DUA NONA DALAM TAXI

Vevi  R. Maretha
Karya Vevi  R. Maretha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Februari 2016
DUA NONA DALAM TAXI

Gedung-gedung pencakar langit di siang itu memang tak menyajikan kesejukan untuk para pejalan kaki. Kemacetan jalanan menambah keriuhan yang bertepatan dengan jam istirahat kantor.

Setibanya di gerbang keluar salah satu gedung di pusat bisnis Ibu Kota, kami memberhentikan taxi untuk membawa kami kembali ke kantor.


?Ah..sejuk sekali!!!?, kata kami dengan ekspresi yang sama sesaat baru masuk taxi.

?Nona-nona hendak pergi kemana?? sahut sopir taxi.

? Ke komplek kampus, Pak!? timpal temanku.

?

Hening.

Mataku tertuju ke kiri jalanan begitupun temanku, matanya tertuju ke kanan jalanan.


?Nona-nona ini masih kuliah? Karena tujuannya ke komplek kampus?, pertanyaan Pak sopir yang membangunkan kami dari lamunan sejenak.

Serentak kami ketawa dan berkata, ?Alhamdulillah?ternyata kita masih terlihat seperti anak kuliahan hahahaaa?.


?Tidak Pak, kami bekerja disana?, timpalku.


?Nona-nona ini sudah menikah??, pertanyaan tembakan seketika untuk kami.


Untuk pertanyaan yang satu itu, kami pun terdiam tak berdecak.

?Hmm..hmmm..kebetulan belum Pak?, lagi-lagi mulut kami mengeluarkan ekspresi dan intonasi yang sama.

?

?Oalah..kenapa toh? Saya lihat nona-nona ini sudah pantas untuk menikah. Jangan hanya mementingkan karir lantas lupa untuk mencari pendamping hidup?.


Busyet..Pak..Pak, jangan bahas itu apa. Bahas informasi kekinian kek..apa gitu. Hayati lelah kalau memikirkan itu, gerutuku dalam hati.


?Tidak juga Pak, memang belum menemukan saja hehee..?, tetiba temanku menyahut dengan intonasi datar.


Pak Sopir nya itu terus menasihati kami layaknya bapak kandung,

?Iya,,hidup di Ibu Kota ini hampir semua mengejar karir dan terkadang sampai lupa untuk menikah. Semoga nona-nona ini tidak termasuk yaa?.


?Aamiinnn?, kami menimpali.


Hening kembali.

Topik ini memang agak sensitif bagi perempuan-perempuan yang katanya sudah pantas untuk segera meninggalkan status kelajangannya. Tapi bagiku biasa saja, aku terdiam karena sudah mulai? mengantuk akibat perut yang terisi penuh makanan. Tapi kurang tahu kalau temanku itu, ekspresi mukanya selalu datar dalam hal apapun dan situasi bagaimanapun.

?Nona-nona boleh saya sedikit mengutarakan analisa saya, kenapa sampai sekarang nona-nona ini masih melajang?? kata Pak sopir yang lagi-lagi memecah keheningan.


Widihh..bapaknya ahli cenayang. Ah..ga mau dengerin yang begituan dan memang ga diperbolehkan untuk mempercayai hal-hal semacam itu. Dan yang paling penting, takutnya kepikiran aja gitu walaupun tak percaya tapi kan..kann?kann.. Gerutuku lagi dalam hati.

Kebingungan mendera hati, ingin menolak tapi ah sudahlah. Beberapa detik hening lagi.


?Saya diberi anugerah oleh Allah, sedikit bisa membaca batin seseorang. Wallahu a?lam nanti benar atau tidaknya, kan nona-nona sendiri yang merasa?, bapaknya keukeuh pengen membuka aura kami, katanya.


?Saya mulai dengan nona yang sebelah kiri?.


Wihhh..giliran saya dulu nih.

?Ga boleh percaya, please ga boleh percaya!!!? kataku di dalam hati sembari terus mendengungkan kalimat ?ga boleh percaya!?.

?

?Nona ini ingin membuktikan kepada laki-laki bahwa Nona bisa hidup kuat tanpa laki-laki?, tetiba kalimat itu keluar dari mulut Pak sopir.


Seketika aku terperanjat dari lamunanku dan spontan mengangkat punggung dari senderan kursi mobil, kenapa kalimat itu sama persis seperti kalimat yang dulu sempat terlontar dari mulutku.

?Pak, kok bisa sama sih? Dulu aku bilang begitu kepada Ibuku.? kataku dengan nada sedikit tinggi karena saking penasarannya.

?

?Nona, sudahlah buang rasa sakit itu. Yang lalu biarlah berlalu. Wanita itu tak bisa kuat tanpa laki-laki begitupun sebaliknya. Allah menciptakan segala sesuatu itu berpasang-pasangan. Nona juga tidak mau kan menyendiri terus??

Ah..lagi-lagi kenapa Bapak ini mengeluarkan itu semua?. Kenapa semuanya sama persis? Ah..ah..dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang seketika memenuhi otakku. Aku sudah bilang kan..jangan percaya hal-hal itu tapi pernyataan-pernyataan Bapak itu seolah perlahan menggoyahkan benteng yang sedang kubangun.


?Alhamdulillah..sudah mulai recovery kok Pak. Seiring waktu perlahan aku sudah merelakan semuanya?, timpalku seolah pertahanan diri mulai muncul.

?

?Saya memiliki 3 orang anak dan kebetulan laki-laki semua, maka dari itu saya titip benar-benar kepada ketiganya. Jangan sampai menyakiti hati perempuan, kalau sampai kejadian bisa fatal akibatnya?, kata Pak sopir yang seolah sedang menasihati ketiga anak lelakinya.


?Nah..kalau nona yang satu lagi. Ini terkendala di restu. Mantapkanlah pilihan yaa Nona? giliran si Bapak berbicara ke temanku.

?hmmm..oh gitu ya Pak?, lagi-lagi timpalnya dengan sangat datar.


Bapaknya tahu saja mana lawan bicara yang sangat responsif dan agresif. Tetiba kembali si Bapak mengalihkan lawan bicaranya.

?Nah..balik lagi ke Nona sebelah kiri?.

Ah,,,lagi-lagi kenapa aku lagi yang jadi sasaran empuk buat si Bapak.

?Susah banget melumpuhkan hati Nona yang satu ini, sepertinya perlu melakukan cara-cara yang tak biasa untuk mendapatkan hati Nona, betul begitu??


Aisshhhh?antara senang dan sedih. Oh..iya kalau hati perempuan susah didapatkan, berarti bagus dong, hanya bisa jatuh ke tempat yang semestinya, ga bisa dimainin seenaknya. Sedih sih berarti banyak lelaki yang mundur karena susahnya kebangetan dan..dan tapi kok kenapa bisa sakit juga pada akhirnya. Sepertinya untuk analisa beginian, aku kurang lihai dalam membaca hati.

?Sedangkan Nona yang sebelah kanan ini mudah banget, justru kebalikannya. Istilahnya di elus-elus aja hatinya dikit langsung klepek-klepek?

Sontak kami tertawa bersama dan ketawaku paling kencang seraya berkata ?Murahan sih hati kamu?.

Oh..Tuhan maafkan aku. Aku tidak ingin percaya semuanya, tapi gerangan apa hingga kalimat demi kalimat yang terlontar dari mulut Bapak itu ingin aku benarkan semua. Namun, keegoanku yang tinggi seolah terus menutupi itu semua. Dan terus mengabarkan diri bahwa semua baik-baik saja yang mungkin malah berkebalikan dengan situasi sebenarnya.

Ku lihat temanku masih santai-santai saja dengan muka datarnya. Aku mencoba ceria , senyum-senyum tak jelas seolah ingin segera melupakan kejadian hari ini.? Apakah ini hanya ilusiku saja? Kalau meminjam bahasa kekiniaan mungkin hanya saya saja yang baper. Ah..sudahlah everything happen for the reason.


?Tenang Nona, jodoh sudah ada di depan mungkin tak lama lagi, rupanya ganteng?, kata Pak Sopir yang seolah ingin menghiburku.


?Hahaaa..haaa?ya iyalah ganteng kan laki-laki Pak?, kataku sambil tertawa yang sedikit agak dibuat-buat.



?Gedung depan berhenti ya Pak!?, temanku tetiba menyahut padahal dari tadi dia hanya silent listener.

?Aamiin ya Pak, doakan kami semoga nona-nona ini dimudahkan jalannya untuk menemukan pendamping hidup?, kata terakhirku sambil menutup pintu taxi.

?

Setibanya di kubikel, sadar diri punya kepribadian yang sangat melankolis. Apa mau dikata, masih terngiang pernyataan-pernyataan Bapak sopir itu. Tapi terus ku bujuk hati ini untuk terus berpikiran positif, banyak jalan Tuhan untuk mengingatkan kealfaan hamba-hamba-Nya.

Ambil nasihat-nasihat positif Bapak tadi. Lapang dan ikhlas itu kuncinya! . Sembari memohon ampun atas kekhilafan-kekhilafan diri.

Manusia tempatnya salah, sangat-sangat boleh melakukan suatu dosa. Tapi lantas segera bertobat dan kembali kepada aturan-Nya.


*Note!!!


Jangan terlalu cinta, nanti suatu saat benci jadi tak enak rasanya.

Juga jangan terlalu benci, nanti suatu saat cinta jadi malu pastinya.

Sebab yang bersatu bisa berserak.

Juga yang berserak bisa bersatu.

Andai di perjalanan, tak bisa lagi sejalan.

Suka-suka Allah saja, semua terjadi atas kehendak-Nya.

Tetap menetap atau balik berbalik pun juga atas pilihan-Nya.

Dan menariknya, yang berprasangka baik padamu, seburuk apapun lisan tulisan dan perbuatanmu, tetap akan indah baginya.

Tapi bagi mereka yang berprasangka buruk padamu, sebaik apapun lisan tulisan dan perbuatanmu, tetap akan buruk baginya.

Waspadalah waspadalah!

Ini kenyataan, yang tak bisa dielakkan.

- Febrianti Almeera-

?

?

Di satu waktu, di kepanasan Jakarta.

Oleh: Vevi R. Maretha

  • view 160