BILLA TAMARONG

Valentina Lede Kaka
Karya Valentina Lede Kaka Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Januari 2018
BILLA TAMARONG

CERITA  RAKYAT SUMBA TENTANG BILLA TAMARONG

Ada seorang gadis yang bernama Billa Tamarong anak dari Tari Raya asal kampung pakare.  Billa Tamarong yang belum menikah. Lalu Tari Raya merasa malu karena anak gadisnya belum menikah. Maka Tari Raya memanggil anak gadisnya.                                    .

Tari Raya: ‘’Billa Tamarong “

  Billa Tamarong:  ‘’ Ya bapak ,ada bapak?’’           

    Tari Raya                    “Bapak malu karena kamu sudah besar begini tapi belum menikah. Jadi              bagaimana anakku terima saja laki-laki yang datang mau meminang nanti?”

 “Iya Bapak’,’  kata Billa Tamarong.

Billa Tamarong hanya mengiyakan perkataan bapaknya,  tetapi dia tidak suka dengan laki-laki yang akan meminangnya nanti.

Ketika hari tiba atau waktu kesepakatan untuk datang mengecek kepastian apakah perempuan yang dimaksud belum ada yang meminang oleh laki-laki lain. Laki-laki itu dan orang tuanya pergi di rumah keluarga perempuan.  Maka Tari Raya menjanjikan pada orang tua laki-laki untuk menanyakan kepada anaknya nanti baru menginformasikan kabar kepastian kepada mereka. Begitu Billa Tamarong melihat laki-laki yang mau meminangnya, dia sama sekali tidak menyukai dengan laki-laki itu.

 “Bapak saya tidak mau menikah dengan laki-laki yang datang meminangku,” kata Billa Tamarong.

“Kenapa anakku tidak terima laki-laki yang datang meminangmu,” tanya Bapaknya.

“Saya tidak suka dengan laki-laki itu Bapak,” jawab Billa Tamarong.

“Tapi , laki-laki itu sangat baik. Kenapa kamu tidak suka dengan dia?” tanya Bapaknya.

“Iya Bapak. Saya tahu. Laki-laki itu sama sekali tidak cocok dengan saya Bapak,” jawab Billa Tamarong.

“Baiklah anakku. Kalau itu keputusan kamu, Bapak tidak akan memaksa kehendak kamu. Bapak akan menyampaikan berita ini kepada orang tua laki-laki itu bahwa kamu tidak menyukai laki-laki itu,” jawab Bapaknya.

“Iya bapak,” jawab Billa Tamarong lagi.

Maka  Bapak Billa Tamarong mengadakan Pesta woleka selama tujuh hari tujuh malam, agar anaknya menentukan pria idamannya. Sampai pada hari ke enam belum ada seorang laki-laki yang Billa Tamarong suka. Dan pesta itu tetap dilanjutkan lagi pada malam terakhir yaitu malam ketujuh.

Pada malam terakhir Billa Tamarong sedang  menari melihat seorang laki-laki tampan  yang berdiri di pinggir kuburan dengan memakai pakaian adat sumba serta parang. Ternyata laki-laki  tampan tersebut adalah seekor  buaya. Billa Tamarong pun langsung menghampiri  laki-laki itu. Dia menyampaikan kabar gembira ini kepada ayahnya bahwa ia sudah menemukan  laki-laki idamannya namanya wopalarri/buaya.  Billa Tamarong pun memperkenalkan ayahnya terhadap laki-laki itu. Tari Raya memanggil anak gadisnya dan  laki-laki ia pilih sesuai impiannya.

“Billa Tamarong, Bapak bangga bahwa kamu sudah menemukan laki-laki sesuai impianmu dan harapan kamu untuk kedepan,” kata Bapaknya.

“Iya Bapak,” jawab Billa Tamarong.

“Wopalarri, apakah kamu betul-betul mau menikah dengan anakku?” tanya Tari Raya.

“Iya Bapak saya siap untuk menikah dengan  Billa Tamarong. Inilah jodoh saya,” jawab Wopalarri.

“Anakku  apakah ini laki-laki yang betul-betul menjadi impianmu?”,  tanya Bapaknya

“Ia Bapak dialah laki-laki yang saya tunggu selama ini,” jawab Billa Tamarong

Ayahnya pun merestui wopalarri menjadi suaminya Billa Tamarong.

“Billa Tamarong meminta air minum kepada keluarganya. Keluarganya pun memberikan air minum buat Billa Tamarong namun ia menolak karena mereka memakai mangkok sayur. Ini bukan kasih minum babi atau kuda,” kata Billa Tamarong dengan nada marah.

Setelah itu Billa Tamarong  pun mengambil sendiri diperiuk tanah.  Billa Tamarong pun langsung menghilang begitu saja dan pergi sama-sama dengan Wopalarri ke laut. Bapak Billa Tamarong menyuruh Wopalarri untuk datang membelis anaknya. Tari Raya bermaksud untuk mengadakan pembelisan supaya Wopalarri membawa pulang Billa Tamarong ketempat kediamannya.

“Ia Bapak nanti saya akan datang bayar belis secara spontan,” kata Wopalarri.

“Tari Raya pun menentukan tanggal untuk datang pembelisan jadi tanggal 30-4 datang belis secara spontan dengan jumlah pembelisan 50  ekor kuda, 50 ekor kerbau dan 50 ekor sapi serta satu batang pedang teko,”  kata Tari Raya.

“Ia Bapak, saya siap. Nanti saya akan bayar tuntas di waktu yang tepat sesuai kesepakatan bersama,” jawab Wopalarri.

Hari semakin berganti. Tidak terasa tiba waktu yang telah disepakati. Wopalarri pun  datang dan ia memenuhi perjanjian yang telah disepakati dengan membawa 50 ekor kuda, 50 ekor kerbau dan 50 ekor sapi serta satu batang pedang teko.

Lalu Wopalarri membawa pulang Billa Tamarong ketempat kediamannya menuju ke laut. sampainya di laut Billa Tamarong bingung mau buat apa. Akhirnya wopalarri suaminya  memutuskan supaya Billa Tamarong  berubah menjadi gurita.  Mereka pun menjadi satu keluarga di laut.

Suatu hari kemudian Bapak Billa Tamarong mengadakan pesta adat seperti Woleka. Dia juga tidak lupa mengundang Billa Tamarong dan suaminya untuk mengikuti acara adat  itu. Sebelum hari tiba, Billa Tamarong pergi terlebih dahulu ke kampung kelahirannya untuk menyampaikan pada orang tuanya, agar tidak menertawakan anak-anaknya yang berbeda dari manusia karena anak-anaknya seekor  gurita.

Bapaknya menyetujui apa yang dipesan oleh anaknya bahwa dilarang tertawa dan keluarganya pun sudah bersedia untuk tidak menertawakan mereka.  Billa Tamarong pun pulang kembali ketempatnya. Ketika harinya tiba Billa Tamarong, suami dan anak-anaknya pergi ke kampung kakek dan keluarga mereka untuk mengikuti pesta woleka yang di adakan Bapak dan kakek mereka.

 Anak  Billa Tamarong pun merayap-rayap di penyangga rumah adat  karena mereka bukan manusia melainkan seekor  Gurita. Tidak ada seorangpun yang tertawa ketika melihat mereka karena sudah menyampaikan bahwa tidak boleh ada seorangpun yang tetawa ketika melihat anak dan cucu mereka. Para undangan pun menghargai kata-kata dari keluarga Billa Tamarong.

Namun sayangnya  tetangga kampung tertawa dan anak Billa Tamarong menghilang begitu saja lewat periuk tanah yang ada di rumah adat.  Billa Tamarong dan suaminyapun pulang dengan hati kecewa karena dalam benak mereka, merekalah yang di tertawakan.  Setelah itu Billa Tamarong dan suami serta anak-anak pun tidak  marah pada keluaganya, melainkan mereka pun berpesan kepada ayah dan keluarganya  menyuruh mereka jika mereka ingin makan daging anjing pergi saja di pinggir pantai dan meminta kepada mereka.

Setelah itu Bapak Billa Tamarong  ingin makan daging dia pergi di pinggir pantai untuk meminta daging anjing.

“Anakku  saya ingin makan daging anjing,” kata Tari Raya.

  Dan mereka pun mengirim ikan besar sebagai daging anjing untuk sang ayah.

Setelah kejadian itu kampung Pakare tempat kediaman Tari Raya tempat Billa Tamarong di besarkan, mereka tidak bisa makan gurita, cumi-cumi.   Dan sampai sekarang kampung pakare tidak bisa makan gurita dan cumi-cumi. Keturunan dari kampung pakare ini tidak bisa makan gurita dan cumi-cumi karena itu kampung keturunan nenek moyang Billa Tamarong. Sampai sekarang juga masih tetap terikat dalam adat istiadat tidak makan gurita dan cumi-cumi oleh cucu dan kerabat karena merupakan larangan dari nenek moyang yang di tinggal pergi oleh orang tua dan kerabat lainnya.

 

 

 

 

  • view 46