Aku Tidak Mencintai Suamiku

Uul R Hasanah
Karya Uul R Hasanah Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 03 Juli 2017
Aku Tidak Mencintai Suamiku

Suatu hari seorang teman bertanya, "apa kau mencintai suamimu?"Dengan terbata, aku menjawab t i d a k. Aku tidak mencintai suamiku, Dia pun kaget, "lalu kenapa kau menikah dengannya?" Takdir, jawabku.
"Lalu apa dia juga mencintaimu?" Aku tak tahu, ia tak pernah mengatakan cinta padaku.

Sejak bertemu dengannya pertama kali dan berkenalan beberapa hari aku menemukan kebaikan dalam dirinya, kebaikan yang mungkin kubutuhkan.
Hingga kami tunangan sampai ijab qobul diikrarkan. aku tidak mencintai laki-laki yang telah sah menjadi suamiku.
Lalu bagaimana kau hidup dengannya setelah menikah? Temanku kembali bertanya.
Aku menghela napas, ya hidup layaknya seorang istri, aku menungguinya ketika ia sarapan dan makan malam, aku menyiapkan baju dan celana yang akan ia pakai setiap hari, aku memijat badannya ketika ia lelah, aku... Aku kenapa?

Sebenarnya, meski banyak yang kulakukan untuknya, tapi suamiku, ia lebih banyak melakukan berbagai hal untukku, ia bekerja seharian dan memberikan gajinya utuh kepadaku, sebelum bekerja ia masih sempat membantuku membersihkan rumah, sepulang kerja ia memijat kakiku ketika melihat wajahku lelah, kadang ia tak tidur dan menjagaku ketika aku sakit, ia lebih banyak tersenyum meski aku sedang marah, dan ia tak pernah mengatakan kalimat kasar meski aku tengah melakukan kesalahan besar. Ia datang padaku, memberikan apa pun dan ia memberikan waktu dan hidupnya padaku.

Ketika ia pergi, sehari aku tak bertemu dengannya rumah sudah terasa sepi, ada yang aneh, aku makan sendirian dan tiba-tiba rasa makanan menjadi hambar, ada yang kosong, ada yang tidak lengkap.

"kau mencarinya ketika ia tak ada dan kau masih bilang jika tak mencintainya?" ‎

Entahlah, aku sering marah meski ia hanya melakukan kesalahan kecil, aku sering ngambek dan tak mau bicara padanya. Jika aku memang mencintainya, kenapa sikapku tak juga berubah? jika aku benar-benar mencintainya aku pasti tidak akan melakukan hal-hal yang membuatnya sedih dan susah, tapi aku? aku belum mampu menjadi perempuan yang mencintainya karena Aku yakin ia sering tersakiti karenaku, ia sedih dan marah karenaku, hanya saja ia tak pernah menampakkan wajah sedih, marah atau kecewanya di depanku. Di depanku ia selalu bersikap baik-baik saja. Dan itu membuatku semakin tidak menyukainya.


Baiklah, terserah apa itu cinta atau bukan, tapi apa kau bahagia?


Emmm... aku juga tidak tahu, kami sering bertengkar, aku sering menangis dan aku sering membuatnya merasa bersalah. Tapi setidaknya, sekarang aku punya teman untuk bercerita apa saja, ia juga banyak mengajariku tentang banyak hal. Dan aku sepertinya ingin membuat dia lebih banyak tersenyum.
Entahlah.. seseorang dikatakan bahagia itu diukur dari apa saja, dan seseorang dikatakan mencinta itu harus memenuhi kriteria apa saja? Yang jelas hidup denganya, menikah denganya (tanpa terlebih dulu jatuh cinta) aku baik-baik saja.
Kami memang sering bertengkar, cemberut, diam, ngambek tapi kami lebih banyak tertawa.

Aku tak ingin buru-buru jatuh cinta padanya, karena aku ingin belajar memahaminya seumur hidup.

Lamongan, 2 Juli 2017

  • view 242