THE QUEEN OF BEE

Vadenfah Rerisla
Karya Vadenfah Rerisla Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Maret 2016
THE QUEEN OF BEE

~Vadenfah Rerisla~

Kedua jembatan alis hitamnya yang lebat saling bertaut. Di dahinya kerut-merut pikiran berhamburan. Digigitnya pipi bagian dalam dengan murung sembari kedua lensa matanya memandangi langit-langit kamar. Kelopak matanya yang berwarna zaitun itu masih menyisakan bintit akibat tersengat lebah tadi siang sewaktu di sekolah.

Sesuatu dalam balutan warna merah putih yang menempel cukup usang di kayu-kayu lelangit kamar telah mengusik pusaka tatapnya. Bendera merah putihkah itu? Apa maksudnya bendera itu dipasang sedemikian lama di atap rumahnya? Bisa jadi itu pertanyaan-pertanyaan kecil yang tersampir di benak Puspa. Demi ingin mengetahuinya, dihentakkannya badan mungil berusia 8 tahun itu untuk lekas-lekas bangkit dari tempat tidur.

?Aah...? Suara paraunya melambari bukti terhadap satu kelopak mata atas sebelah kanannya yang masih merasa nyeri bercampur panas menyengat. Lungkrah sudah keinginannya untuk menemui sang ayah. Serta-merta diurungkannya kemauan itu dengan sebal. Digigitnya kembali daging pipi bagian dalamnya untuk membagi pertahanan rasa nyeri.

***

Puspa menjilat bibirnya perlahan. Rasa manis alami yang dipanennya kali ini benar-benar merayap melalui laring-laring tenggorokan. Ia sangat puas dan madu-madu perasannya melahirkan gelembung-gelembung gas pembawa kebahagiaan. Hatinya melambung hingga gemebyar kebahagiaan itu sampai kedalaman tulang sumsum.

Kedua tangan Puspa masih berleleran madu segar.

Betul, sore ini dia dan ayah serta seorang adiknya mengunduh madu di penangkaran belakang rumah. Mereka mendapat 10 botol madu segar berukuran sirup Tjampolay, sekitar 650Ml kalau ditakar-takar.

Kepala Puspa masih bertudung plastik panjang yang menutup wajah bulat oval khas Jawanya. Area sekitar wajahnya masih dibungkus masker dari kain taplak meja berwarna merah bahan tetoron. Tudung caping berplastik bening dan kain tetoron yang alih fungsi dari taplak?sebab selalu luntur tiap kali dicuci bersih itu?selalu bermanfaat paling tidak untuk melindungi wajah dan area THT agar terhindar dari sengatan panas lebah penghasil madu. Tambahan lagi, Puspa masih sedikit kapok siang tadi karena harus merasakan disengat lebah hitam di sekolah dan disoraki.

?Huuu! Ratu Lebah kok nangis digigit lebah!?

Bagaimana tidak disoraki begitu? Sehari-hari Puspa bertemankan lebah madu, eh malah siang tadi naas. Malang betul mesti dicium sengat lebah pas di kelopak mata kanan bagian atas. Tanpa diduga-duga lagi. Betul-betul pengalaman baru yang menyebalkan, menyakitkan,

Puspa Wahyuning Syafi?i adalah gadis keturunan keluarga penernak lebah madu. Sebenarnya keluarganya tidak terlalu nyaman untuk disebut-sebut sebagai penernak lebah. Karena puluhan lebah penghasil madu itu hanya ujug-ujug datang ke area rumah kecilnya. sekaligus memalukan.Bersembunyi sarang di balik almari tua usang yang sebagian besar kayunya sudah digerigiti rayap. Lemari tak layak pakai itu disimpan di tembok bagian belakang rumah yang posisinya berdepanan persis dengan kebun coklat dan cengkih kepunyaan Mbah Paiman. Hingga kemudian waktu berselang, Allah datangkan ratusan bahkan ribuan lebah untuk membangun sarang-sarang berkah. Menghasilkan madu untuk tambahan biaya bayi ketiga. Adik kedua Puspa. Anak lelaki kesayangan yang datangnya begitu ditunggu sekaligus didambakan bak hembusan angin surga. Subhan Firdaus Habibi. Adik mungilnya yang berbadan menggemaskan dengan mata hitam bulat jernih, bercahaya cinta, dan kulit putih bersih. Persis seperti ibundanya, namun berlainan betul dengan kulit coklat kekuningan zaitun miliknya.

***

Botol-botol madu perasan itu sudah disumpal dengan tutup berbahan kayu waru seukuran lingkar bibir botol. Botol-botol itu kemudian ditaruh dalam setenggok berukuran besar untuk diangkut ke dalam rumah, tepatnya ditaruh ke lemari penyimpanan madu. Madu-madu yang telah diletakkan di lemari kayu itu berarti sudah ada yang pesan. Pemesan madu biasanya memberikan panjer uang senilai setengah harga awal sesuai kesepakatan yang akan dilunasi begitu menerima madu kemudian. Bahkan, ada juga yang sangat begitu yakin untuk membayar di muka sepenuh harga meski belum mendapatkan botol-botol madu pesanan mereka. Ini acapkali terjadi, barangkali karena doa tulus dalam sujud-sujud tahajud dan dhuha yang dilakukan kedua orang tuanya dan tentunya atas rahmat Allah pula.

?Pluk! Cempluk!? Longok seseorang dari muka pintu saat memanggili sebutan nama Puspa. Masih ingat kan Puspa gadis cilik yang suka bermain di Gunung Cempluk Rahasia. ?Mau ngambil madu pesanaaa...n.? Beri tahunya lagi.

Puspa lantas menghentikan aktivitas melabeli botol-botol madu dengan tulisan ceker ayam miringnya. Ditinggalkannya sekaleng lem Fox besar dengan warna badan putih dan bertutup merah itu. Kemudian berlari menuju pintu ruang tamu yang kadang bisa disebut ruang makan, ruang keluarga, atau ruang bermain karena saking kecil dan sangat sederhana rumahnya. Saat sorot matanya beradu dengan si tamu dari depan pintu coklat gandanya yang terbuka, Puspa tampak kebingungan.

?Nduk, Bapakmu mana? Aku mau ngambil madu pesenanku!? Lek Sawiji menyapanya lagi dengan kalimat-kalimat ini. Membuat Puspa semakin beku.

Puspa tidak tahu bagaimana harus memperjelas semuanya. Bahwa nama Lek Sawiji sama sekali belum tercantum sebagai pemesan. Paikem. Ponikem. Bejo. Saiman. Wardi. Srintil. Gunarto. Warji. Warji. Warji. Tak ada label nama untuk Sawiji.

?Lek Sawiji, kapan pesennya?? Tanya Puspa melirih, antara takut dan hati-hati.

?Loh, yo Rebo wingi toh. Kemarin, kira-kira tiga hari lalu.? Sahutnya berapi-api dalam bahasa Jawa medhok.

?Loh, baru tiga hari yo ndak bisa ambil sekarang toh, Lek.? Protes Puspa, khas anak SD sekali. ?Yang lain aja pada nunggu sebulan atau dua-tiga minggu.? Jelas Puspa lagi.

?Nduk, aku iki wes bayar loh! Ono-ono wae, kok malah dikandani raisoh njupuk madu pesenan saiki.? Suara Lek Sawiji mulai meninggi. Ia seperti merasa tersidik setelah diberitahu madu pesanannya tak bisa diambil sekarang. Mesti menunggu satu bulan, tapi kan....

?Aku yang nulis namanya loh, Lek. Bentar yo...? Puspa masuk ke dalam kamar tidur berlimanya yang biasa digunakan kedua orangtua, Puspa, dan kedua adiknya tidur bersama.

Begitu keluar, dibopongnya tenggok bakul besar itu. Keberatan untuk ukuran badannya yang kurus ceking.

Ditunjukkannya 10 botol yang baru selesai dilabeli 5 botol itu. Tersisa lima nama: Srintil, Gunarto, Warji, Warji, Warji. Tak ada satu pun nama Sawiji.

?Endi Bapakmu?? Wajahnya tampak berang dan timbre suaranya lebih meninggi. ?Mana Syafi?i? Aku ki wes bayar Rebo wingi. Seenaknya saja gak bisa ambil madu.? Mata lebar Lek Sawiji melirik tajam dan mengirimkan perseteruan. Ia mungkin tak terima. Oh, lebih tepatnya tak bisa menerima kenyataan.

?Syafi?i! Syafi?i!!!? Teriak Lek Sawiji kalap sembari serampangan melangkah ke halaman belakang rumah Puspa. Membuat Puspa berlari di belakangnya.

Begitu bertemu Bapak, Lek Sawiji lantas mengeluarkan semprotan makiannya yang terdengar kasar.

?Koe ki ora sopan tenan! Aku ki wes bayar madu wingi, malah diomong ora isoh njupuk madu. Karepmu ki opo??

Bapak yang masih bertudung caping berplastik bening dengan sepatu boot butut itu tampak sedikit kaget, ?Loh, kapan toh ke rumah? Saya, Bune, dan anak-anak belum tahu e.?

?Allaaa! Ora usah kakean alasan. Jal, alasanmu opo? Ndadak nggowo anak-anakmu segala. Gak usah bawa nama anak-anakmu! Aku ki Rebo wingi wes bayar ke Gendhis. Anak gadismu sing keloro!? Subhanallah, Ya ampun Gendish. Jadi Gendhis yang dititipi uang. Pantas.

?Oalah, Lek-lek.... Jadi pesen dan titip uang ke Gendhis toh. Lah, Gendish ki ndak bilang opo-opo ke kami. Ngomong ke awakmu enggak, Nduk?? Tanya Bapak dengan layar pandang mengarah pada Puspa.

Puspa menggeleng mantap. ?Enggak kok, Pak. Gendhis gak bilang apa-apa.?

Lek Sawiji tampak sedikit salah tingkah. Salah langkah, rasanya. Tapi gengsi masih menguasai otak kepalanya.

?Terus piye ki? Piyee?!? Tantang Lek Sawiji kemudian.

?Lek, yo kami minta maaf. Gendis kan bocah cilik. Belum tahu apa-apa. Yo, diikhlaske sak ngapurane.? Pinta Bapak halus.

?Yuh-yuh-yuh, Gusti. Apes tenan. Bikin sambat ati!? Keluh Lek Sawiji. Masih belum mau mengalah.

?Makanya Lek, lain kali kalau pesen itu langsung ketemu Bapak atau Mamak. Biar...? Celetuk Puspa kemudian yang akhirnya dibenahi secara santun oleh Bapak.

?Maturnuwun udah pesan yo, Lek. Kalau mau nunggu dapat madunya sebulan ya syukur, uangnya mau diambil lagi ya nanti kita tanya Gendhis dulu. Uang yang dikasih Lek Sawiji disimpan di mana.? Papar Bapak dengan suara santun, bijak, dan tentu saja tidak akan bisa ditolak.

?Sialan tenan mesti nunggu sebulan. Asem!? Umpat Lek Sawiji, sembari langkah-langkahnya berjalan menjauh. Pamit pulang atau entah kemana. Yang jelas jauh-jauh dia datang dari kampung sebelah dan tak dapat apa-apa. Tapi ia jadi tahu kalau pesan madu ?The Queen Of Bee? tak bisa main-main. Tak bisa langsung panjer uang dan ?der? jadi. Ia mesti bersabar dalam menunggu. Dan yang pasti, ia akan lebih hati-hati untuk tak sembarang menitip uang pada bocah kecil yang bahkan belum bisa membaca apa-apa.

?

#?vadenfahrerisla

  • view 123