SEBELUM SEPULUH HARI ITU MELEPUH (2)

Vadenfah Rerisla
Karya Vadenfah Rerisla Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Januari 2016
SEBELUM SEPULUH HARI ITU MELEPUH (2)

Hari ke-6 Jaipur

Usai ritual makan pagi, perjalanan tour kami dilanjutkan ke Benteng Amber yang terletak di puncak Amber. Keberangkatan kami seolah-olah disambut oleh kalangan gajah Maharaja yang telah menanti kedatangan kami untuk membawa kami ke sana. Di sini, sewaktu menunggang gajah dalam perjalanan ke Amber Fort Rajasthani Nite, kami dapat menikmati sepenuhnya pesona benteng Amber, terlihat juga dua kota Jaigarh dan Nahargarh yang berhubungan dengan masa silam.

Tidak terasa terik mentari semakin hangat menyinari hari. Kami pun memutuskan untuk segera kembali. Ternyata, ketika hendak kembali, Jeep Safari telah menanti.

Selanjutnya, guide membimbing kami mengunjungi Hawa Mahal atau Istana di atas Angin, Istana Negara Maharaja yang di bangun pada abad ke-18. Sampai temaram langit, kami berada di Jantar Mantar dari tempat ini. Ya, sembari menunggu malam hari. Lho, kok? Sebab malam ini kami bebas untuk berbelanja keperluan pribadi.

?Adam...? Runa melambaikan tangannya. Untuk apa juga memanggilnya?

?Eh...? aku terkejut karena topi yang aku pilih tadi sudah disarangkan di kepala Adam. Oleh siapa lagi kalau bukan Runa.

?Nyaman gak kamu makenya, Dam? Bagus ya topinya... Apalagi ini pas banget buat ukuran kepalamu.?

?Iya, nih... Keren juga pilihanmu, Run. Gak sangka malah jadi betah pakenya. Cepet-cepet dibeli, deh, Run... Kalo gak mau, biar Adam aja yang beli.?

?Sekate-kate lu, Dam. Itu pilihan Allegra lagi. Udah di-cup. Di-tek dari pandangan pertama. Cuma karena dia agak khawatir gak muat buat orang yang mau dikasihnya, aku sambar deh begitu liat kamu belanja dekat-dekat kita. Apalagi kata Allegra ukuran kepalanya tuh nyaris persis dengan punyamu. Iya kan, Al...?

Aku mengangguk sembari mengernyitkan ludah.

?Jadi dibeli gak, nih? Kalo gak, buat diriku aja!? nada yang begitu mengintimidasi.
?Yah... Dam. Tolong ya nadamu itu diedit. Mengintimidasi orang banget, tahu! Kan, aku udah bilang Allegra udah mengincar topi itu dari awal...? Runa tampak tidak terima dengan perlakuan Adam padaku barusan.

?Oh... curiga ini buat tukar kado di hari terakhir tour kita... Ya gak seru banget deh udah ketahuan.? malas rasanya mendengar kata-kata semacam ini keluar lagi dari bibirnya.

?Gak seru buat kamu, kan? Gak masalah. Toh, belum tentu juga kamu yang dapet...? aku berusaha mengangkat kembali harga diriku yang nyaris terbabat.

?Ckk....ckk...ckk... berarti bener dong tebakanku.? Adam menghela nafas sesaat kemudian melanjutkan, ?Eh, gak seru banget masa beli topi buat tukar kado. Topi mah banyak di Indonesia!?

Duh! Semakin memarjinalisasikan keberadaanku.

Sekonyong-konyong, aku pun langsung merenggut topi pilihanku itu dari tangan Adam. Secepatnya menuju penjual topi untuk membayar seberapa besar harganya.

Runa mengejarku. Dengan langkah berjajar, kami berdua pun berkumpul di depan area pasar. Sesuai dengan perjanjian awal.

Setelah semua rekan tour selesai berbelanja, kami pun memutuskan segera kembali ke hotel.

???

?

Hari ke-7 Jaipur-Agra

Seperti biasa, usai makan pagi dengan menu hotel, kami melanjutkan perjalanan ke Agra. Ketika matahari benar-benar sudah di atas kepala?begitu sampai di Agra?kami langsung check in hotel. Nah, di?hotel bintang empat?inilah kami menikmati santap siang. Barulah setelah makan siang, kami mengunjungi monumen cinta. Itu lho salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Taj Mahal.

Begitu mau memasuki bangunan bersejarah ini, kami segera melepas alas kaki?setidaknya begitulah petunjuk yang kulihat dari para pengunjung lainnya?lalu menggantinya dengan dua buah plastik putih yang harus mengalasi kaki. Tapi biarlah, toh aku masih tetap mengenakan kaos kaki. Demi optimal berkunjung di Taj Mahal, selama itu tidak melanggar syariat, apa sih yang enggak.

Wow! Dari pelajaran sejarah sih, kabarnya bangunan elegan yang didindingnya terbuat dari batu pualam putih ini dibangun oleh Mughal, Raja Shah Jehan. Demi mengabadikan cintanya pada istri tercinta, Mumtaj Mahal. Kalau tidak salah ingat, pembangunan konstruksinya dimulai pada tahun 1631 dan memakan waktu hingga 22 tahun dengan menyertakan 20.000 pengukir atau pemahat untuk menyelesaikannya. Ya, setidaknya kunjungan kami kali ini juga untuk menjadi saksi bagaimana para ahli pahat atau pengukir di zaman Mughal menata batu pualam dengan indahnya.

Hei, tampaknya membeli miniatur Taj Mahal adalah sesuatu yang harus aku lakukan. Biar jadi kenang-kenangan atas kunjungan ke monumen cinta ini. Syukurnya, proses tawar-menawar kenang-kenangan ini dibantu oleh guide kami yang memang mahir berbahasa Hindi.

Tanpa dinyana, senja sudah tiba saja. Perjalanan pun diteruskan dengan mengunjungi Benteng?Agra?yang hening. Benteng yang juga dibangun pada masa Mughal dengan istana serta tenda yang dikhususkan untuk para ratu sesuai dengan keinginan dan selera mereka.

Oya, dalam perjalanan menuju Benteng ini, kami juga singgah untuk melihat Masjid terkenal Salim Chisti Darbar di Fatehpur Sikiri yang dibangun oleh Mughal Akber III. Sayang, tempat yang dulunya menjadi pusat ibadah itu, kini menjadi tempat pusaka atau keramat.

Begitu temaram langit semakin kelam, kami sudah tiba di?Agra?dan tentu saja langsung transfer in hotel untuk bermalam.

???

?

Hari ke-8 Agra-Delhi-Jakarta

Berkendaraan ke Delhi setelah sarapan pagi. Setibanya di Delhi langsung ke Qutub Minar. Tepatnya ke Bahai House yang juga terkenal dengan nama Kuil Lotus untuk mengambil foto, diteruskan dengan mengunjungi Rajghat yakni pintu masuk ke India. Baru saja turun dari AC Coach, mobil yang kami kendarai?dan kebetulan aku adalah orang yang terakhir turun,

?Eh...? aku sontak luar biasa dengan kejadian yang baru aku alami. Seketika rasa perih menjalar di sekitar leherku yang tertutupi jilbab ungu muda. Ya Allah, ternyata baru aku sadar kalau tas selempangku?yang berukuran kecil, khusus untuk tamasya?diserobot seseorang yang tak kukenal dari arah belakang. Aku pun tanpa sadar langsung berusaha mengejar itu lelaki berkulit hitam itu dengan lari sekencang-kencangnya. Ujung-ujungnya aku ngos-ngosan sendiri. Pencopet tak dapat, tas tak dapat, tapi detak jantungku naik-turun cepat sekali. Tak beraturan, tepatnya. Sedih sekali rasanya... Kesedihan itu makin mengena ketika aku benar-benar cuma sendirian. Astaghfirullah, aku terpisah dari rombongan. Bagaimana aku tidak kelabakan. Tas tak di tangan, otomatis uang, HP, dan kartu ATM juga tak bisa diharapkan. Cobaan itu benar-benar menguji kesabaranku di sini.

Sudah tergeletak serta kesulitan ditambah dengan keadaanku yang memprihatinkan. Bergelangganglah mata orang-orang yang semakin terasa memperhatikan. Apa yang dilakukan gadis asing ini, gelisah dan celingak-celinguk sendiri, di samping air mancur lagi? Barangkali semacam ini pikiran mereka.

Otakku pun semakin berpilin-pilin. Berpikir keras bagaimana caranya aku bisa bergabung kembali dengan rombongan tour kami. Aku pun memberanikan diri untuk bertanya pada sekian orang yang berlalu-lalang. Tapi dasar watakku panikan, begitu mau mengeluarkan rentetan kata berbahasa Inggris nadaku tersendat-sendat. Hasilnya, buntu!

Uh, ingin rasanya aku berteriak sehisteris mungkin. Tapi jangankan berteriak histeris, mengeluarkan tangis saja kemungkinan itu sangat tipis. Kalau sudah begini jatuhnya pasti aku diam, penuh renungan. Duh, Allah! Barangkali cobaan ini terjadi sebagai teguran sebab seminggu ini sedekah memang nyaris terlupakan...

Tapi aku mesti bagaimana lagi? Sementara perjalanan kawan-kawan pasti sudah dilanjutkan ke gedung parlemen, kediaman presiden, dan gedung sekretariat. Setelah itu, mereka pasti bakal langsung berfoto sejenak di India Gate yang dibangun pada masa pemerintahan Inggris. Bahkan setelahnya lagi mereka akan tour ke Delhi Lama. Padahal, itu kan tempat yang aku tunggu-tunggu dari dulu karena di sana bisa melihat Delhi Lama dan Delhi Baru.

Nah, bukankah nanti setelah santap siang, acara bebas untuk berbelanja oleh-oleh dan langsung diteruskan transfer ke airport untuk kembali ke Jakarta?

Ah, berat rasanya kepalaku. Hingga?kedua tanganku pun menutupi separuh wajah.

?Dirimu mau terus duduk di sini apa?? seperti mimpi suara bernada ringan itu tiba-tiba terdengar di telingaku. Dari arah depan.

Aku pun mendongakkan wajah. Ada sepercik rasa bahagia. Namun jujur, entah kenapa aku malah membaca titik-titik ekspresi khawatir yang hadir dari wajahnya.

?Ngapain tenang-tenang duduk di sini? Bikin khawatir banyak orang aja. Kurang kerjaan apa? Dirimu tahu gak sih, jadwal kunjungan kita padat hari ini. Ini hari terakhir buat tour kita...? tapi kecemasan itu tetap ada pada nadanya.

?Aku kecopetan. Tasku sama isinya hilang. Refleks kukejar pencopetnya sampai sini...? aku menghela nafas sejenak. ?Udah berusaha tanya ke orang-orang buat jalan ketemu rombongan, tapi kan Inggrisku gak terlalu lancar. Aku juga gak bisa bahasa India. Mau telfon kalian, HP aja ikut raib sama copetnya...? kepalaku tertunduk.

?Makanya lain kali lebih hati-hati. Perempuan kok ceroboh...? sumpah deh sumpah! Aku ingin marah semarah-marahnya sama Adam. Dasar lelaki tak tahu diri, gak punya perasaan. Orang tertimpa cobaan, bukannya dihibur malah dimaki-maki.

?Ya Allah.. malah diem aja lagi. Mau balik gak sih sebenernya ke Indonesia? Bikin repot orang aja!?

?Kalau kamu gak ikhlas mencari aku, kenapa kamu lakuin juga?? Demi Tuhan ya Rab, aku tak tahan. ?Kenapa kamu marah-marah aja... Lagian aku juga ghak minta buat kamu cari-cari. Kenapa sih sikap sama kata-katamu itu selalu menyesakkan dada? Kalau aku salah sama kamu, bilang aja... tapi bukan gini caranya...? suaraku tersendat-sendat dan tak terasa air mataku mengalir.

Tangisan tanpa aba-aba itu malah makin tergugu. Sebenarnya aku malu, tapi perasaan tangis ini rasanya sudah tak bisa dibendung lagi. Beberapa menit, ia tampak berusaha mengerti keadaanku. Dengan tanpa bersuara, ia memilih duduk beberapa jarak dari posisiku yang masih mencangkung sambil menangis.

?Maaf...? satu kata lirih yang ia ucapkan setelah emosiku agak stabil. ?Kalau dirimu ingat jalan buat ketemu rombongan, diriku duluan. Kalau gak, sekarang juga buruan...?

?Kan, aku udah bilang... tasku dan seisinya dicopet... Aku bisa ke sana pake apa?? kali ini suaraku merajuk lirih.

?Haha..? Adam, kok kamu malah tertawa, sih?

?Iya, makanya ayo... Kasihan teman-teman udah lama nunggu di Rajghat.? aku mengikuti langkah-langkah lebar itu dari belakang.

Adam menyetop angkutan umum dengan bahasa Inggris yang cukup fasih. Begitu duduk di dalam angkot tersebut, Adam berkata,

?Gak semua teman tahu kita menghilang dari rombongan, Alle. Cuma Dya sama Runa yang sadar kalau tadi dirimu gak ada. Nah, karena melihat dirimu lari-lari tadi ya langsung kukejar... sempat kehilangan jejak juga, sih... tapi toh sekarang udah ketemu.?

?Maaf... Makasih.?

?

Maka sampailah kami berdua di Rajghat. Alhamdulillah, lega sekali rasanya berkumpul lagi bersama kawan-kawan. Apalagi begitu kembali Dya dan Runa langsung memelukku erat-erat. Barangkali, mereka berdua menjadi sangat khawatir kalau aku bakal tersesat di negeri orang. Atau karena mereka tahu ilmu menghafal tempat dan arah di kepalaku begitu payah.

???

?

Hari ke-9 Jakarta-Bandung

Memang, tujuan wisata ke luar negeri kemarin begitu menarik, tetapi wisata dalam negeri sebenarnya juga tak kalah menarik, kok. Banyak panorama yang begitu subhanalloh dalam perjalanan di siang hari ketika kembali ke Indonesia hari ini.

Hanya saja karena dapat hadiah voucher pariwisata ke India dari salah satu relasi perusahaan ternama, aku dan beberapa teman sekantor pun memilih untuk mencicip fasilitas mengejutkan yang barangkali belum tentu akan kami dapatkan dua kali itu.

Alhamdulillah...

Tiba di Jakarta dengan membawa kenangan manis tentang perjalanan menjelajah India dengan India Holidays.

???

?

Hari ke-10 Bandung

Setelah berhari-hari melalui aktivitas tour ke luar negeri, tampaknya memandangi taman kosan sembari menggarap deadline novel bisa menghapus kerinduan di kampung halaman. Keindahannya sebagai pendamping hiasan taman kos sangat membuat nyaman dan puas, setidaknya bagiku sebagai penghuninya.

Ya, ibu kosku memang begitu apik dalam mengatur suasana kosan yang sepenuhnya berdampingan dengan rumahnya. Apalagi di kosan ini, khususnya di taman belakang, penuh dengan bunga. Dengan berjalan-jalan sekilas saja, aku langsung bisa melihat panorama indah dari bermacam-macam bunga yang tumbuh di taman bergaya Jepang itu. Huuu, beautiful garden... beautiful nature!

Tit... tulit... tulilit...

Dering SMS dari HP berbunyi. Ooh, Dya... tumben.

?

Aslmkum. Alle... jangan lupa ya agenda tukar kado yang batal kemarin, kita ubah jadi hari ini. Ditunggu ya pukul 9.30 pagi ini di kantor. Sekalian upgrading n breafing buat ke Bogor minggu depan, lho. Udah dikasih tahu kan sama Adam? Lintas jarkom buatmu kan harusnya dari dia. Oke... Wslm. ?_^

?

Lho? Sekarang saja sudah setengah sembilan, whuaa berarti tinggal 30 menit lagi untuk siap-siap. Nah, 30 menitnya lagi harus sudah cabut dari kosan. Jarak kantor dari kosan kan lumayan. Iih, apalagi kalau sudah macet. Bisa jam karet kemana-mana nanti agendaku hari ini.

Begitu usai persiapan, aku langsung menggamit tas santai dan mengenakan sepatu ?orang miskin?, canda Pak Luky setahun lalu. Mentang-mentang harganya Cuma dua puluh ribuan dan berbahan elastis seperti karet. Hei, sepatu ?orang miskin? ya? Tapi toh ada yang mau juga. Buktinya sepasang sepatuku yang lain?dengan bahan dan model yang sama?diembat juga sama maling. Tega-teganya ya...

Begitu turun ke jalan. Langkahku kubuat segegas mungkin. Berikutnya, aku langsung menyetop angkot jurusan KPAD.

Baru saja masuk dan duduk ke dalam angkot, ada yang bergetar di dalam tasku. Aku merogoh HP-ku. Ada yang menelfon, si Dya.

?Assalamu?alaikum. Ada apa, Dya? Ooh.. singkong keju meletus. Maaf aku belum sempat beli. Eh, udah pada kumpul semua? Aku masih di jalan. Kalau gak macet, dua puluh menitan lagi bakal sampe. Jadi pas 9.30 aku sampe kantor...? bla...bla...bla...

Tiba di kantor.

Amblas, bo! Lewat sepuluh menit dari setengah sepuluh. Sudah terdengar suara tilawah yang berkumandang. Suara Risham. Halah, mana banyak orang pisan lagi yang pada datang... Untungnya, semua kepala tertunduk dalam dan begitu khusyu. Jadi belum ada yang sadar akan kedatanganku.

Ragu untuk masuk?karena malu sudah terlambat?tapi aku memberanikan untuk segera mengucap salam demi mendengar suara tilawah Risham merendah. Namun, sebelum salam itu aku luncurkan,

?Assalamu?alaikum...? Adam, sosoknya mengoloyor begitu saja di hadapanku. Dan sebelum sempat dijawab, ia sudah duduk lesehan di samping Alif. Mengejutkan saja kelakuannya...

?Deuh... kok Kakak bisa barengan sih datengnya sama Allegra... Hayo berduaan... Sengaja janjian?? Kesya, kumat lagi dah nih orang.

?Iih, enak aja. Fitnah wa la barakah tuh... Macem-macem aja mikirnya. Orang aku juga kaget, dia tiba-tiba nyelonong datengnya...? aku menampik dengan alibi yang sejujur-jujurnya.

Beranjak pada acara berikutnya...

Taushiyah sejenak dari Pak Medi,

?Orang yang tidak bisa mempersembahkan yang terbaik dalam hidup ini berarti dia tidak sadar kalau hidup adalah anugerah. Semua pilihan bergantung pada teman-teman toh semua bakal dimintai pertanggungjawaban... Mau pingsan terus seumur hidup ya mangga... Mau jadi orang yang sadar ya... tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik.?

Lho kok jadinya mirip lagu D?Massive? Kontan, tawa kami semua pun beriringan.

Acara puncak, ini yang paling dinanti-nanti. Kado dari lima puluh orang yang berbungkus kertas koran tersebut disatukan. Setelah akhirnya dinomori satu-satu dengan Marquer permanen oleh kami?para tim fasilitator perempuan?dan ditebarkan di tengah-tengah kami semua, dipimpin oleh Pak Luky akhirnya setiap orang berhak mengambil sebuah kado sambil harus dengan kedua mata yang tertutup. Bukan dengan penutup mata, seperti kain atau lainnya, melainkan dengan cara alami menutup kedua mata dengan memejamkan mata sendiri. Tentunya kita semua sudah cukup amanah dalam hal sesederhana ini.

Karena pengambilan kado sesuai arah perputaran jarum jam, urutanku tiga terkahir dari belakang. Suer abis! Rasa dag-dig-dug itu hadir semakin menyisir. Huah, bakal dapat kado dari siapa ya aku? Kurang lebih ini pertanyaan yang begitu bergurat di benakku.

Ketika akhirnya giliranku tiba...

Sekotak besar kado sudah teraih di tanganku... Entah, aku belum tahu ini isinya apa dan dari siapa... Menunggu dengan sabar, itu yang lebih perlu.

Giliran pengambilan kado pun usai sudah. Tinggal pembukaan isi kado yang sudah bermenit-menit ini membuat kami begitu terbakar rasa penasaran.

?Subhanallah...? aku terkagum luar biasa. Sekaligus terkejut juga sebetulnya.

?Dapat apa, Alle?? tanya Runa tiba-tiba.

?Wow! Amazing banget kado buatmu, Alle...? Dya tak kalah heboh menanggapi.

Disetujui atau tidak, 49 pasang mata yang hadir di rest-ruangan ini langsung terfokus ke arahku. Oh... eh... ke arah kado yang ada di hadapanku.

?Wah, kayak mahar pernikahan aja... Dari siapa Alle? Ada namanya gak?? Uni Wheny langsung membolak-balik kotak kado, demi mencari segurat nama yang mungkin bakal tertulis di sana. Tapi nihil!

Satu pun, tak ada yang mengaku padaku. Tentang dari siapa kado yang berisi seperangkat mukena, tasbih, dan Al-qur?an berlabel Syamil itu masih membuatku dirundung tanya yang menderu-deru. Apa susahnya sih bilang-bilang?

?Alle... Alle...? Kesya menyikut lenganku, diikuti dengan arah mata Dya yang menuntunku melihat Adam melambai-lambaikan sesuatu dari arah pukul sebelas sembari tersenyum lepas. Topi hitam-biru! Oh my God... bukannya itu topi yang aku beli sewaktu di India.

?Oh. Curiga ini buat tukar kado di hari terakhir tour kita... Ya gak seru banget deh udah ketahuan.? tiba-tiba kelebatan perdebatan dengan Adam waktu itu hadir tanpa terpikir.

?Gak seru buat kamu, kan? Gak masalah. Toh, belum tentu kamu yang dapet, kok...? masih juga teringat betapa berusahanya aku mengangkat kembali harga diriku yang nyaris terbabat waktu itu.

?Ckk....ckk...ckk... berarti bener dong tebakanku.. Eh, gak seru banget masa beli topi buat tukar kado. Topi mah banyak di Indonesia!?

Ya Allah... aku masih merekam jelas alur perang mulut itu. Malu rasanya diri ini sudah begitu sok tahu kalau kado itu bukan Adam yang bakal mendapatkannya. Begitu halus sekaligus nyata Kau mengingatkan hamba-Mu ini...

Dam, setelah berhari-hari terlalu sering bersama, semoga kita benar-benar bisa saling memahami diri. Saling memaafkan satu sama lain. Dengan kedewasaan. Pun kebeningan hati kita.

Karena sesungguhnya ada satu hal yang membuatku makin belajar dan tersadar hari ini. Teringat pesan yang sempat disampaikan Kekasih... ?Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal sesuatu itu amat baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal sesuatu itu tidak baik bagimu. Allah Maha mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.?

?

#vadenfahrerisla

  • view 117