Secangkir Kopi

UN USUAL
Karya UN USUAL Kategori Motivasi
dipublikasikan 24 Oktober 2016
Secangkir Kopi

Sejarah kopi mencatat asal muasal tanaman kopi dari Abyssinia, suatu daerah di Afrika yang saat ini mencakup wilayah negara Etiopia dan Eritrea. Kopi menjadi komoditas komersial setelah dibawa oleh para pedagang Arab ke Yaman. Di jazirah Arab kopi popular sebagai minuman penyegar.

Di masa-masa awal bangsa Arab memonopoli perdagangan biji kopi. Mereka mengendalikan perdagangan lewat Mocha, sebuah kota pelabuhan yang terletak di Yaman. Saat itu Mocha menjadi satu-satunya gerbang lalu-lintas perdagangan biji kopi. Saking pentingnya arti pelabuhan tersebut, orang-orang Eropa terkadang menyebut kopi dengan nama Mocha.

Ok,sebetulnya gue gak mau ngebahas asal muasal kopi. Itu cuman intermezzo aja... hehehe.

Kopi sekarang bagi gue lebih dari sekedar asal muasal. Lebih dari itu,kopi adalah penyambung lidah. Kopi meminta maknanya sendiri bagi gue. Dibalik pekat warnanya dan aromannya yang menenangkan. Banyak perbincangan perbincangan lintas pikiran disela sela ngopi dengan orang orang "unpredictable".

Ada cerita,satu hari ditahun 2011 gue duduk termenung distasiun senen menunggu kereta yang akan membawa gue kekota Malang. Sialnya ketika gue beli tiket ternyata udah kehabisan,alhasil gue harus menunggu sampai ke esokan harinya. Daripada pulang lagi ngabisin waktu dan juga duit gue lebih memilih tidur distasiun. Agak sedikit nekat karena gue cuma megang 100 ribu. Tiket harganya 51 ribu jadi sisa 49 ribu,cukuplah ucapku paten.

Orang lalu lalang distasiun bawa gembolan. Ada yang sendiri,ada yang berdua,ada yang sekeluarga dan gue melebur dengan mereka. Ekspresi mereka pun bermacam macam,ada yang senang tak puas puasnya ber foto,ada yang letih tak berselera,ada anak yang menangis tak henti henti,gue pribadi hanya bersandar pada tembok stasiun dengan baju batik yang sudah bau keringet. Untuk membunuh waktu gue pergi kesudut stasiun ke sebuah warung yang tertutup terpal biru. Matahari sore menantang.  dengan pasti gue memesan kopi hitam,waktu yang tepat. Dengan memilah milah dan cermat mengingat uang yang tersisa akhirnya gue beli sampoerna kretek. Kopi hitam yang pekat dan sebatang kretek yang berat sudah tersaji siap untuk dinikmati.

Ketika bibir cangkir dan bibir gue bertemu "Srrruuuttttt" tiba tiba tambahan tenaga merasuki tubuh gue. Caffein telah memberikan keajaibannya! Sungguh beberapa detik relaksasi yang sempurna. Aromamya turut menghipnotis. Menit menit mulai berganti tetapi rokok kretek ini tak kunjung mati. Masih dalam keadaan mengamati sekitar tiba tiba seorang bapak bapak dengan kulit hitam legam,berperawakan tegap dan kumis tebal melintang duduk didepan gue. Mata gue dan matanya bertemu untuk sesaat. Dengan kasar dia membanting tas jinjingnya. Dalam keadaan yang sempit gue pun melemparkan salam.

"Mari ngopi Pak..." tak lupa gue lemparkan senyum.

Dengan mudah ia membalas senyuman "Oh iya Dek.. monggo..." jawabnya. Kesan angkernya seketika luntur.

Tak berapa lama Obrolanpun tercipta. Namanya Pak Karsilan,dia adalah pensiunan militer yang sekarang hanya bertugas menjaga cucu. Seketika dia seperti merasa dijaman perjuangan. Bercerita keseruan masa mudanya.  Sampai dia nawarin makan indomie yang tentu saja gak gue sia siain. Selesai makan dia pun pamit dan kami berjabat tangan tak lupa bertukar nomer telepon jikalau nanti gue main ke Jogja dan berkesempatan mampir,imbuhnya. Karena memang gue menawarkan diri untuk mengenal dan selalu bertanya tentang Jogja. Setelah semuanya selesai Bapak Karsilan pun berjalan menjauh...

Gue sendiri masih dengan secangkir kopi memikirkan betapa simplenya suasana tadi. Seakan kami sudah berkenalan lama sebelum itu. Kopi dan rokok gue pun dibayarin sama dia. Agak sedikit kaget ketika si mba penjaga warung bilang "udah dibayar sama Bapak yang tadi". Mungkin si Bapak merasa kesian karena duit gue cekak. Gue terima kasih banget dalam kondisi gitu masih ada yang baik. Semenjak itu gue selalu "uluk salam" ke orang ketika lagi ngopi. Karena dari situ akan selalu tercipta silaturahmi.

*Uluk salam adalah bertegur sapa/memberi salam. Bokap gue selalu ngajarin menyapa ke sesama dimanapun. Karena itu tandanya kita rendah hati*

 

itulah sepenggal yang tercipta dari secangkir kopi . Kalo ditanya tentang nama nama kopi mungkin gue hamper gak bias jawab saking banyaknya varian kopi di dunia ini. Buat gue pribadi,asal kopi hitam dan kentel sedikit manis itu udah cukup.

  • view 298