Mimpi itu... Pupus, kah?

Utiya M Ni'mah
Karya Utiya M Ni'mah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 November 2016
Mimpi itu... Pupus, kah?

Di sekolah, dia adalah gadis biasa. Dia tidak terlalu pintar dan juga tidak terlalu bodoh, dia gadis yang biasa saja. Dia juga tidak menonjol di kelas maupun di sekolahan, karena dia hanya gadis biasa yang keberadaannya mudah di lupakan, bagaikan bayangan. Tapi, dia adalah gadis yang berambisi, dia mempunyai banyak mimpi, dia selalu semangat untuk mengejar mimpinya. Salah satu mimpi besarnya yaitu dia ingin menjadi animator. Dia ingin memproduksi film kartun untuk negerinya, Indonesia. Ya, film kartun "made in Indonesia" asli buatan Indonesia. Mungkin bagi kebanyakan orang mimpi dia adalah sesuatu yang tidak mungkin, sesuatu yang terlalu menghayal, dan sesuatu yang mengada-ada, bahkan orang tuanya juga tak mempercayai mimpinya itu. Tapi dia tidak hilang semangat selama peluang masih ada, dia ingin membuktikan kepada semua orang bahwa dia bisa, bahwa dia tidak hanya beromong besar. Saat seseorang bertanya apa cita-citanya, ia langsung menjawab dengan cepat tanpa keraguan "Animator". 

Mungkin ia terlalu percaya diri, dan tidak mengoreksi kelemahannya. Ya, pada dasarnya ia tidak bisa menggambar sama sekali, ia buruk dalam menggambar, dia hanya bisa menggambar karakter yang sudah ada, dia tidak bisa menciptakan karakter sendiri, tapi meskipun begitu ia tetap tidak putus asa, dia selalu menenagkan hatinya dengan berkata "aku pasti bisa! Aku harus bisa!" dan dia mulai berlatih sedikit demi sedikit dalam menggambar, memang pada mulanya hanya mencontoh karakter yang sudah ada tapi itu bukan masalah, dia hanya berpikir gampangnya saja "pokoknya aku sudah mengerti dasar-dasarnya, yang penting aku harus belajar menggambar secara digital. Ya, yang penting aku tau ilmunya dulu". 

Saat lulus SMA, ia ingin melanjutkan kuliah sesuai apa yang diimpikannya, tapi sayangnya, dia gagal dan pada akhirnya ia masuk jurusan yang tidak pernah ia duga, dan mungkin ia benci. Sejak saat itu hidupnya berubah. Dia gadis yang optimis dalam bermimpi, dia gadis yang berambisi, dia gadis yang selalu melawan arus. Kini, ia menjadi gadis yang pesimis, gadis yang hidup bagaikan robot, gadis yang kosong, gadis yang mengikuti kemana aris pergi, gadis tanpa tujuan, gadis yang pasrah, benar-benar pasrah. Dia merasa kehilangan mimpinya, dia merasa bodoh, dan dia tak ingin lagi bermimpi. Dia sadar bahwa mimpi hanya sesuatu yang membuang-buang waktu. Dia benar-benar tenggelam dalam keputus asaannya. Dia membenci bahkan muak dengan kata-kata motivasi, kata-kata penyemagat, kata-kata pembangun mimpi, sekarang ini, kata-kata itu semua bagi dia adalah "bullshit" belaka. Dia tak percaya semuanya. Dia tenggelam.

"Bagaikan berjalan di jalan yang gelap gulita, tanpa secercah cahaya sedikitpun, tapi ia tetap harus berjalan. Ia pasrah dengan apa yang di depannya nanti. Gadis itu terus berjalan sedikit demi sedikit, sejengkal demi sejengkal, karena sesungguhnya gadis itu taku kegelapan. Ia merasa sesak, berkunang-kunang, dan ketakutan. Tapi ia tetap harus berjalan". Itulah yang dipikirkan gadis itu sekarang ini, itulah bayangan gadis itu sekarang ini. Ia merasa lelah, ia lelah dengan jalanan yang gelap tanpa tujuan itu, ia memutuskan untuk berhenti. Ia terduduk, termenung. Ia tangkupkan kedua tangannya ke kedua telingannya. Ia tundukkan kepalanya. Ia berkata "takut, aku takut, siappun tolong aku, aku tak sanggup berjalan di jalanan gelap ini sendirian, ini terlalu menakutkan. Siapapun tolong aku". Gadis itu menetskan air matanya, air matanya mengalir dengan derasnya tanpa henti. Ya, ia tak kuasa menahan tangisnya, karena sebenarnya tak kan ada seorangpun yang akan menolongnya. Ia akan tetap sendiri di jalannya itu. Ya, sendiri.

Saat ia melihat setitik cahaya, ya, hanya setitik dan samar-samar. Ia ingin mengejarnya. Titik cahaya itu adalah ibarat mimpinya yang dulu. Saat ia ingin menjadi animator, itu tersulut lagi sedikit semangatnya, mungkin bukan animator lagi tetapi komikus, ia memuali dari yang paling bawah sebelum ke atas. Ia ingin mengejarnya, ia tidak ingin gagal lagi, ia harus bisa mengejarnya. Ia mulai belajar menggambar lagi, ia mulai menciptakan karakter sendiri, dan tambahan lagi ia mulai menulis, menulis cerita untuk komiknya. Saat ia mulai ingin mengejarnya, ia merasa bahwa ia tak banyak memiliki waktu, ia merasa waktu semakin menyempit, sekarang masalah ada pada waktu. "apakah gadis itu mampu mencapai waktu?" dia depresi, dia stress, dia mengurung diri, dia putus asa terhadap waktu.

  • view 191