Sepenggal Cerita dari Istiqlal dan Katedral

Yualeny Valensia
Karya Yualeny Valensia Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Januari 2017
Sepenggal Cerita dari Istiqlal dan Katedral

Sore tadi, pertama kalinya aku menginjakkan kakiku di sini, Masjid Istiqlal dan pertama kalinya juga aku buka puasa sekaligus sholat Maghrib di sini. Saat akan memasuki Masjid, sempat tercengang dan bengong sedikit di depan gerbang karena tepat di seberang aku berdiri ada bangunan megah juga. Itu adalah Gereja Katedral. Ya, tempat itu adalah tempat ibadahnya. Tempat ibadahnya yang berseberangan dengan tempat ibadahku, Masjid Istiqlal.

Berada di dalam Masjid ini membuatku merasa sangat dekat dengan Rabb-ku. Sepanjang sholat Maghrib berjamaah tadi, air mataku terus menetes. Aku terhenyak dan sangat tersadar bahwa semua yang terjadi memang sudah diatur-Nya. DIA sutradara terbaik yang sangat tahu harus seperti apa hidupku ini. DIA yang berhak menentukan bagaimana skenario terbaik untuk perjalanan hidupku.

Pertemuan dan kebersamaanku dengan sesosok pria bermata sayu itu sudah pasti DIA perhitungkan dengan baik, termasuk segala rasa bahagia dan rasa sakitnya. Tidak ada yang kebetulan, semua atas ijin-Nya dan atas rencana-Nya.

Dari lantai dua Masjid Istiqlal ini, aku bisa melihat dengan jelas gemerlap lampu tempat ibadahnya itu, Gereja Katedral. Ketika dia berada di Gerejanya dan aku berada di Masjidku, kita memang masih bisa saling menatap dari kejauhan. Ya, kita hanya bisa saling menatap, tapi kita tidak bisa bergandengan tangan, menuju masa depan bersama.

Dan cukup lama aku termenung di depan Istiqlal, menatap Katedral dan dari situ aku baru sangat menyadari satu hal. Istiqlal dan Katedral memang ditakdirkan untuk saling berhadapan, tapi tidak untuk berdampingan. Istiqlal dan Katedral dipisahkan oleh sebuah jalan raya yang sangat ramai dari lalu lalang kendaraan. Tak ada jembatan yang aman untuk menggabungkan dua tempat ibadah itu. Yang ada hanya jalan raya yang sangat berbahaya jika kita memaksa untuk menyeberanginya. Kalaupun bisa, itu butuh waktu lama dan ada banyak resiko yang harus kita hadapi. Mungkin tertabrak kendaraan atau terserempet dan jatuh terhempas di jalanan.

Dari situ aku baru menyadari banyak hal. Salah satunya tentang kebersamaanku dengannya di antara perbedaan Tasbih dan Rosario yang kami genggam. Kami mungkin memang ditakdirkan hanya untuk saling berhadapan. seperti halnya Istiqlal dan Katedral, hanya berhadapan tapi tidak berdampingan. Kalaupun memaksa untuk saling menyeberang, tak ada jembatan yang pasti dan aman sehingga menyeberangnya pun butuh waktu lama dan penuh resiko. Jadi ya sudahlah, cukup saling menatap saja tapi tidak untuk berdampingan.

Terimakasih Allah. Telah membuat sebuah skenario berdirinya Istiqlal dan Katedral ini berhadapan. Malam ini, aku menyadari banyak hal dari dua tempat ibadah yang berbeda ini. Terima kasih Allah, telah menghadirkan cinta padaku dan sesosok pria bermata sayu itu. Terima kasih Allah, telah menghadirkan cinta di antara agama kami yang berbeda dan di antara perbedaan Tasbih dan Rosario yang kami genggam. Terima kasih Allah. Terima kasih cinta. Terima kasih pria bermata sayu. Aku akan terus berusaha belajar ikhlas melepasmu dan perlahan melepaskan kita.

 

21 Juli 2013.

Dari lantai dua Masjid Istiqlal dimana terlihat jelas Gereja Katedral tepat di seberangku.

 

  • view 449

  • Regina Pamungkas
    Regina Pamungkas
    8 bulan yang lalu.
    Jadi kalau ada yang PDKT tapi beda agama, biarkan saja dia dengan agamanya, kita dengan agama kita

    Kalaupun ia ingin belajar karena begitu tertariknya dengan kita, biarkan saja ia belajar. Toh nanti seperti seleksi alam saja. Akan terlihat sejauh apa keseriusannya dengan kita