Asmaradhana - Cerita Bersambung (Part. 1)

Novia Hartini
Karya Novia Hartini Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 April 2016
Asmaradhana - Cerita Bersambung (Part. 1)

Alkisah, Kama sang Dewa Asmara dikutuk Dewa Shiwa menjadi abu karena membangunkannya dari pertapaan yang dalam. Kama membangunkan Shiwa demi mengatasi kerusuhan di Khayangan yang disebabkan raksasa bernama Niladruka. Dengan berat hati, Ratih Dewi sang istri akhirnya melepas Kama untuk pergi mengemban misi berat membangunkan Dewa Shiwa. Namun, segala anak panah yang dimiliki Kama tidak sanggup membangunkan Dewa Shiwa dari pertapaannya, hingga dikeluarkannya anak panah pancasakti yang membangunkan Dewa Shiwa dan membuatnya seketika berada dalam kerinduan yang meledak-ledak pada sang istri, Dewi Uma.

Setelah menyadari hal tersebut karena perbuatan sang Dewa Asmara, Terbitlah kemarahan Dewa Shiwa, ia mengeluarkan api dari mata ketiganya dan membakar Dewa Smara menjadi abu. Smara telah mati, sementara Ratih masih menanti. Setelah tau suaminya menjadi abu, Ratih mau melakukan segala cara agar bisa kembali bersama Smara. Maka Ratih pun sama dibakar menjadi abu. Mereka diturunkan ke Martyupada, bumi, dan dipenjarakan dalam setiap tubuh perempuan dan lelaki untuk bisa bertemu lagi. Tidak setiap pertemuan lelaki dan perempuan disertai Smara dan Ratih. Smara akan tau di hati mana Ratihnya berada, begitupun Ratih. Dalam diri setiap perempuan dan lelaki di muka bumi, mereka akan selamanya saling mencari, selamanya dahaga, selamanya gelisah, selama matahari masih bekerja, selama Shiwa masih bekerja.

“Kok bisa kebetulan, ya, kamu milih kisah yang nama tokohnya sama dengan namaku?” Tanya Kama, cukup membuat Jaya tersedak air ludahnya sendiri. Ia tak menemukan kata untuk berkelit menyembunyikan jawaban sebenarnya.

“Ibuku suka mendongengiku kisah-kisah wayang dan kisah legenda rakyat. Kurasa kisah yang ini juga favoritnya, makanya dia kasih aku nama Kama," lelaki itu melanjutkan.

“Apa jadinya, ya, kalau Smara dan Ratih tidak pernah dibakar jadi abu, dan dipisahkan dalam setiap tubuh perempuan dan laki-laki di muka bumi?” Tanya Kama penuh selidik, sekaligus penuh harap. Mereka telah sampai di tanah tempat legenda Asmaradhana berasal, di tempat orang-orang percaya akan pertemuan Smara dan Ratih.

“Jadinya, mereka akan hidup bahagia selamanya. Boring. Kamu tahu, apa nikmatnya minum? Yaitu karena tenggorokanmu kering, dahaga.

Kamu tau apa indahnya ombak yang menyentuh tepi pantai? Karena ia tak bisa seterusnya diam di tepi pantai, ia harus selalu kembali ke lautan untuk kemudian bisa kembali lagi menyentuh tepi pantai.

Itu sebabnya ombak selalu gelisah.”

Demi Tuhan. Jaya tak bermaksud menggombali lelaki di sebelahnya yang memang telah ia jatuhi cinta sejak lama itu. Ia hampir tenggelam dalam puisinya sendiri.

"Wuih! Emang gak salah aku milih penulis buat filmku kali ini!" Kama menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengacungkan jempol ke hadapan Jaya. Gadis itu membalasnya dengan dengusan kasar untuk menyembunyikan semburat merah yang segera akan merambat ke pipinya.

“I’m going back home. Are you coming?” Jaya berdiri dari duduknya dan berkemas, setengah menghindar tapi berharap Kama masih mau mengejarnya.

By foot, eh?”

“mm-hm.”

“Boleh, deh. Lumayan juga, menikmati suasana malam Kuta,” Kama ikut berdiri.

Iya, apalagi sama kamu. Tambah Jaya. Dari dalam hatinya. Suasana hatinya bergemuruh serupa ombak yang bergulung-gulung tak jauh dari mereka. Antara ingin mencumbui pantai tapi juga ingin menghindarinya setengah mati. Betapa luka dan kenikmatan tinggal berdampingan di dalam gemuruh hatinya.

Mereka berjalan di bawah sinar rembulan yang terlupakan oleh Jaya. Padahal, di hari-hari biasanya ia suka membuka jendela kamar demi menengok rupa rembulan setiap malam. Tapi malam ini rupanya isi hatinya saja sudah cukup, ia tak ingin apapun lagi. Maka ia hanya menunduk memandangi dua pasang kaki bersepatu kets yang berjalan beriringan.

Kemudian bulan kena tawan kawanan awan. Diam-diam ia menangis, setetes-dua tetes menjatuhi tanah bumi yang jauh di bawahnya. Salah satu dari tetesnya menjatuhi ubun-ubun Jaya. Ia menyentuhnya dengan jemari.

“Hujan, nih.”

“Iya, padahal tadi terang gitu, bisa tahu-tahu hujan.”

“Iya, ya?” Jaya menenggakkan wajahnya, menengok Rembulan yang sudah keburu cemburu, diam meredup.

Titik air turun semakin banyak, Kama bersegera menyelamatkan kamera di tangan ke tas punggungnya. Sementara Jaya di sebelahnya mengeluarkan payung dari tas kecilnya yang disampirkan dari pundak hingga pinggang.

“Gini nih, enaknya jalan sama cewek. Selalu sedia payung sebelum hujan,” katanya sambil memamerkan seringai pada Jaya. Ia hanya membalasnya dengan bibir mengerucut, sambil menahan langkah berharap Kama mau mengikutinya berjalan perlahan.

“Sini, biar aku yang payungin. Masa jalan sama cewek pake payung, yang bawa payung ceweknya,” Kama menarik payung dari tangan Jaya, membuatnya tersenyum garing.

“Hujan-hujan payungan di Bali, jalan kaki, lagi. Kurang romantis apa? Coba aku sama Ratna di sini.” Jaya tak menjawabnya. Ada rasa aneh di dadanya. Rasa cemburu dan cinta yang ingin ia sembunyikan sekaligus ingin ia tunjukkan. Dalam imajinasinya, ia seperti kekasih yang ingin ngambek. Tapi dalam kenyataan, ia hanya gadis aneh yang terus cemberut pada teman lelaki di sebelahnya.

“Payung kamu kecil banget, sih. Mana cukup ini. Sini,” Kama merangkul bahu Jaya hingga tubuh mereka bersentuhan. Sebuah detakan dari dalam dadanya hampir membuat jantungnya melompat keluar dari tubuhnya. Ia khawatir Kama dapat mendengar juga detakan itu. Mungkin romantisme itu mulai menjelma, menjalar keluar dari imajinasinya menuju realita.

“Ini kan payung cantik, tau! Bukan buat cowok raksasa kayak kamu!”

“Payung jomblo ini mah, cukup buat sendirian doang,” lengannya yang panjang mengait ke bahu Jaya. Kama tak pernah merasa canggung harus merangkulnya, menjitaknya, mengelus rambutnya atau memeluknya sekalian. Baginya, Jaya tak beda dengan teman-teman cowok lain atau mungkin adiknya. Keadaan ini kadang membuat Jaya kegirangan karena ia bisa begitu dekat dengan Kama. Tapi ia tetap iri saat Kama hanya berani memandangi Ratna dari jauh, bahkan tak berani sekedar duduk di sebelahnya sekalipun.

“Masa payung jomblo bisa bikin yang di bawah payungnya pelukan gini, sih? Harusnya ini namanya payung romantis,” Jaya akhirnya menemukan kalimat untuk flirting pada Kama.

“Alah, payung baper, kali!”

Sial.

Titik-titik hujan terus memberi kesempatan lengan panjang Kama merangkul bahu Jaya lebih lama, membuat tubuhnya menempel rapat di bawah ketiak lelaki yang membuatnya deg-degan girang itu. Jaya berharap jarak menuju hotel semakin memanjang seiring langkah kaki mereka yang terus maju. Udara Bali memang tidak pernah terlalu dingin meski hujan sedang mengguyur seperti sekarang ini. Tapi titik-titik air yang berjatuhan di luar payung membuat Kama tak juga melepaskan rangkulannya.

Mereka melewati sebuah warung angkringan yang menawarkan kehangatan. Uap panas mengepul dari gelas-gelas kopi yang disajikan. Tak banyak tempat seperti ini di Bali, yang membuat Kama merasa tak boleh melewatkannya.

We’re in Kuta, eh? Too early to be home, lady…” ujar lelaki di sampingnya, seraya melepaskan rangkulan. “Ngopi dulu?” Jaya hanya menjawab dengan isyarat. Mereka menepi.

Mereka duduk berhadapan sambil menyilangkan kaki. Di hadapan mereka dua cangkir kopi mengepul dan gorengan hangat disajikan. Jaya begitu menikmati pemandangan lelaki di depannya yang sedang kerepotan menggigiti pisang goreng panas sampai si pisang lompat-lompat di kedua tangannya.Ia menertawakannya seperti anak kecil menonton badut di pesta ulang tahunnya. Kadang-kadang juga ia tidak menyadari senyum yang mengembang di bibirnya masih senyum untuk lelucon atau senyum seorang gadis yang mabuk cinta.

Ah. Kadang-kadang Jaya sungguh ingin memamerkan senyuman itu di hadapan Kama. Benarkah ia tidak pernah menyadari ada cinta di antara dua garis bibirnya yang menyungging?

“Seneng banget ketawanya. Emangnya aku badut?” Jaya mesem-mesem. Menikmati dirinya yang terjatuh semakin dalam, semakin jauh.

Lama-lama, gorengan kehilangan hangatnya. Hujan sudah habis terserap tanah, juga kopi-kopi habis terserap mulut. Mereka melipat payung dan kembali berjalan di antara tanah basah, menuju hotel. Sesekali Kama mengeluarkan kameranya, mengambil beberapa gambar di tengah Jalanan Kuta yang basah dan hampir tertidur.

Akhirnya mereka berpisah di dua pintu kamar yang berhadapan.

“Oyasuminasai!” Jaya mencoba sedikit romantis, meski tetap dengan gaya kekanakan agar tak terlalu kelihatan, sambil memamerkan Bahasa baru yang sedang dipelajarinya.

“Haik!” Kama membalas dengan jawaban yang sungguh tidak tepat, sambil membungkukkan badan lalu tertawa. Mereka tertawa bersama. Berhadapan di lorong hotel yang temaram dan berkarpet merah bermotif kuning. Hanya ada dua wajah yang berbagi keceriaan sambil bertatapan di lorong itu, hanya gema tawa mereka yang terdengar.

Setelah bunyi tawa terhenti, Jaya hanya melongo sementara lelaki di hadapannya langsung berbalik dan menutup pintu. Jaya memandangi pintu di hadapannya yang sudah tertutup. Begitulah jatuh cinta.

Ia menunduk lalu memasuki pintu miliknya. Menyalakan lampu dan membuka tirai serta jendela kamarnya. Angin malam serta-merta menerobos jendela dan mengibarkan tirai tipisnya. Ia melipat tangannya di kusen jendela dan menggelayut di sana, membiarkan kepalanya dimanja angin malam yang akan segera menurunkan sistem kekebalan tubuhnya. Ia tak peduli. Ia mau berterimakasih pada Bali malam ini, pada hujan yang mengijinkan lengan Kama merangkulnya, pada angkringan yang membuatnya jatuh cinta pada Kama untuk ke-sekian kali.

Meski ia tahu, cinta Kama bukanlah untuk dirinya.

Betapa indah jatuh cinta itu, tapi kenapa orang bisa jatuh cinta hanya sendirian? Jika ia sedang jatuh cinta sendirian, mungkinkah yang sedang dijatuhinya dengan cinta itu bukan Smara-nya? Atau lelaki itu yang belum sadar kalau dia adalah Ratih-nya? Bisa jadi Jaya yang belum sadar kalau lelaki itu bukanlah Smara-nya.

Ah. Perjalanan Smara dan Ratih yang begitu panjang. Memikirkan pertemuan Smara dan Ratih membuat kepala Jaya menjadi pening. Jam dinding menunjuk angka dua. Daun jendela minta ditutup. Lampu minta dimatikan. Bulan perlahan tertutup awan seluruhnya.

-

Jaya membuka kembali jendelanya. Kali ini matahari telah bangun dan menghangatkan pagi. Tak banyak pemandangan dari jendela kamar penginapan murah yang itu. Mereka menyewa sebuah rumah yang cukup besar untuk menampung kru dan cast beserta peralatan syuting. Dari lantai tiga di kamar Jaya, hanya ada sedikit pemandangan laut dan pucuk-pucuk pohon.

“Halo, Bali!” Ucapnya, tidak pada siapapun. Tapi sehembus angin menjawabnya, berlalu melewati ujung hidugnya. “Ini perjumpaan kita yang pertama saat terang benderang, ya? Aku sampai tadi malam. Namaku, Ni Jayanti Madia, ayahku yang memberiku nama itu. Dia berasal dari sini. Apa itu berarti akupun berasal dari sini? Apa kamu bisa menjadi rumahku kali ini? Tempatku pulang?” Jaya menunduk. Tak ada angin yang menjawabnya lagi. Tapi pucuk pohon di ujung sana bergoyang pelan, Jaya memerhatikannya.

“Aku kesini bersama seorang lelaki, kami akan menyelesaikan sebuah pekerjaan di sini. Setelah pekerjaan ini selesai, aku akan memulai hidupku di sini, dan lelaki itu akan pulang ke tempatnya.” Jaya menarik napas panjang. “Lelaki yang aku cinta.”

“Bali, aku mohon…” Jaya menunduk sebentar, memastikan apa yang ia ingin mohonkan sebenarnya. “Jika dia adalah Smara-ku, tahanlah dia di sini bersamaku.” Alam bergeming, kecuali ombak yang tak tahu apa itu sunyi.

Jaya kembali mentup jendela beserta tirainya. Bersiap menjalani sebuah hari baru dan sejuta harapannya, di tanah ini, di tanah tempat orang percaya akan perjumpaan Smara dan Ratih.

 

  • view 363

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    Bali,,dalam sejuta kenangan akan kerinduan kisah nan romantis sepanjang perjalanan...di tunggu kelanjutan part 2 nya

    btw kata di- nya bisa di perbaiki tuh.

    berkunjung, salam kenal ^_^

  • Umie Poerwanti
    Umie Poerwanti
    1 tahun yang lalu.
    Menanti part. 2 dalam buaian angin ibukota, yg sama sejuk dan panasnya, meski ribuan kilo jaraknya dari tanah kelahiran kisah Asmaradhana

    • Lihat 4 Respon