Pilihanku Jatuh Padamu: Kita Jodoh!

Vevi  R. Maretha
Karya Vevi  R. Maretha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Februari 2016
Pilihanku Jatuh Padamu: Kita Jodoh!

Di detik-detik terakhir pilihanku jatuh padamu.

Itu pilihan dari Mama

Allah mengabulkan doa Mama.

Kita berjodoh!

?

Kesepakatan antara saya dan orang tua sudah bulat. Saya harus kuliah lewat jalur PMDK dan ngambil jurusan statistika. The worst case jika tidak lolos PMDK, saya harus tetap ngambil jurusan statistika. Jajaran kampus di kota Bandung pun masuk list, baik negeri maupun swasta yang tentunya ada jurusan statistikanya.

Ada ?keberatan? kala itu, sebenarnya saya tidak mau ikutan UMPTN. Itu momok banget bagi saya, persaingan yang super ketat dan untung-untungan banget. Tersadar kemampuan akademik saya rata-rata lebih tinggi dikit lah..(kenyataan kok..hhe), semacam pesimis langsung menghantui saya. Hingga sampailah pada pembagian formulir PMDK kampus idaman. Dengan semangat membara, diisilah formulir itu. Pilihan 1 Statistik dan Pilihan 2 Manajemen, kala itu. Ada 1 pilihan lagi sebenarnya intinya bunyinya seperti ini ? Jika tidak masuk Pilihan 1 atau Pilihan 2, bersedia dialihkan ke jurusan yang lain??, persis pernyataannya saya lupa. Dengan pertimbangan ini itu, akhirnya saya memilih ?Bersedia?. Alasan utamanya adalah saya tetap ingin masuk PTN manapun tanpa tes. Sebisa mungkin akan saya hindari yang namanya UMPTN dan apalah itu.

?Ma, saya bersedia kuliah di jurusan manapun asalkan saya masuk tanpa tes, terutama saya ingin tetap masuk kampus idaman saya dan Mama, mau pertanian, kehutanan, dan apapun itu. Saya akan tetap memilih kampus ini?, kataku ke Mama waktu itu.

Di suatu sore, dimana tinggal beberapa jam lagi semua formulir akan dikirimkan ke Bogor. Keraguan plus pesimistis seolah memenuhi otak saya. Kenapa? Jurusan statistik merupakan salah satu jurusan terfavorit di kampus itu, masuk jajaran teratas. Semakin tersadar nilai matematika saya biasa saja walaupun memang nilai raport selama 5 semester stabil. Terlebih ada 1 siswa di sekolah tetangga yang notabene siswa terpintar di SMA itu memilih jurusan yang sama. Ya, walaupun saya dari SMA Favorit tapi tetep saja nilai-nilai dia lebih bagus, dan...dan..lainnya.

Saya sodorkan formulir yang sudah di tipex ke Mama, ?Ma, mohon pilihkan 1 jurusan saja yang menurut Mama ?enak? di hati. Saya pesimis kalau tetap memilih jurusan statistika, yang terpenting saya masuk saja dulu?.

Akhirnya Mama pun luluh dan menerima semua alasan saya, saat itu.

?Menurut Mama ini enak dibacanya ?Ekonomi dan Studi Pembangunan? iya walaupun ilmu ekonomi dimana-mana sama tapi ini ada tambahannya ?Studi Pembangunan? pasti ada yang beda?, kata Mama sambil duduk di kursi tengah yang menghadap saya yang sedang ngedeprok di lantai seolah berlutut kepadanya.

Tanpa pikir panjang saya langsung checklist, Pilihan 1 Ekonomi dan Studi Pembangunan, Pilihan 2, saya lupa entah tetap di Manajemen atau Ekonomi Sumder Daya Lingkungan. Dan kesediaan saya untuk dialihkan ke jurusan manapun yang penting tetap di kampus itu.

Besok paginya, daripada saya terus bimbang bin galau, diserahkanlah formulir itu ke guru BK. Lahaula wala kuwwata illa billah, tinggal banyakin berdoa dan pasrah. Penantian yang super duper menegangkan kala itu. Sembari menunggu, saya masih ikutan daftar PMDK ke salah satu kampus swasta di Bandung dan saya dinyatakan diterima di jurusan Farmasi. Dan saya langsung nyatakan tidak akan mengambil kesempatan itu, saya tetap yakin dan masih menunggu kabar dari kampus idaman itu, lagian prioritas utama tetap masuk PTN.

Singkat cerita, saat istirahat tiba, saya berjalan ke arah ruang Tata Usaha yang kebetulan berhadap-hadapan dengan ruang BK. Ketika nama saya dipanggil dari pintu oleh seorang guru BK dan Alhamdulillah..ada 7 orang yang dinyatakan lolos PMDK, salah satunya adalah saya.

Jurusan?

Ekonomi dan Studi Pembangunan

Alhamdulillah..saya masuk kampus idaman. Apalah itu jurusan..saya tidak tahu banyak. Saat itu, terpenting bagi saya adalah bisa masuk PTN dan terhindar dari yang namanya UMPTN.

?

Haii...ekonomi kita kan bertemu kembali!!

Sebuah mimpi sesaat yang sempat terlupakan.

?

Saya dan semua kita meyakini kalau jodo, pati dan bagja (jodoh, kematian, rizki) memang sudah dituliskan-Nya. Tak peduli seberapa jauh kita menghindar, tak peduli seberapa kuat kita mempertahankan sesuatu kalau ketentuan-Nya sudah terjadi, maka terjadilah.

?

Masih, di kota kecil tempatku dididik.

2007-2008

  • view 187