BECAUSE OF DNA

BECAUSE OF DNA

Vadenfah Rerisla
Karya Vadenfah Rerisla Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Februari 2016
BECAUSE OF DNA

~Vadenfah Rerisla~

?

Mata safir jernih itu menembus tak fokus pada sepiring steak buah segar yang ada di hadapannya. Ia menggerutu. Kenapa sih ia mesti capek-capek menyuruhnya datang melalui sebuah perintah yang dikirimkan saat panggilan dari ponsel selulernya barusan. Ia, Starla, sudah benar-benar kehilangan nafsu menyantap menu favorit food combiningnya pagi ini. Ia lantas meninggalkan meja makan terburu-buru, menuju lemari pendingin, mengambil sebotol air dingin kemasan, dan menyimpan sepiring bening berisi buah-buahannya itu pada sekotak makanan. Akan ia jadikan bekal, untuk menuntaskan sarapan paginya yang tertunda dengan sangat menyedihkan di pagi dengan hembusan angin dingin mengembang lebih rendah beberapa derajat dari biasanya ini.


Pukul 9 pagi ala Skotland. Starla baru akan menutup pintu kamar eboni gandanya ketika ponsel pink bergliter emas metaliknya berdering kembali. Fhhh, jaksa itu lagi. Starla tampak meniup moncong jilbabnya keras-keras. Apalagi, kalau bukan membuang semua nafas kesalnya.

***

Klik!
Starla menekan sebuah tombol kunci klik pada kendaraannya. Menandakan bahwa mobil sudah terkunci aman dan apa yang dikemudikannya itu telah siap untuk diajak melaju membelah perjalanan pagi kota pelajar dengan hamparan bangun dan tata kota klasik beradab kehidupan modern ini.


Revolusi ban mobilnya pada setengah jam kemudian telah mengantarkannya ke sebuah distrik kejaksaan kota Skotlandia.


Setelah memarkir mobilnya, ia bergegas menangkap pintu foyer lobi dan memotong jalan menuju lift ke lantai dua gedung persidangan. Ruangan Jaksa Laurens.


Tingkat intensitas pekerjaannya telah membuatnya harus fokus pada banyak titik. Pengacara. Persidangan. Penyidikan kasus. Penggalian fakta. Kasus pembelaan. Penemuan data. Entah apa lagi yang belum dan harus dilakukannya. Lagi.

***

Aroma aftershave cologne khas lelaki di ruangan tiba-tiba menguar. Ada bermacam-macam. Tapi Starla langsung menuju ke arah seorang lelaki bersepatu Ferragamos dengan jas desainer hitam khas jaksa yang menempel sempurna di badannya. Tentu setelah menyapa hormat 6 mata yang lain di tempat ia tadi pertama kali membuka daun pintu ruangan beradanya kini.
"Oya, perkenalkan ini Doktor Sangkot, dari Indonesia. Beliau ahli forensik yang akan membantu kita untuk menemukan hal paling mendebarkan dalam persidangan kali ini." Tutur Jaksa Laurens, memperkenalkan semua tamunya dengan Starla.
"Perkenalkan saya Starla Veerstanding Nugroho dari Solo, sedang menempuh S2 di sini disambi menjadi pengacara dadakan. Senang bertemu dengan tim Anda, Dr. Sangkot. Saya merasa menemukan saudara sedarah tanah air di sini."
Starla memperkenalkan diri dengan suara renyah, hangat, dan takzim, tentunya. Dr.Sangkot tampak paham kode sapa pujian tersebut. Ia lantas tersenyum sehangat yang Starla berikan.
"Baik, Jaksa Laurens dan Nona Starla. Bisa kita lanjutkan ya penjelasan tim kami?" Pinta Dr.Sangkot agak sedikit tegas selanjutnya. Ini sebuah profesionalisme. Setelah mereka mengangguk, Dr.Sangkot melanjutkan. "Perhatikan potret potongan badan ini." Tunjuknya menampilkan potongan sebelah lengan kiri, beberapa area setengah badan yang tercabik-cabik, dan juga patahan kaki bilur lebam kehitaman akibat luka bakar, serta tak lupa pergelangan pun jemari tangan kanan yang nyaris retak-retak. Semua tampak mengerikan dan tak bisa tidak untuk sekejap membuat Starla mual. Tapi ya namanya pengacara, harus sekuat-kuatnya ditahan. Ia tetap menjaga adab mulut--untuk tidak mengeluarkan bunyi muntah seperti kebanyakan perempuan hamil pada umumnya. Bahkan seinci pun sorot tatap Starla tak berpindah dari layar infokus di ruangan berskala 3 x 4 meter ini. Ia sekali lagi, sangat mencoba untuk terus berkonsentrasi. Meski hanya sesekali terlihat menampakkan kernyit tak nyaman atau tetap ringan membenarkan letak outfit kardigan hijau favorit yang tengah dikenakannya kini.
"Kami mengatakan bahwa sangat perlu setidaknya untuk melakukan sebuah tes DNA terhadap semua potongan badan ini." Tes asam deucirybonuclead acid?

Ya. Ini akan sangat memakan waktu. Tes DNA atau deucirybonuclead acid adalah semacam tindak melakukan tes terhadap potongan badan korban, mengambil sampel darah-rambut-hingga kedalaman bingkai tulang, mencocokkannya dengan DNA keluarga korban (bisa ibu, anak, bahkan plus nenek korban), mencari pasangan basa ganda ACTG, melabeli pasangan basa berbentuk tang dengan flourescent, menemukan barcode DNA korban, menghubungkan barcodenya dengan barcode-barcode keluarga korban, melakukan validasi yang harus membutuhkan lebih banyak waktu lagi. Astaghfirullah, hal-hal serumit ini bukankah akan memperlama jasad korban disemayamkan? Bagaimana ini?

"Begini, Starla. Ini sangat penting. Kau tahu kan, mmh... Aku dalam hal ini lawan mainmu. Aku di pihak perusahaan yang menolak pemberian dana ganti rugi dan kau diminta sebagai pembela keluarga korban. Sementara, berdasarkan petunjuk keluarga korban kebakaran tiga hari lalu, mereka menduga ayah mereka adalah salah satu korban kebakaran perusahaan ternama itu karena sudah tiga hari ini tak pulang. Namun, perusahaan menolak kalau kebakaran kemarin menghanguskan nyawa seseorang. Perusahaan bonafid ini tetap menolak memberikan dana ganti rugi semacam jaminan keselamatan yang harus diberikan pada keluarga ini. Sebab mereka merasa dirugikan. Sudah kena kebakaran, ayah mereka yang hanya seorang petugas lampu datang, dan lalu dikabarkan terbakar di dalam tragedi kebakaran perusahaan, itu malah disebut-sebut sebagai intrik kotor penjebak perusahaan. Ayah mereka dikabarkan sudah pergi setengah jam sebelum kebakaran itu, dan sayangnya sampai saat ini ayah itu tak pulang-pulang tanpa kabar. Firma jasa pemasangan lampu tempat ayah mereka bekerja pun mengatakan bahwa 3 hari lalu saat bertugas, ayah ini dikatakan sedang memperbaiki sistem penerangan di perusahaan yang akan kita tuntut ini. Otopsi untuk hasil DNA yang akurat tentu saja sangat penting mengingat...."Terang Jaksa Laurens, yang tiba-tiba tersendat saat melihat wajah lembut milik Starla berubah menegang seketika.
"Ada apa? Kenapa berhenti, Jaksa Laurens?" Telisik Dr.Sangkot penasaran. Dia mengamati laku jaksa dan pengacara perempuan di depannya itu secara bergantian. Ada apa dengan keheningan ini, Anak muda?
"Saya rasa, entahlah jika otopsi itu dilakukan rasanya pihak keluarga yang aku naungi akan sedikit keberatan dan oh jenazah itu harus segera dimandikan-dikuburkan, menimbang sudah 3 hari ini..."
"Tidak, Starla." Pungkas Jaksa Laurens, mematah pemikiran Starla yang dipikirnya terlalu sentimentil itu. "Kita tidak akan bisa membiarkan kasus ini sesederhana itu. Aku rasa pikiran itu terlalu sentimentil untuk seorang pengacara hebat sepertimu. Sudah tiga tahun kau menghadapi kasus-kasus yang lebih menyakitkan dari ini. Tentunya kau harus bisa...."
"Harus bisa apa?" Tantang Starla. Demi dilihatnya Jaksa Laurens tampak menyadari kekesalannya, tanpa kebat-kebit, Starla lantas menyambar semburan pernyataan lagi. "Coba katakan padaku, harus bisa apa aku, Dr.Sangkot? Kalau mengatakan sejenak saja panil-panil pikiranku, Jaksa ini sudah membebatku sedemikian intens begini."
Dia benar, Starla benar. Tak seharusnya, Jaksa Laurens mengungkit-ngungkit hal yang telah lalu. Itu akan melanggar batas-batas kesantunan pribadi. Ooh, sial. Dia telah kelepasan pengendalian diri kali ini. Padahal, biasanya...
"Anda hanya belum terbiasa saja dengan pola pikir Jaksa Laurens, Nona Starla." Seloroh Dr.Sangkot, melumerkan ketakbecusan melanjutkan pembicaraan keduanya.
"Oh, ya? Mungkin saja. Saya harap lama-lama akan sangat terbiasa. Saya harus mulai terbiasa dari sekarang, sepertinya. Betul begitu mau Anda, Jaksa Laurens?" Starla masih tampak mengerem emosi meskipun telah mengirimkan sedikit cibiran.
Jaksa Laurens hanya tampak meniupkan senyum canggung pada wajahnya. Senyum itu entahlah kecut, masam, atau aah lebih tepatnya keki. Cibiran Starla telah mencelup di dalam gelas nurani. Ia kemudian mengupas sebuah tanya.
"Kapan kira-kira, kau akan mengajak keluarga korban untuk menyetujui kesepakatakan otopsi DNA sesuai kemauan kita?"
"Kita?" Starla melotot sangat apriori. "Aku tidak mengatakannya aku setuju atau aku telah menjamin keluarga yang kunaungi pasti setuju. Tapi setidaknya aku akan mencobanya. Kau mendengarku, Mr.Jaksa? Aku akan mencobanya!" Kalimat akhir yang bunyinya amat menyetrum. Karena seolah-olah terdengar menjadi: Aku akan mencobanya untukmu, sesuai keinginanmu, kau puas!
"Nah... Hmm." Deheman itu menipiskan ketegangan alur pembicaraan yang sudah tampak makin tebal. Dr.Sangkot lagi-lagi. "Hasil otopsi secepatnya akan keluar setelah tiga hari untuk mencapai tingkat kecocokannya bertemu di angka validitas 99.9%. Namun, kadang-kadang kami juga membutuhkan waktu selama satu pekan."
"Oh, Allah... Tidak. Saya akan keberatan sekali kalau sepekan, Dr. Mohon selesaikan itu dalam waktu tiga hari, Dr.Sangkot. Tiga hari saja, please." Dua telapak tangan berjari lentik itu tampak bersetangkup, memohon dengan penuh keinginan tulus.
"Miss Starla, kau kira melakukan pengecekan DNA itu seringan kau membatik kain dengan malam?" Tampik Jaksa Laurens.

Oh, sial. Dia terlanjur kelepasan lagi. Bahkan Dr.Sangkot sempat mendelik kaget ke arahnya. Dia lupa kalau kedua orang penting di depannya dari negeri tempat batik berasal. Pastinya Starla....

"Kau menyinggung budaya negaraku, Mr.Jaksa! Ini sebuah firma hukum, kau tahu adab dan etika hukum, heh? Aku akan menuntutmu dengan kasus melakukan perendahan budaya bangsa, usai persidangan panjang tentang kebakaran ini. Aku bersumpah akan membuatmu yang mengatakan itu menyesal! Aku janji!" Ancam Starla sungguh-sungguh. Dia mencoba untuk tak terbelai angkuh, tapi tetap saja sindiran perumpamaan itu menyikut harga dirinya hingga?ke tulang rusuk.
"Saya permisi, Dr.Sangkot." Ujar Starla kemudian seraya bangkit dari besi duduk mekanik yang langsung menjengat tertutup sendiri saat tubuhnya bangkit. "Ini nomor ponsel saya. Mohon segera hubungi kami, jika pemeriksaan DNA Anda dan tim usai dalam waktu tiga hari kedepan. Saya permisi. Selamat siang, assalamu'alaikum."
Starla pergi dengan perasaan terluka tanpa berkata sepatah pun pada sang jaksa meski wajahnya sempat menunduk hormat pada Jaksa Laurens dan Dr.Sangkot tadi sebelum benar-benar meninggalkan ruangan.
"Anda benar-benar harus bersabar menghadapi pola pikir kaum perempuan, Jaksa Laurens. Dan tentunya, perbaikan terhadap toleransi budaya orang lain. Saya memberi tahu Anda dengan tulus." Nasihat Dr.Sangkot itu tersahut dengan jawaban menghentak yang dikirim oleh palung hati terdalamnya.


Aah, hanya gara-gara harus melakukan tes deucirybonuclead acid alias pengambilan sampel DNA korban kebakaran ini, ia dan gadis pengacara yang empatik itu berseberangan ide hingga?saling menciptakan suasana bak pertempuran para predator, saling memangsa ide satu sama lain. Sangat disesalkan.


#vadenfahrerisla
#paradelombainspirasi

  • view 120