Saat Dia Pergi Tanpa Pamit dan Datang Tanpa Diundang

Dina  Nurfitriana
Karya Dina  Nurfitriana Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Mei 2017
Saat Dia Pergi Tanpa Pamit dan Datang Tanpa Diundang

 

Lima belas bulan telah berlalu, merapikan hati bukanlah hal yang mudah. Saat hati dikhianati oleh pemiliknya, saat rumah ini di tinggalkan oleh penghuninya, kau bisa membayangkan betapa tidak terurusnya rumah ini. Jika kau meninggalkanku dengan cara yang lebih baik, mungkin tak akan sesakit yang kurasakan. Kau hancurkan hati yang sepenuhnya hanya milikmu, taukah kau, bagaimana aku bertahan, bagaimana aku mencoba menyatukan kepingan hati yang telah kau hancurkan. Ya, aku tahu cinta takkan bisa dipaksakan, mungkin memang ini yang menjadi pilihanmu, tak bisa kupaksakan. Tapi, ada apa ini, aku sudah ikhlas dan mencoba mengerti bahwa kau menyakitiku hanya untuk mendapatkan cinta mu, mengapa sekarang, saat hati ini mulai terbiasa, kau datang kembali meminta cinta. Adakah sedikit terlintas dipikiranmu apa yang aku rasakan saat kau tiba-tiba muncul di hadapanku? Adakah rasa malu sebelum kau bilang merindukanku? Mahluk apa sebenarnya kau ini, aku benar-benar tidak mengerti.

Aku memutuskan untuk tidak memikirkan apa yang kau katakan. Hari pun berlalu, kau pernah menghancurkan hatiku tapi dulu aku pernah mencintaimu, ya dulu, hanya dulu. Dalam kamus hidupku, cintaku tidak akan berkhianat dan mengganti namanya menjadi ‘benci’. Aku memang sudah tidak memiliki perasaan seperti dulu, tetapi bukan berarti aku membencimu. Kau dan aku dulu menjadi kita, dalam sebuah ikatan hubungan dan perasaan.setelah ikatan itu terlepas hanya ada kau dan aku, dan kini kembali menjadi kita dalam sebuah ikatan pertemanan.

  • view 165