Tentang Sebuah Pengecualian

UN USUAL
Karya UN USUAL Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Oktober 2016
Tentang Sebuah Pengecualian

“kamu mau kemana?” tanya Patrice padaku.

“aku lelah dengan semua ini! Dengan pikiran negatifmu,dengan sifatmu yang pemarah dan keinginanmu untuk dimengerti terlalu membuat ku muak!” jawab ku setelah semua keadaan sedikit tenang. Beberapa saat yang lalu aku kehilangan kontrol. Aku memukul nya,mendorong badannya ketembok dan akhirnya kami baku hantam. Tekanan demi tekanan ini terus kutahan semenjak kami tiba dihotel.

Tapi hari ini aku tak bisa menahannya,semua mengalir begitu mudah,aku lupa akan siapa diriku ini!. Aku biasanya diam ketika mendengar dia marah-marah atau menghindar dan memilih merokok keluar kamar  ketika dia sedang membanting barang.

mungkin ucapan sudah tak lagi berguna,pikirku. Andai air mata ini mampu memberi kesadaran kepada dirinya bahwa aku mencoba terus dan terus bertahan dengannya dengan semua laga tengiknya. Tapi percuma semua itu sia sia. Hati dan pikiran ku kali ini tiada kompromi.

“apakah kamu tak mengerti untuk apa kita disini? Aku mencintaimu” ucapnya dari sebuah kasur yang berantakan.

Aku yang berdiri dengan koper dalam genggaman,sejenak kaku.

Dalam hati kubertanya “cinta? Kau mencintaiku? Kau perlakukan aku seperti budak hina yang mungkin aku tak pantas tidur diranjang empuk denganmu!” aku paksakan melangkah.

Didepan pintu,aku pamit kepadanya “aku tak bisa berada satu tempat denganmu saat ini. Biarkan aku sendiri” aku mantapkan langkah kaki menyusuri lorong.  “berat untuk meninggalkanmu dengan semua kondisimu disini. Tapi aku lelah,aku lelah!” ucapku lirih.

_____

Kuta,Bali. Malam ini begitu sayang untuk dilewatkan. Orang orang berkumpul bersama teman temannya,keluarganya atau mungkin pasangannya!. Tapi aku lebih memilih untuk menarik diri dari keramaian ini,hingar bingar ini membuatku semakin tak karuan. Ada kekecewaan yang mendalam “ini adalah perjalanan liburan…”.  Semakin membuatku benci dengan keramaian ini karena aku sadar mungkin hari esok aku akan berstatus single!. Aku berjalan gontai menuju bar yang ala kadar diujung jalan. Aku memilih duduk dibangku terdalam dan acuh dengan keadaan sekitar. Sebotol bir hinggap dimejaku,sebatang rokok sudah terselip rapat di bibirku. Rasa dahaga ku sedikit terobati oleh gelembung gelembong alkohol. Lalu ku mencoba menghubungi teman yang tinggal di Bali.

“hey,Nath… “ nada bicara yang sendu.

“kenapa, Lo berantem lagi ya?” Natthan memang sedikit banyaknya mengetahui hubunganku dengan Patrice. Ia pun sudah bisa menebaknnya.

Aku tak langsung menceritakan kronologisnya,biar nanti aku ceritakan semuanya detail! ”lo bisa jemput gue gak? Gue mau pisah sama dia. Gue numpang ditempat lo yah malam ini,please Nath…”

“yaudah gue jemput lo sekarang. Lo tunggu sebentar yah..”.

“iya.. thanks yah. Gue tunggu…”.

Music sudah mengalungkan beberapa lagu evergreen,beberapa orang seperti bernostalgia terbang jauh kemasa lau. Mungkin mengingat ngingat perempuan yang tak bisa mereka nikahi atau lelaki yang mereka idamkan tetapi kehidupan berkata lain mereka harus berpisah karena tak dapat restu orang tua. Perlahan meja meja mulai terisi,keceriaan malam di Kuta bali akan segera dimulai. Tidak untuk ku!

Terlihat sepintas seseorang disana menatapku tajam. Aku tak memperdulikannya dan menunggu Natthan dengan mencoba santai. Walau sudah ku tepis pandangannya,ia tetapi kearah ku. Risih sekali dibuatnya! Ku palingkan wajahku kea rah jalanan…

Dalam diam pikiran ku melayang jauh,aku hanyut oleh aliran perasaan tentang masalah yang aku alami dengan Patrice. Mencoba mengerti keadaan ini,sulit kutebak,sangat sulit. Keinginnya itu apa? Apa yang selalu dia risaukan! Bahkan semua baik baik saja. Tak ada satupun yang menganggu kita selama disini.” Apa aku sudah tidak dicintainya lagi? Apa ada yang berubah dariku? Apa aku sudah tak semenawan seperti pertama kali kami bertemu? APA DIA MEMPUNYAI SESEORANG YANG BARU DISANA???” kujejalkan diriku pertanyaan pertanyaan bodoh.Lambat laun aku menyerah dengan kepastian yang ku buat buat.

Seketika aku mengingat waktu yang telah kami lalui,Pagi hari kau bisa melemparkan senyum itu,mengahangatkan pagiku yang dingin. Pada siang hari kau menjadi orang yang menyenangkan bagiku,bisa membuat ku tertawa,kau tidak membuat ku lelah. Pada malam hari,kau bisa membuat bintang lebih terang,kau bergoyang dengan alunan musik bagai tak ada orang yang memperhatikanmu! Hari hari ku adalah keberuntungan yang tak ada habisnya,dan selalu membuatku bahagia. Itu semua karena aku disampingmu dan kau berdiri tegap disampingku.

Kesemuanya adalah kesempurnaan dengan pengecualian,amarahmu yang kadang bisa langsung menghancurkan sendi sendi kebahagiaanku,menyakitiku sedalam daging dalam diriku,mengoyak kulitku tanpa memberi ampun,kata kata mu memborbardir nyawa lemahku,mulutmu berkata seakan aku ini tuli! Apa yang sebenarnya terjadi kadang aku tak mengerti. kapan itu dimulai kapan itu berakhir aku selalu tak bias menebak!

 Tanpa sadar pikiranku berkecamuk dan berhenti seketika kudengar seseorang menyapa

“Hay…”

lamunanku kembali sadar,sesaat kulihat orang yang memperthatikanku daritadi berada didepanku. Aku melihat kepadanya,memperhatikan dengan jelas dan memberikan isyarat untuk dia menjauh. walau ku tau aku tak begitu fokus dengannya. Aku tak ingin punya masalah yang lain,aku pusing!!!

“are you Ok?” tatapannya terlihat khawatir. “jangan bersedih. Hari ini terlalu indah untuk kau tangisi” katanya sambil menenggak bir.

aku bingung mendengar kalimat orang itu.

Kembali dia berbicara “kulihat kau masuk dengan wajah bingung,tanpa percaya diri,bagai sebuah ombak besar telah menerpa dirimu,kau hilang dalam dirimu sendiri dengan sejuta pertanyaan yang berkecamuk. Aku khawatir kau…” sesaat dia memikirkan kata kata yang akan di ucapkan.

“apa yang kau tau tentang diriku!” nadaku sedikit tinggi.

“aku tak mengenalmu dan kau pun tak mengenalku. Tapi dari sorot matamu,kau masih percaya akan sesuatu. Langkahmu itu tak sepenuhnya kuat untuk berjalan. Kau hampa,walau penuh kebencian kau tetaplah sebuah ruang kosong. Aku tak tau apa yang membuatmu menunggu..”  dia berbicara dengan pasti.

ku potong pembicaraannya “aku menunggu seorang teman”.

orang itu hanya tersenyum. “bukan…” senyum tersungging di wajahnya seakan mengetahui kalau aku mencoba menghindar.sambungnya “bukan itu… kau menunggu seseorang untuk saling mengerti. Maka,janganlah menunggu. Ajaklah dia berbicara. Nanti pasti akan terlihat,dia menyayangimu tulus..”ia kedipkan matanya padaku.

Aku mulai bosan mendengar orang ini bicara. Aku ingin segera pergi. Aku buka tas untuk mengambil uang. “Terlalu berantakan!” kesalku. Aku susah untuk mencarinya. Kutuang semua isi tas diatas meja. Pria itu masih tersenyum.

“mana sih dompetnya…?!” pikirku.

“biar aku yang membayar birmu” ia merogoh kantongnya.

“tidak perlu. biar aku sendiri” tegasku.

“Ok.” Ia membuang pandangannya dariku.

Aku pikir pikir lagi dimana kutaruh dompetku dan teringat diatas meja kamar. “sial!” ucapku.

Pria itu mengereyitkan dahinya mendengar ku. “bisakah aku titip barang ini disini,aku akan segera kembali” pria itu menjawab dengan senyuman. Walau tak terlalu percaya dengannya aku harus cepat cepat. aku langsung bergegas kembali kehotel. Selama didalam lift aku tak ingin berpikir macam macam

 “ambil dompet langsung pergi,gak usah banyak omong!”. Ucapku kepada bayangan diriku di kaca.

Kaki ini langsung lemas,membayangkan harus balik kekamar itu. Lorong ini terasa panjang. Rasanya ingin ku putar balik.

” 304,kamar ini…” desahku,aku hanya berdiri gugup didepan pintu.

“tok..tok.tok..” kuberanikan diri.

“siapa?” suara Patrice.

Sepersekian detik “House kepping” aku takut kalau kujawab ini aku,dia tidak ingin buka pintu.

“iya sebentar..” langkahnya terdengar jelas dikupingku membuatku semakin gugup.

Akhirnya pintu dibuka.

Kututup mata ini,ketakutan semakin menjadi jadi. Tak ingin perkelahian terulang lagi. Tiba tiba pelukan erat kurasakan mencengkram tubuh kecilku. Nafasnya berat  tanpa kata kata hanya isak tangis yang kudengar.

“ini semua apa?” tanyaku dalam mata tertutup. Kurasakan basah dipundak ku.

“baby.. jangan lagi kau tinggalkan aku! Aku membutuhkanmu. Tolong,jangan pergi…” Patrice berbicara disela sela tangisannya.

 Kubuka mata,tanpa sadar ku usap punggungnya yang besar. Ia semakin sedih.

“apa yang sebenarnya terjadi?” aku mulai kebingungan dalam pandangan.

“tolong berjanji padaku,kau tak akan pernah meninggalkanku” wajahnya benar benar basah oleh air matanya sendiri.

Aku tak bisa berbicara apapun melihat dirinya seperti ini. Tak biasanya ia seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi setelah aku pergi?!

“ayo masuk…” ajaknya.

Sesampainya didalam,semuanya telah rapih. Ada satu yang menarik perhatiaanku,diatas meja,sebuah kertas dengan pensil tergeletak sunyi.

kuhampiri meja itu dan “kertas ini… “. Ku raih kertas itu,seketika aku menjadi terharu. Sebuah kertas dengan tulisan diatasnya,Je T’aime.

Patrice menghampiri ku,ia memelukku pelan,memastikan bahwa ini semua berarti,bahkan kertas yang aku berikan pertama kali kami salah paham dahulu. Saat itu aku tak bisa berbicara menghadapinya,hanya lewat kertas ini ku wakilkan perasaaku.

“ia masih menyimpannya…” ku pandangi wajahnya.

 ia melempar senyum. Ia menggenggam tanganku ”maafkan aku atas semua ini,Je T’aime” ia mengecup dahiku. Hangat sekali bibirnya menempel. Semua perasaan benci,semua perasaan kesal,semua rasa lelahku seketika cair. Kecupan pelan itu memberian aku suatu rasa nyaman,rasa tenang,rasa lega. Kamu bukanlah orang yang romantis tapi kamu selalu bisa meromantiskan diriku dengan sebuah kata yang simpel,sebuah perlakuan yang biasa,dan sebuah kenangan yang pudar

“Patrice aku menyayangimu. Tolong mengerti aku…” ku ucapkan itu sambil mencengkram punggungnya. kembali ia memelukku erat.

Ia mengajakku duduk,“sayang… hubungan itu layaknya sebuah rumah. Kita harus bekerja sama membangun rumah ini. Dengan awal,pondasi,lantai,tembok dan genteng. Pelan pelan kita menyelesaikan semuanya,berarti itu semua memerlukan  waktu. Aku ingin membangun rumah,rumah yang cantik dan harmonis. Rumah tangga yang kuinginkan adalah membangun denganmu. Aku harap kamu bisa bertahan melewati segala badai,hujan dan panas matahari. Aku percaya menumpukan semuanya kepadamu,begitupun kamu padaku. Aku yakin,nanti kita bisa benar benar baik dalam segala kondisi. Aku haya ingin kau untuk tetap tinggal bersamaku. Aku berusaha untuk tidak menghancurkan bangunan yang kau dan aku telah miliki. Maukah kau melanjutkan membangun rumah ini?” senyum kecil menutup kata katanya. Aku menjawab dengan mengecup bibirnya.

Setelah semua pembicaraan selesai,aku kembali ke bar untuk membayar bir yang kutinggalkan. Kali ini aku tak sendiri,aku bersamanya,Patrice.

Kuta,Bali. Malam ini begitu indah,begitu menyenangkan. Dengan hati yang lapang aku masuk kedalam kerumunan orang orang,menjadi bagian keceriaan malam itu. Tegap dan percaya diri aku menuju meja tempatku duduk tadi. Pria itu masih setia menungguku.

“baiknya orang itu..” senyum ramah kulemparkan.

Ia mengangkat gelasnya seraya menjawab iya.

Tapi tidak,Tiba tiba Patrice mendahuluiku “hey..” ia langsung menghampiri pria itu! Aku diam melihat keadaan itu.

“Patrice?” ucapku kaget.

“sayang… ini Daniel,teman lamaku yang kuceritakan padamu. Ia tinggal di Bali” ia memperkenalkanku  dengan Daniel.

Aku pun berkenalan dengan canggung. Kebingungan masih menyangkut. Setelahnya Natthan pun datang dengan memberikan alasan keterlambatannya. Akhirnya,kami semua menghabiskan malam bersama Aku,Patrice,Daniel Dan Natthan.

Ia berbisik padaku “aku mengenal Patrice sudah lama. Aku sudah melihat kalian berdua seminggu yang lalu. Karenanya aku tak ingin kau bersedih menghadapi ini semua. Sedari dulu aku tau Patrice adalah orang yang keras kepala. Selagi kau ingin mencoba memeperbaiki semuanya,jadilah kebalikan darinya. Dan kaupun bisa menjalani ini semua dengan kata,mengerti” lagi lagi ia mengedipkan matanya.

Kata katanya membuat ku berpikir jernih. Seakan semua yang telah hilang dariku kembali utuh,kutatap Patrice lekat lekat. Pandangan kulayangkan,persis seperti pertama kali mata kami bertemu. Ia hanya tersenyum manis.

 Inilah kami,Patrice dan Aku. Kami memang berbeda tetapi kami adalah satu dalam sebuah pengecualiaan. Itu disebut,Je T’aime.

Dengan komunikasi yang lancar dalam sebuah hubungan ,itu akan membantu sedikit banyaknya kekokohan hubungan itu sendiri. Tanpa adanya maksud yang tersirat.

 

  • view 278