Melepaskan angan

Veramuna Risqyana
Karya Veramuna Risqyana Kategori Renungan
dipublikasikan 19 Juni 2017
Melepaskan angan

Aku masih belum bisa melepasmu. Bahkan ketika tak ada satu alasan pun untukku bertahan. Ketika semua kawan seperjuangan telah lenyap. Meski tak bisa kau kuraih sendirian.

Apakah sepenting itu? Apakah semenyenangkan itu menaklukanmu?

Kenapa hatiku tertinggal disana?

Kenapa bau belerang, debu bertebangan yang menyesakkan, bau basahnya tenda, rerumputan, dan hujanmu justru membuatku tak mampu beranjak.

Kenapa bunyi-bunyi burung yang banyak, serangga-serangga entah apa, koyakan angin di tenda yang mengkhawatirkan, serta berisik manusia bercengkerama tak bisa luput dari otak.

Kenapa langit malam yang dihiasi terlalu banyak bintang hingga tak istimewa lagi, bebatuan kerikil yang masuk-masuk ke sepatu hingga menyakiti kaki, dan kelelahan tak berarti hingga tak terdengar suara selain nafas sendiri tak membuatku gentar mendaki.

Sungguh, aku sadar betapa terlalu banyak hal kukorbankan untuk ini. Terlalu banyak kesempatan yang lewat karena kekeraskepalaanku dalam hal ini.

Sepenting itukah mendaki?

Bukankah nikmat-Nya banyak tak terhitung. Kenapa bersusah-susah mencari bahagia. Bukankah kebahagiaan ada dalam diri? Kenapa mengalahkan diri sendiri dalam mendaki, kenapa tak mengalahkan nafsu duniawi?

Aku tau pada akhirnya nanti aku akan melepasmu.

Suatu saat nanti, list gunung yang ingin didaki, dan segala janji-janji akan dilalap usia.

Tapi aku tak siap sekarang.
Meski setahun lebih tak kusambangi, anganku masih di puncak itu.

  • view 43