Kicau. Racau. Kacau

Yualeny Valensia
Karya Yualeny Valensia Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 September 2016
Kicau. Racau. Kacau

Malam yang dingin dengan ditemani sinar terang bulan purnama terasa begitu meneduhkan. Jarang sekali kota ini menjadi dingin. Segelas blackcurrant tea yang ada di hadapanku pun tak membantu menghangatkan diri. Tak banyak yang aku lakukan di malam seperti ini. Menikmati semilir angin dari jendela kamarku sambil dirangkul selimut adalah kegiatan rutinku setiap malam, seperti malam ini.

Sebuah notifikasi dari smartphoneku membuatku mencari dimana letak benda kecil itu. sebuah pesan dari salah seorang sahabat. Sebuah gambar dengan catatan kaki, “apa-apaan ini?”. Sedikit tersentak setelah mengetahui gambar apa yang dia kirim. Screenshot kicauan di sebuah sosial media. Cukup menggelikan ketika aku melihat siapa yang berkicau itu.

Ada hal menggelitik benakku setelah membaca kata demi kata yang ditulis si pengicau itu. Mungkin dia tak sadar bahwa dia sedang mengicaukan tentang dirinya sendiri. Mungkin juga dia sudah lupa, apa yang dia tertawakan di kicauannya itu adalah tindakannya sendiri. Mungkin pula dia lelah dengan kehidupannya yang tak menemui jalan bahagia. Dan mungkin saja serabut-serabut saraf di otaknya sudah tak lagi berkesinambungan.

Seorang laki-laki yang mengaku sudah dewasa ternyata tak lebih dari balita yang bahkan belum bisa calistung. Seorang laki-laki yang meracau di dunia maya tak ubahnya si princess yang sedang bercerita tengah liburan di Perancis. Seorang laki-laki yang katanya akan menjadi seorang bapak tapi nyatanya tindakannya tak lebih jantan dari seekor burung yang tengah terbang menerjang panasnya hari hanya untuk mengantarkan sebuah makanan untuk anak-anaknya yang sedang kelaparan di atas pohon. Sebutan apa yang sebenarnya bisa menggambarkan sosok laki-laki seperti itu?

Entahlah, palu sebesar apa yang bisa dibuat untuk memukul kepala bulatnya itu agar otaknya bisa kembali bekerja. Atau haruskah aku sediakan kaca sebesar layar bioskop agar dia bisa melihat seperti apa dirinya yang sebenarnya? Hey! Berhentilah merasa benar. Sudah cukup kau menjadi orator yang berkoar-koar tentang kebenaran menurut versimu itu. Percuma saja. Karena hal itu semakin menjadikanmu orator ulung. Dan satu hal lagi, segala remeh temeh tentang kicauanmu itu tak akan pernah lagi membuatku menangis tersedu menyesali kepergianmu. Yang ada, jemariku semakin lincah merangkai kata demi kata yang pada akhirnya dibaca ribuan bahkan ratus ribu orang di luar sana.

Sebelum kau berkicau lagi tentang sebuah provokasi, haruskah aku mengajarimu tentang sebuah etika? Etika yang sepertinya tak pernah kau pelajari bahkan di usiamu yang menuju kepala tiga. Etika sosial yang tak juga kau indahkan. Haruskah aku mengingatkanmu bahwa meninggalkan anak gadis orang tanpa kata di depan gerbang pernikahan itu adalah sebuah kepengecutan? Bukankah tindakan pergi tanpa sepatah kata apapun dengan persiapan pernikahan yang sudah 90% itu juga sebuah perbuatan yang tidak menyenangkan sekaligus pencemaran nama baik keluarga besar? Tak perlu lagi kan aku menuliskan dengan detail segala tindakan bodoh dan pengecutmu itu? Karena tentunya kau dan keluarga besarmu masih ingat bagaimana kalian telah mempermalukan dan mempermainkanku sekaligus keluarga besarku. Kecuali memang memori di otakmu sudah tertimbun bantalan lemak.

Tanpa aku harus berkicau bak seorang perempuan yang merintih karena sebuah pengkhianatan yang terjadi di gerbang pernikahannya, apa yang sedang kamu lakukan sekarang sudah menjawab segala tanya yang timbul. Kata demi kata yang kau tulis dalam kicauanmu menjadi sebuah kutipan-kutipan yang bisa melengkapi beberapa narasiku tentangmu setelah kau pergi sambil mendorongku hingga terjerembab. Tak sadarkah kau bahwa beberapa kicauanmu itu bisa membuat wanita yang sekarang memanggilmu dengan sebutan suami merasa akan salah telah menitipkan masa depannya padamu setelah dia dengan sadar memotong impianku di depan gerbang pernikahanku? Betapa pedih hatinya jika dia tahu bahwa ternyata kau masih asyik mengomentari kehidupan wanita yang telah dia curi senyum bahagianya?

Ataukah memang hidup kalian sekarang tak bisa tenang setelah mengoyak harga diriku dan keluarga besarku dengan permainan kotor kalian menjelang beberapa belas hari ikrar suciku? Dan apakah lelakimu ini tak cukup bahagia setelah memilih berpaling padamu di depan gerbang pernikahanku dengannya, hai wanita? Dan apakah wanitamu ini baru merasa bersalah telah merebut yang bukan milik di detik-detik pernikahan orang lain, hai lelaki? Kalau memang itu terjadi, entah kata apa yang bisa aku gambarkan untuk kalian. Nyatanya, aku memang belum berniat berdamai dengan tindakan yang telah kalian lakukan. Luka yang kalian ukir perlahan sudah mulai sembuh, jadi tak usahlah meracau lagi. Perlahan pula, seiring berjalannya waktu, aku juga pasti akan lupa dengan segala rasa nyeri di dada karena kalian meskipun tak pernah ada kata maaf yang terucap dari bibir kalian.

Sesekali, melihatlah ke bawah agar kau tak tersandung jika kau selalu berjalan sambil mendongak ke atas. Berhentilah merasa menjadi korban. Berhentilah merasa benar. Karena kebenaran yang sejati tak perlu dijabarkan. Ia akan menunjukkan dirinya sendiri tanpa diminta. Dan tak usahlah membuang waktumu untuk membela kebenaran. Karena kebenaran tak butuh dibela. Ia akan membela dirinya dengan caranya sendiri.

Jangan pernah kau lupa bahwa kau telah menjalani hidupmu dengan tak bersikap sebagai laki-laki sebelum kau menikmati hidupmu yang sekarang. Jangan lagi kau merendahkan dirimu sendiri dengan melakukan tindakan bodoh untuk kesekian kalinya. Tak bosankah kau menjadi lelaki yang hanya bisa berkicau tak ubahnya burung kenari? Tak inginkah kau belajar menjadi laki-laki sejati? Atau lupakah kau dengan tanggungjawab dan kewajibanmu sebagai lelaki? Lupakah kau bahwa menjadi kepala keluarga itu tak semudah mengicaukan hidupku yang telah kau kacaukan? Hidup tak cipirili seperti kata Dulce Maria, bung. Dan kantong ajaibnya Doraemon pun tak akan pernah ada di dunia nyata.

Pada saatnya nanti, kau akan risau ketika kicau yang kau tanam telah berbuah menjadi kacau. Jadi berhentilah berkicau. Berhentilah meracau. Karena tanpa kau sadari, hidup sekarangmu yang kau awali dengan mengacaukan hidupku akan semakin kacau dengan racauanmu yang tak berbobot itu.

Ini hanya saran dariku. Tapi kalau memang kau masih sanggup menerima tambahan akibat dari sekian sebab yang sudah membuatku terjerembab karenamu, silahkan saja lanjutkan kicauanmu. Karena di hidupku, kicauanmu hanya akan masuk dalam spam, bukan dalam inbox. 

 

Dalam temaram lampu kamar,

20 Agustus 2016

  • view 281