Suatu Waktu (1)

Yualeny Valensia
Karya Yualeny Valensia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 April 2016
Suatu Waktu (1)

“Sudah satu tahun ya, Bi”, kataku malam itu sambil menatap laki-laki berhidung pinokio di depanku. “Kamu mau makan apa? Masih suka makan nasi merah? Ini ada nasi merah bakar. Mau ini kah, Ay?”, tanyanya sambil mengacuhkan pertanyaanku. Aku hanya mengangguk tanda setuju dengan sarannya untuk memilih nasi merah bakar di makan malamku kali ini. Hampir 15 menit kami terdiam tanpa kata. Semacam sibuk dengan smartphone masing-masing sambil ditemani suara deburan ombak pantai.

Aku tak benar-benar fokus pada path yang sedang aku buka di smartphoneku ini. Pikiranku kembali ke satu tahun lalu. Ketika suasana makan malam seperti ini adalah suasana yang sangat membuatku merasa nyaman. Laki-laki berhidung pinokio, berambut pirang dan bermata cokelat di hadapanku ini bernama Bian. Melvin Sabian Nandana. Memoriku tentang kebersamaanku dengannya juga masih ada, tak hilang satu byte pun. Gelak tawanya, pelukan hangatnya bahkan aroma harum tubuhnya pun masih sangat bisa ku rasakan ketika aku memejamkan mataku. Tak ada yang aku lupa dari Bian.

“Hey nona. Kenapa malah melamun?”, tanya Bian sambil mengacak kerudungku. Aku hanya tersenyum simpul padanya. “Kamu pasti udah lapar ya sampai ngelamun gitu. Nih aku bawain kacang favoritmu. Kacang Thailand yang besar-besar, ada irisan daun jeruk nipisnya dan belinya harus di Tiara Dewata”, ujarnya sambil memberiku beberapa bungkus oleh-olehnya itu. “Aku masih ingat kan apa yang kamu mau setiap kita mau ketemu”, lanjutnya sambil tersenyum. “Duh Bi, please jangan tersenyum dan menatapku seperti itu. Senyum dan tatapan sayumu itu selalu meneduhkan. Bisa gila kalau aku kembali terjebak dalam kubangan kenangan kebersamaan kita”, gumamku dalam hati.

Aku masih belum bisa banyak berkata-kata sejak kehadiran Bian di lobi tempat kerjaku siang tadi. Sudah satu tahun lamanya kita tak saling berkomunikasi. Sosial media ataupun aplikasi private chatting pun sudah tak lagi kita gunakan untuk saling bertukar sapa. Satu tahun bukan waktu yang sebentar untuk berpikir dan menyendiri menyelami apa yang sudah terjadi dari empat tahun kebersamaanku dengan Bian. Iya, empat tahun lamanya laki-laki ini menemani hampir 24 jam ku. Tak ada satu hari pun yang aku lewati tanpa suara Bian. Mataku memang tak bisa setiap hari menatapnya. Tapi telingaku sudah terbiasa sekali dengan suara Bian. Dan sejak satu tahun yang lalu, semua kebiasaan itu sudah tak lagi ada. Tak ada kata berpisah diantara kita. Hanya sebuah kesepakatan, bahwa kita harus mencari jawaban Tuhan untuk kebersamaan kita ini, walau dengan menyebut namaNya dengan sebutan yang berbeda.

“Kenapa baru sekarang, Bi? Kenapa kamu tiba-tiba datang tanpa memberitahuku terlebih dahulu? Ini Jakarta, Bi. Kamu yang paling gak suka datang ke sebuah tempat baru tanpa ada yang menemani, tiba-tiba muncul sendirian di lobi kantorku. Kalau tadi supir taksinya malah muter-muterin kamu lalu nyasar, gimana coba? Kan setidaknya bisa kasih tahu aku dulu toh, Bi”, ujarku sambil menatap tajam ke arahnya. “Kamu ini ya, memang masih aja suka berlebihan khawatirin aku. Aku sudah 31 tahun, Ay. Masak iya aku bisa dibodohin supir taksi. Kamu yang ke Jogja datang sendiri tanpa ada yang nemenin juga aku gak sekhawatir ini. Dasar anak muda, suka lebay”, ujarnya sambil tertawa terbahak.

“Lalu kenapa baru sekarang kamu datang?”, tanyaku sambil meminum segelas ice lemon tea di hadapanku. “Sekarang? Aku datang dari tadi siang kali, Ay. Kenapa dibilang baru sekarang datang? Hahaha”, ujarnya. “Udah ah, jangan bahas yang aneh-aneh, kita makan dulu, itu liat nasi bakarmu, kayaknya enak banget, sini bagi dikit donk buat aku”, lanjutnya. Lagi-lagi dia menghindariku menjawab pertanyaan-pertanyaan keherananku kenapa dia datang dengan cara yang tiba-tiba seperti ini. Tak ada lagi yang bisa aku lakukan selain menyantap makanan yang memang menggoda cacing-cacing di perutku. Kami berdua melahap makanan tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

“Kamu tahu, Ay. Gak mudah untukku tiba-tiba punya keberanian datang ke sini. Kota metropolitan yang tak pernah aku jelajahi. Kamu tahu sendiri, aku ke Jakarta cuma sekedar landing di Soeta dan selalu langsung lanjut ke Bogor buat nengokin Papi. Sempat sih ngerasa was-was seperti yang kamu khawatirin tadi. Tapi untunglah ya sekarang udah ada smartphone jadi aku bisa cek itu supir taksi nyasarin aku apa enggak”, ujarnya setelah pelayan pergi sambil mengangkat piring bekas makan dan membersihkan meja. “Aku tahu, kamu juga pasti bertanya-tanya kenapa baru sekarang aku muncul di hadapanmu. Kalau kamu tahu, Ay. Selama satu tahun ini aku berharap tiba-tiba kamu menghubungiku dan bilang untuk menjemputmu di Ngurah Rai seperti biasanya. Tapi satu tahun ini, semua itu tak pernah ada. Itu kenapa, aku harus berani menemuimu di sini. Tempat dimana kamu menghabiskan hari-harimu dalam setahun terakhir ini. Tapi aku hebat donk ya, Ay. Kan aku gak nyasar”, ujarnya sambil menggenggam erat tanganku.

Aku hanya menatapnya dengan denyut jantung yang mulai cepat dan konsentrasi yang mulai berkurang. Ya Allah..apa lagi ini? Apa yang harus aku lakukan? Ini yang selalu aku takutkan. Keadaan seperti ini yang pasti membingungkanku. “Bi, ini sudah mau jam 10 malam, nanti asramaku di kunci. Kita pulang sekarang ya, Bi. Besok aku masih kerja dan masuk pagi. Jadi kita ketemu lagi setelah aku pulang ya?”, ujarku untuk menghindari perbincangan yang lebih lanjut. Aku masih belum siap membahas semua itu sekarang. Aku masih tak tahu harus menjawab apa jika Bian bertanya lebih lanjut padaku. Bian menghela nafas panjang sambil melepaskan genggamannya. “Baiklah. Ayo kita pulang”, ujarnya sambil berdiri dan mempersilahkan aku berjalan di depannya. “Terima kasih kamu masih mau menemuiku. Terima kasih kamu masih memberiku kesempatan untuk melihat senyummu. Aku merindukanmu, Ayesha Putri Nugraha”, ujarnya sambil tiba-tiba memelukku dari belakang.

  • view 225