Ayah, Ternyata Kau Benar

Uswatun Niswi
Karya Uswatun Niswi Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Ayah, Ternyata Kau Benar

Ayah, bukankah kau pernah bilang, meringankan beban orang lain jauh lebih utama ketimbang menimbun harta?

Risma memandangi kalender. Tepat di angka 10 Oktober 2016 yang jatuh pada hari ini. Air wajahnya menyiratkan rasa senang. Apakah dia sedang ada janji? Bukan, lebih tepatnya gadis itu akan menagih janji.

Ya, sesuai kesepakatan, hari ini teman sekelasnya akan membayar hutang sebesar satu juta rupiah. Tentu Risma senang bukan kepalang karena dia sendiri sedang membutuhkan uang untuk membayar sewa kamar kos edisi bulan ini.

Gadis semester akhir itu mengambil android merahnya untuk bertanya di mana mereka harus bertemu. Namun, mata gadis itu membulat demi melihat pesan yang baru saja dibuka. Juwita, teman yang meminjam uangnya baru saja mengatakan bahwa dia belum bisa mengembalikan uang.

Ayah, apakah kali ini aku salah? Padahal niat ini begitu lurus. Ingin membantu kesulitan orang lain.

“Ju, bayar setengahnya aja juga gak apa kok. Aku mau bayar kos bulan Oktober. Hari ini deadline-nya,” mohon Risma lewat telepon.

“Aduh, Ris. Maaf banget. Aku belum punya uang sama sekali. Ibu tiba-tiba batalin ngirim karena belum dapat upah juga.” Risma jadi tidak tega mendengar penuturan Juwita.

“Iya deh, Ju. Gak apa-apa. Aku tunggu sampai ada uangnya ya.” Akhirnya, dia mengalah.

“Duh, jadi gak enak ni. Iya, Risma. Aku janji. Kalo uangnya udah ada, segera aku bayar,” ucap Juwita di seberang sana.

Kedua lutut Risma melemas seketika. Bagaimana cara dia bayar kos jika begini jadinya? Padahal deadline-nya hari ini. Sempat terpikir akan meminta kiriman orang tua lagi. Tapi, 2 hari yang lalu Risma baru saja meminta. Kebingungan pun melanda. Sebab, simpanan lain juga sedang dipinjam oleh sepupu untuk cicilan ruko.

Ayah, padahal aku sedang berusaha meringankan beban orang lain. Mengapa aku yang berada dalam kondisi sulit?

Sejak semester awal perkuliahan di program studi Pendidikan Biologi, Risma memang dikenal sebagai orang yang paling mudah memberikan pinjaman uang di kalangan teman-teman sekelas. Baginya, meminjamkan uang tidak rugi sedikitpun. Sama halnya menabung. Bedanya, uang itu digunakan untuk memudahkan urusan orang lain.

Begitulah sang ayah mengajarkan. Tidak hanya soal pinjam meminjam uang, sedekah setiap hari untuk tetangga sekitar pun menjadi pemandangan yang lumrah di mata gadis itu. Sang ayah adalah petani beras yang sukses di desanya. Selain mengelola sawah, beliau juga penyuluh pertanian di tingkat Kecamatan Jagoi Babang.

Sejak dulu, mereka terbiasa makan bersama tamu yang tiba-tiba datang di jam makan siang. Mereka terbiasa berbagi buah rambutan hasil kebun. Jika teman-teman sekolah ada yang datang, selalu ada sepiring duku atau buah lainnya yang tersodor. Sejak kecil, Risma disuguhi nuansa berbagi yang sangat kental.

“Apa ayah tidak takut beras cepat habis kalau makannya ramai-ramai terus?” tanya Risma kecil kala itu.

“Buktinya, beras kita gak pernah habis, ‘kan?” Ayah menyahut enteng.

Tidak hanya di saat senang, di kala sulit pun beliau tetap ringan tangan. Ada seorang tetangga yang sudah renta datang menemui ayah. Bermaksud minta sedekah beras. Padahal di saat itu, padi beliau belum panen dan hanya ada sedikit simpanan uang untuk satu bulan. Beliau tetap mengantongi 2 kg beras untuk sang tamu.

“Ayah, mengapa tetap memberi beliau beras? Padahal untuk kita di rumah belum tentu cukup.” Sungut Risma yang kala itu masih kelas 1 SMA.

“Sedekah terbaik adalah pemberian di kala kita sedang sulit, Risma.” Ayah tetap sama. Dermawan seperti biasanya.

Seketika gadis itu tertegun. Teringat pesan beliau yang begitu pas dengan kodisi sekarang. Mungkin kali ini adalah masa dia sedang diuji. Harus berbesar hati dan ikhlas menolong di saat sulit.

Sebuah telepon masuk. Dari ayah. Hatinya memekik girang.

“Nak, besok Ayah ke Pontianak sama Mamak. Kami menginap di BLKI. Ketemu di sana, ya. Sekalian ngantar uang lagi.”

“Iya, Yah. Risma kangen.” Sungguh, ungkapan ini bukan modus.

Allah, terima kasih telah mendatangkan bala bantuan yang tidak terduga. Sungguh, sedekah tidak menyulitkan. Sebaliknya, ia justru melapangkan. Ayah, ternyata kau benar. Semoga kita bisa sehidup sesurga kelak. Sekeluarga.

  • view 163