Awalku Mengenalmu

Vevi  R. Maretha
Karya Vevi  R. Maretha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Februari 2016
Awalku Mengenalmu

?

There?s no room for coincidence.

?

Ya..sebagai makhluk bumi yang ber-Tuhan sejatinya harus meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi itu tidak ada yang kebetulan semuanya terjadi karena kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Dan semuanya yang terjadi pun sejatinya terdapat alasan-alasan, kenapa memang harus terjadi.

Kadang kita butuh spion untuk melihat hal-hal yang sudah terjadi, bukan berarti tidak move on tetapi lebih kepada untuk mengambil pelajarannya (*mulai sok bijak haha :D). Intinya hanya ingin flash back megambil benang merah atas apa yang terjadi pada saya hingga saat ini. (PS: hanya sekedar story telling ?kok, ga lebih, ga macam-macam, ga nuntut, hanya sedikit bercerita dari hati #eeaa mulai #baper ).

?

Setiap orang pasti pernah mengalami masa kecil kan? (ya iyalah..kalau langsung gede serem amat). Sudah menjadi kebiasaan umum, saat kecil kalau ditanya cita-cita pengen jadi apa, pasti jawabannya ?Ingin jadi Dokter?. Ingat nyanyian zaman boneka Susan, ?Susan..Susan..Susan, kalau gede mau jadi apa?? (*Generasi 90an pasti mendarah daging deh nyanyian boneka Susan ini :D). Termasuk masa kecil saya yang bercita-cita ingin jadi Dokter, dan waktu itu spesifik banget pengen jadi Sp.OG (a.k.a dokter spesialis kandungan), busyet dah... masih kecil udah tahu yang begituan (*eehh,...jangan ngeres please!!) alasannya karena suka banget elus-elus perut orang hamil, kalau lihat di jalan papasan sama orang hamil, entah kenapa tangan seakan refleks ngelus-elus tuh perut buncit si Ibu

Hari demi hari entah kenapa cita-cita itu mulai terlupakan, kala itu semakin menyadari kalau kuliah di kedokteran muahalnya minta ampun tersadar lahir dari keluarga pas-pasan. Terus saat mulai SMP, ketika ada pelajaran namanya Biologi, males banget sama tuh pelajaran. Haaa,,makin buyar dah entah mau jadi apa? Gimana pengen jadi dokter tapi belajar Biologi ogah-ogahan begitu.

?

Bicara pelajaran saat SMP, ada satu mata pelajaran yang nilainya ancur-ancuran lebih ancur dari matematika yang sangat ditakuti para pelajar pada umumnya. Ekonomi, ya..itu tuh nilai tugas saya ancur banget tugas LKS (Lembar Kerja Siswa) bisa dapet nilai 3 atau 4 (skala 10). Ga kebayang kalau ulangan tiba dong? (*I can?t imagine that!). Pelajaran itu sungguh sangat membingungkan apalagi kalau sudah bahas ?Prinsip Ekonomi? sama ?Motif Ekonomi? haduhhh..stres dah kebalik-balik mulu. Kadang malu sama guru-guru yang notabene siswa terpintar di kelas unggulan pula, tapi nilai tugas LKS Ekonomi bisa dapat 3 atau 4. Untungya, saat kelas 2 dan 3 nilainya sudah tak seburuk rupa pas kelas 1. Dan bersyukur banget saat itu pelajaran IPS tidak masuk pelajaran UAN yang menentukan kelulusan. Nasib saya bisa terselamatkan.

?

Singkat cerita pas kelas X SMA hahaii...ketemu lagi dengan mata pelajaran ekonomi. Dunia telah berubah meenn...gurunya keren banget kalau lagi nerangin. Fixed, nilai mata pelajaran ekonomi hampir dipastikan dapat nilai jajaran teratas diantara semua mata pelajaran. Kok..bisa ya berubah 180 derajat begitu? Selidik demi selidik ternyata nilai-nilai bagus yang saya dapat, sangat-sangat dipengaruhi oleh karakter si Guru yang mengajar. Hal itu bisa dibuktikan nilai bagus yang didapat seperti Ekonomi dan Fisika terutama, karena memang gurunya enak banget kalau ngajar. Setiap tugas, kuis maupun ulangan hampir dipastikan masuk nilai tertinggi diantara semua siswa di kelas itu.

Hingga semester 2 ada seleksi olimpiade mata pelajaran ekonomi, kalau ga salah baru tahun itu memang matpel ekonomi baru dimasukkan ke agenda olimpiade. Peserta seleksi dipilih dari seluruh siswa kelas X yang memiliki nilai bagus pada pelajaran ekonomi. Seleksinya bentuk tes tulis dalam 1 hari, entah soalnya berbentuk apa, saya lupa. Gotcha!!!! selang beberapa hari, hasilnya diumumkan dan saya masuk 3 besar yang didaulat akan menjadi perwakilan dari kelas X. Seingat saya memang waktu itu tak sendirian, tapi yang sanggup maju hanya saya sendiri. Wihiii...Alhmadulillah, saya bisa menunjukkan eksistensi saya. Proses mentoring dan persiapan dilakukan beberapa bulan sebelum lomba olimpiade dilaksanakan, saya dan beberapa siswa kelas XI IPS belajar bersama. Rintangan saat itu adalah saya harus belajar dan memahami pelajaran ekonomi dan akuntansi kelas XI dan XII. Ohh... lumayan menguras energi dan agak desperate, untungnya didukung sama guru dan kakak-kakak kelas yang baik dan mau mengajari. So..far dibikin enjoy aja. Saat olimpiade tiba, taraaam soal-solanya kebanyakan materi kelas XII dan akuntansi. Sedih sih..iyaa materi-materi yang belum begitu paham, tapi nothing to loose lah dikerjain sebisanya. Dan memang hasilnya, tidak masuk kandidat sebagai perwakilan kabupaten. It?s Ok! lah setidaknya dapat pengalaman berharga hehe..

?

Tak lama berselang, saatnya naik kelas XI dan memilih jurusan. Sempat melobi orang tua agar saya masuk jurusan IPS saja, karena suka sama pelajaran ekonomi. Dan melihat hasil psikotest yang pas awal masuk SMA, dimana hasilnya IPS (Sangat Tinggi) dibandingkan IPA (Tinggi) maupun Bahasa (Tinggi). Lobi kali itu sangat tak berhasil karena memang saya dipersiapkan untuk masuk salah satu universitas negeri ternama di kota Bogor. Ada tugas mulia dari orang tua untuk masuk ke universitas itu lewat jalur PMDK dan syarat utamanya harus dari jurusan IPA. Selain itu kalau pun tidak masuk jalur PMDK, masih bisa ikut UMPTN bisa milih jalur IPA maupun IPC kalau toh memang masih ingin ngambil kuliah di ilmu-ilmu sosial. Baiklah..sebagai anak pertama dan anak yang sangat penurut kala itu, dipilhlah jurusan IPA. Dan selama 2 tahun berkubang dengan pelajaran-pelajaran IPA. Doktrin orang tua tidak sampai disitu karena selain harus masuk kampus itu, jurusannya pun sudah ditentukan harus masuk jurusan Statistik.

?

?

Awalku mengenalmu.

Kala itu memang saya belum diizinkan untuk mengenalmu lebih dekat.

Kesempatan itu hanya berkenalan sekedar tahu nama dan karakter luaran kamu saja tidak lebih.

?

?


Di suatu kota kecil tempat ku dilahirkan.

2002 ? 2008.

?

?

?

  • view 185