Batas Waktu

Yualeny Valensia
Karya Yualeny Valensia Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Januari 2017
Batas Waktu

Aku tahu, semua yang ada di dunia ini penuh dengan ketidakpastian dan segala hal bisa berubah kapanpun juga. Manusia cuma bisa berencana dan menginginkan, tapi penentunya tetap DIA. Sekarang yakin, besok ragu, lalu yakin lagi, ragu lagi, dan akhirnya memutuskan untuk menyerah. Memang benar apa yang kamu bilang, kamu juga tak pernah tahu kapan keraguanmu dan rasa ingin menyerahmu itu muncul.

Perpisahan. Hal yang kita benci kedatangannya itu pasti akan datang meski kita tak pernah tahu kapan datangnya. Aku tak bisa menahan dan mengubah sesuatu yang mungkin memang harus terjadi. Kita akan bahagia pada jalan kita masing-masing. Gelap tak akan bisa bersatu dengan terang. Kau akan temukan jalanmu, dan aku akan temukan jalanku. Kamu berpegang pada prinsipmu, aku berpegang pada perasaanku. Kita berbeda dan memang tak harus berjalan beriringan, tak seperti Istiqlal dan Katedral yang bisa berdekatan.

Saat ini, sebelum perpisahan itu datang, aku masih ingin mendengar sapa lembutmu di pagi hari dan ingin mendengar suaramu yang mengalun lembut melewati lempengan-lempengan dingin handphoneku sebelum aku terlelap pada malam hari. Aku masih ingin menikmati rasa ini, menikmati rasa kita. Aku masih ingin mendengar panggilan sayangmu, aku masih ingin berceloteh bersamamu, berceloteh tentang hari-hari kita, bahagia kita, lelah kita pada setiap hari yang kita jalani.

Tapi seperti yang kamu bilang, harus ada batas waktu untuk kita. Aku masih ingat tentang apa yang kita perbincangkan tentang batas waktu itu. Satu hal, saat ini aku masih ingin bersamamu, menikmati setiap jengkal kebersamaan kita, mendengarkan sapaan manjamu, merasakan nyaman dan bahagianya menjadi wanitamu.

Saat batas waktu itu datang, yang aku inginkan, kita saling melepaskan. Bukan seperti saat ini, salah satu ingin melepas dan salah satu ingin bertahan. Dengan segala ketidaksiapan yang menggerogoti, nanti kita harus saling melepaskan dan mencoba mengikhlaskan.

Saat batas waktu itu datang, aku pasti akan melepaskanmu, sayang. Aku tak akan menahanmu lagi untuk bertahan di sini. Aku akan membiarkanmu untuk menemukan jalanmu dan inginmu. Satu harapanku, aku berharap, aku bisa memelukmu sebelum aku melepaskan dan mengikhlaskanmu untuk menjadi kekasih Tuhan-mu.

Bandung, 12 Januari 2013.

Dilihat 60