THE THIEF SIGN

Vadenfah Rerisla
Karya Vadenfah Rerisla Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Maret 2016
THE THIEF SIGN

~Vadenfah Rerisla~

Malam kelam. Usia langit pekat menua. Garis melengkung dari bibir atasnya berjingkat, menyamarkan senyum culas di balik tabir kelam. Kaki panjangnya masih mengendap-endap. Memipiri pinggir rumah berbatu-bata merah tua. Dibukanya pintu pagar bambu milik tetangga. Tepat pada tempat penangkaran madu. Diambilnya segepok sarang lebah dengan senyap. Senter bercahaya buram bawaannya terjepit di ketiak kiri, sementara tangan kanannya menyabit tunas sarang lebah. Dimasukkannya sarang lebah dalam jambel putih kusam.

Ia tak khawatir. Tanganya berbaju lengan panjang hitam. Sepekat warna malam ini. Pada wajah garangnya bersemayam topeng ninja. Topeng itu akal-akalan dari kain belacu hitam yang dililitkan pada batas antara area atas dan bawah mata. Ya. Hanya matanya yang tampak mengerjap-ngerjap dalam gelap.

Belum puas nafsu mencurinya, Seno, tampak berjingkat-jingkat menuju gudang kayu berpintu palang bobrok. Pintu itu terbuat dari ayaman geribik bambu yang hanya diselot dengan kawat berpaku. Tanpa gembok kunci, tanpa setrum listrik. Belum ada listrik masuk desa. Jadi, bisa dibayangkan betapa hitam malam berteman dengan tindak-tanduk pencurian bejatnya. Pencuri kayu bongkok. Pencuri sarang madu.

***???????????????????????????????????????????

Tidur ibu tampak gelisah saat bunyi cericit tikus bergerodak dari arah gudang kayu. Lantas suara mengeong yang terdengar dibuat-buat itu menyusul. Menghamparkan selimut kekhawatiran yang kian menebal pada jiwa ibu. Ya Allah, perasaan ini pernah muncul saat puluhan tahun lalu. Firasat tanda bahaya saat rumah orang tuaku dirampok orang. Jerit batin ibu semakin gelisah tak tentu arah.

?Pak... Pak...? Panggil ibu lirih sembari menggoyang-goyang lengan kukuh bapak yang tengah meringkuk tertidur dengan memeluknya. Akhirnya ibu tak tahan merasai ripuh hati sendiri.

?Masha Allah, iya Bu. Ada apa?? Respon Bapak sembari mengucak mata demi membuat kedua kaliks matanya sempurna terbuka.

?Kayaknya ada orang di kandang kayu atau kandang tawon, Pak.? Bisik ibu sedikit tegang. Khawatir juga mengejutkan tidur anak-anak.

?Masa?? Bapak kaget dan matanya langsung nyalang.

?Hssst. Jangan keras-keras, Pak. Nanti anak-anak bangun.? Ibu masih menempelkan telunjuk di bibir usai mengatakannya. Bapak lantas mengangguk paham.

?Coba Bapak keluar dulu, Bu. Bapak pengen tahu.? Tegas bapak untuk sedikit menenangkan hati ibu.

?Hati-hati, Pak.? Pesan ibu. Bapak mengangguk mantap. ?Ibu ikut, ya?? Tawar ibu kemudian.

?Gak usah, Bu. Ibu tunggu di kamar ini aja. Jaga anak-anak tetap aman dan nyaman!? Tolak bapak disusul wanti-wanti yang selanjutnya bersambut anggukan setuju dari ibu.

Setelah mengambil jaket belel dan senter?yang ternyata tidak mau menyala karena kehabisan batre?bapak terpaksa menyalakan cempor cadangan dari botol limun bekas yang telah diisi minyak tanah dan pada mulut botolnya tersumbat sabut kelapa.

Begitu suara kunci pintu ruang depan diputar...

GRODAAK! Terdengar bebunyian sesuatu yang sepertinya tertabrak jatuh, terpontal dari ketinggian, atau kepanikan saat menyenggol sesuatu. Tunggu! Panik? Seseorang? Benarkah?

?Siapa?? Hardik bapak. Mata setajam elangnya yang lebih sering teduh itu tampak menyelidik, langsung berpendar ke segenap penjuru arah. Dilihatnya bayang hitam itu meloncat dari pagar bambu, berlari tunggang-langgang entah tangannya membopong apa. Bersembunyi ke arah bilik rumah Mbah Sainem, sebelah persis rumah Puspa atau barangkali menghilangkan jejak diri entah kemana. Mungkinkah benar kata banyak orang kalau....

?Pak?? Tegur ibu mengusir genangan tanya dalam diri bapak.

Saat bapak hendak protes kok malah ibu ikut keluar bersamanya, ibu sudah melanjutkan buka suara. ?Coba lihat itu....? Tunjuk ibu mengarah pada sebongkok kayu yang ikatannya sudah tak simetris lagi. Beberapa kayu bahkan tampak menjulur lebih panjang dan beberapa kayu lain menjadi terlihat lebih pendek.

Bapak dan ibu lantas saling memandang, terperangah.

?Ya Allah, Pak!? Ibu berusaha menutup keterkejutannya dengan menangkup mulut. ?Rupanya, ada yang berusaha mencuri bongkok kayu yang sudah susah payah kita cari.? Sesal ibu kemudian. Di hati ibu tersimpan bisikan perih. Kok, tega-teganya tho mencuri kayu milik keluarganya yang sangat pas-pasan ini? Keluarga yang bahkan didaftarkan Kyai kampung sebagai mustahik zakat saking jungkir-baliknya usaha mencukupi kebutuhan sosial, pendidikan, juga ekonomi.

?Kita gak usah sedih nggersulo begitu, Bu. Mungkin ini cara terbaik Allah membangunkan kita dari tidur yang amat nyenyak tadi.? Seloroh bapak menghibur ibu.

?Ya ampun, Bapak. Yang nyenyak tidurnya kan Bapak. Ibu dari jam setengah tiga tadi udah merem-melek gak enak hati. Ora penak roso.? Ibu sedikit misuh-misuh kali ini.

?Yo wes, Ibu masuk dulu aja sana. Bobo lagi nanti setelah tahajud bareng.? Bapak tampak menggeser topik dengan tersenyum sabar. ?Biar ini Bapak saja yang beresin.? Tangan bapak kemudian meraih kayu blungkang kering berjumlah 10 batang yang berantakan rupa itu. Mau tak mau langkah-langkah ibu pun mengayun menuju kedalam rumah.

Usai membenahi posisi kayu hingga dimasukkan kembali dalam kandang, sebongkok kayu itu ditumpukkan bersama baris kayu lain. Bapak masih tampak memijit perlahan keningnya sampai batas tengah dahi saat keluar kandang hendak menuju masuk rumah. Sembari berjalan otak bapak berputar-putar pada labirin pertanyaan.

Kenapa mesti mencuri kalau meminta baik-baik saja pasti akan aku beri? Kenapa tetanggaku berbuat begitu? Kenapa lelaki itu melakukannya? Padahal toh dia tukang ojek, laku keras tarikan job-nya? Apa ada hak-hak tetangga yang belum keluarga hamba tunaikan, Ya Allah? Mohon, bimbing kami. Jauhkan kami dari kefakiran dan kekikiran. Lindungi juga tetangga-tetangga kami dari fitnah marabahaya pencurian.

Begitulah. Rupanya bapak mengenal benar postur tubuh pencuri tadi. Bapak memang termasuk lelaki awas pandang. Mungkin beroleh hikmah akibat sering berdekatan dengan ayat-ayat Al-Qur?an.

Namun, sampai esok hari bapak dan ibu sama sekali belum sadar kalau segepok sarang madu mereka telah berhasil dicuri semalam. Barulah pada dua hari berikutnya, Puspa merasa kehilangan saat menghitung satu per satu sarang lebah yang dirawatnya. Di kandang lebah ini memang ada 20 sarang besar. 10 yang dirawat ayahnya, 10 lagi miliknya. Maka begitu disadari bahwa salah satu sarang lebah miliknya hilang, langsung diberitakannya kabar ?heboh? pencurian ini pada kedua ortunya.

Sayang benar, begitu malang nasib si pencuri. Saat Puspa membeberkan fakta kehilangan sarang itu, ada sekitar 5 orang sedang melakukan panjer beli madu untuk sebulan kedepan. Bisa diprediksi bahwa nama pencuri kayu dan madu itu akan terus dibicarakan hingga menyebar pada sekian banyak orang di kampung-kampung tetangga.

?#?vadenfahrerisla

Dilihat 74