POLITE ETHIC

POLITE ETHIC

Vadenfah Rerisla
Karya Vadenfah Rerisla Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Maret 2016
POLITE ETHIC

~Vadenfah Rerisla~

?Tapi Yah, tidak akan mudah bagiku untuk menangani hal-hal perpolitikan semacam itu. Aku....? Suaraku tercekat, tatapanku berkabut. Tiba-tiba aku merasa gentar dan agak takut. Sedikit.

?Mudah, Nak. Ayah yakin kau akan mampu.? Yakin ayah sesaat setelah membuka tutup kompartemen mobil. Ayah biasa mengantarkanku pagi-pagi. Ayah seorang guru yang aku jamin adalah tipe ideal prototipe guru terbaik di kota tempat kami tinggal ini. Aku berani bersumpah untuk itu dan aku tidak pernah meragukan keahliannya dalam bernegosiasi.

?Hmm, Yah.... ? Pikirku seraya menimang-nimang pertimbangan. ?Aku rasa, aku tidak akan pernah mengalami intrik-intrik kekuasaan seperti itu. Semua orang di sekelilingku tampaknya baik-baik. Bahkan sangat baik.? Ya, setidaknya pernyataanku ini, it sounds good. Meski entahlah, aku masih saja menangkap kekhawatiran ayah.

?Sungguh Nak, kau yakin dengan penglihatanmu itu? Bagaimana perasaanmu saat mereka sejak awal bahkan sampai kini memilihmu? Apa kau merasa nyaman, hubungan pribadi dan sosialmu lebih baik?? Ayah menyampirkan milimeter pandangan dalamnya lagi ke arahku, lengan kokohnya kemudian serta-merta membingkai lenganku. ?Ayahmu ini sungguh-sungguh tak mau menjerumuskanmu. Ayah hanya memintamu selalu berhati-hati saat kau menjalankan tugas. Jangan pernah sekalipun engkau lalai atau lengah. Jangan pernah sekalipun kau tertidur di gedung pemerintah saat kau tengah menjalankan amanah. Kau tahu, Ayah bahkan berpikir kau akan dicalonkan lagi, Sayang.?

?Masha Allah, Ayah. Begini saja sudah cukup berat buatku, saat mereka berbondong-bondong memilihku. Bahkan seolah aku tak berhak untuk menolak.? Sambatku jujur, meradiasikan senyum kepasrahan. Ya, mau bagaimana lagi. Aku harus maju terus, bukan?

Mungkin, mmh perilaku dari perkataan ini sedikit teritorial, tapi aku cukup punya alasan mendasar untuk mengatakannya pada seseorang yang kepadanya kutanamkan kepercayaan terbesarku. Ayah.

?Baik, Ayah percayakan semua urusanmu padamu, Sayang. You are my best.? Kedua tangan ayah meraihku secara menyamping, membenamkan kepalaku pada dada kesabarannya yang tentu saja terbaik. Selalu terbaik. Selamanya.

***

Waktu menunjukkan pukul 09.45 pagi. Aku duduk di atas kursi putar ala pejabat tinggi. Kubaca kertas kalkir berwarna ungu, pink, hijau muda, kuning, dan biru lembut itu. Tertera nama pengirimnya begitu jelas disitu. Banyak bunga berdatangan yang dikirimkan kepadaku semenjak aku terpilih menjadi satu-satunya kandidat mutlak yang menduduki posisi paling penting dari sekian deret jabatanku sebelumnya. Hsst, jangan pernah mengusik-usik hal ini secara mendalam, karena tentu saja aku akan kehilangan kesabaran untuk menjelaskan sederet hal mendetil yanga kadang terasa begitu menguji kesabaran hati ini.

Fhh. Kedudukan baruku ini merupakan jabatan ?panas? dalam dunia kekuasaan. Paling banyak diincar orang. Diperebutkan. Penuh intrik. Taktik mencekik. Kawan menjadi lawan. Menambah deret perlawanan jika tak berani memiliki ketegasan dalam cara paling halus. Perpolitikan dalam memperebutkan kekuasaan.

?Anda pikir, tanda tangan ini untuk apa?? Suara garang yang terdengar dari balik ruangan itu melumpuhkan konsentrasiku menandatangani berkas-berkas penting yang sudah menumpuk di atas meja.

?Aduh, siapa sih siang-siang panas begini, mana pakai mengamuk segala pula.? Kutarik tirai besi buka tutup yang jadi hijab kaca bening dalm ruanganku. Make sense betul jadinya saat kulongok, ya ampun tuh orang bertamu, kayak lagi malak orang. Parah abis, kan! Sopan santun sedikit kek. Dikira kita bisa dirampok kali, ya. Hihi. Ya sudahlah! Semoga bisa diurus. Kita amati saja apa yang akan terjadi. Sepertinya, ini akan menarik buat cerita hari ini.

?Baiklah. Bismillah.? Aku mencoba menata alur fokus lagi.

?Kami minta maaf, Pak. Kalau memang akan melakukan pencairan dana pembangunan tata kota, silakan bawa KTP asli dan penuhi persyaratan lengkapnya. Mumpung ibu bupati stay long day hari ini. Belum tentu besok-besok bisa free berada di sini untuk dimintai tanda tangan pencairan dana.? Sayup-semayup masih kudengar duel mulut, bawahanku?oh maaf, maksudku patner kerjaku, aku merasa lebih nyaman untuk menyebutnya begitu?sedikit melembutkan nada suaranya setelah aku berdehem cukup nyaring. Tak bisa kupungkiri, keributan tak seharusnya ini sudah mengganggu kenyamanan kerjaku.

BRAAAK!!!

Oh, Tuhan. Rasanya jantung ini hendak meloncat dari dalam sini. Kagetku setengah mati saat kudengar suara gebrakan itu.

?Justru karena besok-besok belum tentu free, makanya ini urgen. UR-GEN! Ini harus ditandatanani Ibu Bupati sekarang. Se-ka-rang! Kamu dengar, heh? Saya ingin sekarang!? Nafas emosi pembicara itu terdengar menyetrumkan panas. Kulihat dari balik jendela tirai besiku, matanya sangat membakar. Kasihan, patner kerjaku di lain ruang itu sudah sangat ketakutan.

***

BRAAK!

Aku ternganga sembari menangkup mulut. Suara gebrakan itu kembali terdengar dan secara sempurna mengagetkanku. Dari tanganku sendiri. Keributan di luar lantas sunyi sejenak. Hati mekanikku mengajakku bersabar, tapi rasanya tamu tak diundang ini tak bisa dikasih hati. Innalillah, aku sangat menyesal karena ketegangan emosi justru menebal di pihak dalam diriku. Menyebalkan.

?Biarkan dia menghadap langsung pada saya, Asih.? Pesanku pada patnerku sewaktu akhirnya kubuka tirai besi buka tutup naik turun itu. Astaghfirullah.

?B- baik, Bu.? Sahut Asih santun dan agak gelagapan.

Hhh. Semoga aku tidak menyebat mulutnya saat berhadapan denganku.

?Silakan duduk.? Sapaku tegas tanpa menyebut panggilannya Pak atau Mas. ?Mau minum apa? Oh, biasanya laki-laki suka kopi panas ya. Baik, kopi panas pahit dan tanpa gula tampaknya enak. Saya sukanya minum kopi begitu. Kata Rasulullah kita harus memberi seseorang dengan sesuatu yang kita sukai. Anda tak masalah kan sekali ini minum kopi yang sama dengan saya?? Paparku basa-basi. Dan masih tegas.

?T-Tak masalah, Bu.? Suaranya patah-patah dan terlihat benar kikuk. Suruh siapa pagi-pagi sudah cari huru-hara.

?Asiih.? Panggilku saat usai menekan tombol angka di badan telefon, lalu gagang telefon interkom kantorku bersambut. ?Tolong beri tahu Pak Salim, buatkan kopi hitam pahit seperti biasa. Dua, ya. Terima kasih.?

?Apa jabatan Anda?? Tanyaku akhirnya sedikit lumer, meski buku-buku jariku seakan memutih oleh sebab menahan geram emosi.

?Em...e....? Kata si tamu masih gagu saat tiba-tiba Pak Salim mengetuk pintu dan masuk begitu kuperkenankan.

Setelah kuucap terima kasih dan Pak Salim beranjak keluar menutup pintu ruang kerjaku,

?Baik.? Kataku bertepuk tangan. Larung tatap si tamu tampak terkejut. ?Mari diminum kopinya mumpung panas.?

?B-baik. Terima kasih, Bu.? Ia seperti membebek sewaktu aku langsung mencontohkan mengambil gagang cangkir putih dengan palet angsa emas itu.

Kulihat wajahnya tegang saat akhirnya menyeruput kopi. ?Ada yang bilang, kita harus hati-hati saat diundang minum kopi. Begitu kata dosen saya sewaktu saya kuliah di luar negeri dulu. Apa Anda merasa begitu?? Kutekan kata ?begitu? dengan panah peringatan. Pastinya. ?Setidaknya, apa Anda merasa lebih baik sekarang?? Senyumku kembali mengantar busur peringatan lagi.

?Iy-ya. Saya merasa lebih baik.? Masih kulihat sepertinya ia tak biasa menyesap kopi pahit. Sangat pahit, tentunya. Tapi sepadanlah buat kelakuan pahitnya tadi.

?Saya rasa Anda masih tak nyaman, ya. Oke, kita mengobrol langsung pada intinya saja. Ada perlu apa bertemu langsung dengan saya?? Aku mencoba memetakan kepercayaan dirinya yang tadi sempat angkuh ditunjukkan pada patner kantorku tadi.

?S-saya butuh tanda tangan Ibu untuk....? Kemelut samar dan alisnya yang bertaut gelisah itu merayap di area sekitar dahinya. Kutatap sirobok matanya seperti seorang Sherlock Holmes yang tengah fokus menemukan bukti kasus nyata saat ujug-ujug ia menghentikan kata.

?Bawa persyaratannya? Maksud saya, kelengkapan persyaratannya? Itu akan membantu kami menyusun daftar administrasi. Jadi mohon berikan pada kami agar kepentingan Anda segera bisa kami penuhi.?

?Saya tidak bawa, B-bu. Tapi ini sangat urgen dan saya terburu-buru tadi. Jadi sengaja tak bawa persyaratannya. Karena saya tahu Anda mumpung free hari ini jadi....?

?Jadi bagaimana kami akan memberikan bantuan dananya kalau persyaratan teknis data administrasinya sengaja tidak dibawa?? Ralatku, memotong kata-katanya yang menggantung.

?Tapi Bu, ini sangat urgen! Saya punya kenalan kok di sini. Saya biasanya bisa langsung mendapatkan tanda tangan penting meski tanpa berkas persyaratan.? Cecarnya protes.

?Dan sayangnya ini bukan yang biasanya, ya.? Aku sedikit melembutkan nada bicaraku. ?Bagi kami, persyaratan juga sangat penting. Mohon Anda sekarang pulang, ambil persyaratannya dengan lengkap, bawa kemari. Saya tunggu. Silakan. Terima kasih.? Akhirku cukup tegas tanpa alih-alih dengan segera kuarahkan si tamu yang pada kemudian tak berkutik di hadapanku kini agar segera menuju pintu keluar. Aku ingin sosoknya segera memamitkan diri.

Setelah ia keluar dan tanpa mengucap sepatah terima kasih atau apa, aku tanpa segaja menggelengkan kepala. Tak habis pikir dengan caranya berpikir dan bertindak.

?Mestinya, semakin mendalami hal-hal berbau politik, semakin banyak pula orang yang lebih sopan sikapnya. Aneh, ini justru bersebalikan.?

Sekadar catatan saja bahwa aku paling menghindari berdebat dengan siapa pun, paling enggan ribut. Termasuk dengan ayahku atau si tamu tadi. Karena apa? Yaaa, tahulah aku yang sedikit pendiam ini takkan mampu menandingi pertandingan bersilat lidah semacam itu. Itu hanya perlu kulakukan sesekali, jikalau si pembicara lain tak menghargai keberadaanku atau mencemooh peran patner kerjaku.

Dan aku masih merasa janggal. Politik yang berasal dari Bahasa Inggris ?polite? itu kan berarti ?santun, sopan, bijak, halus?, mestinya membuat banyak orang yang mempelajarinya bersikap lebih sopan santun dan lebih bijak, bukan?

?

#vadenfahrerisla

  • view 125