Mengenal Ghost Writer dan Co-Writer

Untung Wahyudi
Karya Untung Wahyudi Kategori Buku
dipublikasikan 21 Februari 2016
Mengenal Ghost Writer dan Co-Writer

Dewasa ini dunia tulis-menulis sudah menjadi hal yang lazim digeluti oleh banyak orang. Tak hanya bagi kalangan yang berlatar belakang akademis (dosen dan guru), tetapi juga merambah kalangan umum yang menjadikan aktivitas menulis sebagai hobi. Hal ini terbukti dengan menjamurnya jumlah penulis yang menerbitkan karyanya di penerbit-penerbit besar, maupun via self publishing.

Menulis memang membutuhkan kreatifitas. Menulis tidak bisa dilakukan secara asal. Diperlukan latihan serta berbagai ?eksperimen? untuk menjadikannya sebagai aktivitas yang menyenangkan. Untuk kepentingan kompetensinya itu, banyak orang yang rela mengeluarkan biaya kursus menulis, baik yang diadakan secara online atau offline melalui berbagai pelatihan. Karena, mereka yang ingin menulis sadar bahwa menulis bukan pekerjaan yang mudah. Calon penulis memerlukan kemampuan teknik dan teori khusus sebelum menuangkan gagasannya.

Namun, tidak semua orang punya kesempatan mengikuti pelatihan-pelatihan menulis, terutama bagi orang-orang sibuk seperti politisi, dai, atau tokoh-tokoh lain. Sehingga, mereka jarang menuangkan gagasan-gagasan kreatifnya dalam bentuk tulisan. Kalaupun ada, mereka lebih banyak ?menyewa? seorang Co-Writer untuk memindahkan gagasan-gagasannya dalam bentuk tulisan.

Hal ini sebagaimana disinggung Fariz Alniezar dalam tulisannya berjudul Buku, Peradaban dan Para Pelacur Intelektual (Riau Pos, 17 Agustus 2014). Dalam tulisannya itu, Fariz mengkritik keras kalangan intelektual yang dengan mudah ?melacurkan? keilmuannya kepada orang-orang yang membutuhkan popularitas lewat sebuah buku.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa menjelang Pemilu atau Pemilukada, di toko-toko buku banyak buku baru terbit yang ditulis oleh tokoh yang ingin maju sebagai calon Presiden, Wali Kota, Gubernur, atau Bupati. Di sampul buku jelas tertera nama sang tokoh sebagai penulis, Tetapi, biasanya buku-buku itu ditulis oleh orang khusus alias Ghost Writer.

Triani Retno A. dalam bukunya berjudul 25 Curhat Calon Penulis Beken menulis, Ghost Writer atau penulis bayangan adalah seorang penulis profesional yang menulis atas nama orang lain dengan bayaran tertentu. Ghost Writer bukan penulis pemula yang baru belajar menulis, melainkan seorang penulis yang memang sudah ahli, sudah matang, dan profesional. Ghost Writer juga bukan penulis yang menggunakan nama samaran (Gramedia; 2009).

Sayangnya, Fariz Alniezar dalam tulisannya itu tidak mengungkap keberadaan seorang Co-Writer yang tidak bisa dimasukkan ke dalam golongan ?pelacur intelektual?. Co-Writer lebih tepat disebut sebagai penulis pendamping di mana gagasan-gagasan yang ditulisnya ditulis oleh orang yang menyewanya, bukan semata-mata hasil pemikirannya. Mereka hanya mendampingi dan mengarahkan ke mana arah gagasan yang ingin ditulis dalam buku. Atau, kalaupun yang mengerjakan secara keseluruhan naskah itu adalah Co-Writer, namun poin-poin (draft) buku biasanya ditulis sendiri oleh si pemesan.

Menurut Triani, Co-Writer memang mirip dengan Ghost Writer. Bedanya, orang yang memiliki ide tulisan menjabarkan apa yang hendak disampaikan, menyediakan materi tulisan dan ikut berdiskusi. Tetapi, Co-Writer lah yang akan menerjemahkan atau mengolahnya ke dalam bentuk tulisan sehingga menjadi karya yang enak dibaca.

Berbeda dengan Ghost Writer yang murni bekerja di balik layar, nama Co-Writer akan tercantum di sampul buku bersama-sama pemilik gagasan. Keuntungannya, karena Co-Writer adalah penulis profesional yang memang sudah eksis di dunia penulisan, naskah pemilik ide pun akan terdongkrak naik, bahkan bisa menjadi buku laris.

Buku seri Chicken Soup for the Soul yang populer itu ditulis dengan cara ini. Jack Canfield, penulis utama buku itu, bukanlah seorang penulis. Ia seorang trainer dan penggagas. Untuk menulis buku Chiken Soup for the Soul, ia mengajak seorang penulis profesional, Mark Victor Hansen, untuk menjadi Co-Writer. Dan, kita pun mengenal buku Chicken Soup for the Soul ditulis oleh Jack Canfield dan Mark Victor Hansen (Gramedia; 2009).

Dwi Helly Purnomo, wakil manajer produksi Gramedia Pustaka Utama mengatakan bahwa, di dunia penerbitan dan perbukuan sendiri hal itu sudah biasa terjadi. Ada banyak alasan mengapa orang terjun sebagai Ghost Writer atau Co-Writer Fenomena kemunculan Ghost Writer dan Co-Writer tidak terlepas dari dua sisi yang saling melengkapi. Mereka memiliki kemampuan menuangkan gagasan dan informasi ke dalam buku. Sebaliknya, pemesan membutuhkan brand image untuk dikenal sebagai penulis buku, sementara dia tidak punya kemampuan menulis. Kondisi ini menjadi klop, sehingga Ghost Writer dan Co-Writer mau dibayar oleh pemesan untuk kepentingan tertentu (Annida; 2008).

Demikianlah. Rasanya tidak adil jika dengan serampangan kita menyebut bahwa orang yang selama ini bekerja sebagai Ghost Writer atau Co-Writer disebut sebagai ?pelacur intelektual?. Karena, mereka menulis berdasarkan gagasan yang disampaikan pemesan, bukan murni menjual karya intelektualnya. Hal itu berbeda jauh dengan orang yang selama ini bergelut dalam praktik bisnis skripsi (joki skripsi), yang biasanya lebih mementingkan pendapatan finansial daripada membantu meringankan atau melancarkan tugas akhir mahasiswa. (*)

  • view 312