Tiga Rasi Bintang

Novia Hartini
Karya Novia Hartini Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 April 2016
Tiga Rasi Bintang

“Karena racunku ada pada setiap tetes hujan yang tiada habisnya di luar sana,” kata Scorpio. Pisces tersenyum kecut. Ia merasai setiap tetes hujan yang menitik di telapak tangannya, kemudian sari-sarinya menyesap ke dalam pori-pori kulitnya, bergabung bersama aliran darah dan memompakan suatu perasaan aneh ke dadanya. Begitulah racun Scorpio bekerja. Racun yang sungguh mematikan, tapi juga sekaligus menghidupkan. Ia begitu menikmati dan juga sekaligus memaki.

Orang bilang, hujan bisa membangkitkan kenangan akan sesuatu. Di sudut bumi yang lain, Scorpio juga sedang memanjakan memorinya melalui gemericik hujan. Hanya satu yang dikenangnya, yaitu senyum lebar Pisces dari pipi ke pipi yang tak disangkanya akan terlempar pada dirinya. Senyum dari negeri dongeng yang mampu menyihir akal sehat perempuan. Senyum yang membawanya pada labirin sesat tanpa jalan keluar. Senyum yang takkan pernah sanggup dilupakan Pio.

Pio suka teka-teki semacam labirin tanpa jalan keluar. Ia akan dengan senang hati menyambut pintu masuk, menelusup ke setiap relung-relung meski ia takkan pernah bisa keluar. Dan labirin milik Pisces, kau tahu, dindingnya biru oase bergemericik air, sementara bebunga lili menjadi penunjukmu pada arah yang tak tentu. Jika kau berhasil menaklukkannya, Neptunus menantimu di ujung jalan, yang entah di mana. Ah, penaklukan. Scorpio selalu menjadi peran utama dalam drama penaklukan. Tapi, kali ini ia tidak peduli pertemuan dengan Neptunus, ia hanya ingin merelakan dirinya tersesat dalam setiap relung labirin. Begitulah cinta, pasrah dan berserah.

Pio menunduk gelisah. Nafasnya resah. Ia sebenarnya juga tak ingin bertemu Neptunus karena ia sudah mengambil keputusan untuk berdampingan dengan Venus. Ia kalajengking celaka yang lebih sering terjerat daripada menjerat. Perjalanannya bersama Libra bukan perjalanan yang mudah, perjalanan yang telah melewati ruang-ruang waktu yang panjang, sama seperti labirin tak berkesudahan yang ditawarkan Pisces. Perjalanan yang diwarnai pertemanan dan percintaan yang berganti-ganti rupa.

Kata Astrologi, Libra dan Scorpio adalah pasangan yang tidak disarankan, pasangan yang bertolak belakang. Tapi, Libra tidak pernah peduli apa kata Astrologi, ia hanya peduli keyakinannya sendiri. Dan bagi Pio, dalam kamusnya sendiri Libra dan Scorpio adalah pasangan sempurna. Ia adalah jelmaan Mars sang Dewa Perang, sementara Libra adalah jelmaan Venus sang Dewa Cinta yang selalu sanggup meredakannya.

Pio memandangi beruang bermata cokelat salah satu hadiah dari sang Dewa Cinta yang tidak pernah pindah tempat dari samping tempat tidurnya. Libra tahu betul bagaimana menghadiahi Pio, ia tidak memberi hadiah berlebih, tapi  ia memberi hadiah yang tepat, dan Pio selalu terjerat. Beruang itu memiliki mata cokelat terang dan segaris senyum riang yang mirip dengan senyum Tuannya. Mata cokelat terang dan garis senyum yang selalu dikagumi Pio dari sang Dewa Cinta.

Tak ada yang pantas dikeluhkannnya dari sang Dewa Cinta. Ia memiliki ketulusan burung pipit yang setia membunyikan pagi. Ia adalah titik bintang kejora di timur dambaan setiap wanita saat matahari belum merajai hari. Tanpa disangkanya juga, Dewa Cinta itu telah banyak memenangkan pertarungan sengit untuk bisa sampai pada posisinya saat ini di samping Scorpio. Dan bagi Pio, tak peduli apa kata Astrologi, dia yang petarung sejati dan terutama telah banyak bertarung untuk memenangkannnya adalah dia yang juga pantas untuk dimenangkan.

Tapi sungguh, Pisces adalah godaan yang paling menggiurkan bagi seorang Scorpio. Pisces adalah kesegaran laut yang selalu dirindukannya. Pisces adalah wangi bunga lili yang dicarinya di setiap sudut malam. Ia tak bisa menahan diri untuk tidak memutuskan jatuh cinta saat bertemu Pisces.

“What if you decide that falling in love is not something happens to you, but something you do?” Pio melempar pertanyaan, entah untuk mengetes atau mencari jawaban atas pertanyaannya sendiri.

“Falling in love is indeed something you do.” Pisces merasa tidak boleh goyah oleh semacam pertanyaan jebakan dari Pio.

“No, I think true love should be something happens to us. If we do that, I mean if it’s not something magically happens to us, then where’s the magic?”

“But… Pisces and Scorpio will create magic. Their relationship made in heaven,” suaranya melemah serupa desau angin, menelusupi daun telinga Pio, menyusuri liang-liang hingga ke memasuki gendang telinganya. Tak berhenti sampai di situ, desau angin dari suara Pisces terus masuk ke sela-sela yang tidak bisa dipahami akal manusia, memasuki bagian otaknya dan menerbangkan pikirannya entah ke mana. Sebuah pintu kembali terbuka menyambut Pio. Pintu dalam labirin yang akan membawanya semakin jauh…. dan semakin jauh…  dan semakin dalam.

Pio memandangi sepasang mata serupa laut biru di hadapannya, bagai musim panas yang selalu berdekatan dengan air laut tapi selamanya dahaga. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain memandangi, kemudian meresapi. Pisces balas menatap sepasang mata di hadapannya dengan tak kalah gentar, sepasang mata yang selalu nyala. Mereka bertatapan seolah sedang duduk berhadapan di meja judi, mempertaruhkan dunia beserta isinya dan siap kalah. Pasrah.

Oh, adakah yang lebih meresahkan daripada merindukan dia yang berjarak hanya selangkah saja dari hadapanmu?

Pio semakin tersesat dan semakin menikmati ketersesatannya di labirin milik Pisces. Adakah Neptunus segera ditemuinya?

Tidak, Puan Scorpio. Neptunus tidak akan menemui hatimu yang penuh kegelapan.

Pio mundur selangkah. Ia biarkan dirinya tenggelam di dalam relung labirin milik Pisces. Rambutnya yang mengombak hingga menyentuh lekuk pinggulnya kini basah oleh gemericik air di dinding labirin. Sementara bunga lili masih berayun-ayun menunjukkan arah ke relung Pisces yang lebih dalam lagi. Pio memeluk dirinya sendiri. Ia mungkin tidak bisa berjalan lebih jauh memasuki relung labirin. Sekarang, saat ini, ia harus menikmati keadaan ini, harus menikmati setiap tetes air yang membasahi dahaganya, menikmati setiap wewangi bunga lili yang menyesap hingga ke paru-parunya, sebelum Libra datang menjemput, membawanya ke dunia nyata.

Dengan semua keindahan bunga lili yang putih bersih dan gemericik air yang biru bening, garis takdir tetap akan memupuskan jalinan Pio dengan Pisces. Meski Pisces dan Scorpio sanggup menciptakan keajaiban yang didamba setiap pecinta, meski jalinan mereka dicipta dari dalam surga, semua harus padam. Pio memejam, membiarkan matanya dikuasai kelam.

Jemarinya memutar lingkaran kuning di jari manisnya. Jalinannya dengan Libra tak hanya telah melibatkan mereka berdua, tapi juga telah melibatkan semesta alam, sepasang kaki tangan Tuhan di sisi mereka yang telah merestui. Pernikahan Scorpio dan Libra akan segera ditentukan.

Sebuah suara menggema di kuping Pio,

What happens if you decide that falling in love is something you do?

Then you will need to decide to stop doing it when the time comes.