SILENT PARFUME

SILENT PARFUME

Vadenfah Rerisla
Karya Vadenfah Rerisla Kategori Puisi
dipublikasikan 19 Februari 2016
SILENT PARFUME

~Vadenfah Rerisla~

?

Harum segar yang semula menguar samar itu mulai meloncati area bangku taman. Bak mantra, wanginya menjelmakan aroma afrodisiak yang menghentak-hentak di pedalaman kalbu. Perempuan yang baru saja diamuk luka sesaat sebelum meninggalkan gedung kejaksaan itu mengecap semua keharuman dalam-dalam, menyimpannya sepenuh rapat dalam botol ingatan.

Harum itu adalah wangi sesegar floral woody musk. Pesona wanginya seolah berpadu dengan dominasi aroma kelopak kembang heliotrope yang diiris feminin, meninggalkan kesan powdery character dari sebotol parfum cantik berwarna blue pastel kira-kira seukuran 65 mili. Ia, perempuan itu mengenalnya, parfum seorang ibu yang telah lebih dahulu pergi meninggalkan dunia.

Dan aku berani bertaruh, harum parfum ini adalah satu-satunya dari sekian banyak parfum yang pasti disukai jabang bayiku, tegas batin perempuan muda yang saat ini tengah mengandung berusia tepat trimester pertama itu.

?Minta maaf pada suamimu, Nak.? Bisik pelan suara itu terdengar halus, selembut beludru.

?Atas apa, Bu?? Tanya seseorang yang disebut Nak itu.

?Kau yang barusan tadi berwajah murka saat pergi meninggalkan muka suamimu.?

?Aku, Bu?? Ia, menggeleng. ?Tidak Bu, aku tidak pernah seperti itu. Kapan aku melakukannya? Mana bisa aku....?

?Kau melakukannya, Anakku. Kejadian sebelum kepulanganmu dari gedung persidangan tadi.? Jelas ibunya masih dengan aksen lembut yang sama.

?Tapi, Bu?? Bantahnya kritis seperti biasa seperti masa-masa dulu saat ia masih dalam pergolakan batin labil sebagai remaja.

?Tidak Nak, kau tidak perlu menjelaskan lebih banyak. Aku ibumu, yang melahirkanmu, merawatmu. Aku tahu lebih banyak dari yang orang lain di luarmu tak tahu tentang itu.? Deg!

?Ibu...?

Keharuman feminin dari Bulgari Omnia Collection Amethyste itu kembali menyeruak, menerjang saraf-saraf penciuman lagi. Segenggam kerinduan tiba-tiba hadir dan potong demi potong irisan hati terdengar. Menjadi sebuah kenangan yang hati kecilnya rindukan.

?Selamat tinggal, Nak. Sampai jumpa lain waktu.? Tetiba suara itu langsung senyap. Semua menjadi sunyi lagi, kensunyian yang menggarit hati.

?Ibu, jangan pergi! Kumohon, Ibu... Ibu.... ?

Selat air mata membanjir di pipi. Isak tangis yang teramat sulit diterjemahkan sebab saat terbangun dari tidur tak sengajanya di taman, ia hanya ditemani barisan pepohonan dengan segenap daun pancarona. Daun-daun berwarna-warni tua itu beterbangan tertiup gelombang angin.

Perlahan-lahan harum yang menggejala di sekelebat mimpi turut memudar, menghilang disapu angin bersama terbangnya dedaunan musim gugur.

Rupanya, ia hanya bermimpi di tengah hari.

?

#?vadenfahrerisla

?#lombaparadeinspirasi

  • view 108