A WONDERFUL ELEMENT

Vadenfah Rerisla
Karya Vadenfah Rerisla Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Maret 2016
A WONDERFUL ELEMENT

~Vadenfah Rerisla~

Aku di sini sekarang. Berjalan memasuki ruangan dengan elemen dekorasi yang anggun, sederhana, hangat, sekaligus ceria. Satu hal yang paling menarik buat pandanganku, melihat balon-balon berwarna ungu lembut, baby pink, dan putih yang bergoyang-goyang disapu gagahnya angin air conditioner dan kipas angin raksasa dari tiap penjuru ruang. Balon-balon itu bergagangkan besi berlapis kertas perak, yang telah terhubung dengan tombol remote untuk nanti membuatnya pecah secara bersamaan pada saat momen indah yang ditunggu-tunggu itu datang.

Aku masih menikmati hidangan pembuka yang cocok untuk food combining rutinku. Segelas berlekuk gendut dengan tungkai tinggi yang telah dituangi senyawa rose tea. Ada bermacam warna mawar yang berenang di dalam gelas pilihanku. Merah, pink, kuning, dan oranye. Semua rasa kuntum mawar penuh warna itu beradu bersama air hangat tanpa campuran pemanis gula buatan. Ada semacam sensasi manis-manis sepat saat menyesap lalu mengunyah satu dari sekian kelopak yang tinggal. Hmm, nikmatnya hidup sehat ala aku...

***

Batu-batu kali yang ditata sepanjang pinggiran permadani emas itu tampak bersinar. Aku mendapatkannya dari kolega wedding decoration yang pandai sekali menyulap batu-batu kali sekepalan tapak tangan orang dewasa menjadi batu-batu taman seindah permata. Untuk pernikahan sahabat lamaku ini.

Bayangkan saja, batu-batu berserakan di sepanjang sungai kota ini yang kadangkali dianggap sebelah mata, dibuat jadi elemen dekorasi cantik dan unik. Dan batu-batu berhias cat akrilik serta stensil itu benar-benar menjadi sentuhan hiasan pemanis saat kedua pasang pengantin itu berbarengan menyusuri sepanjang jalan di tengah-tengah permadani balairung gedung pesta pernikahan. Aku dan para tamu undangan masih berdiri tatkala menyambut kedatangan keempat langkah kaki sepasang anak manusia yang bahkan tengah melangkah anggun dan gagah itu. Sehingga mau tak mau, kami juga tentunya aku sendiri, turut memaku pesona bersama setiap tatap yang melihat keduanya.

Betul sekali, sepasang pengantin itu baru melakukan akad di masjid seberang gedung ini dan kini di sini sebelum rutinitas potong kue pengantin atau makan-makan besar, akan dilakukan kecup cincin. Yakni sebelum memasangkan sebuah cincin pada jemari pasangan, cincin monel putih akan dikecup dulu untuk dibacai doa-doa rabithah sesuai panduan salah satu pihak orangtua mempelai. Baru kemudian cincin dilingkarkan pada jari manis pasangan secara silang sekar. Ini hanya untuk menghormati pemeluk agama lain yang tentu saja tak bisa ikut datang mengikat kehidmatan prosesi akad di dalam masjid samping gedung pernikahan pukul 08.00-10.00 pagi tadi.

***

Doa rabithah saat kecup cincin pengantin sudah ditunaikan. Kini pasangan bahagia itu akan melingkarkan cincin di jari manis keduanya.

Triing!

Tetiba ada bunyi menggelinding yang disusul gaduh suara kejut banyak orang, pun termasuk pasangan pengantin. Aku terpana dan mencari jawab akan apa yang baru saja terjadi sebab rupa monel perak itu malah bersandar persis menyenggol outfit sepatu gold-ku yang manis sekaligus sederhana. Dengan kaget, serta-merta kupungut cincin itu. Kularikan pada kedua pasang pengantin dengan tatap mata 1000 watts semua orang kini memindai laku spontanku.

?Segera lanjutkan prosesinya. Tenang saja, oke? Bismillah.? Tegasku sembari membuat bulatan fix dari ibu jari dan jempolku.

Pengantin wanita yang sebenarnya adalah teman lamaku itu, mengangguk sepakat. Lantas balon berisi confetti kertas warna-warni itu akhirnya berhamburan beriring tepuk tangan dan suit-siut menggema di dalam ruangan. Artinya, kedua pasang anak Adam itu telah berhasil memasang cincin rabithah di jemari manis masing-masing dengan silang sekar. Ya, meskipun dengan sedikit insiden tak terduga barusan. Lega aku rasanya. Alhamdulillah, lancar juga akhirnya.

***

Beberapa tamu undangan masih sesekali melirik penasaran ke arahku saat aku menikmati menu makan siang walimahan pada pukul 11.30 WIB.

Tak ada yang berani mengajakku berkata-kata karena mata biru safirku ini menjadi bukti bahwa aku adalah orang asing di sini. Satu-satunya tanda terbaik bahwa aku adalah muslim dan insan biasa barangkali bisa tampak dari balutan hijab ceruti dengan warna kuning keemasan lembut.

Apalah dayaku, saat mereka turut memecah konsentrasiku dalam menyantap sepiring hidangan bersayur-mayur dengan sekerat daging protein hewani ini. Maka kemudian, kualihkan saja pandangan sebisaku. Layar mataku terantuk pada kertas-kertas confetti dari balon yang sudah pecah-pecah tadi. Kertas-kertas bulat kecil itu berasal dari barang sisa kertas warna tak terpakai. Kini jejaknya masih berhamburan, terserak menghiasi lantai gedung pernikahan.

Confetti itu seharusnya dari kertas mahal berbahan millar atau logam. Tapi berdasarkan ide mempelai perempuan, akhirnya aku mampu memanfaatkan sisa-sisa kertas potongan dari pembolong kertas yang selalu teronggok bahkan tak terpakai dibuang di tong sampah.

Dasar si inspiratif! Menikah saja, dia tetap menginspirasi kesederhanaan dekorasi anggun yang seperti tampak mewah. Bisa-bisanya, aku dikerjainya sampai jauh-jauh dari luar negeri datang berlibur ke Kalimantan ini.

?#?vadenfahrerisla

  • view 112