangan sosok kyai yang begitu sabar serupa namanya, yang begitu lembut tutur katanya, yang tentu saja tak pernah kujumpai pada diri ayah. 

                                                            ***

Ba’da Isya aku berjalan berdampingan dengan ayah melewati sekerumunan santri yang tampak asyik berdiskusi. Kami juga melihat beberapa santri mojok di sudut tembok pesantren yang tinggi berlumut sembari mulutnya komat kamit menghafal ayat-ayat suci.

Ayah tampak tak menikmati suasana ini, tapi aku tentu saja akan merindukan semua ini. Selama berjalan tak ada percakapan berarti di antara aku dan ayah hingga akhirnya kami tiba di depan kamarku.

“Panji cepat kamu kemasi barang-barangmu. Kita pamit ke Kyai Sobirin sekarang juga. Ayah akan bilang kalau kamu akan keluar dari pesantren ini.”

Aku hanya mengangguk dan terus memasukkan barang-barangku ke koper. Beberapa teman sekamar ikut membantuku dan sebagian lainnya hanya diam memandangiku dengan mata berkaca-kaca. Mungkin dalam hati mereka mengumpat tindakan ayah yang bisa dibilang tidak demokratis.

Setelah berjabat tangan dan bertukar pesan tanda perpisahan dengan teman-teman, aku dan ayah berjalan menuju kediaman Kyai Sobirin. Kami melewati gedung abu bakar, gedung pertemuan kholid bin walid, dan masjid An Nur, baru setelah itu tampak kediaman Kyai Sobirin yang sederhana, namun nampak bercahaya.

Dari jarak 2 meter kami melihat beberapa mobil sedang parkir tepat di depan kediaman Kyai Sobirin. Satu mobil berplat merah, dua mobil berplat hitam, ketiganya bernomor seri B. Dan satu lagi mobil polisi bernomor seri AE. Suasana rumah Kyai Sobirin pun tampak ramai dengan suara beberapa pria paruh baya dan suara bariton Kyai Sobirin.

“Tunggu, sepertinya ayah kenal dengan mobil itu. Itu kan mobil pak ketua. Untuk apa pak ketua jauh-jauh dari Jakarta datang ke sini? Pasti pak ketua bersama polisi itu ingin menutup pesantren ini dan mencekal kyai tua yang mencurigakan itu,” ucap ayah dengan bibir mencibir penuh kepuasan, lalu tersenyum lebar menampakkan barisan giginya yang sedikit berantakan.

            Aku pun mendekati ayah yang terus berjalan dan membisikkan suatu rahasia besar ke telinga ayah, “Ayah, Panji sering melihat teman ayah itu bertandang ke sini. Kata kyai Sobirin, teman ayah itu, lalu pak menteri agama, pak menteri pendidikan, dan beberapa pejabat negara lainnya yang bersih dari korupsi adalah santri Kyai Sobirin, alumni pesantren ini.”

Ayah menghentikan langkah kakinya sejenak, menarik napas, dan menggerutu, “sial! Lagi-lagi kata Kyai Sobirin.”

 

 

Klaten, 20 September 2016

  • view 188