Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 12 November 2016   11:09 WIB
KurinduITD-Katakan Yes untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi Agama

Kurindu Indonesia Tanpa Diskriminasi

 Katakan Yes untuk Indonesia Tanpa Diskriminasi Agama

 

Massa di sebelah sana berteriak

“Inilah persepsi yang benar

Jangan biarkan penyimpangan

Di balas oleh massa di belah sini

“Murtad! Inilah persepsi sejati

Bagi yang berbeda

Halal darahnya

Kemarahan berkobar

Perang terbakar

Darah dan korban muncrat mengalir

Kebencian menjalar di hulu dan hilir

Walau satu nenek moyang

Mereka kini terbelah parang

Permusuhan meraja lela

kemarahan menjadi raja

Penggalan  puisi karya Denny JA ini sangatlah menginspirasi bahwa tidaklah indah berbeda namun tak searah. Padahal tujuan Indonesia adalah kemerdekaan seutuhnya. Bukan saja  merdeka dari penjajah yang bertahun-tahun menjajah negeri ini, tetapi merdeka hidup dalam keberagaman namun tetap damai dan tenteram.

Indonesia adalah negara dengan sejuta  perbedaan. Masing-masing daerah memiliki ciri khas yang berbeda. Terkadang pebedaan yang tersebut  menimbulkan kontroversi satu dengan yang lainnya.  Oleh karena itu, Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara indonesia berusaha menepiskan problematika yang tercipta akibat perbedaan-perbedaan yang ada.

Kata “Diskriminasi” erat kaitanya dengan kata “ perbedaan”. Akan tetapi perbedaan yang dimaksud lebih mengarah kepada hal yang negatif.  Diskriminasi mengingatkan kembali akan proses perumusan pancasila yang dilakukan oleh panitia sembilan beberapa tahun yang silam. Peristiwa ini patut diapreisasi dan dijadikan motivasi dalam kehidupan beragama.

“Tanggal 18 Agustus ini merupakan perjalanan sejarah paling menentukan bagi rumusan Pancasila. Hari itu akan disahkan Undang-Undang Dasar untuk negara Indonesia merdeka. Sementara rumusan Pancasila menjadi bagian dari preambul (pembukaan) Undang-Undang Dasar negara tersebut. Namun demikian sehari sebelum tanggal ini ada peristiwa penting yang terjadi. Tepat  Sore hari setelah kemerdekaan Negara Indonesia diproklamirkan, Moh. Hatta  menyambut Nisyijima (pembantu Laksamana Mayda/Angkatan Laut Jepang) yang memberitahukan bahwa ada pesan berkaitan dengan Indonesia merdeka. Pesan tersebut  berasal dari wakil-wakil Indonesia bagian Timur di bawah penguasaan Angkatan Laut Jepang. Isi pesannya menyatakan bahwa wakil-wakil Protestan dan Katolik dari daerah-daerah yang dikuasai Angkatan Laut Jepang keberatan dengan rumusan sila pertama (Piagam Jakarta) : .”Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

 

Bagaimana dengan sikap Moh. Hatta saat itu? Ketika itu Hatta menyadari bahwa penolakan terhadap pesan tersebut akan mengakibatkan pecahnya negara Indonesia Merdeka yang baru saja dicapai. Jika hal itu terjadi tidak menutup kemungkinan daerah (Indonesia) luar Jawa akan kembali dikuasai oleh kaum Kolonial Belanda. Oleh karena itu, Hatta mengatakan kepada opsir pembawa pesan tersebut, bahwa pesan penting itu akan disampaikan dalam sidang PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) esok hari (tanggal 18 Agustus 194

Keesokan harinya, sebelum sidang BPUPKI dimulai, Hatta mengajak Ki Bagus Hadikusumo, Wakhid Hasyim, Kasman Singodimejo, dan Teuku Hasan untuk rapat pendahuluan. Mereka membicarakan pesan penting tentang keberatan terhadap rumusan Pancasila Piagam Jakarta. Hasilnya, mereka sepakat agar Indonesia tidak pecah, maka sila pertama (dalam rumusan Piagam Jakarta) diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Peristiwa perumusan pancasila mencerminkan bahwa pemerintah dan masyarakat Indonesia saat itu memang mencintai kedamaian sehingga mengikhlaskan terciptanya perbedaan yang dilingkupi rasa indahnya keutuhan, kebersamaan dan kekeluargaan.

Diskrimasi agama erat kaitannya dengan  pancasila sila pertama, ke-Tuhanan Yang Maha Esa yang pengamalannya tertuang dalam butir-butir sebagai berikut.

Sila Pertama

  1. Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  3. Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  4. Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  5. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  6. Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  7. Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Dalam butir-butir tersebut tertulis jelas pengamalan sila pertama pancasila adalah untuk menghindari diskriminasi agama. Akan tetapi saat ini  nampaknya pengamalan butir –butir pancasila tersebut belum terealisasi seutuhnya. Hal ini terlihat dari beragam peristiwa mengganaskan dan memprihatinkan yang terjadi akibat diskriminasi agama. Jika di masa perumusan pancasila para pemimpin maupun masyarakat menghindari diskriminasi agama untuk keutuhan negeri ini, lalu mengapa justru di era ini diskriminasi agama makin merajalela? Tidak indahkah hidup dalam kedamaian?. Haruskah indonesia yang saat ini  berada di titik ke 71 tahun kemerdekaanya,  diwarnai dengan diskriminasi agama? Sederet pertanyaan ini memang patut dipertanyakan.

Sebagai penerus perjuangan bangsa ini, sudah sepatutnya kita mengamalkan butir-butir pancasila sila pertama sebagai wujud rasa hormat terhadap perjuangan para pejuang yang telah berjuang dengan tekun dalam rangka kemerdekaan dan kedamaian bangsa ini.

Kita sebagai umat beragama yang hidup saling berdampingan tidak sepatutnya menciptakan jarak yang menimbulkan perbedaan yang mencolok. Karena dalam setiap agama tidak mengajarkan untuk saling membenci satu sama lain dan setiap penganut agama diperkenankan melaksanakan apa yang menjadi hak dan kewajiban.

Agama boleh saja berbeda, akan tetapi kodrat kita adalah sama, yakni sama-sama manusia yang memiliki kekurangan dan kelebihan di mata Tuhan. Dan  Hanya Tuhan yang berhak sepenuhnya atas manusia.

Intinya perbedaan itu indah. Lihatlah pelangi. Meskipun pelangi terdiri dari beragam warna akan tetapi mereka nampak indah dengan warna warni tersebut. Semoga perbedaan agama bukan menjadi problem bagi Indonesia, tetapi pemacu untuk memperat tali kekeluargaan dalam balutan keberagaman. Betapa indah Indonesia tanpa diskrimnasi.

 

 

Karya : vheby umar