Bisakah Orang Tidak Berburuk Sangka?

Novia Hartini
Karya Novia Hartini Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 April 2016
Bisakah Orang Tidak Berburuk Sangka?

21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Bocah-bocah ke sekolah pakai kebaya, majalah-majalah mengangkat profil wanita sukses sebagai wanita Kartini. Dan media sosial masih diselingi artikel-artikel nyinyir bahwa Kartini tak pantas jadi Pahlawan Nasional, bahwa Kartini hanyalah boneka Belanda, bahwa perempuan masa lalu tak bisa sekolah bukan karena Belanda, tapi karena tradisi dan budaya di Indonesia sendiri. 

Memang benar, kalau perempuan masa lalu tidak bisa sekolah bukan karena Belanda, melainkan karena tradisi dan budaya di Indonesia sendiri. Dan memang benar masih ada banyak pahlawan perempuan Indonesia yang juga pantas diapresiasi seperti Dewi Sartika, Christina Martha Tiahahu, Rangkayo Rasuna Said dan pahlawan perempuan lainnya yang disebut atau yang tidak dalam buku sejarah.

But, there's no point kalau mau membandingkan perjuangan Kartini dengan perjuangan Tjut Nyak Dien, karena Kartini bukan perang dengan menggunakan tombak untuk mengusir penjajah Belanda, ia berjuang dengan pikirannya untuk melawan budaya Patriarki, budaya yang mungkin juga sedang diperangi perempuan di belahan bumi lain, tak hanya di Indonesia. Ia berjuang melawan budaya yang mengalir di dalam darah bangsawannya, budaya yang begitu kuat dicengkeram sang Ayah.

Pengetahuan saya tentang sejarah Kartini juga nggak banyak, sih, sumber saya hanya Habis Gelap Terbitlah Terang karya Armijn Pane dan Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer.

Dari situ saya tahu bahwa Kartini anak dari Bupati Jepara Ario Sosrodiningrat dan seorang rakyat jelata bernama Ibu Ngasirah. Karena ibunya bukan seorang bangsawan, Kartini mendapatkan pengasuhan yang terpisah dari sang Ibu dan tinggal bersama 11 saudara lainnya, 5 di antaranya adalah saudara kandungnya dari rahim Ibu Ngasirah. Ia seorang Raden Ajeng tapi lebih suka dipanggil Kartini saja, ia tidak suka saat adiknya harus merangkak saat lewat di hadapannya hanya karena ia lebih tua, atau saat adiknya harus turun duduk di lantai saat Kartini masuk ke ruangan di mana adiknya sedang duduk di atas kursi. Kartini mendambakan kesetaraan untuk semua manusia.

Kartini sempat bersekolah di Europese Lagere School hingga berusia 12 tahun. Selepas itu, Kartini harus melalui masa pingintannya di sebuah rumah dengan tembok tinggi, tak boleh keluar hingga seseorang dari kalangan bangsawan meminangnya. Pernah mengenyam bangku sekolah hingga usia 12 tahun membuat Kartini memiliki keinginan yang begitu kuat untuk terus menuntut ilmu. Namun apa daya, ia tak sanggup menolak perintah sang Ayah untuk masuk ke masa pingitan di usia 12 tahun.

Ayah Kartini mungkin berada dalam dilema yang lebih menyakitkan daripada yang dialami Kartini, ia tak tega melihat putrinya terpenjara dengan keinginan sekolah yang begitu kuat, namun ia juga tak sanggup melawan tradisi untuk membiarkan putrinya keluar rumah pingitan dan pergi sekolah. Merupakan sebuah hal yang mencoreng nama baik bagi seorang bangsawan seperti ayah Kartini untuk membiarkan putrinya keluar dari rumah pingitan sebelum waktunya dan membiarkannnya sekolah. Maka, ia membayarnya dengan memberikan Kartini buku-buku yang semakin membuka pikirannya. Kartini juga mendapatkan buku-buku dari kakak-kakak lelakinya yang memiliki kesempatan untuk bersekolah lebih tinggi. Karena pernah bersekolah di Europese Lagere sebelumnya, Kartini mampu membaca buku-buku berbahasa Belanda.

Ia pernah berkata, "Seorang gadis yang telah dicerdaskan pikirannya, diperluas pemandangannya, tak akan sanggup hidup di dunia nenek moyangnya."

Tapi betapapun Kartini tak sanggup hidup dalam kungkungan tradisi, ia tetap tunduk pada tradisi demi cintanya pada sang Ayah yang juga sangat mencintainya. Maka ia tetap mendekam di sana, rumah pingitan yang dikelilingi benteng tinggi, ia berada dalam penjara batin, meski semua fasilitas dimilikinya di dalam sana, kecuali gerbang pendidikan.

Namun dalam sesedikit-sedikitnya ruang yang ia miliki, Kartini tidak berhenti bergerak. Ia terus membaca dan memperkaya pikirannya. Dan yang terpenting adalah, bahwa Kartini menulis, ia menuangkan buah pikirannya dalam catatan harian dan surat-surat yang dikirimkannya pada sahabatnya semasa sekolah, Stella Zeehandellaar dan juga Nyonya Abendanon. Qadarullah, Kartini berada di tempat dan masa yang memudahkannya untuk berkirim surat meski ia terisolasi.

Hingga akhirnya, surat-surat Kartini tersebut dibukukan dan Kartinipun terkenal sebagai pelopor emansipasi wanita di Indonesia.

Seperti kata Pramoedya Ananta Toer:

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dalam sejarah."

Selamat Hari Kartini!

  • view 181