Bersiap, Ramadhan!

Via Lestari
Karya Via Lestari Kategori Renungan
dipublikasikan 22 Mei 2017
Bersiap, Ramadhan!

Seperti halnya kapal yang akan segera menepi di dermaga, sorak-sorai menyambut tibanya. Mengajak sebahagian orang untuk sama-sama menikmati hamparan air yang begiiiiitu luas. Jaga keseimbangan agar tak sampai kapal lebih berat ke kiri dan ke kanan. Atau periksa segala sudut kapal agar tak ada bolongan yang sampai menenggelamkan. Atau juga, seperti tamu agung yang dinantikan hadirnya. Mungkin semua tahu bahwa kami wajib memuliakan tamu. Sungguh pahala yang tiada terkira akan didapat. Dan saat ini, tamu itu hampir tiba. Tamu yang selalu datang tahunan. Tamu yang senantiasa dimuliakan dan memuliakan. Ya, RAMADHAN.


Seruan alam menyambutmu dengan riang. Hmm.... bahkan menyambutmu tak hanya harapan tetapi juga kebanggaan. Kau patut dimuliakan sebagai tamu agung yang selalu dinantikan, tak hanya oleh manusia tapi seluruh alam semesta bahkan yang sudah mendahului kami sekali pun. Kau pun memuliakan dengan berjuta kebaikan yang terhampar karena hadirmu. Ditambah lagi kelak dilipat gandakan.


Maka, sudah sepatutnya pula kami menyiapkan perbekalan untuk menikmati ramadhan seperti halnya kapal yang bisa membawa kami menikmati hamparan air laut yang luas. Jika dalam kapal kami harus menyeimbangkan sisi kiri dan sisi kanan agar kapal tidak berat sebelah, saat ramadhan pun tentunya kami perlu keseimbangan. Seimbang dalam menjalankan shaum wajib dan ibadah lainnya, mencoba terus konsisten agar tak terpeleset melakukan apa-apa yang menjadi larangan-Nya. Pun halnya dengan lubang dalam kapal, ibarat dosa yang tidak terasa, tidak ditafakuri, bahkan tidak berusaha memohon ampunan taubat karenanya. Kecemasan pun terlihat ke permukaan kala dosa yang telah lampau menutupi manisnya menjalani ramadhan. Perlu untuk memohon ampunan, perlu untuk bertaubat. Bukankah harapan akan kesempurnaan yang sejati itu hadir ketika hidup terasa seperti kertas putih yang tak ada bercak tinta sedikit pun? Sekali pun itu tak mungkin, taaaaaapiiii seeetidaknya, kami perlu berusaha tak menambah bercak tinta yang ada. Sama seperti mencegah bolongan dalam kapal itu ada ketika kami mulai mengarungi indahnya ramadhan.

Wahai Ramadhan, tamu kami yang agung. Kami tunggu engkau dengan sesiap-siapnya diri kami menyambut sepenuh hati. Semoga hadirmu menentramkan jiwa. Keberadaanmu menjadi wasilah bagi kami untuk perbaikan diri. Dan semoga memberi arti untuk menyiapkan diri dan hati menghadap keharibaan illaahi rabbi suatu hari nanti.

Bandung, 9 Mei 2017
Via Lestari

  • view 139