Alasan Untuk Merayakan Valentine

Novia Hartini
Karya Novia Hartini Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Februari 2016
Alasan Untuk Merayakan Valentine

Sometimes we do things for a reason, sometimes we do things for granted.

Bedanya adalah, ketika kita melakukan sesuatu karena alasan tertentu, kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Tapi ketika kita melakukan sesuatu hanya karena ikut-ikutan tren, hal tersebut akan berlalu begitu saja setelah kita melakukannya, tanpa makna.

Tulisan ini akan menanggapi perdebatan mengenai perayaan hari Valentine yang selalu ramai di bulan Februari.

Saya mulai mengenal perayaan Valentine sejak SMP. Waktu itu, anak-anak populer di sekolah saya dengan heboh merencanakan untuk saling bertukar kado di hari Valentine. Dan sebagai anak tidak populer, tentu saja saya tidak terlibat.

Tapi karena pada waktu itu saya rupanya cukup cantik untuk ditaksir seorang teman (ehm), well, waktu itu saya dapat hadiah Valentine yang tidak disangka-sangka, coklat berbentuk hati dan kaset Peterpan (sekarang Noah) album Bintang Di Surga. Sayapun pulang sekolah dengan bahagia, membawa pulang kaset Peterpan dan coklat berbentuk hati berwarna pink yang sayangnya harus berakhir di tempat sampah setelah berhari-hari menginap di kulkas, tidak habis karena kemanisan.

Yang saya nikmati ya kaset Peterpan, dong. Saking bapernya, waktu itu saya merasa bahwa lagu-lagu di album Bintang Di Surga itu sengaja diciptakan Ariel untuk membantu si do'i mengungkapkan perasaannya ke saya. Poor Ariel...

Jadi, yah, bagaimanapun, saya pernah merasakan manisnya hari Valentine itu. Sejak saat itu, saya nggak pernah lagi dapat kado Valentine dan berakhir jadi cewek ngenes yang selalu berharap dapat kado Valentine setiap tanggal 14 Februari.

Seiring berjalannya waktu, sayapun mulai meninggalkan dunia khayalan dan menghadapi kenyataan, saya akhirnya berhenti berharap dapat kado Valentine.

Alasannya adalah, karena saya mulai bertanya-tanya, kenapa harus ada satu hari untuk merayakan kasih sayang? Kenapa semua hal-hal manis itu harus dirayakan hanya di hari Valentine? Kenapa ada yang namanya Hari Kasih Sayang? Sementara rasa kasih sayang itu diperlukan setiap hari untuk menghidupkan hati?

Dari hasil perenungan saya, ada dua kemungkinan perlunya dirayakan Hari Kasih Sayang.

Pertama, Hari Kasih Sayang mungkin perlu dirayakan sekali saja dalam setahun karena kita terlalu sibuk dengan hal lain sampai lupa berkasih sayang.

Kedua, Hari Kasih Sayang mungkin perlu dirayakan karena saking mendasarnya kasih sayang dalam kehidupan sehari-hari. Kita berkasih sayang setiap hari, saking seringnya kita lakukan sampai kasih sayang itu berlalu begitu saja tanpa makna.

Sama seperti melihat indahnya matahari terbit. Saking seringnya melihat matahari terbit, orang jadi melihatnya sebagai hal yang biasa sehingga diacuhkannya setiap pagi. Mungkin harus ada satu hari saja dalam setahun di hidupnya, orang melihat matahari dari puncak Bromo atau dari sudut bumi lain yang belum pernah dicobanya, sehingga ia bisa memaknai indahnya matahari terbit, memaknainya sebagai hal kecil yang ternyata sangat berharga jika dinikmati. A little precious thing. Mungkin begitulah, mungkin harus ada satu hari dalam satu tahun di hidup seseorang untuk memandang kasih sayang dari sudut yang berbeda, sehingga ia dapat kembali memaknai kasih sayang itu.

Mungkin, ya. Itu kan cuma kesimpulan ngawur dari isi kepala saya yang berantakan.

Nah, pertanyaan selanjutnya, kenapa harus di bulan Februari tanggal empatbelas? Akhirnya kita sampai juga di pembahasan sejarah Hari Valentine yang sering jadi triger perdebatan di media sosial.

Menurut Encyclopedia Americana volume XIII, halaman 464, "The date of the modern celebration, February 14, is believe to the execution of a Christian martyr, Saint Valentine, on February 14, 270."

Menurut sumber lain, yaitu Encyclopedia Americana volume XXVII, halaman 860, "A day on which lovers traditionally exchange affectionate messages and gifts. It observed on February 14, the date on which Saint Valentine was martyred."

Dari kedua sumber tersebut, disebutkan bahwa pada tanggal 14 Februari, yang diperingati di masa modern sebagai hari Valentine, merupakan hari dimana Saint Valentine diekseskusi hukuman mati.

Saint Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ke-3, di masa pemerintahan Claudius II. Pada saat itu, rupanya sang Kaisar menginginkan agar para tentaranya tidak menikah. Pasalnya, jika tentara-tentara itu memiliki keluarga, istri dan anak, mereka tidak akan fokus bekerja untuk kaisar.

Namun, Sang Pendeta Saint Valentine tidak sependapat. Ia begitu percaya keagungan cinta, sehingga ia tetap menikakan para tentara dengan pasangannya secara diam-diam. Hingga suatu waktu, tindakan Sang Pendeta ini diketahui Kaisar, Saint Valentine-pun harus menanggung hukuman atas pelanggaran yang telah dilakukannya. Ia dihukum mati pada tanggal 14 Februari. Pupuslah sudah harapan para muda-mudi tentara untuk menikah, Saint Valentine sudah tak ada.

Kematian Saint Valentine di tanggal 14 Februari ini juga rupanya berbarengan dengan festival kaum Pagan pada tanggal 13-15 Februari, yaitu Festival Lupercalia yang bertujuan untuk meminta kesuburan pada Dewa Faunus, Dewa Romulus dan Remus. Di festival ini, orang-orang Roma kala itu mengorbankan hewan seperti domba untuk simbol kesuburan dan anjing untuk simbol kesucian.

Nah, karena festival kaum Pagan ini merupakan festival penting untuk masyarakat Roma, maka peringatan kematian Saint Valentine juga disisipkan dalam festival ini untuk mengkristenisasi, oh, let's not saying it that way, untuk menyisipkan nilai-nilai agama dalam kebudayaan kaum Pagan (agama yang waktu itu sedang disebarkan di Roma adalah agama Kristen).

Jadilah tanggal 14 Februari, salah satu hari dalam Festival Lupercalia kaum Pagan tersebut diperingati sebagai Hari Kasih Sayang, untuk memperingati Saint Valentine yang rela mati demi melanggengkan cinta dan kasih sayang, kemudian dikenal dengan nama Valentine's Day atau Hari(-nya Saint) Valentine. (history.com)

Pola ini mungkin sama seperti ketika Sunan Kalijaga menggunakan wayang untuk berdakwah. Beliau menyisipkan nilai-nilai keagamaan di dalam unsur kebudayaan setempat agar agama tersebut lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat.?

Dari pemaparan di atas, rupanya akar dari perayaan Valentine adalah festival kebudayaan orang-orang Pagan di Romawi dan juga sisipan kisah dari seorang Pendeta Kristen.

Nah, since I am?originally from Java,?I mean, I am not a Pagan and not from Rome, and also I'm a Muslim, I can't find any reason for me to celebrate Valentine, because the culture just doesn't belong to me.

Meski seberapa muliapun pengorbanan Saint Valentine untuk menolong para muda-mudi yang takut berzinah (bukannya sampai saat ini orang yang menikah untuk menghindari zinah juga masih diagungkan? Apalagi orang yang mau membantu mereka yang ingin menghindari zinah, kan?), thing is, I just don't belong to the culture.

Pada waktu saya dapat hadiah Valentine dan beberapa tahun setelahnya, saya merayakan Valentine tanpa alasan yang jelas, I did it for granted. Meski tidak pernah merayakan Valentine dengan ikut pesta, waktu itu diam-diam saya merasa hati saya ikut berfestival dan berharap kejatuhan cinta lagi, dapat kado Valentine lagi. Tapi sekarang, akhirnya saya punya alasan untuk memutuskan merayakan Valentine atau tidak.

Mungkin tidak ada salahnya juga melakukan sesuatu tanpa alasan yang jelas, atau take something for granted. Kita juga sering melakukannya setiap hari. Tapi jika hal tersebut berkaitan dengan keimanan, saya rasa akan lebih baik jika kita mempertimbangkan?apa yang kita lakukan?agar kita bisa memaknai betul keimanan kita, apalagi untuk sesuatu yang berasal dari budaya agama lain atau kepercayaan lain yang tidak sejalan dengan ajaran agama yang kita anut, dan kita melakukannya hanya karena ikut-ikutan tren, lagi.

Meski begitu, bukan berarti saya berhak mencaci maki kamu yang Muslim dan merayakan Valentine karena alasan apapun. It's?your choice. Wether you would mind your believe or not, I have nothing to do with that.?Mungkin kamu juga punya alasan lain atau pendapat lain yang bisa membuatmu yakin untuk merayakan Valentine. Jikapun tidak, again, it's your choice, lakum diinukum wa liya diin.

Ketika kita sudah punya dasar yang kuat untuk memilih sesuatu, toh kita bisa berdiri kokoh di atas keputusan itu, tanpa perlu tersinggung dengan pendapat orang lain yang tidak sejalan dengan kita, ataupun justru beteriak sana-sini hanya untuk mendapat pengakuan dari orang lain bahwa pendapat kita benar.

Selamat Hari Minggu. *jangan lupa besok Senin*

  • view 310