Jalan Untuk Kembali Pulang

Valdrada
Karya Valdrada  Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 31 Juli 2017
Jalan Untuk Kembali Pulang

               Hai teman-teman, sudahkah kalian tersenyum hari ini? Sudah dong pastinya. Betapa anehnya wajah manusia jika tidak tersenyum seharian, tetangga sebelah saja bisa pindah rumah karena mengira kita  jelmaan zombie, haha. Baiklah, di sini aku ingin berbagi pengalaman terkait senyuman yang membara dalam ingatanku nih, hihi. Sedikit melankolis memang, tapi sulit banget untuk tidak diluapkan.
            Pasalnya, menjelang hari raya aku dipenuhi rasa takut yang memburu. Perasaan yang tidak biasanya aku rasakan di tahun-tahun sebelumnya. Awalnya aku mengira ini hanya sugestiku saja tentang dia, iya dia, seseorang yang mulai mengembang di hati. Saat aku tahu jika dia akan mudik ke kampung halamannya nan jauh di sana, aku bisa apa? Aku dan dia bukan siapa-siapa. Bahkan menahannya untuk tinggal lebih lama pun bukan sebuah alasan yang tepat baginya. Tentu saja aku sadar, dia adalah dia yang akan pulang ke tanah kelahirannya. Dan aku di sini hanya mengulum senyum rindu dalam benakku.
            Siapa yang tidak senang jika ingatan saja sudah diracuni oleh hal-hal yang menggelikan seperti itu. Tingkah dan tutur katanya, sungguh aku rindu sekali. Dan ketika dia hanya bayangan aku hanya bisa mengenang senyumnya sambil menunggu dia pulang ke tanah rantaunya ini. Mengingat bagaimana dia terlihat menarik di mataku dan tampak bagai ksatria yang menjadi manusia biasa. Terdengar menggelikan, bukan?
            Tetapi jangan salah, terkadang sesuatu yang tidak biasa itu akan selalu dikenang karena hal tersebut terbilang unik dan menarik. Banyak yang kulakukan selama dia pergi dan salah satunya yaitu dengan menulis coretan yang satu ini. Sungguh, efek samping yang sangat berdampak sekali bagiku. Hingga goresannya saja membekas dalam catatan-catatan ringan yang sempat usang. Entah aku merasa beruntung atau sedih menunggu dia yang berlama-lama pergi. Dan setelah dia datang, entah apa yang akan aku lakukan nanti.
                Kalian perlu tahu bahwa ditinggalkan seseorang yang kita sayangi memang akan memunculkan dampak yang berbeda-beda bagi setiap orang. Kalian bisa tahu ketika kukatakan jika aku akan bersifat melankolis saat ditinggalkan seseorang yang sangat penting dalam hidupku kemudian akan muncul banyak sekali imajinasi liar yang ingin segera kukantungi dalam sebuah tulisan. Ets, bukan berarti hidupku selama ini dirundung gelisah, galau, merana, haha. Tentu berkarya adalah tuntutan bagiku yang ingin sekali menjadi salah satu menggerak dalam bidang literasi. Hanya saja langkahku belum tangguh dan masih terseok ke kanan dan kiri. Namun, aku berusaha mengejar ketertinggalanku. Itu cukup mengesankan, dengan cara sederhana rasa rindu saja bisa sedikit menguap dalam benakku. Lain halnya dengan sikap seseorang yang tidak biasa untuk ditinggalkan, mungkin saja akan muncul fobia yang sulit dihindari, yakni fobia akan kehilangan seseorang dalam hidupnya. Fobia ini disebut dengan Thantophobia. Terdengar berlebihan memang, namun bagi sebagian orang masih saja pernah merasakannya.
               Namun, perlu kalian ketahui bahwa saat kita ditinggalkan seseorang bukan hanya kesedihan saja yang terjadi. Banyak alasan tertentu bagi seseorang mengambil keputusan untuk pergi, lantas kita pun tidak boleh sembarangan dalam berasumsi untuk mengambil keputusan besar. Banyak keputusan yang menyeruak ke permukaan dan salah satunya adalah menjemput kesuksesan. Tidak perlu dirisaukan, karena setiap hal yang pernah pergi jika kita rela menanti maka dia akan pulang kembali. Tentunya kembali dengan segenggam kesuksesan yang telah diraih.
          Kendati demikian, terkadang seseorang selalu berpikir bahwa hidup tidak pernah adil. Namun, percayalah bahwa kita yang memiliki hak untuk mengadili hidup kita sendiri. Berpikirlah positif untuk menciptakan perasaan yang bahagia. Karena buah dari pikiran positif yang akan melukis senyum manis di pikiran kita. Selamat mencoba, semoga hidup kita selalu bahagia.

  • view 33