Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 24 Maret 2018   14:09 WIB
Seni Bertahan Hidup

Seni Bertahan Hidup Mahasiswa Teknik Sipil

 

Berawal setelah saya lulus dari SMA pada tahun 2016, saya berniat untuk melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi yaitu perguruan tinggi. Dari awal saya mempunyai impian untuk bisa masuk ke PTN, namun harapan itu seakan pupus sudah karena pada akhirnya saya kuliah di PTS.

Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya akan kuliah di PTS, karena pada dasarnya impian saya untuk bisa masuk ke PTN sangat kuat. Dibalik kegagalan mencapai impian untuk kuliah di PTN, ada alasan tersendiri dari diri saya untuk menentukan pilihan untuk kuliah di universitas swasta.

Orang tua saya mempunyai andil terbesar dalam menentukan pendidikan saya, terutama ayah saya yang menginginkan anaknya kuliah di jurusan teknik sipil. Saya bukan orang yang pintar, tapi tidak bodoh-bodoh amat untuk tidak menargetkan bisa kuliah di PTN sesuai keinginan hati saya. Bukannya sombong atau tidak bersyukur jika hanya kuliah di universitas swasta, namun hatiku seperti tidak sreg (puas) jika tidak kuliah di PTN. Sebelum tes ujian masuk PTN saya sudah dinyatakan menjadi mahasiswa salah satu PTS  pada jurusan teknik sipil. Saat itu ayah saya menyuruh saya kuliah disana saja dan tidak usah ikut ujian masuk PTN.

Tetapi saya dengan penuh keyakinan dan harapan bisa diterima di PTN, saya pun nekat mengikuti tes masuk PTN yang saat itu bernama seleksi bersama masuk perguruan tinggi nasional (SBMPTN). Saya pun juga mengikuti tes ujian masuk salah satu PTN terkenal di Indonesia pada jalur ujian mandiri (UM). Setelah ketar-ketir dan khawatir menunggu waktu pengumuman itu, akhirnya saya melihat secercah cahaya setelah saya dinyatakan diterima di jurusan teknik kimia salah satu PTN di Yogyakarta dan di jurusan teknik sipil salah satu kampus Terfavorite di Indonesia .Yang itu artinya saya tinggal memilih mau kuliah di PTS yang sebelumnya sudah diterima pertama kali atau kampus dikota pendidikan atau  kampus terfavorite se Indonesia !

Tetapi keadaan berkata lain. Ketika ambisi orang tua ku tidak sama dengan harapan kuKetika beliau tetap menyuruh untuk kuliah di PTS dengan alasan jurusan “teknik sipil” yang dibanggakan orang tua ku dan juga  tempat kuliah yang relatif dekat dengan rumah.

Suka atau tidak suka saya harus mengikuti apa kata orang tua saya. Seakan-akan menjadikan ambisi masa mudanya yang dulu tidak kesampaian sebagai hal yang harus anaknya capai. “Kamu harus nurut sama orang tua! Ini semua demi kebaikanmu” Nah, kalau sudah seperti itu? Saya hanya bisa diam dan mengikuti apa kata beliau. Bukan dengan senang hati lagi tetapi sudah dibalut dengan rasa terpaksa. Demi membuat orang tua saya bahagia sayapun akhirnya mengikuti saran beliau untuk kuliah di jurusan Teknik Sipil walaupun hanya di PTS.

Pertama kali masuk kuliah saya tidak terlalu terkesan dengan tempat dan suasana kampus, justru yang jadi berkesan itu jurusan yang saya ambil. Kehidupan saya di dunia perkuliahan mulai dari ospek, “gathering”, hingga KBM banyak mengajarkan saya arti kerja keras,persahabatan, kekeluargaan hingga mengajarkan saya arti bertanggung jawab. Ternyata memang benar jika ada yang bilang kalau Jurusan Teknik Sipil ospeknya paling keras. Semua berawal dari ospek jurusan.

Dari ospek tersebut saya mendapat teman yang mengisi perjalanan berjuang bahu-membahu dalam kuliah. Kuliah awal hanya disibukkan dengan ospek. Saat ospek semua diharuskan menggunakan pakaian kemeja putih dengan celana hitam lengkap dengan sepatu pantofel. Saat ospek sudah diberi tugas membuat makalah yang harus ditulis tangan sebanyak 500 kata yang saat itu sudah membuat saya tidak tidur semalam untuk mengerjakannya.

Kuliah di Jurusan Teknik Sipil sejak awal sudah ditanamkan pada kami bahwa kuliah di Jurusan Teknik Sipil itu keras, namun memiliki jiwa kekeluargaan yang luar biasa. Teman-teman seperjuangan inilah yang akan bersama-sama berjuang menghadapi kerasnya kuliah di Jurusan Teknik Sipil. Kuliah di Jurusan Teknik Sipil tidaklah gampang, dalam menjalaninya diperlukan kerja keras yang luar biasa. Bagi mahasiswa jurusan lain mungkin Jurusan Teknik Sipil terlihat biasa-biasa saja, padahal mereka tidak tau kalau didalamnya penuh dengan air mata dan tangisan para mahasiswanya. Ini bukanlah jurusan yang mudah ! Apalagi kuliah di tenik sipil sangat sedikit ceweknya, bagi sebagian orang salah satu penyemangat kuliah adalah cewek-cewek yang enak dilihat dan dipandang.

Ternyata yang selama ini saya bayangkan tentang indahnya dunia perkuliahan terpatahkan dengan rumitnya kuliah dan menumpuknya tugas. Hampir semua mata kuliah di teknik sipil adalah hitungan, dan ilmu pasti. Bisa dikatakan senjata para mahasiswa Jurusan Teknik Sipil adalah kalkulator. Para mahasiswa Jurusan Teknik Sipil sering dihadapkan dengan hitungan-hitungan yang sangat rumit. Bahkan terkadang dihadapkan dengan soal yang tidak bisa dihitung menggunakan kalkulator. Misalnya seperti saat mata kuliah hidraulika yang harus menggunakan aplikasi software untuk menyelesaikan soal tentang goal seek dan solver.

Sejauh ini kuliah yang saya jalankan berjalan lancar, saya lebih menyukai semester awal, karena mata kuliah yang diajarkan lebih mudah dan juga belum banyak praktikum. Walaupun materi yang diberikan terbilang mudah tetapi di semester awal ini sudah bisa membuat mahasiswa menjadi gila dengan tugas-tugasnya dan juga laporannya. Bukan Teknik Sipil namanya jika diakhir jam pelajaran dosen tidak memberikan tugas. Soal yang diberikan bisa dikatakan simpel, hanya dua atau tiga baris tetapi jawabannya bisa setebal novel Dilan. Banyak juga tugas menggambar, seperti membuat garis-garis lurus dengan jarak 1 mm menggunakan rapido 0,2 di kertas A3 sampai penuh. Dan juga menggambar denah rumah yang tidak sekali menggambar langsung bisa diterima oleh dosen. Tidak afdol rasanya bagi dosen jika belum mencoret-coret hasil gambar mahasiswanya.   

Tidak hanya dibuat gila dengan tugas, mahasiswa Teknik Sipil juga di buat gila dengan laporan praktikum, bagaimana tidak gila ? jika setiap kali mau asistensi laporan kita harus rela datang pagi-pagi buta disaat mahasiswa jurusan lain masih mengukir cita-cita didalam mimpi kita sudah harus dikampus untuk sekedar antre untuk bisa ketemu dan asistensi dengan dosen. Kita harus menunggu dari jam 3 dini hari dengan ketidakpastian apakah dosennya akan datang atau tidak. Sesekali para mahasiswa di buat senang saat dosen sudah datang tetapi saat akan asistensi beliau berkata “saya mau jeput anak saya pulang sekolah dulu” seketika hati rasanya ingin berkata kasar. Tetapi apalah daya mahasiswa, hanya bisa kembali menunggu dosen sampai datang. Itu bukan salah dosen. Dosen Teknik Sipil selalu benar. Dengan semua penderitaan perjuangan di semester awal ini bukanlah apa-apa. Ini barulah awal, saya selalu ingat cerita-cerita hebat tidak pernah lahir dari mulut orang yang hidupnya selalu serba enak.

Seiring berjalannya waktu saya mulai bisa beradaptasi, mulai terbiasa menerima keadaan. Namun, saat semester dua memang terasa lebih berat lagi beban yang ada. Dimana mata kuliah yang semakin susah, tugas dan praktikum yang semakin banyak di semester dua ini. Setidaknya ada tiga praktikum saat di semester dua. Semakin banyak praktikum berarti semakin banyak juga laporan yang harus dibuat.

Bisa dikatakan yang paling membuat gila para mahasiswa Jurusan Teknik Sipil adalah laporan praktikum. Bahkan hanya untuk menyelesaikan laporan praktikum mahasiswa sampai rela tidak tidur semalaman. Mengerjakan laporan itu makan waktu, makan pikiran, makan hati, makan uang, makan teman, dan masih banyak lagi.

Makan waktu, karena waktu pengerjaannya yang relatif singkat, untuk menyelesaikan satu laporan hanya diberi waktu sekitar 3 minggu setelah praktikum dilaksanakan, dan harus selesai tepat waktu. 24 jam sehari serasa kurang, satu hari terasa sangat cepat berlalu. Walaupun terkadang sering diberi kelonggaran waktu dead line yang mundur dengan beberapa alasan. Bayangkan kalian harus menyelesaikan 3 laporan praktikum dalam waktu sesingkat itu dan sebanyak itu. Padahal masih banyak tugas-tugas lain dalam perkuliahan. Seakan-akan para mahasiswa dituntut mendahulukan laporan praktikum dari pada kuliah di dalam kelas. Bahkan sering kali terjadi mahasiswa bolos masuk kuliah dengan alasan mengerjakan laporan praktikum.

Makan pikiran, karena dalam mengerjakan laporan praktikum tidaklah semudah yang dibayangkan. Sangatlah menguras pikiran para mahasiswa, apalagi jika mengalami kesalahan data saat praktikum. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang berbuat curang dengan melakukan “sonji” data agar laporan cepat selesai dan segera di ACC.

Makan hati, karena laporan yang dikerjakan belum tentu benar di mata asisten dan dosen. Sering kali masih harus mengulang untuk di perbaiki, atau yang biasa di sebut “revisi”. Bahkan sampai-sampai ada mahasiswa yang membuat stiker bertuliskan “RATAU TURU, KAKEAN KOPI, SESUK REVISI”.

Ya, memang benar jika dikatakan seperti itu. Jangankan waktu untuk tidur, sekedar untuk mandi dan makan saja tidak ada. Tidur seperti hanya sekedar kata. Hal ini lah yang menyebabkan mahasiswa Jurusan teknik Sipil sering terkena penyakit tipes. Makan tidak teratur, jam tidur kurang, dan kebanyakan minum kopi karena sering begadang.

Makan uang, karena untuk menyelesaikan  satu laporan bisa menghabiskan ratusan kertas hvs A4. Jadi bisa dibayangkan berapa banyak uang yang harus digunakan untuk print data laporan yang berulang kali “revisi”. Sedangkan kebanyakan mahasiswa adalah anak kost, yang jatah uang saku untuk makan saja terkadang kurang.

Makan teman, karena praktikum tersebut dikerjakan secara berkelompok. Jadi, antar teman dalam kelompok terjadi perbedaan pendapat yang mengakibatkan perselisihan. Bahkan terkadang hanya karena masalah antre asistensi dosen juga memicu permusuhan sehingga hubungan pertemanan menjadi taruhannya.

Selama semester dua berjalan, terasa waktu satu semester berlalu begitu cepat. Berjuang menyelesaikan laporan dan juga tugas-tugas dari dosen. Akhirnya semua kerja keras selama semester dua ini seakan terbayarkan setelah IP saya mengalami kenaikan dari semester sebelumnya. Saya selalu percaya kalau tidak yang sia-sia dari semua usaha yang dilakukan. Tuhan tahu seberapa kita berjuang. Walaupun terkadang ada usaha yang tidak membuahkan hasil. Semacam tidak semua pohon perlu berbunga dan berbuah, tapi pada akhirnya semua akan berguna.

Dalam masa kuliah yang saya jalani hingga semester tiga, tidaklah selamanya berjalan dengan apa yang saya harapkan. Banyak kendala yang saya hadapi, walaupun sudah mulai terbiasa dengan situasinya, selalu saja ada masalah yang menghampiri di setiap semesternya. Disemester tiga inilah saya mulai merasa nyaman dan lebih bisa menyesuiakan diri. Saya semakin giat belajar dan rajin “sharing” dengan teman sekelas tentang mata kuliah yang sulit saya mengerti. Sayapun sering diberi nasehat dan motivasi orang tua saya ketika saya mengeluh dengan susahnya kehidupan diperkuliahan. Nasehat dan motivasi dari beliaulah yang membuat saya dapat bertahan merasakan kerasnya kuliah di Jurusan teknik Sipil demi bisa mewujudkan impian saya dan membanggakan kedua orang tua saya.

Kekuatan yang besar adalah saat doa kedua orang tua saya memberikan secercah cahaya untuk lebih semangat lagi dalam menjalankan kuliah. Doa-doa yang beliau panjatkan dalam diamnya, seringkali yang membuat saya tetap beruntung dan kuat menghadapi setiap masalah. Tidak peduli apa kata orang tentang saya, yang saya tau hanya belajar, belajar, dan belajar. Tidak peduli penilaian orang, mau jelek, mau gagal, mau berhasil, yang penting saya belajar dan berdoa. Saya selalu ingat ada orang yang bekerja keras membiayai kuliah saya, ada orang yang selalu menyebut nama saya dalam doanya, ada orang yang selalu membanggakan saya, dan ada mimpi yang harus menjadi nyata. Mengejar mimpi hingga suara cemoohan itu berubah menjadi tepuk tangan.

Tidak hanya faktor orang tua yang membuat semangat, tetapi rasa solidaritas tinggi yang tertanam dalam diri mahasiswa Fakultas Teknik yang juga menjadi salah satu alasan bisa bertahan menghadapi semua tantangan. Solidaritas yang tinggi ini juga ikut terbawa sampai hubungan dengan teman yang sama-sama berjuang sebagai mahasiswa Teknik.

Oleh karena itu insya allah apa yang saya jalani sampai semester tiga ini tidak akan sia-sia apalagi dengan usaha dan doa kedua orang tua saya. Tidak ada yang sia-sia dari semua usaha yang telah dilakukan. Semua sudah diatur. Jika seseorang tampak beruntung, sejatinya itu harga setimpal atas usahanya di hari-hari lalu. Tuhan tau seberapa umat-Nya berjuang.

Dari semua pelajaran yang saya dapatkan dibangku kuliah selama tiga semester ini, apapun yang ingin dinikmati dengan mudah, selalu mengharuskan untuk kerja keras mengatasi setiap kesulitan dan tantangan. Jangan sampai punya otak yang lupa caranya mikir, punya bibir yang lupa caranya senyum dan punya tangan yang lupa caranya kerja keras. Dengan usaha dan kerja keras insya allah dapat membuat hari lebih indah tanpa lupa bersyukur kepada-Nya. Tidak ada nikmat Tuhan yang lebih indah dari bersyukur. Karena pada akhirnya usaha akan percuma saja tanpa doa. Karena selain usaha diri sendiri, sukses itu juga datang dari doa orang-orang yang sayang dengan kita.

Karya : Vernando Bintang Ivak Dalam