Faranisa Ratna Kinasih

Novia Hartini
Karya Novia Hartini Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Januari 2017
Faranisa Ratna Kinasih

Yang kuingat sewaktu menunggu bayiku, aku mencium bau darah yang menyengat di sela kuku jemari tangan. Bau yang amis dan mengerikan, tapi begitu nikmat kusesap malam itu, demi menghayati rasa pedih yang baru kualami, dengan harapan besar untuk bisa memeluk hangat seorang bayi yang telah selama sembilan bulan bersemayam di bawah jantungku.

Bayi yang telah kunantikan selama sembilan bulan dengan tiada sabar. Kutunggu-tunggu rasa sakitnya di penghujung usia kehamilan. Hingga akhirnya ia menepati janjinya untuk keluar dari liang tubuhku di minggu ke-39, tepat di hari pertama.

Aku belum mau menutup jendela kamar bersalin waktu jarum jam sudah menunjuk angka lewat jam 12. Betapapun gelap dan dingin menakuti, aku tak mau terperangkap dalam ruangan ini sementara bayiku melalui perjalanan menuju rumah sakit untuk mempertahankan hidupnya.

Malam itu aku dipisahkan dari si jabang bayi yang telah selama sembilan bulan kurasakan keberadaannya di dalam tubuhku. Sakit, kurasakan di sekujur tubuhku, di dalam hatiku.

Aku ingin memeluknya, mendekapnya dengan bau darah yang masih amis, membiarkannya mendengarkan lagi suara detak jantungku yang menjadi nyanyiannya selama sembilan bulan.

Aku mendekap diriku sendiri yang begitu rindu, kerinduan sepasang payudara pada mulut bayi yang ingin mencucupnya demi menyambung kehidupan, mengalirkan kasih sayang. Aku begitu rindu..

Begitu lemahnya aku, terpenjara oleh jarak ratusan meter dan detik waktu yang tak mau menunggu.

Semua orang bilang sabar, tunggulah.. makan yang banyak, supaya cepet sehat, nanti Ara pulang bisa urus Ara dengan baik..

Tunggu.. Tunggu.. Tapi Minggu siang itu aku di ajak ke rumah sakit untuk Ara. Kenapa? Kemarin semua orang bilang tunggu, tapi siang itu aku diajak kesana, ke tempat bayiku berbaring pada sebuah kotak kaca, kulihat ia susah payah bernafas dari balik kantong oksigen.

Matanya terpejam. Jemarinya setengah membiru. Segera kugenggam, kuelus rambutnya yang halus untuk pertama kalinya, kualirkan doa-doa, kubisiki cinta. Ia membuka matanya, bola mata yang hitam jernih tanpa setitikpun dosa.

Aku tak diberi kesempatan lebih lama untuk ada di sana. Dengan tak rela, kutitipkan ia pada suster yang aku tak tau siapa, tapi ia janji padaku akan jaga Ara selagi bisa.

Aku lalui kembali jarak ratusan meter yang memisahkan aku dengan Si Cantik Ara, bidadari surga yang telah dititipkan Tuhan selama sembilan bulan di rahimku.

"Kalau Teteh udah ikhlas, teteh bisa bilang sama Bapak sama Aa di rumah sakit buat ambil keputusan, daripada habis biaya. Kasian dedenya juga, Teh, bayangin bayi sekecil itu harus menanggung banyak penyakit, nafasnya susah, belum lagi leukositnya, livernya..." Kata seorang bidan kepadaku malam itu.

"Ini sudah nggak mungkin ketolong kalau kita lepas alat bantu nafas. Tapi kita nggak akan lepas, selama ada harapan meski sedikit akan kita usahakan semaksimal mungkin," kata dokter.

"Aku enggak tega liat Ara... Aku minta yang terbaik sama Allah, apapun itu. Kita harus kuat," kata suamiku, yang lebih banyak bersamanya ketimbang aku sendiri setelah kelahiran Ara.

Segala jarak dan luka menyiksaku demikian rupa, membuat tubuhku gemetar sepanjang malam. Aku sanggup menahan sakit di tubuh, tapi aku tak sanggup menahan rindu. Dalam pekatnya malam yang mengancam, malaikat dan setan bergantian menguatkan dan melemahkanku.

Hingga waktu adzan subuh berkumandang, aku minta pada Allah solusi yang terbaik untuk Ara dan semua keluarga yang telah berjuang habis-habisan selama sehari dua malam ini.

Semua terjadi secara tumpang tindih, suara telepon, detak jarum jam, detak jantungku sendiri, suara Mama menjawab telpon, suara di ujung telepon...

Percayalah pada bayimu, ia punya jalan yang dibawanya sendiri sejak Tuhan meniupkan padanya nyawa. Percayalah, Tuhan menciptakan makhluknya dengan jalan yang demikian sempurna.

Aku menyadari bayiku sudah punya keputusan sendiri saat usia kandungan 34 minggu. Waktu aku menanyainya kapan ia akan keluar dari tubuhku, ia menendang waktu aku menyebut minggu 39, dan dia keluar di minggu 39 hari pertama.

Jadi malam itu, aku percayakan semua keputusan padanya, juga pada Tuhan yang telah menitipkan bayi cerdas itu padaku selama sembilan bulan. Subuh itu aku telah ikhlas, meski nafsu manusiawiku terkadang masih begitu ingin memilikinya sebagai permata hidupku di dunia.

"Alat bantu nafasnya mati sendiri tadi jam 4 subuh... Sempet nyala lagi beberapa kali, tapi sampai sekarang sudah nggak bisa nyala lagi..."

setengah enam pagi.

Begitulah. Kurasakan tanah tempatku berpijak begitu lunak seperti akan menelanku dalam kekosongan. Hampa.

Yang paling kuingat, Ara membuka matanya waktu kuelus rambutnya dan kuhangatkan jemarinya yang membiru. Pasti Ara sempat lihat ibunya ini. Aku tau waktu itu Ara punya keinginan yang sama kuatnya denganku untuk saling bertemu.

"Nggak akan ketuker, Neng, di akhirat nanti, Ara pasti tau yang mana mamanya..." kata mamaku, sewaktu membantuku memulihkan luka-luka di tubuh.

"Jangan disikapi dengan logika, sikapi dengan iman," kata Bapak, yang kukira selama ini selalu menyelesaikan segala masalah dengan logika.
-
Faranisa Ratna Kinasih, kami menamainya. Seorang perempuan yang gembira, si permata hati. Tak ada orang yang tak gembira di surga sana.

  • view 152

  • Eny Wulandari
    Eny Wulandari
    1 tahun yang lalu.
    Saya merinding bacanya mbak.. Ikut sedih sekali. Semoga adik Ara berada di surga sana dan semoga mbak akan diberi bayi mungil dan lucu lainnya nanti di kemudian hari, amiiiin ya robbal'alamiiiiin..