SEBELUM SEPULUH HARI ITU MELEPUH (1)

Vadenfah Rerisla
Karya Vadenfah Rerisla Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 30 Januari 2016
SEBELUM SEPULUH HARI ITU MELEPUH (1)

Vadenfah Rerisla

?

Hari Ke-1 Bandung-Jakarta-India

Sedari kemarin, rombongan Tour dari Bandung yang aku ikuti telah berkumpul di Jakarta. Tentunya kami?aku dan sembilan teman-teman sekantor?berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta. Selang beberapa jam, begitu mendarat di Bandara Malaysia, kami yang kembali duduk dengan akomodasi tiket pesawat kelas ekonomi Malaysia Airline tampak merasakan keletihan yang tak terbilang. Tanpa dikomando, sebagian besar kawan telah begitu cepat memejamkan mata. Mengistirahkan tubuh yang memang sudah lelah.

Apalagi ada beberapa kawan yang memang jetlag.. tentunya tidak termasuk akulah. Karena mataku masih gemintang. Uhm... lagi asyik menikmati gumpalan-gumpalan putih gemawan yang memesona. Begitu memesona hingga imajinasiku menari-nari. Ada awan berbentuk domba, bintang delapan, bangunan yang nyaris mirip istana Versailles, kijang, wortel, dan tangan yang menengadah ke atas... Ah, ada-ada saja!

?Nanti kalau udah tiba di India bangunin aku, ya.. Benerran lho, Alle...? katamu menagih kesungguhanku, Runa. Lalu senyum penuh anggukan yang aku sampirkan menyapu wajahmu yang hampir selalu diliputi kecemasan. Setidaknya, untuk hampir seharian ini ketika bepergian bersamaku.

Tiba di tanah Hindustan...

Kami pun segera ditransfer ke hotel Caravan Centre untuk bermalam. At The Caravan? Wow, hotel ini kan sering disebut-sebut. by bowser" href="#23216909"> Sebuah hotel eksklusif di Ladakh yang didirikan pada tahun 1989. by man" href="#33300770"> Hotel yang kabarnya tetap dikelola oleh pemilik lokal dengan keramahan tradisional dan layanan yang dipersonalisasi sehingga meminjamkan suasana sederhana yang hangat. Pantas begitu menarik perhatian.

Tambahan lagi setting-nya terletak tepat di tengah-tengah tanah pertanian yang cantik di pedesaan Skara, pinggiran kota eksklusif Leh. Mendapat informasi dari guide berbahasa Inggris kami, semakin tahulah aku kalau Caravan Centre ini juga berlokasi di tengah-tengah antara Bandara Leh yang berjarak 3 km dari sini dan pusat kota yang 2 km lebih dekat dibanding Bandara Leh.

Begitu melangkahkan kaki ke dalam hotel, jujur ada perasaan berbeda yang tiba-tiba menjulur. Dan perasaan berbeda yang begitu menakjubkan ini bertambah-tambah saat aku dan kawan-kawan makin melenggang menapaki karpet interior. Seorang staf hotel yang ramah dan sopan tampak, hingga membuat kenyamanan dan ketakjuban kami semakin tak bisa dipungkiri lagi.

?Tak jauh dari luasnya tempat parkir hotel kami, di sini kami juga menyediakan Multimasakan-restoran yang akan melayani Anda semua, baik dengan pilihan atau campuran masakan Cina, Continental, India, lokal atau Tibet.? ujar staf resepsionis tersebut kepada guide Bahasa Inggris kami yang juga fasih berujar bahasa Hindi.

Setelah masing-masing dari kami mendata check in di hotel ini, kami pun diantar ke suite masing-masing... Sesuai dengan nomor masing-masing juga tentunya.

Begitu membuka pintu, perasaan terpesona luar biasa tiba-tiba menghadang tanpa diundang. Apa aku tidak salah telah berdiri di tengah-tengah?suite hotel?modern yang digembar-gemborkan mendapat persetujuan dari pemerintah Deluxe-A ini? Iih, saking belum pernahnya berada di?suite hotel?seeksotik begini! Suite yang sepenuh lantainya berkarpet dan dilampiri dengan fasilitas mandi pribadi dengan menjalankan shower air panas dan dingin. Apalagi sebagian besar wajah suite ini menghadap ke selatan. Aku bisa menikmati pemandangan indah Lembah Indus dan salju-capped Stok-Khangri Massif dari pegunungan Himalaya. Sementara, kamar yang sedikit menghadap ke utara terbuka ke pemandangan dramatis, rentang Khardungla, yang membentang di seberang jalan tertinggi di dunia.

?

Hari ke-2 Ladakh- Srinagar

Sarapan pagi dengan menu Multimasakan-restoran hotel yang begitu aneh sekaligus hambar, tampaknya cuma bagiku. Dan kehambaran itu tak lekas memudar begitu kami?tentu masih ditemani guide berbahasa Inggris juga?berkeliling ke sekitar kompleks hotel Caravan Centre yang terletak di antara belukar dan indah poplar. Jujur, itu adalah peletakan bunga taman terang-benderang dengan karakteristik musim yang begitu harmoni. Akan tetapi, rupanya sebuah taman yang benar-benar mundur terselip jauh dari hiruk-pikuknya Leh itu tak mampu mengusir rasa sebal setengah mati yang tadi mampir sewaktu sarapan pagi. Kendatipun maaf penuh senyuman innocent telah menjadi tamengku tadi. Ah... coba saja, Runa tak menyikutku tadi, aku takkan tahu benar kalau perihal kelakuanku yang sedang jadi sorotan satu insan itu.

?Hush! Allegra... bisa dikecilin gak suaranya.? tadi... Ya ampun, sorot mata dan nada yang begitu kurang bersahabat itu masih teringat lekat, sewaktu aku melepaskan earphone dari kedua telinga. Apalagi ketika ia semakin menyudutkanku, ?Kalau laki-laki tertawa dan berbicara keras itu gak masalah. Tapi kamu ini perempuan. Kurang pantas...?

Uh, aku baru sadar kalau di rombongan tour ini ada orang paling menyebalkan di dunia. Sumpah! Gak di kantor, gak di Bogor, eh malah di luar negeri juga makin menyebalkan. Muhammad Husain Adami. Ah, ribet dah bakal sembilan hari lagi bertemu dia begini!

Terdengar suara berisik bazar dan pasar yang kian berpendar dan semakin membuat aku terengah-engah oleh perasaan jengah. Apalagi di sepanjang hotel ini aku melihat banyak sekali kalangan pada berjalan kaki dari Tourist Office, Kantor Pos Umum, dan Kantor Indian Airlines. Jarak antara hotel dan pusat kota yang seharusnya menyenangkan karena selama 20 menit bisa berjalan di tengah-tengah pemandangan dengan ditingkahi suara lingkungan dan budaya kota bersejarah ini. Bukankah amat menyenangkan rasanya berdiri terpesona oleh pengaturan yang indah dan pemandangan yang begitu menakjubkan?

Tapi rasanya kesempurnaan dari rasa bahagia itu belum benar-benar berpihak padaku pagi ini setelah aku kelepasan tertawa bersama Runa, Kesya, Dya, Alif, Sello, Dev, dan Pak Luky karena begitu girang menyapai setiap inci pemandangan yang memesonanya begitu sumpah di mata.

Mau tahu kehebohan apa yang terjadi? Adam?yang tengah berjalan beriringan dengan Risham?tanpa kira-kira membanting kamera photograph-nya yang supercanggih itu dan mukanya merah padam. Aku spontan kaget luar biasa apalagi begitu melihat postur atletisnya lantas berbalik ke belakang dan Risham mengejar langkahnya untuk menenangkan. Entahlah, barangkali kembali ke Caravan ujungnya.

Tapi Ya Allah... bagiku itu tindakan yang sangat-sangat menakutkan. Dari sinilah aku baru paham akan betapa tempramen wataknya.

Setelah peristiwa heboh barusan, tampaknya rasa ingin terus berada di resort ini menjadi agak menepi. Hotel tempatku bermalam yang kuharapkan benar-benar menyambutku ke sebuah pengalaman yang tak terlupakan di Ladakh, pagi ini justru membuat dadaku sedikit sesak.

Salah apa sih aku?

?Cemburu kali, Alle... Abis kamu sama Alif ketawanya renyah banget sih tadi... Chemistry kalian tuh kalo lagi gokil dapet banget!? Kesya menangkap rasa bersalah di wajahku. Mataku terpana, tak percaya pada ucapannya.

Ah... mana mungkin! Kesya pasti gombal, yakin. Tapi tak bisakah kita lebih banyak menebar kasih sayang di Ladakh ini, Dam? Sejenak saja menepiskan purbasangka, amarah, maupun kebencian yang membara. Bukankah ini akan menimbun kesan Ladakh yang kerap disebut sebuah petualangan kekasih? Bayangkan saja keindahan panorama yang cuma kerap terpapar di dunia mimpi benar-benar mewujud nyata di sini. Pemandangan pegunungan yang tak ada habisnya menawarkan pilihan untuk kegiatan petualangan. Bahkan kalau tadi kita tidak menampik tawaran untuk turut mendaki, ada puluhan puncak Himalaya di Ladakh ini yang siap ditandangi. Apalagi mengingat asyiknya berliku di sungai Indus dan Zanskar yang bermuara sebagai lokasi paling ideal untuk arung jeram. Tapi kita telah memilinnya dengan kebelumdewasaan sikap kita, Adam...

Pukul 10 pagi ala Hindustani...

Akhirnya, aku dan kawan-kawan transfer ke airport untuk penerbangan ke Srinagar, ibukota Kashmir. Setibanya di Srinagar, kami transfer ke Deluxe Houseboat di Dal Lake. Oh iya, Kashmir memiliki dua danau yang sangat terkenal, lho... Danau Dal dan Nagin.

Bersamaan waktunya dengan senja yang menciptakan gradasi langit jadi penuh warna, kami mengendarai perahu atau semacam gondola untuk berkeliling sambil menikmati suasana sore ini. Ah, lega sekali rasanya. Setidaknya, ini menjadi penawar buat sesakku pagi tadi.

Kami pun mengakhiri petualangan hari kedua ini dengan bermalam di Deluxe Boathouse... Sesampai di suite Deluxe, aku langsung berwudhu lalu melakukan ritual perawatan muka. Usai ritual perawatan dan menulis target esok hari, aku lekas menarik selimut. Tidak ada aktivitas salat sebelum tidur sebab aku tengah kedatangan tamu bulanan sejak sehari lalu. Dan biasanya tamu ini baru akan pamit setelah hari yang kesebelas itu tiba.

?

Hari ke-3 Srinagar-Gulmarg-Srinagar

Wow, sudah sarapan pagi lagi? Tidak terasa ini sudah hari ketiga aku dan kawan-kawan serombongan tur berada di India. Kalau sebelumnya bisa menatapi kawasan India dari balik kaca televisi, kini?setelah sarapan pagi?agenda kunjungan kami akan dilanjutkan untuk melihat-lihat sekeliling Gulmarg yang terletak di ketinggian 2.730 meter di atas permukaan laut.

?Kes... Adam gak punya hutang kan sama Kesya?? suara yang begitu tak asing itu memecah keheningan acara sarapan pagi kali ini.

?Hei, sama Allegra tuh Kakak punya hutang apa gak? Curiga setumpuk dah!? goda Dya yang begitu menganggapnya Kakak, karena cukup disebut senior kalau di kantor. Iih, childish dan belagu begitu dipanggil kakak. Dengar gak tadi waktu menyebut dirinya dengan namanya, pas ngomong sama Kesya?! Salah sebut Kakak kali tuh anak...

?Hmm... Alle, diriku gak punya hutang kan sama dirimu?? tatapan yang aneh.

?Eh... gak ada. Malah waktu di Indonesia saya yang punya hutang sama dirimu. Kenapa gitu?? alah pertanyaan standar pisan dan sangat tak penting untuk digulirkan.

?Ya enggak kenapa-napa, sih... Cuma khawatir aja... Gak keren banget kan kalo nanti dirimu nuntut itu jadi mahar pernikahan?? uh, sorot mata yang begitu menyebalkan!

Tapi tampaknya kata-katanya tadi harus kusamakan benar dengan mentimun bungkuk yang keluarnya tak ganjil dan masuknya tak genap. Karena tak berguna sama sekali buatku.

Ah, Allegra! Ayolah, fokus... Nikmatilah petualangan di hari ketiga ini dengan kebeningan hati.

Tiba di Tanmarg.

Setiba di tempat ini kemudian kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jeep Safari atau Camel Safari untuk mendaki kurang lebih 12kms menuju puncak Gulmarg. Ini adalah salah satu gunung yang indah dengan tempat bermain ski dan juga lembah-lembah yang sangat memukau. Tambahan pula, kita bisa menyaksikan keindahan Nanga dan gunung yang berlapis salju.

Brrrr!

Begitu dinginnya tempat yang bernama Gulmarg ini sampai-sampai gigiku pun bergemeletukkan. Padahal, aku sudah mengenakan mantel bulu domba yang lumayan tebal. Cuma satu yang agak kukhawatirkan, kalau-kalau aku terserang flu dahsyat dadakan. Ah, tapi tidak! Aku sebisa mungkin menyugesti pikiranku dengan pandangan-pandangan yang lebih positif.

?Hmm... Alle... Allegra...? Adam memanggilku tiba-tiba. ?Kenapa tangannya mesti megang bibir segala?? ups... demi apa dah. Seperti terhipnotis, aku langsung menarik telunjukku dari bibir dengan spontan. Barangkali sedikit salah tingkah juga. Dan dia tersenyum geli. Siapa lagi kalau bukan orang paling rese, Adam.

?Kenapa juga sekarang bibirnya malah digigit...? ampun dah, segala-gala hal kecil yang kurang penting bahkan sangat tidak penting begini dia komentari. Atau karena kebetulan saja aku yang melakukannya? Tapi bukankah tak ada yang namanya kebetulan itu?

Maka, tersumpahlah sudah. Diakui atau tidak, aku semakin dibuatnya salah tingkah.

Akhirnya, dengan sedikit menahan rasa sebal yang sejadi-jadinya aku lekas menampik, ?Iih... terserah saya dong. Bibir juga bibir saya...?

Nah, bahunya malah berderak-derak. Si Adam, rekan sekantorku yang paling aneh, belagu, sok misterius, dan agak play boy itu?setidaknya aku melihat ke-playboy-an itu dari matanya?benar-benar kurang kerjaan.

?Nah, gitu dong berkomentar. Perasaan dari tadi diem mulu. Lagi bad mood ya... Wajahnya kok kayaknya susah banget buat senyum..?

?Haaah...? mulutku ternganga, tanpa kunyana kata-katamu itu...

Dan derai tawamu pun semakin pecah. Puas sekali tampaknya dirimu.

?Adam.. Kok, pagi-pagi udah bikin kesel hati orang, sih?? Runa tampak berusaha menjembatani kebingunganku dan kerianganmu. Tapi puasnya tawa dan ekspresi wajahmu tak lekas sirna.

?Adam... Adam... minta maaf sama Allegra.? nada suara Pak Luki ringan, tegas, tapi aksen Ogan-nya sangat dalam sekaligus berwibawa.

Beuh. Wajah super innocent, itu yang kau hadirkan. Peduli amatlah. Toh, meski bakal bersama terus beberapa hari ini, kita sangat jarang mendapat kesempatan berbincang bersama. Kesempatan? Hah, bahkan ketika itu benar-benar ada, aku bakal berusaha sebisaku untuk menghindarinya. Ya, daripada terjadi perang yang lebih heboh dari perang dunia ketiga.

?OK... After Gulmarg, we will continue to go to Mughal Gardens. Yeah... look at Nishat Bagh (The Garden of Pleasure) and Shalimar Bagh (The Abode of Love). Next, we will continue to go to...? ah pokoknya, guide terbaik kami itu memaparkan bahwa sebagai agenda petualangan terakhir untuk hari ketiga ini, kami bakal diajak mengunjungi tempat pembuatan industri karpet yang terbuat dari bahan sutra, pashmina, bahan sari dari sutra, dan pahatan yang terbuat dari kayu.

Otomatislah, untuk selanjutnya kami masih bermalam di Deluxe Boathouse.

?

Hari ke-4 Srinagar-Sonamarg-Srinagar

Nyaris sama seperti pagi sebelumnya. Setelah sarapan pagi, petualangan tour kami dilanjutkan menuju Sonamarg. Tempat terhamparnya Lembah Salju. Yang membuat perasaan dan pikiranku benar-benar terlepas dari beban-beban yang tak karuan adalah karena di sekitar kawasan lembah ini terdapat pemandangan yang indah. Hei, aku juga dapat menatapi gunung es dari jarak yang begitu dekat.

Oh God! Actually... the forth day is my most wonderful moment... because of my full day is in Sonamarg. Apalagi hari ini privasiku benar-benar terbebas dari komentar dan tingkahmu yang tak sebawel hari-hari sebelumnya.

Sampai senja di langit Sonamarg benar-benar tak berasa. Uhh, mau hati sih ingin tetap tinggal dan berlama-lama di tempat ini. Tapi seperti biasa, bila usia langit temaramnya semakin menua, kami harus segera kembali ke Deluxe Boathouse. Demi agenda perjalanan selanjutnya, kami masih harus bermalam di sana.

?

Hari ke-5 Srinagar-Delhi-Jaipur

Sarapan pagi kali ini aku rasa ada yang kurang. Satu orang. Adam! Kamu... Idih, kebiasaan jam karetmu di Indonesia dibawa-bawa ke negeri orang. Memalukan.

?Adam kemana, Rish?? tanya Pak Luky akhirnya. ?Masa jam segini belum turun juga buat sarapan... Udah hampir setengah jam kita makan... apa belum bangun dia?? Risham menggelengkan kepalanya, tanda tak tahu. Santun sekali gelengan itu.

?Dev... coba kamu naik ke suite-nya. Bangunin Adam...? saran Pak Luky selanjutnya.

?Suudah, Pak. Sudah dua kali malah. Tadi yang kedua sama Sello...?

?Masa belum bangun-bangun juga?? ujar Pak Luky penasaran. Ia pun mengangkat kain pelindung makannya dari paha yang tertutup celana PDL hitam-panjang. ?Ya sudah, biar Bapak saja yang membangunkannya...?

?Eh... Eh... gak usah repot-repot, Pak...? Kesya tampak tidak enak hati.

?Biar Dya aja yang bangunin Adam, sekalian nganter sarapan buat dia...? aku senyum terkulum. Menahan geli. Idih, Kesya... aku pikir dia bakal mengajukan diri untuk membangunkan Adam.

?Aha... baiklah... tapi Dya mau ke kamar mandi dulu, Pak... Tiba-tiba... Udah di ujung tanduk banget, nih...? gerakan kedua tangan Dya tampak memilin-milin perutnya.

?Eh, tapi Pak... Allegra udah selesai makan juga tuh. Baiknya Allegra aja gimana, Pak?? Pak Luki dan kawan-kawan yang lain memandangku. Mencari satu titik keyakinan bahwa aku bakal mau dan mampu membangunkan Adam.

?Gak usah ditanya juga Allegra-nya pasti mau kok, Pak... Iya kan, Al?? pernyataan sekaligus pertanyaan yang benar-benar menyodok hatiku.

?Bangunin aja sih oke. Tapi masa pake nganter sarapan segala? Lagian kan ada staf hotel... Udah kayak istrinya aja dong aku...? Semua mesem-mesem saja mendengar protesanku.

?Allegra sayangku yang baik dan cantik... Pliis ya... aku udah gak kuat banget nih mo ke kamar mandi. Ambilin sarapan juga ya buat Adam... Masa kamu tega sih... Lihat Pak Luky sama teman-teman kan pada belum selesai sarapan. Entar kalau mereka pada tumbang gimana? Kan bisa repot kita berdua...?

Dengan wajah manyun yang tak dibuat-buat, aku segera memesankan menu sarapan untuk Adam. Ah, lain kali gak lagi-lagi dah aku rela berkorban kayak gini. Ya Allah... bismillah pada awal dan akhirnya, kok aku jadi kurang ikhlas begini, ya...

Menu sarapan usai dipesan. Baru saja mau menapaki tangga ke lantai dua, sosok yang posturnya lumayan atletis itu berada di posisi pukul 12 dengan arah berdiriku.

Ia mengenakan sweater tebal di tubuhnya. Dan sekitar area lehernya, diselempangkan syal abu-abu.

?Masya Allah! Alhamdulillah... seorang Allegra ternyata mau juga ngambilin makan buat Adam...? Sumpah aku langsung mati gaya! Senyumku kebas dan ekspresiku kaku sekaku-kakunya.

?Sini... sini...? tanpa permisi ia langsung meraih seperangkat perlengkapan menu sarapannya yang kubawa. Tak memakan waktu lama, hidangan sarapan yang memang miliknya itu sudah berpindah ke tangannya. Bahkan dengan gaya sok santainya, ia langsung duduk di kursi yang menjadi tempat dudukku sewaktu sarapan tadi.

?Chye... chye... diambilin sama siapa, Dam?? Alif berseloroh menggoda.

?Hmm... Allegra. Gak sangka, ya...?

?Hei, semalam diriku nemu kata-kata bagus, Lif, di FB... Beda antara cinta dan benci itu benar-benar tipis....? Alif terlihat bengong sesaat.

?Eh, Allegra.. denger ga.. Beda antara cinta dan benci itu tipis...? aku pun langsung melengos. Iih, apa-apaan? Geje banget tahu gak sih lo mengungkap jejeran kata-kata itu.

?Yei... dimakan ah. Kan, udah diambilin makan sama Fatima Allegra Zukhrufani.? lho, kok suaranya girang benar? Bukannya tadi dia klarifikasi keterlambatan karena lagi flu berat...

?Senyum dong... Cemberut aja... Entar kalo makanan ini keasinan gara-gara kamu gak senyum-senyum gimana?? uh, tatapan mata setelah pertanyaan itu benar-benar menjengahkan.

?Boddo?!? aku lekas berdiri, menjauh dari arah tatapannya. Duh, kenapa sih kau begitu berani menyematkan perhatian, baik dari dekat maupun dari jauh?

Ke kamar mandi. Ingin rasanya aku menumpahkan gumpal-gumpal kekesalanku pada Dya, begitu sampai di sana.

?Husht! Itu tadi satu langkah trik-ku supaya kalian berdua baikan, tahu...? alah... ini lagi anak satu malah menambah deret kesebalan. Aku pun mengusirnya dengan mendorong halus tubuh rampingnya.

Sekeluar dari kamar mandi, aku kembali ke tempat makan kami tadi. Tak ada lagi piring-piring atau gelas-gelas sisa kami makan. Tampaknya pelayan restoran ini tahu benar kapan waktu yang tepat untuk melaksanakan tugasnya.

Pukul delapan tepat. Meski masih ada sisa-sisa matahari yang baru sepenggalah tingginya setelah pukul tujuh tadi, kami pun segera transfer ke airport untuk kembali ke New Delhi.

Begitu tiba di Delhi, kami dijemput dan diantar dengan mobil atau coach ke Jaipur. Ups...Jaipur kan ibu kota Rajasthan yang juga dikenal sebagai ?Pink City?! Kota Merah Muda.

Coba tebak begitu tiba di Jaipur apa yang kami lakukan? Tidak terlalu banyak agenda seperti hari kemarin, tentunya. Toh, kali ini kami langsung diantar menuju hotel. Buat apalagi kalau bukan untuk istirah bagi tubuh yang lelah.

To be continued--> Hari ke-6 sampai hari ke-10, ya...

?

#vadenfahrerisla

  • view 94