Perempuan dan Sebuah Pertanyaan: "Ga buka Hp?"

Vevi  R. Maretha
Karya Vevi  R. Maretha Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Februari 2016
Perempuan dan Sebuah Pertanyaan:

Sore itu aku pulang kantor seperti biasa, kalau melihat jam, memang masih agak sorean untuk ukuranku yang selalu memilih pulang agak malam.

Sesampainya di halte Transjakarta, tak lama kemudian bis menghampiri antrian para penumpang yang sudah dari tadi menunggu. Sepenuh apapun antrian, hampir dipastikan aku selalu memilih untuk masuk di space?perempuan. Ternyata bisnya lumayan kosong dan ada 1 kursi kosong agak depan di belakang?space sopir. Tanpa berpikir panjang, naluri untuk duduk mengarahkanku ke kursi itu. Maklumlah pemandangan kursi kosong sangat sangat jarang aku temui.

Sesaat baru duduk,
"ga buka Hp?"
Sebuah pertanyaan tembakan seketika yang ?dilayangkan dari seorang perempuan yang berada tepat di sebelah kiriku.
"Engga", spontan jawabku sembari mengatur nafas yang kian mencekat?ngos-ngosan.

Langsung ku dekap goodie bag?hijau yang ada di tangan kananku. Tas tempat dimana aku menyimpan Hp yang kebetulan tak ku simpan di tas?gemblok?ku seperti biasanya. Selama perjalanan menuju halte transit yang hanya berjarak empat halte saja. Dadaku berdebar langsung berpikir yang aneh-aneh.

Betapa tidak aku berpikir macam-macam!

Sosok perempuan itu berwajah oriental, rambut kuncir sedikit berantakan, kacamata lensa tipis dengan model?frame standar membingkai matanya. Sepatu hitam kulit era 80-an, yang sewaran dengan tas selempangnya. Berbaju kodok (overall) jeans yang warnanya memudar dengan sobekan-sobekan tepat di atas sepatunya,?t-shirt lengan pendek belang-belang horizontal?black and white, renda-renda warna salem menambah hiasan kaos di dada kirinya.?

Sekilas memang tampak biasa saja tetapi ada yang lebih?nyeleneh, perempuan itu membawa buku yang lusuh dan sudah tak ber-cover yang tebalnya jauh jauh lebih tebal daripada tafsir kitab suci yang pernah ku temui. Sesekali aku lirik buku itu, bahasnya?Indonesia dan langsung kusimpulkan kalau buku itu semacam novel?jadul. Walau?dada berdebar tapi?kekepoan ku sangatlah kuat. Masih penasaran dengan gelagat perempuan ini. Dan saking keponya, ciri khas wanginya pun aku endus-endus..yaaa! mirip wangi salah satu sabun batang Life****.?

Selama perjalanan itu pula tak berani aku buka-buka Hp yang biasanya untuk mengusir kejenuhan di bis minimal aku pasang?earphone dan memutar lagu favorit.?

Hingga sampailah di halte transit, sengaja aku berdiri duluan daripada perempuan itu. Jujur aku sedikit takut. Tapi apa mau dikata, perempuan itu tepat dibelakangku.
Ouchhhh...makin tambah deg-degan, ku pacu langkahku secepat mungkin. Sembari sesekali mataku menoleh ke belakang untuk memastikan masih ada jarak antara aku dan perempuan itu.?

Tak lama menunggu bis transit, sengaja aku lewat pintu tengah walau harus berdesakan dengan para lelaki kekar.
Good job! masih ada kursi kosong , lagi-lagi tanpa pikir panjang naluri untuk duduk sangatlah kuat mengingat kemacetan yang selalu mendekap di keseharianku. Masih ada dua lelaki yang duduk, padahal itu ?koridor perempuan. Akhirnya mereka ditegur sama perempuan yang ada di depanku untuk pindah ke koridor belakang, koridor untuk laki-laki.?

Voila!
Kursi kosong yang ada di depan arah serong kiri dariku langsung ditempati perempuan oriental dengan novel lusuh?dan super tebalnya?itu.

Ouchhhh!!!!!
Gerangan apa lagi ini? Untungnya rasa ketakutanku sudah mulai bisa di netlalisir. Jeda?beberapa menit, aku terus memperhatikan gerak-geriknya. Aku pun belum berani membuka Hp karena masih ingat jawabanku di perjalanan sebelumnya bahwa aku "engga" membuka Hp.?

Kacamata yang dilepasnya kembali disandarkan di hidung mungilnya. Sesekali novel lusuhnya itu dibacanya. Tangan kanannya sesekali mengeluarkan Hp miliknya yang tersimpan di saku baju kodoknya yang tepat berada di dadanya. Hp nya sangat mini, walau zaman dulu sebelum datang pasukan?smart system android, IOS, windows phone dan teman lainnya itu, merk Hp itu digadang-gadang sebagai Hp sejuta umat.?
Ya...Hp model?toots dengan layar sangat mini. Mungkin bagi kebanyakan?orang di zaman kekinian banyak?yang menggunakannya hanya sekedar Hp pelengkap yang kedua, ketiga dan setersunya.
Tapi menurut analisaku itu Hp memang kepunyaannya yang utama alias?numero uno.
Ah..sudahlah!?

Jalanan memang macet seperti biasanya. Lagi-lagi sembari menuliskan cerita ini di Hp, lirikan mataku tetap tertuju padanya. Namun sayang, di halte berikutnya tepat satu halte setelah halte transit, perempuan itu turun.?

Ada semacam senang dan tenang, ada pula semacam kecewa karena tak bisa lagi kuperhatikan gerak-gerik perempuan itu. Rasa penasaranku belum terjawab.

Entahlah, perempuan itu darimana dan hendak kemana. Tapi aku merasa ada yang sedikit aneh, mungkin bisa dibilang antimainstream. Sesekali rasa penasaranku kembali muncul apa maksud pertanyaan itu "Ga buka Hp?". Harusnya tadi aku kembali bertanya "Emang kenapa dengan membuka Hp?". tapi..ya sudahlah kepanikan sudah menguasai diri yang ada hanya terdiam dan mengamankan barang-barang berharga.?

Sebegitukah parnonya?
Semacam pertahanan diri yang harus terus selalu dijunjung tinggi walau terkadang pikiran-pikiran negatif jauh memenangi sisi keempatian diri.?
Setiap gelagat aneh yang ku dapati dimanapun kapanpun selalu?berharap itu hanya pikiranku saja dan semua akan?baik baik saja.

Terlepas dari pikiran-pikiran negatif itu, ada semisal?style melawan arus yang dilakukan perempuan itu. Betapa tidak aku katakan melawan arus. Dilihat dari gaya berpakaian, novel yang dibawanya, dan tetap bagiku adalah pertanyaan itu.?

Haiii...perempuan berwajah oriental!
Aku masih penasaran dengan pertanyaanmu itu.
"Ga buka Hp?".

Jakarta, 29 Januari 2016
Di suatu sore di tempatku merantau dan tempat ikhtiarku mencari rizki-Nya.

Oleh: Vevi R. Maretha

  • view 205