Bimbang

Vera Rosita
Karya Vera Rosita Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Agustus 2017
Bimbang

Sekitar pukul 09:34 WIB, dalam durasi kurang lebih 1 jam 33 detik itu dia mencurahkan isi hatinya yang mungkin dalam keadaan terpaksa (sebab memang aku yang sengaja memaksanya, hehe)..

Ku dengar sendiri bagaimana caranya menyampaikan, sedikit gugup dan ragu untuk mengatakan, namun dengan segenap keberaniannya, akhirnya ia mampu mengatakan kata itu dengan jelas yang membuatku juga merasakan grogi yang tak terkira, karena ini adalah kali pertamanya aku mendengar perkataan yang ditujukan padaku secara langsung..

Tapi jujur, bagiku terlalu dini untuk memulai sebuah keseriusan yang belum tentu ke mana arah hubungan itu akan bermuara.. aku tidak tahu sampai kapan ia mampu bertahan dan memperjuangkan perasaannya di depan orang tuanya, dan untukku juga bagaimana kubisa meyakinkan orangtuaku agar dapat menerimanya. Bukankah cinta itu menguatkan? Kurasa tidak.. aku tidak menemuinya.. kuat bagiku hanyalah sebuah “kata manis” saja yang mendampingi cinta..

Semakin besar perasaanku, semakin besar pula keraguanku.. aku belum mampu memberinya jawaban yang harusnya sudah jelas jika tak perlu kufikirkan lagi untuk kesekian kalinya.. cinta bagiku bukanlah suatu hal yang penting.. bahkan untuk jatuh cinta pun kadang aku masih ragu dan takut.. karena prinsipku “jatuh cinta adalah siap menanggung resiko dan tanggung jawab”.. aku merasa masih belum pantas untuk menerimanya..

Sebenarnya aku tidak mengerti apa yang ia fikirkan ketika ia menyatakan “aku mencintaimu”, jujur di situ fikiranku buntu.. aku tak lagi mampu berikir jernih karena isi otakku dipenuhi dengan sedikit rasa bahagia dan ribuan perasaan takut. Takut akan cinta yang tak berarah.. apakah perasaan yang kau ucapkan itu akan mampu membawamu bersama denganku..

Mengapa aku lebih berfikir bahwa cintamu padaku akan terhalang oleh restu orang tuamu.. karena itulah aku belum mampu memberikan jawaban atas ungkapanmu.. semua tergantung padamu.. bahkan ketika kau bertanya “apakah kau bisa menerimaku apa adanya?”, rasanya hatiku dihinggapi ribuan rasa takut dan tidak percaya diri.. pertanyaanmu itu membuatku berfikir ratusan kali, apakah aku pantas mencintaimu? Apakah aku pantas denganmu? Apakah keluargamu akan menerimaku?.. entahlah, biar kupendam sendiri perasaan itu, karena sampai kapanpun kamu tidak akan mengerti tentang kekhawatiranku.

Aku juga mencintaimu dengan segala keraguanku.. dan seperti apa yang kamu katakan bahwa kamu tidak bisa menjanjikan apa-apa padaku, karena kamu sadar kamu merasa belum pantas untuk mengajakku ke arah yang lebih serius.. dan aku pun sama, tak ada harap yang lebih darimu, aku menyadari diriku ini siapa dan seperti apa, aku bahkan tak yakin dengan diriku sendiri.. dan ketika kau bertanya “apakah kau bisa mensupportku?”, spontan aku menjawab “kalau bisa kenapa tidak?”, bahkan dalam hatiku pun turut menjawab, “apapun usahamu akan selalu aku support, meskipun nanti suatu saat usahamu itu bukan untukku, aku hanya bisa berharap yang terbaik untuk masa depanmu. Karena aku juga menyayangimu”.

Bersambung...

 Bandung, 05 Agustus 2017

  • view 136