PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK

Valentina Lede Kaka
Karya Valentina Lede Kaka Kategori Lainnya
dipublikasikan 19 Januari 2018
PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK

 

PERAN ORANG TUA DALAM PENDIDIKAN ANAK

OLEH :

VALENTINA LEDE KAKA

MAHASISWA SEMESTER VII UNUVERSITAS MUHAMMADIYA KUPANG

 

 ABSTRAK

            Keluarga merupakan tempat pertama kali anak mengenal kehidupannya. Karena dalam keluarga, anak akan merasa tentram dan nyaman  untuk melangsungkan kehidupannya. Orang tua memiliki tanggung jawab yang besar terhadap pembentukan kepribadian dan pendidikan anak.  Oleh sebab itu, orang tua harus memiliki pengetahuan dan treatment cara mendidik anak sehingga kelak, anak nya menjadi anak yang sukses dalam merahi cita-citanya.

Kata Kunci : Pendidikan anak, Peran orang tua

 

PENDAHULUAN

            Keluarga merupakan tempat pendidikan pertama yang bersifat alamiah, karena dalam lingkungan keluarga seorang anak mulai mendapatkan pendidikan untuk yang pertama kalinya.  Dalam keluargalah anak dipersiapkan mengalami tingkatan-tingkatan perkembangannya untuk memasuki dunia lainnya seperti dunia orang dewasa, bahasa, adat istiadat dan kebudayaan.Disamping keluarga, masyarakatpun menjadi tempat pendidikan yang pertama yang bersifat alamiah.

Keluarga merupakan pendidikan yang pertama yang menyediakan kebutuhan biologis bagi anak dan sekaligus memberikan pendidikannya, sehingga mengahsilkan pribadi-pribadi yang dapat hidup dalam masyarakat sambil menerima dan mengolah serta mewariskan kebudayaannya.

 

Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang belum menikah. Di dalam kehidupan masyarakat dimanapun mempunyai fungsi yang sangat penting di dalam kelangsungan hidup bermasyarakat, didalam makalah ini akan dibahas tentang peranan sebagai lingkungan pendidikan anak


BAGIAN INTI

Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak

Orang tua harus memahami bahwa orang tua adalah sebagai penanggung jawab utama dalam pendidikan anaknya. Berhasil tidaknya seorang anak bisa dihubungkan dengan perkembangan pribadi orang tanya. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk mendidik, mengasuh dan membimbing anak-anaknya terutama dalam hal pendidikan.

Pendidikan merupakan hal terbesar yang selalu diutamakan oleh para orang tua. Saat ini masyarakat semakin menyadari pentingnya memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anak mereka sejak dini. Untuk itu orang tua memegang peranan yang sangat penting dalam membimbing dan mendampingi anak dalam kehidupan keseharian anak. Sudah merupakan kewajiban para orang tua untuk menciptakan lingkungan yang kondusif sehingga dapat memancing keluar potensi anak, kecerdasan dan rasa percaya diri. Dan tidak lupa memahami tahap perkembangan anak serta kebutuhan pengembangan potensi kecerdasan dari setiap tahap.

Ada banyak cara untuk memberikan pendidikan kepada anak baik formal maupun non formal. Adapun pendidikan formal tidak sebatas dengan memberikan pengetahuan dan keahlian kepada anak-anak mereka di sekolah.Pendidikan formal adalah pendidikan bertingkat yang dilakukan  atau dimulai dari SD sampai perguruan tinggi.Pada pendidikam formal ini berorientasi akademis, umum, program spesialisasi dan latihan secara profesional yang dilakukan secara terus menerus. Pendidikan ini bersifat sistematis, dan  berstruktur. Pendidikan formal ini biasanya kita sebut dengan pendidikan persekolahan, berupa rangkaian jenjang pendidikan dari mulai tingkat SD, SMP,SMA dan perguruan tinggi (PT). Pendidikan formal diselenggarakan dengan memberikan keteladanan, membangun kemauan dan mengembangkan kreatifitas siswa dalam proses pembelajaran.Melatih kemampuan, menghafak, menganalisa, memecahkan masalah dan mengembangkan logika siswa maka diharapkan anak memiliki kemampuan akademis yang baik. Orang tua harus mendukung  pendidikan anaknya mengarahkan terutama pada pendidikan formal karena anak akan mengembangkan kemampuan akademisnya. Bidang akademis siswa meliputi pengetahuan yang ada di pendidikan formal kemampuan akademis ini akan mengarahkan ke IQ anak.  Selain itu pendidikan non formal adalah pendidikan yang dilakukan diluar sekolah. Orang tua biasanya menyarankan atau menyuruh anaknya untuk belJr diluar sekolah karena pendidikan tidak didapat hanya didalam sekolah saja tetapi dari luar sekolah juga dibutuhkan pengetahuan dari anak. Biasanya pendidikan non formal ini di selenggarakanoleh masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengantar , penambah dan pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan anak. Pea ndidikan non formal jugmenanamkan tata nilai yang serba luhur atau ahlak mulia, norma-norma, cita-cita, tingkah laku dan aspirasi dengan bimbingan orang tua di rumah.

Sekolah sebagai salah satu sarana pendidikan formal memerlukan banyak hal yang mendukung yaitu antara lain kepentingan dan kualitas yang baik dari kepala sekolah dan guru, peran aktif dinas pendidikan atau pengawas sekolah, peran aktif orangtua dan peran aktif masyarakat sekitar sekolah. Akan tetapi orang tua juga tidak dapat menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah. Pendidikan anak dimulai dari pendidikan orang tua di rumah dan orang tua yang mempunyai tanggung jawab utama terhadap masa depan anak-anak mereka, sekolah hanya merupakan lembaga yang membantu proses tersebut. Sehingga peran aktif dari orang tua sangat diperlukan bagi keberhasilan anak-anak di sekolah.

Dalam sebuah keluarga yang sangat berperan langsung terhadap kepribadian anak adalah ayah dan ibu (orang tua).Orang tua juga memiliki kewajiban untuk mendidik anaknya agar anaknya dapat berkembang dan tumbuh dengan kemampuan yang dimiliki tinggi. Semua orang tua pasti mempunyai cara atau trik tersendiri untuk mengembangkan prestasi anaknya dan apa yang akan dilakukan dalam mendidik anak-anaknya agar anaknya bisa berhasil.

Satu memahami makna mendidik. Sebagai orang tua harus memahami apa makna mendidik sehingga tidak memiliki pengertian sendiri bahwa mendidik adalah sebuah larangan dan memerintah anak. Tetapi harus dipahami secara jelas bahwa mendidik adalah proses pemberian pengertian apa yang dialami secara jelas agar anak dapat cepat memahami lingkungan sekitarnya, anak juga akan mengembangkan dirinya secara bertanggung jawab.

Dalam proses pemberian pengertian dan pemaknaan ini dapat melalui komunikasi dan tindakan atau teladan. Contoh jika ingin anak jujur  maka orang tua dapat memberi keteladanan kepada si anak akan hal yang baik dan menerangkan seperti apa jujur itu orang tua juga menciptakan komunikasi dengan si anak penuh dengan keterbukaan satu sama lain entah itu dengan ayah dan ibunya .  Jika orang tua apa bila kita mengedepankan  sikap memerintah , menasehati atau melarang maka langsung  ataupun tidaknya akan berdampak pada sikap anaknya yang otoriter dan mau menang sendiri tidak memikirkan hal-hal yang berada disekitarnya.Anak akan meniru gaya orang tuanya berbicara dan melakukan sesuatu dalam kehidupannya sehari-hari.

Contohnya jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, maka ia akan menemukan cinta  dalam kehidupannya dan jika anak dibesarkan dengan celaan maka ia akan belajar untuk memaki orang disekitarnya termasuk orang tuanya sendiri. Ada hubungannya antara orang tua mendidik anak dengan apa yang akan diperbuat anaknya tersebut. Ibaratnya seperti apa orang tua itu tabur ke dalam kehidupan anak itulah yang akan didapat dikemudian hari.

Peran orang tua dalam mendidik anaknya tidak akan tergantikan oleh siapapun misalnya dari lembaga – lembaga sekolah, lingkungan masyarakat. Karena bagaimanapun tanggung jawab mendidik anak ataupun membina anaknya terdapat pada puncak orangtua yang dapat berperan aktif dari anak itu masih didalam kandungan hingga anak itu tumbuh dewasa.

Dua menjaga keharmonisan dalam keluarga. Ayah dan Ibu yang kita tahu sering bertengkar dan berselisih dalam hal perbedaan pendapat bahkan melakukan kekerasan di depan anak – anak, sehingga anak- anak mencontoh dengan bertindak tidak menghargai teman sebayanya atau melakukan kekerasan pada temannya. Seharusnya orang tua jika mempunyai perselisihan pendapat boleh – boleh saja akan tetapi jangan melakukan tindakan kriminal seperti kekerasan karena anak-anak yang masih kecil akan mencontoh perbuatan orang tuanya yang tidak sewajarnya. Anak akan melakukan perbuatan anaknya itu keteman terdekatnya bisa teman bermain ataupun teman sekolahnya.

Demikian beberapa hal yang mestinya di perhatian oleh para orang tua anak dalam mendidik anak-anaknya. Hal tersebut dapat ditambah dengan hal lain yang orang tua harus “bagaimana menciptakan dan membangun komunikasi yang efektif terhadap anak atau orang tuanya sendiri”. Karena hal ini akan secara langsung menjaga dan memelihara kedekatan  secara emosional dengan anaknya sehingga dapat mencegah perilaku menyimpang dari anak. Orang  tua akan mengetahui secara langsung perkembangan anaknya dari hal yang negatif dan positif. Hal negatifnya akan diasah terus dan diperbaiki secara menyeluruh yang akan diterapan kedalam kehidupan anak itu seperti dilatih untuk jujur, disiplin jangan diajarkan sekali-sekali berbohong karena anak akan mengalami ketagihan untuk melakukan tidakan atau perbuatan yang buruk. Jadi orang tua harus berperan aktif terhadap tumbuh kembangr anak tersebut tidak melakukan perilaku yang menyimpang. Dalam komunikasi juga perlu ditanamkan sikap optimisme pada anak, mengembangkan sikap keterbukaan pada anak dan perlu mengajarkan tata krama(unggah unggoh) pada anak. Di dalam berkomunikasi orang tua harus menanamkan otimisme bahwa anak itu bisa melakukan perbuatan itu. Anak tidak boleh mengeluh bahwa anak tersebut tidak bisa. Jika anak itu sudah berbicara seperti itu maka orang tua harus benar- benar meyakinkan kedalam diri anak itu bahwa anak itu bisa (nak kamu itu bisa jangan gampang menyerah sebelum kamu mencobanya). Orang tua juga harus mengembangkan sikap keterbukaanya pada anak itu terutama seperti sopan santun. Anak harus seperti apa jika bertemu dengan orang yang lebih tua dari anak itu, anak akan seperti apa jika anak bertemu dengan kakaknya , anak akan seperti apa jika anak tersebut bertemu dengan teman sebayanya, dan anak tersebut akan seperti apa jika bertemu dengan adiknya sendiri. Pasti orang tua akan menjelaskan dan menerangkan bagaimana ia harus menyapa atau menegur seseorang. Seumpama anak bertemu orang tua anak harus tunduk dan hormat terhadap orang (jika orang jawa menggunakan bahasa krama inggil dan krama alus biasanya dilakukan dengan orang yang lebih tua, ngoko biasanya digunakan dengan teman sebayanya atau juga bisa digunakan berbicara dengan adiknya).

Tiga Hindari sikap otoriter , acuh tak acuh, memanjakan, dan  khawatir. Seorang anak akan dapat mandiri apabila anak punya ruang dan waktu untuk berkreasi sesuai dengan kemampuan dan rasa percaya diri yang dimilikinya. Kemampuannya seperti melukis tidak dikembangkan dan diasah lagi kemampuan itu tidak akan berkembang kreasi-kreasi yang dimiliki juga tidak akan bertambah dan sebaliknya jika kemampuan itu dikembangkan terus mengikuti lomba-lomba kemampuannya akan semakin bertambah digali terus kemampuan itu akan mendapatkan pengalaman baru dan kemapuan pun akan selalu bertambah. Ini harus menjadi perhatian bersama karena hal tersebut dapat muncul dari sikap orang tuanya sendiri yang sadar atau tidak sadar ditampakkan pada saat interaksi terjadi antara ayah dan ibu dengan anaknya. Sehingga akan termotivasi untuk mengaktualisasikan potensi yang ada pada dirinya tanpa adanya tekanan atau ketekutan.

Orang tua juga jangan terlalu memanjakan anaknya karena anak akan mengalami ketagihan, jika anak tersebut minta sesuatu harus dituruti jika tidak pasti anak itu akan marah dengan orang tua atau berguling-guling didepan orang banyak. Dalam hal apapun orang tua harus selalu menyemangati anak karena disitulah anak akan merasa bahagia dan semangat, misalnya hal – hal yang positif tetapi jika anak itu akan melakukan kegiatan yang kurang pas dengan kehidupan sehari – hari maka orang tua tidak perlu khawatir orang tua cukup mengarahkan anak itu mau kearah mana anak itu akan melangkah.

Keempat, dengan mengontrol waktu belajar dan cara belajar anak. Anak-anak diajarkan untuk belajar secara rutin, tidak hanya belajar saat mendapat pekerjaan rumah dari sekolah atau akan menghadapi ulangan. Setiap hari anak-anak diajarkan untuk mengulang pelajaran yang diberikan oleh guru pada hari itu. Dan diberikan pengertian kapan anak-anak mempunyai waktu untuk bermain.

            Banyak kasus, orang tua sering memaksakan kehendak mereka terhadap anak-anak mereka tanpa mengindahkan pikiran dan suara hati anak. Orang tua merasa paling tahu apa yang terbaik untuk anak-anak mereka. Hal ini sering dilakukan oleh orang tua yang berusaha mewujudkan impian mereka, yang tidak dapat mereka raih saat mereka masih muda, melalui anak mereka. Kejadian seperti ini tidak seharusnya terjadi jika orang tua menyadari potensi dan bakat yang dimiliki oleh anak mereka. Serta memberikan dukungan moril dan sarana untuk membantu anak mereka mengembangkan potensi dan bakat yang ada.

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang tua dan harus dihindari dalam mendidik anak mereka, antara lain menumbuhkan rasa takut dan minder pada anak, mendidik anak menjadi sombong terhadap orang lain, membiasakan anak hidup berfoya-foya, selalu memenuhi permintaan anak, terutama ketika anak sedang menangis, terlalu keras dan kaku dalam menghadapi anak, terlalu pelit terhadap anak (melebihi batas kewajaran), tidak mengasihi dan menyayangi mereka sehingga mereka mencari kasih sayang di luar rumah, orang tua hanya memperhatikan kebutuhan jasmaninya saja, orang tua terlalu berprasangka baik kepada anak-anak mereka.

Untuk itu sudah menjadi kewajiban orang tua untuk juga belajar dan terus menerus mencari ilmu, terutama yang berkaitan dengan pendidikan anak. Agar terhindar dari kesalahan dalam mendidik anak yang dapat berakibat buruk bagi masa depan anak-anak. Orang tua harus lebih memperhatikan anak-anak mereka, melihat potensi dan bakat yang ada di diri anak-anak mereka, memberikan sarana dan prasarana untuk mendukung proses pembelajaran mereka di sekolah. Para orang tua diharapkan dapat melakukan semua itu dengan niat yang tulus untuk menciptakan generasi yang mempunyai moral yang luhur dan wawasan yang tinggi serta semangat pantang menyerah

Kelima,Hindari mengancam, membujuk atau menjanjikan hadiah. Dalam mendidik anak jangan memakai cara membujuk dengan menjanjikan hadiah karena hal ini akan melahirkan ketergantungan anak terhadapsesuatu hal baru dia melakuka sesuatu. Hal ini akan mematikan motivasi, kreatifitas, insiatif dan pengertian serta kemandirian mereka terhadap hal-hal yang harus dia kerjakan. Contoh : menjanjikan hadiah kalau nilai sekolahnya baik, atau mengancam tidak memberi hadiah bila nilainya rendah.

Keenam, Memahami bahasa non verbal. Memarahi anak yang melakukan kesalahan adalah sesuatu yang tidak efektif melainkan kita harus mendalami apa penyebab anak melakukan kesalahan dan memahami perasaan si anak. Oleh karena itu perlu dikembangkan bahasa non verbal sebagai suatu upaya efektif untuk memahami masalah dan perasaan si anak. Bahasa non verbal adalah dengan memberi sentuhan, pelukan,menatap, memberi senyuman manis atau meletakkan tangan di bahu untuk menenangkan si anak, sehingga si anak merasa nyaman untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan atau perasaannya.

Ketujuh, Membantu anak memecahkan persoalan secara bersama. Pada kondisi tertentu dibutuhkan keterlibatan kita sebagai orang tua untuk memecahkan masalah yang dihadapi si anak. Dalam hal membantu anak memecahkan persoalan anak, kita harus melakukannya dengan tetap menjunjung tinggi kemandiriannya.

Demikian beberapa hal yang mestinya dijadi perhatian oleh para orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Diakui bahwa hal tersebut di atas dapat ditambahkan dengan hal lain yang positif agar menjadi perbendaharaan pengetahuan dalam mendidik, namun yang terutama dari semua itu adalah orang tua harus “bagaimana menciptakan dan membangun komunikasi yang efektif”dengan anak. Karena hal ini akan secara langsung menjaga dan memelihara kedekatan secara emosional dengan anaknya sehingga dapat mencegah perilaku menyimpang dari si anak. Dalam komunikasi juga perlu ditanamkan sikap optimisme pada anak, mengembangkan sikap keterbukaan pada anak dan perlu mengajarkan tata krama pada anak.

 

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa fungsi keluarga adalah memelihara, merawat melindungi anak-anak dalam proses sosialisasinya agar mereka mamppu mengendalikan diri dan berjiwa sosial. Hubungan antara anggota keluarga dijiwai suasana afeksi, atau kasihsayang dan rasa tanggung jawab.

      KESIMPULAN/SARAN

            Jadi pada dasarnya, pendidik itu tidak hanya terpaku di bangku sekolah saja. Akan tetapi pendidikan juga bisa dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, yang dijalankan oleh orang tua itu sendiri. Dengan memberikan perhatian yang cukup, pembelajaran yang dilandaskan dengan kasih saying. Karena dengan cinta dan kasih sayang, maka dorongan seorang anak akan lebih besar dalam rangka mencapai hasil.

Hendaknya orang tua menjauhi nilai-nilai kekerasan fisik dalam mengajarkan anak-anaknya. Guna menghindari hal-hal yang memungkinkan hilangnya minat seorang anak dalam menuai ilmu yang pada akhirnya tidak mampu meningkatkan mutu pendidikan anak, akan tetapi malah sebaliknya. Orang tua hendaknya memberi perhatian yang lebih pada anaknya, senantiasa memotivasi dikala anaknya mendapatkan hambatan dalam belajar, bisa menjadi teman dikala seorang anak memerlukannya, dan menjadi guru yang baik baginya, untuk menopang mutu pendidikan anak itu sendiri.

 

 

 

 

DAFTAR RUJUKAN

Dr. Zakiyah Darajat, Peranan Agama dalam Kesehatan Mental, Penerbit Gunung Agung, Jakarta, Cet. VII, 1983.

Drs. H. Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama: Kepribadian Muslim Pancasila, Penerbit Sinar Baru, Bandung, Cet. II, 1991.

Drs. Jalaluddin Rahmat Msc, Islam Alternatif, Penerbit Mizan, Bandung, Cet. I, 1986.

Makalah-makalah Ibu Dra. Susilaningsih MA (dosen Mata Kuliah Psikologi Agama di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

Syamsu Yusuf. (2002). Psikologi Belajar Agama.Bandung: Maestro.

Singgih Gunarsa. (2004). Psikologi Praktis: Anak, Remaja dan Keluarga. Jakarta: Gunung Mulia

 

 


 

  • view 169