Rindu yang semakin subur

Vera Rosita
Karya Vera Rosita Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 25 Juli 2017
Rindu yang semakin subur

Malam semakin larut, udara malam turut serta menyerang
Dingin, menusuk tulang.. Sama dinginnya dengan sikapmu
Kuberanikan mata ini menikmati wajah galakmu
Wajah cantik yang dibalut sedikit "kejutekan"
Bagiku itu sungguh karya Tuhan yang indah dalam perpaduan yang pas
Wanita yang ku kagumi, kini berada di sampingku..
Tetap saja sifatnya "jutek".. Namun siapa sangka, dibalik juteknya itu tersimpan perhatian yang lumayan membuatku grogi..
Kulirik dia dengan mata sebelah terpejam agar tidak ketahuan jika ku sedang mencuri pandang wajahnya..
Sungguh aneh, sedari tadi dia memperhatikanku dengan seksama.. Entah apa yang membuatnya tertarik padaku..

Aku pura-pura memergokinya, ku kira dia bakal langsung mengalihkan pandangannya, namun ternyata dia malah semakin fokus memandangiku.. Ah yang benar saja, aku langsung salah tingkah..
Kututup mukaku dengan bantal, namun tetap saja ia memandangiku..
Karena rasa penasaranku, akhirnya ku beranikan bertanya "kenapa ngeliatnya gitu banget? Aneh ya mukaku?"..

Dia tidak menjawab, hanya saja tangannya yang bermain di atas hidungku ditambah sedikit senyum simpul sudah mewakili jawaban yang harusnya keluar dari mulutnya..
"Oh.. Jadi wanita itu suka main kode?", tanyaku sambil tersenyum dan menaikkan alis kananku.
"Ah engga, itu loh hidungmu mancung banget.. Aku suka", jawabnya dengan nada yang tumben sangat lembut..

Mendengar jawabannya, rasanya jantungku berdetak sangat kencang sekali. Aku yang hanya bisa merindukannya dari jauh, kini benar² aku bisa disampingnya.. Entah harus bagaimana lagi aku menceritakan kebahagiaanku ini..
Sementara aku menahan kantukku, dia mulai terlelap, dan tak sengaja bersandar di pundakku..
"Tuhan... Berdosakah jika kubiarkan dia seperti ini?", kupandangi wajahnya yang lucu, wajah yang suka ngambek lalu tiba² ceria.. Aku menyukai pose tidurnya yang lucu.. Ingin sekali ku cubit pipi bakpaunya, tapi takut membangunkannya.. Hehe kan dia ngambekan..

Tangannya erat memegangi lengan kananku, dingin memang udara malam itu, aku membiarkannya saja, mungkin dari switterku dia bisa menghangatkan jemarinya..
20 menit berlalu dia tidur di pundakku, aku hanya bisa diam dan menikmati keadaan ini.. Sambil kumerenung memikirkan planning²ku ke depan, kusandarkan pipiku di kepalanya.. Dan aku kaget ketika dia terbangun.. Seketika aku merasa bersalah karena telah lancang..

Basa basi aku bertanya "ngga bobo lagi? Masih lama paginya, hehe", ku pandangi dia yang langsung membuang muka ke arah jendela.. Kulihat raut mukanya yang masih ngantuk dan jilbabnya yang sudah tidak berbentuk.. Hehe..
Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.. Ia hanya mengambil kaca dan membereskan jilbabnya, dasar wanita, kemanapun pergi pasti bawa pasangan (kaca).. Hehe, dan entah dia sadar atau engga, dia balik lagi tidur dengan sengaja bersandar dipundakku.. Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengatur posisi dudukku agar sebisa mungkin membuatnya nyaman berada di sebelahku..

Dan kali ini dia memegangiku dengan sangat erat, dan rasanya beda dengan pegangannya yang diawal.. Seolah aku melihat ada kecemasan diwajahnya.. Ya, wanita yang ku kagumi sedang cemas..
Aku tidak tahu dan aku tidak mau mengganggunya di tengah tidur lelapnya.. Sesekali dia bangun dan tetap menyandarkan pipinya di pundakku sambil memandangiku.. Aku pura-pura terpejam dan mengiyakan pandangannya terhadapku..

Tak ada kata yang terucap dari mulutnya, matanya yang sipit terus saja memandangiku.. Kuyakinkan padanya bahwa ku sudah tertidur dengan ekspresiku, namun sepertinya aku gagal dan mimik wajahku terbaca olehnya..
"Kamu gapapa kan aku nyandar gini? Kalo besok sakit gimana pundaknya?", katanya dengan suara yang hampir tak terdengar dan dekat sekali dengan telingaku..
Aku menoleh ke arahnya, beradu tatap antara mataku dan matanya, kuyakinkan kembali "gapapa kok, kan laki-laki harus kuat, hehe.. Bobo lagi gih, besok ngantuk loh", rayuku agar dia tak bertanya aneh² lagi.. Hehe

"Beneran? Makasih ya..", jawabnya singkat lalu melanjutkan tidurnya..
Berjam-jam telah berlalu, pegal rasa pundakku karena disandari sejak tadi, namun tak mengapa, aku merasakan kenyamanan ketika ia bersandar di pundakku.. Apa karena aku tidak ingin kehilangannya?
Rasanya ditengah perjalanan ini, aku tak ingin cepat sampai tujuan, agar dia selalu ada di sampingku.. Asal dia tahu, aku bahagia berada didekatnya, apalagi bisa menjaganya..

~Bersambung

  • view 45