KISAH CINTA BORA DAN EDWIN.

VENIS META
Karya VENIS META Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 25 Januari 2018
KISAH CINTA BORA DAN EDWIN.

Nama               : Venis Finmeta

Tugas               : Cerita Rakyat

Mata kuliah     : Menulis Intensif

 

KISAH CINTA BORA DAN EDWIN

Empat tahun yang lalu Bora datang di Kupang untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Bapak Bora bernama Jonatan dan Mamanya bernama Damaris. Kedua orang tuanya menyampaikan pesan kepada Bora, bahwa sekarang mama dan bapa sudah mau melepaskan Bora untuk pergi ke Kupang demi masa depan, Mama dan Bapa hanya menitipkan pesan kepadanya.

Ho le lai feot mese koow, nait hem nao mus skol mu skol mok lalek.”   dari kedua orang tua Bora selalu di bicarakan terus samapai Bora meninggalkan orang tua dan sanak saudara di Kampung halamannya. Waktu terus berjalan dan saatnya Bora datang Kupang. Tibalah Bora di Kupang, untuk sementara waktu Bora tinggal bersama kakak sepupunya yang bernama Erna, baru keesokan harinya Bora bersama Erna pergi mencari tempat tinggal untuk Bora, setelah lama mencari akhirnya Bora mendapatkan tempat tinggal yang kosong bisa di tempatinya.

Hari demi hari, minggu terus berjalan, bulan pun demikian dan bahkan tahun sili berganti. Pesan-pesan yang disampaikan kedua orang tua Bora lama kelamaan sudah mulai ia lupakan. Puncaknya Bora menjalin hubungan dengan seorang laki-laki yang bernama Edwin. Pemuda itu berasal dari Amarasi. Hubungan Bora dan Edwin membuat mereka saling mengenal satu sama yang lain. Edwin anak tunggal dari satu keluarga. Bapak Edwin bernama Nikodemus dan Mamanya bernama Antoneta. Semakin lama keduanya larut dalam hubungan percintaan. Dan akhirnya mereka berdua memutuskan untuk memberitahukan hubungan mereka kepada keluarga mereka masing-masing agar hubungan cinta mereka berngkat ke pernikahan.

Edwin bagaimana kalau bulan depan kita ke rumah saya?” kata Bora.

Bisa! Tapi saya takut dengan kamu pun keluarga?” Jawab Edwin.

Kalau kamu mau takut terus nanti sampai kapan baru kamu mau kenal dengan  saya  pun keluarga  donk,” kata Bora.

Tunggu saya pikir-pikir dulu.” jawab Edwin

Setelah pertemuan mereka, Edwin dan Bora pulang ke rumah masing-masing. Edwin langsung menuju tempat tidurnya dan mulai merenumgkan kembali apa yang di bicarakan Bora tadi siang. Edwin mulai bertanya pada dirinya sendiri “Mungkin perkataan Bora benar, saya harus SMS Bora supaya ketemu. Dan membicarakan semuanya,” batin Edwin.

Lima belas menit kemudian Hp Bora bergetar, Bora pun cepat-cepat melihat Hpnya, ternyata ada pesan.

Ayang ketemu di perpus sekarang?” begitulah bunyi SMS dari Edwin pada Bora.

Lima menit kemudian “Buru-buru di balas oleh Bora menyatakan kesetujuannya.”

Satu jam kemudiaan mereka berdua pun ketemu di tempat yang di janjikan.

Ada apa, ko sms saya supaya ketemu di sini,” tanya Bora.

B setuju dengan apa yang tadi siang kamu bilang tu.” jawab Edwin.

Oow itu, jadi bulan depan kita jalan.” Kata Bora

Ok......” jawab Edwin

Nanti saya kasitau mama dan bapa kamu juga nanti kasitau kalau kita dua mau pi.” kata Edwin dengan penuh senyiuman.

”Ia” jawab Bora dengan tatapan mata yang penuh harapan.

Waktu terus berjalan, hari pun demikian dan tiba saatnya mereka berdua pergi ke rumah Bora. Tibalah mereka di rumahnya Bora. Kedatangan  mereka membuat keluarga Bora kaget. Orang tua Bora mulai bertanya pada keduanya.

“Itu siapa?” kata mamanya Bora.

Dia itu manantu mama.” Jawab Bora.

Nak, kamu itu masih sekolah kenapa pulang tidak bawah ijazah malah bawah manantu buat mama” kata Mamanya Bora.

“Ia saya tau Ma, tapi saya ini sudah 22 tahun, jadi kalau saya datang dan membawa kasih mama manantu itu pasti sudah menjadi pilihan saya Ma,” Jawab Bora menegaskan.

“Kalau begitu, Edwin pulang besok baru datang bersama orang tua, supaya urus nikah,” kata Mama Bora.

Dengan senang hati Edwin pun pulang ke rumahnya dalam hal ini memberitahukan kedua orang tuanya bahwa dia harus segera menikah.

“Mama dan bapa besok kita ke rumah Bora, orang tua Bora dan keluarganya sudah menunggu kita,” ucap Edwin kepada kedua orang tuanya.

“Ia Nak, kalau memang itu pihan kamu mama dan bapa ikut setuju,” jawab Mamanya Edwin dengan wajah bahagia.

“Kalau bapa bagaimana?” kata Edwin.

“Bapa juga setuju, asal kamu pikir baik-baik kalau itu adalah yang terbaik buat kamu,” jawab Bapa Edwin.

“Ia bapa,” jawab Edwin dengan penuh senyiuman.       

Waktu besok sudah tiba, Edwin bersama kedua orang tuanya pun pergi ke rumahnya Bora. Tiba di rumahnya Bora, kedua orang tua Bora dan kelurganya berjabat tangan dan saling bertukar siri pinang. Pertemuan antara  kedua keluarga besar ini sudah mulai dengan pembicaran inti mereka.

“Sekarang keluarga Edwin sudah ada di sini, pertanyaan saya bagaimana dengan kedatangan keluarga besar dari Edwin,” kata bapak Bora.

“Minta maaf, kedatangan kami untuk melihat anakan pohan pisang yang masih segar di sini,” jawab Bapak Edwin.

“Oia, silahkan,” jawab Bapa Bora.

Pertemuan antara kedua keluarga ini membuat hubungan cinta Edwin dan Bora semakin kuat. Akhirnya mereka mendapatkan apa yang mereka berdua inginkan. Keluarga Bora tidak sabar untuk menyampaikan hal selanjutnya.

“Bagaimana kalau bulan depan mereka berdua menikah,” usul mamanya Bora.

“Bisa, tapi bagaimana dengan cara perkawinan di tempat ini,” tanya bapanya Edwin.

Bapanya Bora langsung menjelaskan proses tradisi perkawinan daerah Amanatun Utara. Tradisi pertama yaitu Ok totes. Tradisi ini adalah Perkawinan dengan peminangan atas bantuan juru bicara biasanya seorang pria yang menyetahui adat setempat, yang pandai bicara adat. Peminangan dapat dilakukan dengan memperhatikan barang bawaan pertama atau biasanya di sebut dengan Ok totes.

Ok totes terdiri dari satu oko yang berisi pinang muda, pinang muda tidak belah dan satu oko lagi berisi daun sirih disusun dan diikat dengan daun pisang. Sebuah tempat sirih pinang yang lain yang di sebut Ok tuke yang isi uang perak atau uang kertas. Waktu tiba di rumah perempuan juru bicara memulai pembicaraan peminangan. Kedua keluarga saling bertukar tempat sirih pinang yang khusus untuk makan.

Orang tua Bora mulai mengajukan pertanyaan pada keluarga Edwin atas kedatangan mereka, apa yang diinginkan? Keluarga Edwin secara iklas menyatakan keinginannya kepada orang tua Bora untuk mengambil anakan pisang yang ada di rumah ini. Untuk menjawab orang tua perempuan membutuhkan tiga atau empat hari.

Proses yang kedua adalah Moe Mamat atau nikah adat biasanya dilakukan sebelum menikah atau sesudah menikah bergantung pada pihak keluarga perempuan. Buat orang tua dari perempuan yang belum nikah adat berarti anaknya belum bisah nikah adat karena anak tidak biasa nikah adat mendahului orang tuanya. Sebab sudah dipercayai betul-betul dari nenek moyang buat anaknya melakukan nikah adat dahulu ia akan mati dan tidak memiliki keturunan.

Oko mamat atau tempat sirih pinag untuk nikah adat biasanya di tentukan oleh kesepakatan bersama-sama, tapi kalau biasanya laki-laki dari tempat lain dan tidak tahu dengan adat perkawinan di Amanatun Utara, maka keluarga perempuan memberitahukan keluarga laki-laki dengan cara menuliskan di satu lembaran kertas untuk keluarga laki-laki agar mereka dapat siapkan sesuai dengan kebiasaan adat perkawinan tersebut.

Proses yang ketiga adalah Kabin atau Nikah gereja di tentukan oleh kesepakatan bersama-sama bahwa dari kelurga laki-laki hanya membawa satu ekor kerbau dan satu karung beras tidak melebihi dari itu. Entah mau cukup atau tidak cukup keluarga laki-laki tidak ada sangkut pauddengannya. Bila tidak cukup yang berhak untuk menambah adalah keluarga perempuan.

Sesudah menikah mempelai laki-laki wajib tinggal di rumah mempelai perempuan bersama keluarganya. Sebab adat yang mengatakan dari nenek moyang sampai sekarang tidak ada kata atau istilah belis dalam sistem perkawinan di Amanatun Utara. Tetapi mengenal sistem sistem kawin masuk.

Setelah kedua orang tua Edwin mendengarkan penjelasan dari bapa Bora, kedua orang tua Edwin pun bersepakat untuk Edwin dan Bora menikah bulan depan. keesokan harinya, Edwin dan orang tuanya pulang kembali Amarasi. Hari terus berjalan dan tibalah saatnya hari pernikahan antara Edwin dan Bora. Keluarga Edwin memenuhi semua proses tradisi perkawinan dan acaranya pun berlangsung dengan lancar. Akhir cerita cinta Bora dan Edwin Hidup Bahagia.

  • view 81