THE BOOK HUNTED

Vadenfah Rerisla
Karya Vadenfah Rerisla Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Maret 2016
THE BOOK HUNTED

~ Vadenfah Rerisla~

?Memikirkanku?? Aksen dalam yang jernih itu menerabas pikiran yang tertawan dalam lamunan.

?Enak saja.? Kilah perempuan itu sambil melempar sebuah buku.

?Memang kelihat begitu, kok, dari matamu.? Sorong lelaki itu lagi. Memancing-mancing apa yang tersimpan dalam benak sunyi sang istri.

?Sial.? Umpat perempuan itu, hatinya dilumuri kegemasan yang tak terlalu berarti.

?Hei, ini kan buku....? Kata lelaki itu tampak menimbang-nimbang dalam hati.

Perempuan di depannya kembali mendekap informasi yang tertuang dalam buku. Ia pun membolak-balik keseluruhan buku tak terlalu tebal yang dilemparkan kepadanya tadi dengan sepenuh perasaan penasaran yang menjangkiti labirin pemikiran.

?Starla, mau menahan waktu bersamaku?? Jaksa Laurens tampak melempar koin lebih dulu. Mengawali pertanyaan ini.

?Maksudmu?? Ia, Starla, sangat tahu bahwa suami di hadapannya ini amat suka menerjang granit kesulitan. Menggoda marabahaya. Memecah misteri. Makanya ia perlu bertanya dengan lebih spesifik. Akan diajak kemana ia.

?Kita perlu menemukan jalan menuju hutan perdu ini.? Telunjuk suaminya memaku peta lokasi yang dimaksud. ?Aku yakin, kau akan menyukai selautan perdu yang barangkali berbunga cantik itu.? Kedip mata suaminya.

?Barangkali kan, Sayang. Itu belum tentu menjamin. Lagi pula bebarapa hari ini sedang musim hujan, kan??

?Aah, siapa yang tahu. Kalau tidak mencobanya, kita akan penasaran seumur hidup.? Partikel suara itu sejenak dirasakan melengkungkan godaan untuk mau. Tapi kan keselamatan bayi yang dikandungnya juga perlu.

?Kau saja yang penasaran, Sayang. Aku tidak begitu.? Sergah Starla cuek dan apa adanya. Ia baru hendak menanam konsentrasi lagi pada barisan kata yang sedang dibaca, namun kemudian...

?Kemari?? Tatap mata suami itu mengirim sayat cemburu, meski sesaat sang istri bisa menangkap perasaan suaminya begitu.

?Apa?? Tanya istrinya polos.

?Kemari saja.? Pintanya sekali lagi, tegas menepuk-nepuk kursi rumah berbahan kayu rotan klasik itu.

?Baik. Sebentar.? Starla menurut saja. Dimajukannya tubuh yang tengah mengandung 4 bulan itu untuk berpindah duduk di samping kanan suaminya.

?Mari kita tanyakan pada si jabang bayi kita, apakah ia mau membantu ayahnya? Membujuk ibunya agar turut serta, mengajak bayi kecil di sini bermain-main sejenak di luar??

?Aah, kau ini....?

?Husst....? Suaminya membungkam suara istrinya dengan isyarat jemari yang tertempel di bibir. ?Kalau kau terus bicara Sayang, kita takkan bisa mendengar dengan baik apa perkataan batin bayi kita.?

Sudah. Kalau sudah begini, Starla akan menurut. Begitu perut buncitnya dielus manja, sang suami merapal doa-doa keselamatan untuk jabang bayi mereka, dan rimbun tatap merangkul keduanya. Mengantarkan peluk. Kelembutan hati suaminya akan menjelmakan telaga rindu.

?Bagaimana, Sayang? Apa kata bayi kita?? Senyum jahil suaminya terajut mesra.

?Baik. Baik. Aku, ibunya, harus ikut denganmu.? Ranum senyum istrinya merekah canggung. ?Ingat ya ini bukan sepenuhnya mauku, tapi kemauan bayi kita.? Pidatonya lagi, sedikit menahan gengsi sebab telah memutar jawaban yang berbeda dari sebelumnya.

Dan buku berjudul ?Memecah Misteri dari Selembar Senyum? itu kembali tersibak sendiri saat angin barat menyusup melalui liang jendela yang sepenuhnya terbuka, waktu kedua pasang suami istri itu sedang berbenah untuk persiapan menguak misteri. Mereka tak sadar kalau bagian dari carik-carik kertas dalam buku itu telah terpenuhi baret-baret darah.

Entahlah, apakah beberapa hari seterusnya mereka akan bisa kembali dengan selamat atau tidak, yang jelas buku ini benar-benar misteri. Karena buku ini sebenarnya sudah mereka bawa untuk dimasukkan ke dalam tas ransel perjalanan piknik ke hutan perdu. Yang tentu saja menyimpan jengkal-jengkal penuh kengerian.

?

?#?vadenfahrerisla

?

  • view 78